28 April 2019

Losing Appetite and Interest

This is the first month after I finish my shopping ban. Surprisingly, it's the first time in my life that I have no desire for the things that I used to love.

Clothes - I think I had enough. I used to have some items in the wishlist, but I don't want it anymore. I'm testing myself by visiting my favorite store offline and online, but I want nothing. This is very different compared to when I'm still on for the shopping ban, I was like... want many things!

Books - I want to finish the last book I bought. Yes I'm glad that I finally bought Filosofi Teras by Henry Manampiring after a long consideration, but it's damn thick.

Travel - I don't want an adventure at the moment. I even rejected an invitation from a friend of mine who's willing to pay for my holiday, lol yes people like this exist - don't get me wrong, of course I would never let anyone pay for this kind of thing. Last month, I'm checking a flight fare and constantly browsing about place that I'm planning to visit, but now I just don't think I need to go somewhere far, at least this year.

Cook - I didn't cook my breakfast and lunch like I used to be. I didn't cook on weekend as well. I don't know why.

Food - This is weird. My work mates thought that I'm being weird too. I usually eat a lot and often. I used to know what I want for lunch and being super happy when it's lunchtime, but I ended up just drinking a bottle of milk.

Currently I'm taking medication, so maybe the pills given by the doctor and the prohibition to eat read meat, some seafood and junk food are the reason why I lost my appetite (cause I have limited options about what I'm allowed to eat). But to be honest I'm worry to lose interrst in almost every aspect of my life. Less desire sounds good, it makes people less ambitious and not spending money over materials, but this just doesn't feel right.

Or.. maybe I'm just bored.

31 Maret 2019

My 3 Months Shopping Ban

Hore akhirnya tiba di akhir bulan Maret! Selama tiga bulan terakhir, saya sudah meniatkan diri untuk menjalankan shopping ban. Ceritanya terinspirasi mbak Cait Flanders, tapi kalau beliau berani berkomitmen untuk melaksanakannya selama satu tahun dan punya written shopping approved list, saya cuma berani berkomitmen selama tiga bulan dan tanpa daftar belanja tertulis.

Saya meniatkan untuk nggak beli pakaian atau buku baru, serta mengurangi intensitas sarapan dan makan siang di luar. Shopping ban bukan berarti nggak boleh belanja loh ya, saya tetep kok belanja kebutuhan makanan, toiletries, beli kado, dll yang memang dibutuhkan. 

Ini hal-hal yang berhasil tidak saya beli selama tiga bulan terakhir:

Pakaian/ sepatu/ tas/ aksesori baru
Dulu sering banget kelepasan akibat sering browsing online marketplace, lihat fashion posts di instagram, ke mall, dll. Sekarang udah enggak. Ternyata saya bisa hidup baik-baik saja tuh. 
Tips: Nggak browsing di Tokopedia/ Shopee, unfollow online shop di Instagram, minimalisir kunjungan ke mall. Tiap malam Senin, saya siapin baju kerja untuk seminggu. Atur mix and match pakaian yang jarang digunakan berdampingan.
Tapi tentunya saya juga punya pakaian dan aksesori yang masuk ke wishlist. Entah kapan dibeli, sampai sekarang sih masih sanggup menahan diri.

Buku baru
Dulu saya suka ke toko buku dan kadang impulsif beli buku dan berujung nggak dibaca karena nggak suka.
Tips: Rajin baca ulasan mengenai buku yang ingin dibeli. Kalau udah bener-bener yakin, baru deh beli, jadi meminimalisir buku yang dianggurin karena ternyata nggak suka.
Nah kalo soal ini, saya punya daftar buku yang mau dibaca di tahun 2019. Nantinya akan dibeli secara berkala (kalau satu buku sudah tamat, baru beli yang baru). Oh atau teman-teman yang mau beliin saya kado, tolong beliin ini, ini dan ini lol.

Ini hal yang berhasil saya hemat meskipun tidak strict di banned:

Sarapan atau makan siang di luar
Dulu saya sering banget beli sarapan dan makan siang di luar. Padahal dulu selalu berangkat lebih siang karena naik ojek ke kantor.
Tips: Sekarang saya bangun lebih pagi, jadi bisa bikin jus, sarapan dan masak bekal makan siang sebelum kemudian berangkat naik transjakarta. Saya juga mengurangi intensitas belanja di supermarket, beralih ke tukang sayur dan minimarket deket rumah.
Thanks God, intensitas sarapan atau makan siang di luar lebih jarang. Sesekali tentu pernah beli ketika lagi capek dan nggak sempat masak, tapi bisa dihitung pakai jari deh selama tiga bulan ini.

Ini hal-hal nggak berfaedah yang saya beli:

Jajan. Biasanya kegiatan ini dilaksanakan usai jam kantor atau dikala akhir pekan. Secara budget, memang masih under control tapi ya tetep deh nggak berfaedah kan. Setelah melihat catatan keuangan, saya sering banget jajan es krim dan makanan manis (biasanya coklat, saya sering bikin brownies karena hampir selalu craving makanan manis). Tips: Nggak tau hiks.

Koin webtoon. Iya ini gila emang, saya menghabiskan Rp 30.000,- cuma demi baca unpublished episode dari komik The Secret of Angel dan Young Mom. Nominalnya emang kecil ya segitu doang, tapi itu merupakan bentuk dari sebuah aksi mindless purchase hiks. Tips: Saya merasa guilty banget sampai akhirnya uninstall aplikasi webtoon biar nggak bisa beli-beli koin lagi. Plus, clear cookies and cache Google Playstore sehingga password untuk akses ke kartu debit terhapus dan harus diketik ulang (jadi bikin malas dan mengurungkan niat beli koin gitu).

Setelah tiga bulan, saya nggak akan melanjutkan shopping ban. Tapi lebih ke berusaha untuk menjadi konsumen yang lebih mindful dan sadar sebelum membeli apapun. Sesederhana mau beli sarapan misalnya, ya beli bubur ayam karena memang diniatkan, jadi bisa siapin tempat makan dulu biar nggak pakai sterofoam. Bukan karena lihat tukang bubur, lalu terlintas di pikiran tiba-tiba 'Beli ah!'. Ya gitu deh ngerti kan hahaha.

Yang belum pernah coba shopping ban, silakan dicoba dan tentukan hal-hal yang boleh kamu beli dan hal-hal yang nggak boleh dibeli. Sumber keborosan tiap orang beda-beda. Saya bisa jadi boros di belanja dan beli makan siang di luar, tapi kamu boros di jajan kopi misalnya. Nah disitulah pengeluaran yang harus ditekan. Nggak tau boros dimana? Coba catat dulu pengeluaran bulanan untuk apa aja yah biar tahu bagian mana yang bikin boros.

Semua kuncinya ada di niat. Saya pun naik turun konsistensinya. Banyak baca-baca aja tulisan orang yang sharing tentang mindful living, conscious living, frugal living, minimalist lifestyle, dll sebagai pengingat diri :)

03 Maret 2019

Gratitude Journal

Isu kesehatan mental mungkin masih asing di telinga masyarakat Indonesia. Tapi saya tahu bahwa stress itu ada di sekitar kita. Meskipun pikiran-pikiran negatif yang ada dalam tiap orang tentu berbeda dan tentunya nggak semua orang nyaman mengutarakan ke orang lain - termasuk kepada ahli kejiwaan.

Konsultasi dengan psikolog maupun psikiater masih dianggap tabu oleh mayoritas masyarakat. Pasti harus siap-siap dinasehatin oleh banyak orang semacam "Makanya banyak ibadah dan sedekah" atau "Nggak usah lebay lah jalanin aja kamu kan nggak gila" dan lain-lain. Apalagi konsultasi ke ahlinya itu mahal, dan nggak banyak kantor atau asuransi yang menjamin biaya konsultasi kejiwaan.

Ketika sedang berada dalam fase stres, kita cenderung mengeluhkan masalah-masalah yang ada dan meratapi hal-hal apa yang nggak berjalan sesuai rencana. Hal ini menyebabkan kita lebih fokus pada hal negatif, dibandingkan hal positif yang sebenernya banyak terjadi dalam keseharian. Nah salah satu cara untuk tetap waras disaat seperti ini adalah dengan menulis gratitude journal atau catatan bersyukur.
“Give thanks for a little and you will find a lot” ~Hausa Proverb
Banyak riset yang menyatakan bahwa bersyukur secara rutin membawa banyak manfaat seperti tidur lebih nyenyak, lebih jarang sakit dan bikin orang lebih bahagia. Saking populernya gratitude journal ini, bahkan banyak mobile app untuk nulis catatan bersyukur secara digital loh. Tapi ini pilihan sih, aku sendiri baru mulai gratitude journal di tahun 2019 menggunakan buku catatan biasa.

Gimana cara nulisnya? Kamu bisa sekedar listing dalam poin-poin atau bahkan menulis dalam paragraf. Kalau aku biasanya listing poin aja karena tulisan panjang aku ketik di blog (tapi tidak dipublikasikan) untuk memudahkan kalau mau tracking hal-hal apa yang sudah dilalui.

Apa aja yang bisa ditulis? Banyak banget, misalnya:
  • Kopi hangat yang kamu minum di pagi hari
  • Ketika bertemu dengan orang baik di kendaraan umum
  • Ketika rekan kerja bantuin pekerjaan kamu yang sedang overload
  • Cemilan yang kamu makan hari itu
  • Toko roti favorit yang selalu menyediakan menu yang kamu suka
  • Acara keluarga yang menyenangkan
  • Ilmu baru yang kamu pelajari
  • Keberhasilan pribadi untuk menabung dan beli barang yang udah lama masuk wishlist
  • dan lain-lain
Meskipun kedengarannya receh atau ah biasa banget, tapi gratitude journal is totally works on me karena dilakukan secara rutin (biasanya saya nulis tiap akhir pekan).  
  • Jadi selalu sadar bahwa sekacau apapun hidup, selalu ada berkah yang bisa disyukuri.
  • Jadi tahu hal-hal apa yang bikin senang.
  • Rasanya lebih bisa berdamai dengan diri sendiri dan keadaan.
  • Kalau mood lagi nggak baik, bisa buka-buka jurnal dan kembali teringat bahwa banyak hal yang menyenangkan.
Catatan: Kalau kamu memang butuh konsultasi kepada ahli dan terkendala biaya yang mahal, ada poli kejiwaan di Puskesmas Mampang dan biayanya gratis bagi peserta BPJS!

Belajar Digital Marketing di Mana Class

Tahun 2019 saya bikin resolusi untuk memanfaatkan akhir pekan dengan baik. Udah sejak lama pengen ikut weekend workshop, tapi maju mundur karena malas bersosialisasi ketemu orang baru dan biayanya mahal-mahal banget. Berhubung sudah niat dan sekarang saya lebih disiplin soal pengelolaan keuangan, saya jadi tahu bahwa di bulan Februari ini saya cukup hemat sehingga bisa ada dana sisaan untuk ikut workshop. Ya nggak papa bangetlah jajan ilmu.

Topik yang mau saya pelajari yaitu digital marketing. Banyak iklan workshop bertema digital marketing yang bertebaran di Instagram. Tapi setelah menimbang-nimbang (biaya terjangkau serta gaya desain grafis poster promosinya dan copywriting yang tidak alay), akhirnya pilihan jatuh ke Mana Class. Lokasi workshop-nya juga nyaman dan strategis karena mereka partnership sama Go-Work, coworking space yang sedang ngehits dan menjamur dimana-mana.




Saya ambil kelas Learn Instagram Analytics to Optimize Your Content. Selain karena emang tertarik sama topiknya, ini juga bermanfaat untuk kerjaan di kantor dan untuk bisnis pribadi yang baru mau dimulai.

Jumlah pesertanya hanya 18 orang, dan cukup variatif latar belakangnya mulai dari mahasiswa yang iseng ikut, mahasiswa yang memang ada tugas kuliah, karyawan yang memang kerjaannya relate dengan digital marketing, sampai yang kerjaannya nggak ada hubungannya samasekali. Seru karena ketemu dan banyak ngobrol sama orang baru, jadi dapet lebih banyak informasi yang selama ini nggak pernah terpikirkan.

Dari kelas ini saya jadi tahu analytic tools apa aja yang disediakan instagram dan gimana cara kita ambil insight dari data yang ada untuk menyusun konten. Tapi untuk menghormati penyelenggara, detilnya ilmu dan informasi yang diberikan tentu nggak bisa saya share seluruhnya dengan susunan yang sama persis, mungkin kapan-kapan aku share summary-nya.

I would recommend anyone to join this workshop because it's totally worth your time and money! 

02 Maret 2019

Persiapan Dana Pensiun

Siapa yang takut sama masa pensiun? Saya udah takut sama masa pensiun sejak kuliah. Takut doang, tanpa ada tindakan nyata hahaha. Baru deh ada niatan untuk bikin tabungan pensiun setelah terpaksa ikut kelas manajemen keuangan konsumen di tahun terakhir kuliah.

Setelah lulus dan bekerja full time, ternyata kantor saya mendaftarkan karyawannya untuk ikut Tabungan Dana Pensiun BNI Simponi. Iuran bulanan dibayarkan oleh kantor walaupun jumlahnya nggak banyak (tidak dipotong dari gaji). Waktu pertama kali didaftarin, saya juga diminta pilih profil risiko yang seperti apa untuk alokasi dananya.

Selain itu, saya juga baru tahu kalau ada yang namanya Jaminan Pensiun dan Jaminan Hari Tua dari BPJS Ketenagakerjaan. Setahu saya semua orang sekarang wajib punya ini, tiap bulan kita maupun kantor wajib bayar iuran sejumlah tertentu. Jadi coba cek ya di apakah kamu udah jadi peserta BPJS Ketenagakerjaan atau belum. Bagi yang udah jadi peserta, bisa download mobile app BPJS Ketenagakerjaan untuk cek saldonya.

Nah gara-gara hal diatas, saya jadi kayak males bikin tabungan pensiun sendiri, toh udah dibikinin sama kantor ini.

Baru deh akhir tahun 2018, setelah memulai program #tobatkeuangan saya mulai tergerak untuk mempersiapkan tabungan dana pensiun pribadi salah satunya gara-gara saya baru tau ada istilah sandwich generation dari ZAP Finance. Sandwich Generation mengacu pada orang-orang yang harus menanggung beban finansial keluarganya (pasangan dan anak) dan orangtua (yang tidak memiliki dana maupun proteksi di masa pensiun). jadi keadaannya terhimpit bagaikan sandwich. Nah, supaya anak saya di masa depan (lol) tidak menjadi sandwich generation, tentunya saya harus melek keuangan sejak sekarang dong. Salah satu caranya ya dengan buat tabungan dana pensiun.

Tadinya saya berencana minta pihak HRD untuk potong sekian persen gaji supaya langsung dialokasikan ke rekening BNI Simponi yang dikelola kantor, tapi ternyata nggak disarankan. Katanya nanti perhitungannya jadi rumit entah bagaimana. Setelah tanya teman, di kantor dia juga nggak diperkenankan untuk setor dana pribadi ke tabungan dana pensiun yang dikelola kantornya dengan alasan yang sama (perhitungan jadi rumit). Yaudah deh saya mulai riset cari-cari informasi mengenai tabungan dana pensiun.

Biasanya tabungan dana pensiun dikelola oleh bank atau asuransi. Sistemnya kurang lebih sama, yaitu:
  • Kita sebagai nasabah harus bayar iuran tiap bulan sejumlah dana yang disepakati bersama. Biasanya sih bank dan asuransi menentukan minimum setoran bulanan, tapi nggak tinggi. Cuma kata beberapa penasehat keuangan, idealnya 5-10% dari penghasilan bulanan kita.
  • Dana tersebut nggak akan bisa diambil hingga kita mencapai usia tertentu. Umumnya minimal usia 45 tahun, baru dana tersebut bisa diambil. Tujuannya ya karena ini kan tabungan untuk masa pensiun, ya masa bisa diambil seenak jidat kapanpun.
  • Nah setelah kita pensiun, dana itulah yang akan menghidupi kita. Menurut Peraturan Menteri Keuangan, kalau saldo dana pensiun kita kurang dari Rp 625jt, maka dananya bisa ditarik semua. Tapi kalau dana pensiun kita lebih dari itu, yang bisa ditarik hanya 20% aja. Sisanya wajib dibelikan produk anuitas, dimana kita akan menerima dananya secara berkala setia bulan sampai meninggal dunia.
Saya sempet kontak beberapa bank untuk caritau soal produk tabungan dana pensiun mereka, khususnya BTPN dan BCA karena saya punyanya rekening bank itu, dengan harapan meminimalisir kewajiban bikin rekening bank baru dan bayar biaya administrasi bulanan tambahan.
  • Tabungan Dana Pensiun BTPN: Ada produk Tabungan Citra Pensiun, tapi produk tersebut hanya diperuntukkan oleh calon pensiunan (ada usia minimal gitu, kalo nggak salah 45 tahun). Lah kalau masih usia 20an kayak saya nggak bisa daftar.
  • Tabungan Dana Pensiun BCA: Saya nemu situs Dana Pensiun BCA, tapi ketika petugas layanan pelanggannya ditanya, mereka menyatakan tidak tahu menahu mengenai produk tersebut. Emang sih itu situsnya bukan bca.co.id tapi kok bisa yah ada situs itu. Di BCA adanya produk Maxi Retirement, sejenis unit link gitu dengan premi wajib tahunan. Bye banget ini mah bukan yang saya butuhkan.
  • Tabungan Dana Pensiun Bank Mandiri: Nah disini baru ada produk yang sesuai, Mandiri Dana Pensiun tanpa embel-embel proteksi alias unitlink dan bisa dimiliki oleh siapapun tanpa minimal usia. Syarat dan ketentuannya kurang lebih sama dengan produk tabungan dana pensiun bank lain yaitu dana hanya bisa ditarik saat nasabah mencapai usia sekian. Tapi sayangnya harus bikin rekening Bank Mandiri yang biaya administrasi bulanannya agak bikin males. 
  • Tabungan Pensiun Bumiputera: Tadinya sempat mau daftar program dana pensiun di DPLK Bumiputera, namun repot daftarnya harus ke kantornya (yaiyalah) dan situs perusahaannya yang super jadul membuat saya tidak yakin.
Setelah dipikir-pikir atau lebih tepatnya hopeless nggak nemu produk yang cocok, yaudahlah saya bikin akun sekuritas aja khusus untuk dana pensiun. Toh jatuhnya sama aja kayak tabungan pensiun di bank, bedanya cuma nggak ada peraturan bahwa ini hanya bisa ditarik ketika usia saya minimal 45 tahun, tapi itu mah balik lagi ke konsistensi yah. Nanti kalau saya udah pensiun, dana yang terkumpul bisa dibelikan produk anuitas di perusahaan asuransi maupun dialokasikan ke instrumen investasi yang minim risiko, misalnya obligasi negara.

Karena malas ijin atau ambil cuti, saya memutuskan untuk bikin akun di IndoPremier Sekuritas. Walaupun saya udah punya akun di Mandiri Sekuritas untuk investasi, saya mau tabungan untuk pensiun ini menggunakan akun sekuritas yang berbeda karena ya biar fokus aja gitu dana pensiun ya bukan untuk diganggu gugat.  

Daftar jadi nasabah IndoPremier ini gampang banget, bisa melalui website dan dokumen-dokumennya bakal dijemput oleh pegawai mereka ke alamat yang kita mau. Saya minta dokumen saya dijemput di kantor hahaha enak banget gak perlu repot-repot dateng ke kantornya. Nggak ada biaya administrasi bulanan juga dan nggak kena biaya tiap beli reksadana! Selang beberapa hari, saya udah diaktifkan dan bisa langsung atur pembelian produk yang saya mau secara otomatis tiap bulan. Thanks to fitur auto debet BTPN Jenius, gampang banget atur auto debet tiap bulannya untuk dialokasikan ke dana pensiun. Saat ini saya taruh dananya di reksadana saham yang isinya saham-saham bluechip aja.

Sejak rutin menyisihkan sebagian penghasilan bulanan untuk dana pensiun, hidup rasanya lebih tenang hahaha beneran, karena at least saya tahu bahwa saya sudah berusaha melakukan hal yang terbaik yang saya bisa untuk saat ini. Soal persiapan penghasilan tambahan atau pekerjaan sampingan untuk menopang masa pensiun nanti, ya we'll get there someday! Long way to go lol!