20 Januari 2019

Gaya Hidup Minimalis, Tren Less Waste dan Bijak Kelola Uang

Akhir-akhir ini aku merasa banyak pengaruh positif dari internet, yang kemudian berusaha untuk aku terapkan di keseharian walaupun baru berjalan beberapa bulan. All thanks to Google Books & Instagram!

Gaya Hidup Minimalis
Semua berawal dari ngehitsnya buku The Life-Changing Magic of Tidying Up: The Japanese Art of Decluttering and Organizing (Marie Kondo) yang membuka pikiran banyak orang bahwa beres-beres barang itu bisa membantu kita untuk beres-beres hidup dan pikiran juga. Kalau kata Marie Kondo, sebaiknya kita hanya menyimpan barang-barang yang spark joy. Setelah baca buku ini aku nggak langsung mempraktekkan metode KonMari. Tapi aku jadi mulai sadar betapa banyaknya barang nggak penting yang aku punya.

Kemudian aku baca beberapa buku karena judulnya kocak, plesetannya buku Marie Kondo. Bedanya, kalau Marie Kondo nulis tentang beres-beres barang, buku-buku ini ngasih tau caranya beres-beres pikiran yaitu  The Life-Changing Magic of Not Giving a F*ck (Sarah Knight) dan The Subtle Art of Not Giving a F*ck (Mark Manson).

Pertengahan 2018, aku menemukan akun instagram The Minimalists dan suka baca caption dalam foto-fotonya karena bener-bener relatable. Lalu aku beli buku Minimalism; Live a Meaningful Life (Joshua Millburn, Ryan Nicodemus) di Google Books, langsung baca tiap hari sampe tamat dan ini jadi salah satu life changing book buat aku. Aku mulai googling tentang gaya hidup minimalis dan baca banyak referensi, favoritku yaitu tulisan di blognya Cait Flanders soal Shopping Ban, tulisan ini juga diterbitkan dalam buku berjudul The Year of Less.

Berikut hal-hal yang aku lakukan menuju hidup minimalis:
  • Berusaha nggak beli baju. Kalaupun harus beli baju, aku berusaha untuk beli yang se-basic mungkin dan beli the best thing i could afford supaya bisa dipakai dalam jangka panjang. 
  • Membiarkan barang-barang yang punya nilai emosional untuk pergi. Sebelumnya aku merasa bersalah kalau harus merelakan barang pemberian orang lain, khususnya yang handmade. Tapi akhirnya bisa! Mengutip kalimat Marie Kondo, bahwa kado sudah cukup menjalankan fungsinya untuk menunjukkan rasa perhatian atau kasih sayang ketika barang tersebut kita terima.
  • Donasikan barang-barang yang sudah nggak aku pakai dan nggak pernah aku pakai. Beberapa barang aku jual melalui Carousell.
  • Buang barang nggak penting. Ternyata aku punya banyak sampah di dalam lemari.
  • Menata ulang kumpulan dokumen penting. Akta kelahiran, ijazah, buku tabungan, polis asuransi, paspor dan segala bentuk kartu... semua aku rapikan dan aku scan untuk disimpan di One Drive.
Selain kebiasaan menumpuk barang nggak penting, syukurlah masih ada hal baik yang ternyata aku lakukan selama ini, yaitu memiliki alas kaki, make up dan skincare secukupnya. Iya bahkan aku hanya punya satu lipstik dan aku merasa cukup hahaha karena memang nggak hobi.

Tren Less Waste/ Ramah Lingkungan
Meskipun aku sudah cukup lama bawa tas sendiri kalau mau berbelanja, tapi aku belum kepikiran hal-hal apa lagi yang bisa aku lakukan untuk mengurangi sampah. Thanks to Instagram, aku mulai melakukan hal-hal di bawah ini untuk hidup lebih ramah lingkungan.
  • Beli sedotan stainless dan taruh di tas bersama sendok dan garpu untuk mengurangi sampah ketika makan diluar.
  • Sebagai perempuan, tentunya aku juga beli pembalut kain, menstrual cup dan reusable cotton pad.
  • Simpan tempat bekal khusus di kantor. Jadi kalau mau beli bubur pagi-pagi atau beli makan siang diluar, aku bisa kurangin sampah sterofoam.
  • Beralih dari penggunaan sabun cair (dikemas plastik) ke sabun batangan (dikemas kotak kertas).
Selain hal diatas, banyak yang bisa dilakukan (tapi belum aku lakukan) seperti ganti sikat gigi plastik dengan sikat gigi bambu, mengolah kompos sendiri, dll. 

Produk kecantikan seperti pelembab wajah, toner dan lainnya juga nggak lepas dari tren ramah lingkungan, jadi produk natural makin ngehits. Tapi aku belum berani beralih coba produk baru karena trauma drama jerawat berkepanjangan akibat coba-coba skincare.

Bijak Kelola Uang
Pengelolaan keuangan aku dua tahun terakhir sangat buruk. Untungnya akhir tahun 2018 menemukan kembali ZAP Finance di Instagram. Waktu kuliah aku baca bukunya Prita Ghozie, founder ZAP Finance. Jadi waktu awal kerja, aku langsung bikin akun sekuritas dan beli reksadana rutin selama beberapa bulan. Tapi aku nggak disiplin jadi kemudian aku anggurin dan justru aku jadi konsumtif astaga.

Selain ZAP Finance, ada akun Instagram jasa financial planner yang ngehits di kalangan anak muda, yaitu Jouska. Akun ini sering share dan bahas masalah-masalah keuangan yang cukup ngeri dan membuat aku berdoa semoga aku tidak berada dalam kondisi seperti itu dikemudian hari.

Sebelum terlambat, maka aku memutuskan berubah dengan melakukan hal-hal berikut:
  • Unfollow akun toko online (yang jualan pakaian) serta fashion influencer di Instagram.
  • Unsubscribe akun Spotify premium. Dengerin musik aja jarang astaga ngapain aku langganan, aku juga bingung.
  • Atur autodebet rutin tiap bulannya untuk investasi jangka panjang. Sekarang aku nggak pakai reksadana saham, aku beli saham saja melalui Mandiri Sekuritas.
  • Bikin tabungan pensiun sendiri, bukan yang dari kantor. Aku memutuskan untuk rutin beli reksadana saham tiap bulan melalui Sekuritas IndoPremier. Kapan-kapan aku cerita kenapa aku nggak pakai tabungan dana pensiun yang dari bank atau asuransi jiwa.
  • Download aplikasi untuk catat pengeluaran. Aku pakai Monefy di Google Playstore dan masih konsisten untuk saat ini. Tiap catat pengeluaran nggak penting, aku akan merasa bersalah, jadi lumayan bisa ngerem hawa nafsu konsumtif.
  • Menggunakan Transjakarta lebih sering. Biasanya aku sangat malas dan lebih memilih pakai Gojek/ Grab. Memang enak pakai ojek online karena nggak perlu ngantre, transit, nunggu lama dan berdesakan di rush hour. Tapi ojek online membuat aku bangun lebih siang, jarang jalan kaki atau naik tangga, dan boros banget. Ini sih yang masih sulit tapi aku senang karena aku berprogress! 
  • Masak makan siang sendiri daripada beli diluar. Lebih sehat dan bersih juga.
  • Bawa botol minum besar kalau mau pergi. Aku gampang haus, kalau beli air mineral botol ukuran sedang, setengah botol bisa habis dalam satu kali teguk. Boros beli air mineral banyak-banyak.
  • Memanfaatkan anak kartu BTPN Jenius. Aku pribadi pakai untuk tiga pos; jalan-jalan (dimasukkan ke akun Traveloka), belanja dan jajan (dimasukkan ke akun Tokopedia dan Shopee), dana darurat. Jadi kalau belanja dan makan di luar aku gesek kartu yang khusus untuk itu supaya nggak over budget.
  • Beli asuransi! Kalau ini sih aku memang selalu beli asuransi demam berdarah dan asuransi kecelakaan diri tiap tahun di Asuransi Adira (belinya online nggak pakai ribet). Aku nggak beli asuransi kesehatan karena biaya kesehatan (sakit, vaksin, check up rutin) ditanggung kantor dalam limit yang cukup bagiku. Pokoknya diusahakan jangan sampai biaya kesehatan menggerus tabungan. Jadi silakan beli asuransi yang sesuai dengan kebutuhan.
Wow setelah dipikir-pikir betapa acak adutnya hidupku selama ini. Meskipun terdenger klise, aku merasakan perubahan yang cukup besar walaupun baru 'berubah' beberapa bulan terakhir. Rasanya aku bisa berdamai dengan diri sendiri dibanding sebelumnya dan merasa lebih content. Tuh kan, internet dan media sosial nggak selamanya toxic. Tergantung diri kita memilih apa yang mau kita baca dan lihat! Cheers for a better 2019!

17 November 2018

Brownies Enak di Jakarta; Bearly Baker




Suka bingung nggak sih kalau kamu mau kasih bingkisan misalnya untuk bertamu ke rumah kolega, untuk kasih ucapan selamat ulang tahun maupun hari raya, atau bahkan untuk oleh-oleh kalau habis dari Jakarta? Salah satu alternatif yang bisa kamu pilih adalah... kasih kue brownies aja! Packaging yang lucu dan rasa yang enak bikin brownies dari Bearly Baker wajib jadi pilihan kamu.

Kalau kamu bingung mau kasih brownies dengan topping apa, Bearly Baker punya solusinya, yaitu brownies mix! Kamu bisa pilih satu box isi 6 (Rp 65.000) atau satu box isi 12 (Rp 120.000). Varian topping/ rasanya ada roasted almond, chocolate chip, oreo, roasted walnut, rum & raisins, sea salt caramel, dan cheese. Aduh pusing karena semuanya enak-enak banget! 



Brownies ini bisa kamu beli dengan mudah melalui Tokopedia Bearlybaker. Nggak perlu khawatir kalau buru-buru karena kamu bisa pilih ekspedisi dengan gojek instan, brownies akan sampai dalam waktu paling lambat tiga jam dan siap untuk diberikan kepada orang-orang tersayang!

16 November 2018

Scary Things

Apply for that job.
Date that person.
Buy that plane ticket.
Sign up for that class.
Move to that city.
Start that business.

Do all the things that scare you,
because they're worth it.

15 November 2018

Mendadak ke Kuala Lumpur Bermodalkan 38.000 Rupiah

Trip dadakan selalu jadi impian saya sejak SMA akibat baca buku The Naked Traveler hahaha. Dulu sih pengen banget meniru trip dadakan ala Mbak Trinity yang dateng ke bandara, lalu beli tiket penerbangan kemanapun secara random. Sayangnya saya nggak seberani itu yah. Tapi akhirnya kesampaian juga trip dadakan, walaupun nggak mendadak-mendadak amat dan nggak jauh-jauh amat.


Berawal dari suatu pagi di kantor di awal bulan November, tiba-tiba teman satu tim saya nyeletuk "Eh ada tiket ke Kuala Lumpur cuma Rp 38.000 dari Malaysia Airlines di Traveloka!". Saya langsung buka aplikasi Traveloka dan beli tiket saat itu juga! Berhubung periode promonya hanya dua minggu pertama di bulan November, jadilah saya pesan tiket untuk berangkat minggu depannya. Selang beberapa jam, saya coba cek harga penerbangan tsb lagi dan harganya sudah naik menjadi Rp 2.485.000! 

Transportasi dari Bandara KLIA ke Stasiun KL Sentral
Cara paling cepet dan mudah, tentunya dengan naik kereta. Begitu sampai di area kedatangan, kamu akan menemukan loket kereta KLIA. Kalau memang mau langsung ke KL Sentral, beli tiket KLIA Express seharga 55 RM. Keretanya cepat dan nyaman banget. Sekitar 30menitan langsung sampai di KL Sentral.

Transportasi selama di Kuala Lumpur
Moda transportasi di Kuala Lumpur sangat bervariatif (MRT, KTM, LRT, dst) tapi untungnya semua terintegrasi dengan baik. Kartu yang digunakan untuk pembayaran transportasi di Kuala Lumpur namanya Touch n Go. Sebenarnya, turis tidak harus membeli kartu tersebut karena tersedia token yang bisa dibeli melalui mesin setiap kali mau bepergian. Tapi demi kenyamanan dan karena malas beribet-ribet ria setiap mau jalan, saya beli kartu Touch n Go di KL Sentral seharga 20.20 RM (berisi saldo 15 RM). 

Dari KL Sentral Menuju Hostel
Saya memilih untuk menginap di Pods The Backpacker House & Cafe yang dekat dengan KL Sentral. Setelah turun dari KLIA Express, naik eskalator ke arah NU Sentral Mall, ikutin jalan dan keluar di semacam jembatan penyebrangan mall gitu. Barulah turun dan buka google maps untuk menuju hostel. Nggak sampe 10 menit jalan kaki langsung sampai. Walaupun waktu check in dimulai pukul 14.00, karena kebetulan bed-nya sudah tersedia, maka langsung dipersilakan masuk kamar. Tadinya sih hanya berniat menitipkan tas saja kalau memang belum bisa check in.

Dengan biaya Rp 95.000 / malam, hostel ini menyediakan sharing bedroom (female only) yang bersih, nyaman dan bagus ventilasinya jadi cahaya matahari dan udara segar bisa masuk. Selain itu penggunaan alas kaki juga dilarang baik di lorong maupun kamar. Jadi bisa gelar sajadah dan shalat dengan tenang di lantai yang bersih. Sementara itu, kalau mau ke toilet atau kamar mandi juga disediakan sandal jepit. Surprisingly, toilet dan kamar mandinya bersih! Sarapan ala kadarnya (kopi, susu, roti, selai) juga disediakan gratis oleh hostel ini.

Hari Pertama

Kuala Lumpur City Gallery di Dataran Merdeka
Transportasi: naik bus gratis Go KL dari Plaza Sentral, turun di Dataran Merdeka

Tiket masuk seharga 10 RM sudah termasuk voucher suvenir senilai 5 RM. Semacam dipaksa membeli suvenir sih, aku beli dua kartu pos masing-masing seharga 2.5 RM. Dari sekian banyak instalasi, yang menarik menurut saya cuma satu yaitu semacam light performance yang menyoroti maket kota Kuala Lumpur di dalam ruangan gelap sambil nonton video mengenai sejarah dan budaya Kuala Lumpur. Diluar gedung ada instalasi I Heart Kuala Lumpur yang dipenuhi antrian turis yang ingin berfoto disana. 



Kuala Lumpur Tekstil Muzium
Lokasinya berada tepat di seberang Kuala Lumpur City Gallery. Jadi sayang banget kalau nggak berkunjung kesini, apalagi tiket masuknya gratis. Banyak informasi mengenai kain-kain tradisional dan tersedia toko oleh-olehnya juga.


Masjid Jamek
Bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari Dataran Merdeka. Tapi sayangnya perempuan nggak diperbolehkan masuk pada Jumat siang menjelang zuhur karena akan digunakan untuk shalat Jumat. Di sekitaran Masjid Jamek ini banyak jajanan, jadi bisa makan sambil istirahat siang.

Batu Caves
Transportasi: Dari KL Sentral naik KTM Komuter menuju Batu Caves (stasiun terakhir).

Keretanya lumayan lama. Untungnya sore itu nggak terlalu ramai, jadi bisa duduk dan tidur siang karena perjalanan kesana rasanya cukup jauh. Sayang banget waktu sampai disana, hujan super deras. Tapi turis tetap ramai-ramai aja tuh. Hati-hati ketika menaiki anak tangga karena semakin ke atas, semakin banyak monyet.


Jalan Alor
Transportasi: Dari KL Sentral naik LRT arah Sentul Timur, turun di Masjid Jamek. Pindah kereta ke arah Ampang, turun di Hang Tuah. Pindah kereta arah Titiwangsa, turun di Bukit Bintang.

Banyak makanan jalanan, tapi sayangnya agak susah cari tempat makan halal yang nyaman. Meskipun beberapa tempat mengaku tidak menjual babi, tetapi rupanya mereka menjual kodok (swikee). Di sekeliling Jalan Alor juga banyak toko-toko lucu, jadi bisa cuci mata setelah makan malam.


Hari Kedua

Petronas Twin Tower
Transportasi: Dari KL Sentral naik LRT Kelana Jaya (arah Gombak), turun di KLCC.

Ikutin arah keluar Mall Suria yang tembus ke taman yang ada air mancurnya. Pagi itu suasananya masih tenang meskipun banyak orang berolahraga. Turis cuma sedikit, jadi bisa duduk santai menikmati taman sambil mengobrol dan nonton pertunjukan air mancur yang cukup menghibur.



Central Market, Kasturi Walk dan Petalling Street
Transportasi: Dari KL Sentral naik LRT Kelana Jaya (arah Gombak), turun di Pasar Seni.

Kalau mau beli oleh-oleh tepat banget sih berkunjung kesini. Banyak penjaja baik di dalam gedung maupun di sepanjang jalan. 


Berjaya Hills (Comar Tropicale dan Japanese Village)
Berjaya Hills ini lokasinya agak jauh dari kota, sekitar satu jam perjalanan dengan mobil. Selain naik mobil pribadi, kamu juga bisa naik taksi yang banyak mangkal di depan Hotel Berjaya Times Square. Alternatif paling murah yaitu naik shuttle bus (semacam mobil travel). Bus ini hanya mampu membawa paling banyak 11 orang dan hanya beroperasi dua kali sehari.

Tiket shuttle bus bisa dibeli di tenant spa bernama The Chateau (Berjaya Times Square Lantai 8) seharga 60 RM untuk bolak-balik (sudah termasuk tiket masuk Colmar Tropicale, Japanese Village dan Botanical Garden). Pastikan sudah beli tiket H-1 sebelum berangkat ya karena sering sold out. Shuttle bus ke Berjaya Hills akan menjemput penumpang di lobby Hotel Berjaya Times Square (satu gedung dengan Mall Berjaya Times Square).

Transportasi ke Berjaya Times Square: Dari KL Sentral naik LRT arah Sentul Timur, turun di Masjid Jamek. Pindah kereta ke arah Ampang, turun di Hang Tuah. Pindah kereta arah Titiwangsa, turun di Imbi.

Perjalanan menuju Berjaya Hills berkelok-kelok dengan tikungan yang cukup tajam. Tapi pemandangannya indah banget dengan suasana yang sejuk. Apalagi pas udah sampe lokasi, walaupun terik tetep sejuk! 



Hari Ketiga

Muzium Negara
Transportasi: Dari KL Sentral, masuk aja ke area MRT. Jalan kaki lumayan jauh di dalam area MRT, ikutin petunjuk untuk keluar di Muzium Negara.

Warga asing perlu bayar 5 RM untuk masuk kesini. Tapi museumnya bagus! Jadi wajar dan worth banget. Banyak anak-anak sekolah yang sedang study tour berkunjung kesini. 



Oleh-oleh?
Saya nggak pernah tertarik untuk beli cinderamata untuk diri sendiri. Jadi biasanya hanya beli untuk orang lain. Oleh-oleh yang saya pilih berupa makanan yaitu cokelat almond, teh tarik dan snack. Belinya di Hero di Berjaya Times Square selepas pulang dari Berjaya Hills hari sebelumnya.

Sepulang trip tentunya senang yah, dan semakin pengen jalan-jalan lagi LOL.

26 September 2018

Sawadika Bangkok!

Berawal dari celetukan iseng saya yang mengajak kedua teman untuk melancong ke Bangkok, rupanya mereka setuju. Mulailah kami follow akun-akun instagram yang sering menginformasikan promo tiket pesawat. Alhasil awal Maret saya mendapatkan informasi promo Air Asia dan teman saya langsung booking via aplikasi maskapai tersebut setelah memastikan bahwa tidak ada keperluan mendesak di kantor masing-masing pada jadwal liburan kami.

Jasa Titip ke Bangkok
Kedua teman saya membuka jasa titip (jastip), baik melalui cara konvensional alias pesanan teman-teman satu kantor maupun melalui cara kekinian, yaitu aplikasi Airfrov. Aplikasi ini merupakan platform yang aman bagi kalian yang mau menggunakan jastip, baik sebagai pemesan maupun yang menawarkan jasa. Bangkok memang terkenal dengan wisata belanjanya karena banyak barang berkualitas bagus dengan harga miring. Kalau dijual kembali di Indonesia, bisa lumayanlah ambil marginnya. Saya sendiri tidak berminat membuka jastip karena hanya ingin liburan tanpa dibebani apa-apa, plus enggan bayar biaya bagasi :P

Dari sekian banyak permintaan titipan yang ada, pesanan-pesanan yang diterima oleh teman-teman saya diantaranya:
  • Rok tutu
  • Baju apapun yang bolong bagian belakangnya (lol yes)
  • Nestea Thai Tea sekian puluh kantong
  • Juhi Squid Snack sekian puluh kantong
  • Pengambilan pesanan di beberapa toko di Platinum Fashion Mall
  • Penitipan uang deposit di beberapa toko di Platinum Fashion Mall
  • Produk Naraya

Toko-toko di Platinum Fashion Mall rupanya memang sudah terkenal di berbagai negara. Hal unik terjadi ketika teman saya ingin membeli barang titipan di salah satu toko. Teman saya menunjukkan gambar-gambar pakaian yang harus ia beli melalui ponselnya. Namun penjaga toko mengatakan bahwa barang-barang tersebut sudah sold out. Paniklah teman saya, rupanya setelah berkomunikasi lagi dengan si penitip barang yang ada di Indonesia, barulah penjaga toko memberikan sebuah kantong bertuliskan nama si penitip barang. Astaga rupanya sudah disiapkan hahaha. Jadi teman saya tinggal memberikan uang bayaran.

Ada juga orang yang ingin menitipkan uang deposit di salah satu toko di Platinum Fashion Mall. Ternyata ketika seseorang sudah menaruh uang deposit di toko tersebut, maka pemilik toko akan mengundang si pemberi uang (dalam hal ini si penitip di Indonesia) ke dalam grup WhatsApp toko tersebut. Jadi ketika ada barang baru yang tiba, si pemberi uang bisa langsung memesan barang.

Sementara itu untuk pesanan-pesanan berupa snack atau makanan kemasan, Supermarket Big C merupakan andalan pelancong. Supermarket ini bahkan buka dari pukul 09.00 pagi hingga pukul 02.00 pagi! Ketika kami berkunjung pada pukul 20.00, supermarket sangat ramai dan troli berisi puluhan bahkan berkadus-kardus barang akan terlihat di setiap sudutnya. Kalau kalian mau pergi ke Bangkok dan buka jasa titip, pastikan bawa tas besar dari Indonsia atau bahkan koper khusus barang-barang jasa titip bila barangnya lumayan berat untuk ditenteng. Kalau barang yang dicari tidak tersedia di Supermarket Big C, coba mampir ke 7 Eleven karena sampai tahu ada (ini terjadi pada teman saya hihi syukurlah).

Tempat Shalat dan Makanan Halal
Jangan khawatir soal tempat shalat, apalagi makanan halal. Makanan halal tersedia di berbagai tempat meskipun kadang pilihannya tidak banyak. Kami menemukan mushala super nyaman di Mall MBK karena membaca direktori mall tersebut. Ketika kami googling-pun, ada masjid terdekat meskipun lokasinya cukup sulit dijangkau karena harus melewati sungai, jembatan, serta gang sempit di pemukiman padat. Namun rupanya masjid tersebut sangat bersih! Bahkan ada jamaah ketika salat zuhur berlangsung.

Cek Biaya Transportasi
Banyak alternatif transportasi yang bisa digunakan di Bangkok seperti BTS (Bangkok Sky Train), MRT, Bus, Taxi hingga Grab. Jika kalian berlibur sendirian atau berdua, menggunakan transportasi umum memang lebih murah. Namun jika berlibur bertiga, jangan lupa hitung estimasi biaya menggunakan kendaraan umum vs menggunakan Grab. Beberapa kali saya hitung, penggunaan Grab lebih hemat untuk bertiga. Tapi pastinya, cobain transportasi lokal merupakan hal wajib ketika liburan! Silakan cek https://www.bangkokbts.com/ dan https://www.transitbangkok.com/.

Jangan Salah Naik Perahu
Ketika sampai di salah satu dermaga/ stasiun perahu, kami melihat tulisan 'ticket' berwarna biru dan mengarah ke loket tersebut. Rupanya itu adalah loket untuk pembelian tiket perahu yang lumayan nyaman. Ongkos sekali jalan 50 baht. Kalau kalian mau naik perahu yang lebih murah, coba cari loket yang berwarna oranye dengan ongkos sekali jalan 15-30 baht. Lengkapnya bisa dicek di http://www.bangkok.com/attraction-waterway/chao-phraya-river-chao-phraya-river-pier-guide.htm.


 

 

 

 

  


Time to get back to reality! Khap kun ka (thank you)!