19 Maret 2012

Asyiknya Weekend di Kampus

Weekend ini aku nggak pulang ke Jakarta. Tanggung toh minggu depan ada long weekend karena hari Nyepi. Tadinya takut weekend di kampus bakal sunyi dan suram. Tapi ternyata enggak. Weekend di kampus bisa jadi asyik kalau kita tahu caranya bersenang-senang.

SABTU

Sabtu pagi ada senam bersama (mata kuliah olahraga) di lapangan rektorat. Asik ganti suasana karena biasanya senam indoor di Gymnasium. Pemandangan rame dengan orang-orang yang ngobrol, jualan donat, cari serangga (anak Hama dan Proteksi Tanaman), dan belajar tulang (anak Kedokteran Hewan yang mau ujian). Ponselku sempet ilang :( Alhamdulillah ada orang yang nemuin. Selanjutnya, kelasku latihan senam aerobik bersama menjelang ujian tengah semester.

Sampai kamar, semua temen sekamar pada terlelap. Aku nganggur dan akhirnya nonton film India yang berjudul "Paa". Bagus deh ceritanya tentang seorang anak pengidap penyakit langka bernama Progreria.

Aku nggak tahan nganggur di kamar. Bolak-balik setel film yang udah pernah ditonton, buka twitter, denger musik, tidur-tiduran. Bener-bener nggak produktif dan nggak asik.

Tiba-tiba muncul ide gila untuk jalan-jalan ke studio Arsitektur Landscape (ARL). Aku bener-bener kesana sama temen sekamar, Cuneng. Sebenernya Cuneng lagi nungguin Kamil, mereka mau ke shelter Uni Konservasi Fauna (UKF) di Balio, tapi Kamil masih kerja kelompok. Aku nggak ikut karena ngg... udah keluar.

Studio ARL enak, sayangnya rumputnya terlalu panjang jadi nggak enak didudukin. Jadinya kita ke lapangan rektorat dan liat-liat rumah kayu yang ada di sebelah miniatur hutan tropis. Dan uniknya, ada angsa disitu hihihi. Lagi bertelur pula. Aku mau motret tapi takut dipatok :(

HTD itu apaan yah hahaha

rumah kayu kecil yang cantik

ada keterangan terbuat dari kayu apa

numpang foto :p

miniatur hutan tropis

entah tanaman apa -_-

lapangan rektorat, lokasi senam tadi pagi

Setelah Cuneng pergi sama Kamil, aku ke perpustakaan. Perpustakaan ini lebih sering disebut LSI, tapi aku nggak tau singkatannya apa hehe. Aku lupa kapan terakhir kali masuk kesini.

danau LSI sore hari

Aku suka tangga kayu di LSI. Unik dan antik. Aku naik ke lantai dua, duduk di samping jendela yang menawarkan pemandangan danau dan pohon, buka laptop dan agak sebel dengan koneksinya yang entah kenapa lama.

18.30. Udah malam dan aku buru-buru ngeberesin barang buat balik ke asrama. Tadinya mau naik ojek, tapi pangkalan ojek di depan Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) udah kosong. Untungnya gedung di IPB itu nyambung-nyambung, jadi aku bisa pulang jalan kaki lewat gedung. Bisa gila aku kalau harus jalan kaki lewat Fateta dan Fahutan. IPB udah kayak hutan hantu kalo malem-malem begini. Apalagi akhir-akhir ini marak pencopetan malam-malam.

Lewat dalem gedung horor juga ternyata. Eh tau-tau ketemu Momod dan gerombolan laki-laki, entah komunitas apa yang ngadain acara malem-malem gini di kampus. Ketemu Pristi yang mau technical meeting IPB Art Contest (cie hihi). Dan terakhir ketemu Intan di kantin Agri.

Padahal cuma aktivitas sederhana, tapi aku suka. Jalan kaki, lihat pemandangan, baca-baca blog orang, dan muterin kampus di malam hari jauh lebih baik daripada cuma sekedar tidur-tiduran di kamar dan main twitter.

MINGGU

Minggu pagi di Bogor dan aku nggak ada kerjaan. Kapan lagi ada kesempatan kayak gini? Kalau hari weekend nganggur, aku pasti nginep di Jakarta. Alhamdulillah sekarang bisa ngerasain momen langka.

Setelah minum susu dan mandi, aku jalan-jalan ke Bara buat liat Pasar Kaget. Pasar Kaget ini pasar yang cuma ada pada hari Minggu di Bara. Isinya tukang jualan macem-macem serba murah. Ada baju, jam tangan, alat rumah tangga, mainan, dvd bajakan, alas kaki, dll. Tertarik beli keset, tapi nggak bisa ditawar males ah. Aku malah beli freshcorn :3 Kangen deh dulu aku dan Ibu sering bikin di rumah.

pasar kaget. masih terlalu pagi belum ramai.

Habis dari pasar kaget, aku bingung mau ngapain. Masa balik ke asrama dan tidur-tiduran di kamar? Ih nggak bermanfaat banget. Sebenernya ada tawaran ngeliput Earth Hour di Sempur dan Eagle Awards di Auditorium Andi Hakim Nasution (AHN). Tapi karena alasan konyol, aku nggak ambil liputan itu dan... nyesel -_-

Akhirnya aku ke Graha Widya Wisuda (GWW) buat nonton Grand Launching Leadershing and Entrepreneurship School (LES). Sebenernya harus bayar 25000 dan ngantri super panjang. Tapi berkat press card Koran Kampus, aku bisa masuk gratis dan tanpa ngantri. Dan orang-orang langsung ngeliatin iri kyahaha. Padahal aku nggak mau ngeliput lho. Ini jatah liputannya Dio buat Koran Kampus Online. Lagipula kita nggak ber-media-partner sama acara ini. Untuk rangkaian acara Grand Launching LES akan aku tulis pada postingan khusus nanti. Bermanfaat banget deh pokoknya.

Eh sore tadi aku nemu dua anak Hama dan Proteksi Tanaman (HPT) yang baru pulang dari berburu serangga. Aku potret diem-diem dari belakang hahaha abisnya lucu sih, jadi inget Crayon Shinchan episode berburu kumbang.

dua mahasiswi HPT 48 dengan dua jaring-jaring mereka

Alhamdulillah, weekend kali ini tetep asyik walaupun di kampus. Minggu depan kuliah cuma sampai Kamis pagi lho hihihi. Rencananya aku & Ipeh langsung balik ke Jakarta dan mau jalan-jalan di daerah Kota :D

07 Maret 2012

Penyihir dan Hantu Cilik

Banyak buku yang aku beli dan selalu pengen nulis sinopsisnya di blog tapi nggak pernah sempet. Padahal semua isinya menarik dan akan bermanfaat kalau di-share. Diantaranya Merah Putih di Benua Biru, Nenek Hebat dari Saga, 99 Cahaya di Langit Eropa, dan yang terbaru yaitu Indonesia Mengajar. Silahkan cari reviewnya di google ya.

Nah sekarang aku mau cerita soal dua novel favorit waktu kecil, yaitu Hantu Cilik dan Penyihir Cilik karya Otfried PreuBler. Kedua novel ini terjemahan dari Jerman dan usianya cukup tua. Penyihir Cilik (Die Kleine Hexe) terbit tahun 1957, sementara Hantu Cilik (Das Kleine Gespenst) terbit tahun 1966. Kedua novel ini baru diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama pada tahun 1985.

Kalau nggak salah, sepertinya Hantu Cilik ini novel pertamaku. Aku beli di Gramedia Pandanaran Semarang beberapa hari sebelum liburan kenaikan kelas tiga SD. Novel ini aku bawa ke Jakarta dan tertinggal di rumah Nenek sebelum aku sempat baca. Beberapa bulan kemudian, aku membeli Penyihir Cilik di tempat yang sama dan menamatkannya di Semarang. Karena ceritanya bagus, aku jadi yakin bahwa Hantu Cilik juga bagus. Jadi ketika aku liburan ke rumah Nenek lagi, aku langsung cari novel itu.

Penyihir Cilik
Penyihir Cilik (umurnya baru 127 1/2 tahun) yang tertangkap saat menyelinap ke pesta penyihir dewasa. Ia dihukum dan baru diperbolehkan mengikuti pesta tahun depan jika selama setahun itu ia menjadi penyihir yang baik. Maka selama setahun ia menghapal seluruh mantra sihir, berlatih, dan berbuat baik kepada setiap manusia. Namun pada akhirnya, Dewan Penyihir marah besar karena Penyihir Cilik bukanlah penyihir yang baik. Penyihir yang baik adalah penyihir yang selalu mengganggu manusia, bukan malah berbuat baik kepada manusia. Hahaha kasian banget ya si Penyihir Cilik.

cover 'Penyihir Cilik'

Penyihir Cilik dan burung gagaknya, Abraksas


Hantu Cilik
Alkisah ada seorang (atau sebuah) hantu yang tinggal di gedung tua. Ia terbangun setiap denting jam berbunyi pukul duabelas malam. Hantu Cilik selalu penasaran bagaimana suasana kota ketika siang hari. Suatu hari, ia berhasil bangun pada pukul duabelas siang. Namun ia malah membuat keadaan kota menjadi kacau. Ia kebingungan karena sejak saat itu ia tidak bisa bangun pada tengah malam lagi. Pada akhirnya berkat bantuan beberapa anak, Hantu Cilik bisa kembali menjalani hidup seperti biasa, yaitu tidur di siang hari dan terbangun pukul duabelas malam.

cover 'Hantu Cilik'

Dua novel ini bisa membawa kita seakan masuk ke dunia si tokoh. Ikut merasakan tinggal di sebuah rumah kecil di tengah hutan seperti Penyihir Cilik, dan ikut kebingungan di tengah kota siang hari seperti Hantu Cilik. Dan yang paling penting, buku ini nggak sehoror judulnya!

07 Februari 2012

Selamat Ulang Tahun Ayah!

Selama enam tahun lebih sejak kelahiranku, Ayah nggak tinggal bareng aku, Ibu, dan Adli (adikku). Ayah di Semarang, sementara kami di Jakarta.

Aku nggak ingat seberapa sering Ayah pulang ke Jakarta. Tapi yang pasti di hari ketika Ayah datang, aku selalu keluar kamar dengan senyum riang, duduk di kursi sebelah Ayah, mengikuti gaya duduk Ayah (kaki kanan ditaruh diatas paha kiri) dan ikut membaca koran serta mencicipi kopi. Aku ingat waktu itu Ayah membawa oleh-oleh boneka Teletubbies, saat itu belum ada tayangannya di televisi tapi aku udah punya bonekanya :D

Ayah udah membeli rumah di sebelah rumah Utih (nenekku) karena rencananya Beliau akan pindah ke Jakarta. Namun rencana tinggal rencana. Ayah nggak suka Jakarta. Dan akhirnya kami yang pindah ke Semarang.

Setiap hari Minggu pagi, Ayah mengajak berenang. Entah di kolam renang di hotel tempat Beliau dulu bekerja, kolam renang di gelanggang olahraga, atau ke pantai dan naik perahu.

Kalau sore hari juga suka lari di GOR Tri Lomba Juang. Huehehe aku inget banget kita cuma bawa sebotol tupperware doang padahal. Ayah dan bapak-bapak setempat juga hobi main badminton.

Waktu aku pindah ke Semarang, aku diajarin main games di komputer. Bahkan, aku udah pernah lihat internet dan email waktu kelas tiga SD. Waktu itu Ayah buka Yahoo.com. Aku diajarin menu-menu beragam di microsoft office disaat anak SD lain belum bisa. Gimana, gaul banget kan?!

Ayah pernah cerita, dulu waktu jaman-jaman komputer baru muncul, hotel tempat Ayah bekerja sudah punya dan Ayah udah bisa pakai. Ayah bikin tugas kuliah pakai komputer, eh dosen Ayah ngamuk dan nyuruh Ayah ngetik tugas pake mesin tik.

Ayah selalu ngasih tau pentingnya membaca. Ayah rajin baca koran dan ngerti semua info terbaru. Agak sebel karena dulu sebenernya aku pengen baca Junior, tabloid anak mingguan bonus Suara Merdeka (koran paling oke di Semarang). Tapi Ayah lebih suka Kompas, yang bonus mingguannya buat anak-anak cuma dua lembar. Huh.

Ayah beliin komik pertamaku, yaitu Crayon Shinchan dan novel pertamaku itu Napak Tilas Keluarga Hantu karya Hilman Hariwijaya.

Ayah bikin aku jadi suka menulis. Di koran ada lomba sinopsis novel karya Arswendo Atmowiloto (penulis Keluarga Cemara), aku langsung dibeliin tiga buku sekaligus. Pesta Jangkrik, Dewa Mabuk, dan Kapten Bola. Bukunya bagus banget! Tapi yang Kapten Bola nggak aku baca sampe sekarang karena tokoh utamanya namanya Kunti. Takut ah.

Ayah bahkan pernah baca cerpenku waktu SD dan baca blogku waktu SMA -__-

Walaupun kuliah di luar kota, aku termasuk sering kontak sama orangtua, untuk hal nggak penting sekalipun. Contohnya waktu itu Ayah sms dan aku lagi main ke Universitas Paramadina, untuk ketemu pers mahasiswanya.

"lagi apa teh?"
"aku lagi di Paramadina nih. ditraktir jus jambu sama ayam goreng loh"
"ayah kemaren juga makan tongseng sama ibu nyamnyam enak minumnya air putih"

Wkwkwk gimana deh ini aku kan mau pamer ditraktir kok malah aku jadi ngiler pengen makan tongseng. Tapi itu yang minum air putih kenapa disebutin?

Karena Ayah suka males minum air putih, aku cukup sering sms dan ngingetin "Jangan lupa mimik air putih loh yah". Aku protes kalo Ayah ngerokok, tapi kalo lagi di rumah Utih aku nggak pernah protes kalo Kakung ngerokok.

"Kalo Ayah ngerokok di rumah diprotes, tapi teteh nggak protes kalo kakung ngerokok?"
"Kan ini kan rumah kakung yah"
"Yee di semarang juga rumah ayah"

Terlalu banyak cerita. Intinya selamat ulangtahun Ayah. Padahal nggak ada yang tau kapan pastinya tanggal ulangtahun Ayah. Jaman dulu kan di Pandeglang nggak ada akta kelahiran, jadi tahunnya mah Insya Allah bener, tapi tanggal sama bulannya ragu-ragu. Yang tertera di KTP sih hari ini.

Semoga Ayah makin dekat sama Allah, panjang umur, dan sehat selalu :D

ayah & aku

mohon maaf jadi curhat hehe

26 Januari 2012

Dimana Kenangan Tersimpan

Siang itu aku riweuh di depan meja belajar karena nyari jam tangan. Aku nggak suka pakai aksesori di pergelangan tangan, tapi berhubung ini mau UAS dan kadang ada ruang ujian yang nggak ber-jam-dinding, penggunaan jam tangan jadi hal yang penting.

Dibongkar-bongkar tumpukan buku, atau kertas-kertas lainnya nggak ketemu juga ini jam tangan. Oke nggak masalah deh aku ujian nggak pake jam tangan, tapi kalo jam tangan itu sampe ilang, nggak rela!!! Karena itu jam tangan ibuku waktu masih muda, ada kenangan panjang dalam jam tangan itu.

Masih segar dalam ingatan, beberapa minggu yang lalu, pagi-pagi sebelum aku pulang ke Jakarta dalam rangka minggu tenang sebelum UAS, aku sibuk cari sisir. Rasanya udah mau nangis waktu obrak-abrik meja belajar. Takut sisir itu ketinggalan di villa kemarin (hari sebelumnya aku baru pulang dari Puncak).

Sisir ini bukan sembarang sisir. Sisir ini super spesial karena Ibuku beli sisir ini waktu masih kuliah. Dan akhirnya sisir ini jatuh ke tanganku sejak aku kelas lima SD, sampe sekarang. Entah kenapa sisir ini enak banget tiada duanya (suer). Aku pernah beberapa kali beli sisir dengan model yang sama, dari yang murah sampe mahal, nggak ada yang enak. Cuma sisir ini yang cocok sama dihati.

Benda 'tua' punya kesan spesial tersendiri. Sejelek apapun, serusak apapun. Dibalik semua kebututannya, benda 'tua' punya jalan cerita yang nggak dimiliki benda-benda baru lainnya.

Hal ini mengingatkan aku pada rumah, tempat dimana kita punya cerita perjalanan hidup, cerita tentang setiap canda, setiap tawa, setiap tetesan air mata dan perjuangan, nggak akan ada tempat lain yang bisa menggantikan.

Kalau dihitung-hitung sejak 27 Juni 2011 lalu, aku udah setengah tahun lebih nggak ke Semarang. Lebaran setiap tahun selalu mudik ke Jakarta - Pandeglang (tahun ini mudik paling deket). Setiap libur, nggak ada alasan untuk pulang ke Semarang karena orangtua selalu nyamperin ke Jakarta. Gimanapun juga aku udah sepuluh tahun tinggal disana. Pasti ada rasa kangen tersendiri. Untungnya libur semesteran bisa ke Semarang :)

Walaupun bukan kota kelahiran, walaupun bukan kampung halaman orangtua, boleh dong anggap Semarang sebagai tempat yang bisa aku sebut 'rumah' ?

Lawang Sewu dan Tugu Muda (sumber)

Karena menurutku Semarang itu nggak tergantikan. Dengan Bogor, Jakarta, atau bahkan Paris sekalipun.

catatan:
ditulis saat hari-hari ujian akhir semester.

24 Januari 2012

Some Things are Better Left Unsaid?

draft tulisan menumpuk tanpa bisa diselesaikan
diulang, diubah, tanpa bisa dipublikasikan

seperti

menuangkan pikiran,
menggunakan kata-kata pilihan,
namun entah kenapa tak bisa diucapkan