18 Agustus 2019

Silver Lining

Beberapa hari lalu, saya meminta seorang teman untuk menemui saya karena saya pusing sekali pada saat itu. Saya banyak berkeluh kesah, lalu ia bilang, "Mungkin aja suatu hari kamu nemu silver lining dari semua ini,". Oh betul juga, setelah diingat-ingat, ada beberapa kejadian dalam hidup yang silver lining-nya baru saya temukan beberapa bulan atau tahun kemudian. Salah satunya yang bisa dibagikan, yaitu cerita ini.

Silver lining is a metaphor for optimism which means a negative occurrence may have a positive aspect to it.

Dulu waktu kelas 1 SMA, sebenernya saya udah tahu bahwa nanti kalau kuliah, kemungkinan besar saya akan mengambil jurusan sosial, meskipun belum tahu apa. Tapi pada saat itu saya tetap memilih IPA karena alasan yang menurut saya agak aneh, bisa jadi nanti waktu kelas tiga saya berubah pikiran dan menginginkan untuk masuk di jurusan ilmu eksak.

Akhirnya sampai pada kelas tiga SMA, saya udah yakin banget mau masuk jurusan sosial. Tapi disaat yang bersamaan, saya baru tahu bahwa saya harus mengambil ujian SNMPTN IPS jika ingin masuk ke jurusan sosial di universitas. Terus terang, kaget banget waktu itu (hello, kemana aja saya ini) dan langsung ngomel ke diri sendiri 'Tuh kan, sok ide sih pakai masuk jurusan IPA segala. Udah tau nggak suka pelajarannya. Sekarang baru tau rasa susah belajar soal-soal IPS untuk ujian SNMPTN,'. Hahaha.

Pada saat itu saya belum tahu bahwa ada yang namanya SNMPTN undangan. Dulu cuma tahu ada PMDK, jalur masuk universitas via nilai rapor, biasanya hanya diperuntukkan kepada siswa yang rankingnya bagus. Nggak ada kepikiran samasekali bahwa saya akan mendaftar ke universitas melalui jalur tersebut. Mata pelajaran Kimia dan Fisika aja remedial melulu, gimana mau ranking.

Suatu hari guru bimbingan konseling (BK) menginformasikan bahwa jalur PMDK ditiadakan dan diganti dengan jalur SNMPTN Undangan, dimana 80% siswa sekolah bertaraf internasional bisa mengikuti pendaftarannya. Kebetulan saya nggak the lowest 20%, jadi bisa ikutan mendaftar.

Proses pemilihan universitas bagi saya betul-betul singkat. Saya cuma tanya Ayah saya saja.

"Aku daftar kemana nih?"
"Jangan di Semarang."
"Trus dimana?"
"UI."
"Enggak ah. Kayaknya nggak bakal diterima." #SelfRejectLOL
"IPB aja. Kampusnya bagus kemaren Ayah lewat."
"Oke."

Saya langsung cari jurusan yang saya mau, eh ternyata ada. Yang mengherankan, jurusan yang saya daftar ini merupakan jurusan sosial, tapi di situs kampus tertera bahwa hanya anak IPA yang bisa mendaftar ke seluruh jurusan di IPB. Saat itu saya nggak terlalu mikirin, yang penting sudah daftar iseng-iseng berhadiah, karena dari awal memang tidak terpikir samasekali masuk universitas tanpa  tes.

Begitu pengumuman keluar, eh ternyata saya diterima. Walaupun lega dan senang, sejujurnya saya bingung 'Ih bisa-bisanya saya lolos,". Little did I know, setelah itu saya baru tahu bahwa:
  • SNMPTN Undangan mengutamakan siswa yang mendaftar sesuai jurusannya (jurusan IPA ya daftar ilmu eksak, jurusan IPS ya daftar ilmu sosial). Kesempatan saya besar karena, saya jurusan IPA di SMA, dan mendaftar ke jurusan yang dikategorikan sebagai ilmu eksak juga oleh IPB (padahal jurusan sosial).
  • Sejak jaman dahulu, IPB menerima 80% mahasiswa melalui jalur PMDK, yang saat itu berubah menjadi SNMPTN Undangan. Berbeda dengan mayoritas universitas lainnya, yang hanya menerima 20% mahasiswa baru melalui jalur tersebut. Itulah kenapa kesempatan saya masuk lebih besar.
  • Jika ada beberapa siswa dari sekolah yang sama lalu mendaftar ke jurusan yang sama di universitas yang sama, maka akan diutamakan siswa yang nilainya lebih bagus. Ini juga alasan mengapa kesempatan saya masuk lebih besar, karena IPB nggak populer di mata teman-teman SMA saya. Hanya lima orang dari angkatan saya yang kuliah di IPB.

Coba kalau pada saat itu saya dengan yakinnya memilih jurusan IPS di SMA, saya nggak akan kuliah di IPB. Coba kalau pada saat itu saya nggak punya pilihan sendiri soal universitas dan tidak bertanya kepada Ayah saya, mungkin saya nggak akan lolos SNMPTN Undangan dan harus ikut ujian tertulis (yang mana saya pasti akan sangat kesulitan).

All thanks to 'ketidakyakinan' and 'ketiadaan pilihan', it brings me surprise.

Pada saat pengumuman lolos SNMPTN Undangan tersebut, saya langsung mikir, Tuhan tau bahwa saya ini lemah - karena saya sulit tidur kalau malam mikirin universitas mana nih yang mau terima saya, tiap hari di depan laptop sibuk cari informasi beasiswa universitas-universitas swasta karena saya seyakin itu nggak bakal lolos kalau harus ambil ujian tertulis. Saya bahkan nggak hadir ke pengumuman kelulusan ujian nasional di sekolah, karena saya lagi anxiety banget takut nggak dapet kuliah. Nggak peduli banget dengan kebahagiaan kelulusan ujian nasional. Beda sama teman-teman yang lain yang mentalnya mungkin lebih kuat. In the end, I'm just lucky..

Oke kalau kata quotes bijak sih, just be patient cause you'll find the silver lining sooner or later. 

13 Agustus 2019

Asuransi Jiwa Bukan Buat Kamu, Tapi ...


Waktu kita kecil, rasanya dunia sederhana banget. Kita nggak perlu mikirin kapan gajian, kapan harus bayar listrik, gimana caranya nabung buat beli rumah, dan lain sebagainya. Banyak hal dalam hidup kita pada saat itu yang sangat bergantung pada orangtua, misal: makan ya tinggal makan apa yang dikasih atau dibelikan orangtua, sekolah ya tinggal belajar aja tanpa perlu mikirin uang pangkal dan  SPP bulanan, kalau sakit ya tinggal ke dokter sama orangtua nanti biayanya mereka tanggung.
Tapi sekarang ketika kita sudah dewasa, rasanya dunia jauh lebih rumit daripada yang kita duga. Berbagai hal yang harus kita pikirkan, banyak hal yang menjadi tanggung jawab kita, entah itu dalam pekerjaan maupun dalam kehidupan pribadi atau berkeluarga. Jadi orang dewasa itu sulit karena kita nggak bisa lagi cuma mikirin diri sendiri. Banyak yang perlu kita pertimbangkan sebelum kita memutuskan sesuatu. Misalnya, 'Saya mau kerja di luar kota, tapi nanti orangtua gimana ya nggak ada yang ngurus' atau 'Mau mengundurkan diri dari kantor yang toxic, tapi belum dapet kerjaan baru, nanti anak istri makan apa'.

Jadi dewasa = punya tanggung jawab
Yap, jadi dewasa itu berarti kamu harus mengurangi kadar ego kamu, karena kamu punya tanggung jawab atas orang lain. Kalau dulu waktu kecil, kamu adalah tanggung jawab orangtuamu, bisa jadi sekarang kamulah yang bertanggung jawab atas orangtuamu, atau pasangan maupun anak-anak kamu.

Tanggung jawab. Waow. Terdengar seram-seram menakutkan mendebarkan gimana gitu.
Sekarang mungkin kondisi kamu dan keluarga baik-baik aja, tapi bukan berarti kamu bisa lengah dan tutup mata atas segala kemungkinan yang terjadi di masa depan. Makanya, kamu udah harus berpikir 'nanti gimana?' bukan 'gimana nanti'.
Kamu mungkin punya saudara dan teman yang benar-benar kamu percaya, tapi tidak ada yang menjamin bahwa tanggung jawab kamu (pasangan, anak, orangtua) akan ditanggung oleh mereka dengan senang hati jika suatu saat kamu nggak ada lagi. Dan percaya deh, akan lebih baik apabila kamu nggak menggantungkan harapan belas kasih dari orang lain. Jadikan diri kamu orang yang tidak merepotkan orang lain, karena siapa juga sih yang mau direpotin?

Kalau kamu kelas menengah, iya maksudnya kalau kamu bukan kaum konglomerat, kamu perlu mempertimbangkan untuk membeli asuransi. Asuransi jiwa adalah jawaban untuk kamu yang peduli atas kelangsungan hidup orang-orang yang kamu sayang di masa depan.



Kalau kamu masih ragu, apa sih yang membuat kamu ragu? Coba simak lima (5) anggapan yang salah mengenai asuransi jiwa di bawah ini.  
  1. 'Ah saya belum punya tanggungan pasangan atau anak tuh!'. Kamu perlu kaji ulang soal definisi tanggungan, karena tanggungan tidak hanya dimiliki oleh mereka yang sudah menikah dan memiliki anak. Kalau kamu masih lajang dan punya orangtua yang perlu didukung secara finansial karena nggak punya dana pensiun atau perlu biaya lebih untuk berobat, maka artinya mereka adalah tanggungan kamu. Atau, kalau kamu punya usaha dan memiliki karyawan, maka karyawan-karyawan itu juga merupakan tanggungan kamu. 
  2. 'Belum tentu saya butuh asuransi jiwa'. Lho memang bukan kamu yang membutuhkan, tapi orang-orang yang menjadi tanggung jawab kamu yang membutuhkan manfaat asuransi jiwa. Apalagi kalau kamu adalah satu-satunya tulang punggung keluarga, kemana keluargamu akan bergantung nantinya? Nggak akan ada lagi kamu yang menyokong keuangan mereka, padahal pengeluaran mereka tentunya akan bertambah seiring berjalannya waktu.
  3. 'Asuransi jiwa kan mahal'. Nggak semahal yang dibayangin kok! Kurangi alokasi dana lain dalam pengeluaran rutin kamu, misalnya biaya hura-hura untuk makan di luar tiap akhir pekan bersama keluarga. Rekreasi bersama keluarga nggak harus keluar rumah setiap minggu, frekuensinya bisa kamu turunkan jadi dua kali sebulan. Toh, ini demi masa depan mereka loh.
  4. 'Bingung sebaiknya berapa uang pertanggungannya'. Asuransi jiwa bukan perkara seberapa besar uang pertanggungannya, tapi berapa dana yang kira-kira dibutuhkan oleh keluarga kamu ketika kamu nggak ada di sisi mereka nanti. Tentukan uang pertanggungan berdasarkan kebutuhan orang-orang tersayangmu yah.
  5. 'Masa depan kan di tangan Tuhan'. Masa depan memang sulit diprediksi, tapi kita sebagai manusia diberi kesempatan untuk mempersiapkan diri. Membeli asuransi jiwa merupakan salah satu bentuk kasih sayang terbaik yang bisa kamu berikan untuk keluarga kamu di masa depan.
Semoga poin-poin diatas bisa menghapuskan keraguan kamu yang belum membeli asuransi jiwa.
Intinya, memiliki asuransi jiwa bukan karena kamu akan meninggal dunia yah, tapi karena orang-orang yang kamu sayang akan tetap hidup dan mereka perlu survive tanpa kamu di sisi mereka nantinya. Itulah mengapa, asuransi jiwa itu bukan buat kamu loh, tapi buat mereka yang kamu sayangi!

22 Juli 2019

Jambore Sahabat Anak 2019


Sejak lulus kuliah, rasanya saya nggak pernah ikut kegiatan sosial di luar acara kantor. Jadi awal tahun ini saya udah niat untuk menyumbangkan sebagian tenaga dan waktu di komunitas sosial. Berhubung saya nggak bisa berkomitmen untuk jadi relawan rutin, maka saya pikir oh mungkin saya bisa daftar jadi relawan Jambore Sahabat Anak 2019. Langsung deh follow instagram Sahabat Anak biar nggak ketinggalan info. Omg time flies, tahun 2013 saya juga niat daftar jadi relawan Jambore Sahabat Anak dan follow Twitternya biar nggak ketinggalan informasi. Lol bahkan media sosial yang populer aja udah beda platform.

Apa itu Jambore Sahabat Anak?
Ini merupakan acara tahunan, yaitu berkemah bersama anak-anak marjinal yang mayoritas berasal dari Jabodetabek. Namun demikian, ada juga anak-anak dari Sumatera yang hadir. Peserta anak tahun ini sekitar 800 orang. Biasanya Sahabat Anak membuka kesempatan bagi orang-orang yang bersedia jadi volunteer sebagai kakak pendamping khusus untuk acara ini. Tugas kakak pendamping ini adalah mendampingi satu atau dua adik selama acara berlangsung, mulai dari memastikan bahwa adik cukup minum, makan tepat waktu, mandi, mengikuti acara dengan baik, dll.

Tahun 2019, Jambore Sahabat Anak membawa tema 'Kita Sama Kita Indonesia' untuk menyampaikan indahnya keberagaman dan menciptakan persabahatan kepada anak-anak. Tema ini juga sebagai kampanye untuk melakukan praktik non-diskriminasi di dalam segala aspek kehidupan, baik formal maupun non-formal, khususnya dalam memberikan perlindungan dan pemenuhan hak anak. Sebelum acara Jambore, anak-anak juga mengikuti kegiatan Walking Tour Rumah Ibadah yang ada di Jakarta.

Pelatihan untuk volunteer
Tahun ini pelatihan untuk volunteer diadakan di PPM Manajemen, pas bulan puasa, bener-bener seharian. Materinya pun lebih banyak dan interaktif, bikin kita berinteraksi dengan volunteer lainnya. Seru banget sih banyak dapat cerita hal-hal nggak terduga.

Usai pelatihan, diumumkan pembagian tenda. Saya ditempatkan untuk jadi relawan untuk adik-adik dari area Panglima Polim, Jakarta Selatan. Nah area Panglima Polim ini dimasukkan ke dalam Tenda Bugis - bersama dengan adik-adik dari Sanggar Belajar Orang Pinggiran (SBOP) di area Cilincing, Jakarta Utara.

Setiap relawan wajib melakukan kunjungan ke area penempatan masing-masing sebelum Jambore dilaksanakan. Untung kali ini dekat rumah fyuh... tahun 2013 saya ditempatkan di area Buaran, Jakarta Timur astaga.

Adik-adik di area Panglima Polim melakukan kegiatan belajar mengajar di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Kebayoran Baru setiap hari Sabtu pukul 14.00-16.00. Tapi jangan salah sangka, ini tidak membawa misi keagamaan tertentu kok. Banyak kakak relawan maupun adik binaan yang muslim, bahkan mengenakan jilbab.

Jambore Sahabat Anak
Seperti tahun-tahun sebelumnya, acara kali ini juga diadakan di Bumi Perkemahan Ragunan (Buperta Ragunan). Para adik-adik dan kakak relawan berangkat pukul 07.00 dari GKI Kebayoran Baru dengan 2 angkot. Karena jalanan lancar, untunglah cepat sampai karena di angkot kami berdesakan. Sesampainya di Buperta Ragunan, kami bergabung dengan kakak-kakak dan adik-adik dari SBOP yang sudah sampai duluan.


Usai pembukaan acara di panggung, tiap tenda berjalan mengunjungi pos games masing-masing. Favorit saya yaitu ketika ada sharing session dari salah satu kakak disabilitas (tanpa kaki) yang pakai adegan naik motor! Walau memiliki keterbatasan, beliau tetap bisa berkendara untuk kerja dan kuliah! Pos seru lainnya yaitu pos belajar bahasa isyarat. Kami belajar bahasa isyarat untuk alfabet A-Z serta beberapa sapaan sehari-hari.

Asli panas banget sih sing-siang, apalagi banyak debu tanah kering, namanya juga berkemah di tengah kota Jakarta sih ya. Untungnya banyak sponsor yang mendukung, salah satunya dari sisi konsumsi. Di tengah hari, adik-adik bisa makan pizza marzano. Kakak-kakak relawan juga kebagian onigiri dan jus dingin dari Samba Juice.

Siang harinya, kegiatan di tenda adalah berdiskusi dengan adik masing-masing mengenai #kitasamakitaindonesia melalui komik Sahabat Anak. Senang karena adik-adik ini berani untuk bercerita mengenai hasil diskusi dengan teman-teman satu tenda. Acara dilanjutkan dengan menghias tenda. Semua senang menggunting, menggambar, dan mewarnai sampai sore tiba.

Add caption

Sore harinya, setiap kakak harus memastikan adik asuhnya mandi dan selesai tepat waktu. Karena adik asuh saya masih kelas 4 SD, mau tidak mau saya ikut mencarikan kamar mandi yang tersedia (karena air sempat mati di bilik mandi). Tapi adik saya sih mandi sendiri lah!



Pada malam hari, ada acara panggung hiburan. Adik saya amat sangat aktif kesana kemari, saya lelah menjaga hahaha. Usai panggung selesai dan adik-adik kembali ke tenda, barulah saya mandi dan shalat isya, kemudian tidur pukul 23.00. Seluruh kakak relawan tidur diluar tenda karena tendanya sudah penuh dengan para adik. Hahaha digigitin nyamuk dan agak dingin sih tapi nggak papa.

Hari kedua, ada banyak pos games permainan tradisional dan pos sharing session dari berbagai macam profesi! Seru banget namun kaki sudah mulai pegal-pegal.


Siang hari penutupan acara dan Tenda Bugis mendapatkan dua penghargaan (tenda paling berkesan dan tenda apa lagi lup hahaha). Senang karena adik-adik juga senang, Banyak pertunjukkan panggung hiburan juga sebelum acara ditutup. Kami pulang sekitar pukul 16.00. What a weekend well spent. FYI, di rumah saya langsung tidur sejak pukul 19.00 sampai pukul 05.00 pagi hahaha.

18 Juli 2019

Sering Sakit Kepala? Waspada Pengentalan Darah dan Kolestrol

Sekitar awal bulan Februari, saya mulai ngerasa sering sakit kepala kalau malam hari. Sebenernya bukan sakit yang gimana-gimana banget sih. Lebih ke sulit konsentrasi lah pokoknya. Tadinya saya pikir, oh mungkin karena capek kerja dan lagi ada beberapa event kantor yang memang cukup bikin stres waktu itu. Tapi lama kelamaan, setelah event selesai, bahkan kalau akhir pekan dan lagi santai aja, kok kepala saya tetep sakit yah. Karena mulai terganggu sama sakitnya, baru deh saya berhenti denial dan menyadari bahwa ada sesuatu yang salah.

Saya sempet bingung mau ke dokter umum, psikolog atau psikiater karena ragu apakah sakit kepala ini disebabkan oleh sakit fisik atau kejiwaan. Tapi berhubung saat itu saya percaya diri dan merasa content karena sedang belajar hidup minimalis, merapikan kondisi keuangan dan berusaha lebih dekat dengan Tuhan (lol), maka saya coba ke dokter umum dulu. Nanti kalau memang nggak sembuh, baru ke psikolog atau psikiater.

Berobat ke dokter umum
Saya berobat ke dokter umum di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) dan menginformasikan segala keluhan kepada dokter.

Dokter bilang, "Kamu tes darah aja ya. Soalnya saya kesulitan menyusun diagnosa atas informasi yang kamu berikan. Tapi dugaan saya, kemungkinan ada pengentalan darah dan kolestrol. Soalnya banyak kasus seperti ini yang pasiennya masih muda-muda juga,"

Saya nggak kaget sih dengan dugaan dokter, karena terakhir medical check up, saya memang ada indikasi Displidemia, yaitu kondisi dimana ada kolestrol atau lemak (lipid) yang tidak normal di dalam darah. Saya disarankan diet rendah lemak dan kolestrol. Tapi waktu itu saya cuek aja, karena hasil tes darah teman-teman lainnya juga sama buruknya dengan saya hahaha.

Kembali ke tes darah yang sekarang, setelah berpuasa dari pukul 10 malam, akhirnya saya ke rumah sakit pagi-pagi untuk diambil darahnya. Berhubung banyak komponen yang perlu dicek, darah saya diambil lumayan banyak hahaha. Buru-buru deh langsung sarapan karena takut pingsan (dan emang laper juga sih).

Terus terang saya kaget ketika membayar biaya tes darah tersebut. Sekitar 700rb astaga! Mungkin karena banyak komponen yang perlu dicek untuk keperluan diagnosa awal. Huhu saat-saat begini selalu bikin saya lebih bersyukur karena tidak perlu pusing mikirin biaya selama masih dalam limit yang ditanggung kantor.

Setelah hasil tes darah keluar, saya memang nggak langsung ketemu dokter. Nah giliran mau ketemu dokter, hasil tes darahnya hilang! Saya memang sempet foto hasil tesnya dulu, tapi toh harusnya dokter bisa akses data medis saya lewat komputernya. Tapi ternyata ketika mau dicek, sistemnya malah error. Aduh, untung ada hasil foto di ponsel!

"Kamu ada pengentalan darah dan tinggi kolestrol."

Dibandingkan meratapi nasib dan bertanya-tanya pada diri sendiri apa kesalahan gaya hidup yang selama ini saya jalani (banyak tentunya lol), saya lebih memilih fokus tanya gimana biar cepet sembuh. 
  • Saya harus minum Thrombo Aspilet (obat pengencer darah) dan Atorvastatin (obat untuk menurunkan kolestrol jahat dan meningkatkan kolestrol baik) setiap hari selama satu bulan. 
  • Harus mengurangi konsumsi daging merah, kulit ayam, udang, cumi dan seafood selain ikan.
Disaat-saat rutin mengonsumsi obat-obatan ini, tentunya ada aja orang-orang yang berkomentar kurang menyenangkan seperti "Ih padahal gue makannya lebih ngaco dari lo, tapi untung gue baik-baik aja ya" atau "Ngapain minum obat, cukup jaga makan aja kali" bla bla bla. Hello... my body, my health, my decision.

Jaga makan?
Selama sebulan itu, saya nggak strict banget sih. Lagi trip sama teman-teman dan pada makan Mc Donalds, saya tetep makan double cheese burger karena ini kan special occasion (alasan!). Lagi nggak enak badan, pengen makan yang berkuah, saya beli bakso. Lagi kondangan, tetep makan kebab hahaha.

Tapi selain itu saya juga coba menu makanan vegan. Saya pesan beberapa vegan frozen food (daging analog, dendeng palsu, bebek peking palsu, dll) di Shopee, tapi astaga bau dan rasanya bener-bener not my cup of tea. Dari 5 macam yang saya pesan, yang enak hanya satu. Yang lainnya bener-bener saya nggak sanggup makan. Lebih baik makan tahu tempe seminggu penuh. Kapok dengan frozen food vegan, saya mulai coba restoran-restoran yang menyajikan menu vegan. Nah kalo ini sih enak-enak semua.

Saya cukup senang karena saya bisa menahan diri untuk nggak makan sate kambing. Padahal saya suka banget! 

Kalau biasanya saya suka bikin kopi di tengah-tengah jam kerja, sekarang saya rajin bikin ocha karena katanya teh hijau bisa menurunkan kolestrol.

Setelah mengonsumsi obat
Setelah sebulan, saya tes darah lagi dan akhirnya... hore hasilnya bagus! Lega rasanya karena setelah sembuh, kepala sudah nggak sakit lagi dan tidur pun jadi lebih nyenyak.

Sekarang meskipun kondisi darah sudah bagus, saya tetep berusaha hati-hati dan seminimal mungkin mengonsumsi daging merah dan seafood selain ikan. Saya masih minum ocha tiap hari kalau di kantor. Tapi bener-bener nih yang susah banget adalah rajin olahraga!

Yang jelas, setelah mengalami semua ini saya bener-bener bersyukur diberi kesempatan untuk berobat sebelum terlambat. :)

31 Maret 2019

My 3 Months Shopping Ban

Hore akhirnya tiba di akhir bulan Maret! Selama tiga bulan terakhir, saya sudah meniatkan diri untuk menjalankan shopping ban. Ceritanya terinspirasi mbak Cait Flanders, tapi kalau beliau berani berkomitmen untuk melaksanakannya selama satu tahun dan punya written shopping approved list, saya cuma berani berkomitmen selama tiga bulan dan tanpa daftar belanja tertulis.

Saya meniatkan untuk nggak beli pakaian atau buku baru, serta mengurangi intensitas sarapan dan makan siang di luar. Shopping ban bukan berarti nggak boleh belanja loh ya, saya tetep kok belanja kebutuhan makanan, toiletries, beli kado, dll yang memang dibutuhkan. 

Ini hal-hal yang berhasil tidak saya beli selama tiga bulan terakhir:

Pakaian/ sepatu/ tas/ aksesori baru
Dulu sering banget kelepasan akibat sering browsing online marketplace, lihat fashion posts di instagram, ke mall, dll. Sekarang udah enggak. Ternyata saya bisa hidup baik-baik saja tuh. 
Tips: Nggak browsing di Tokopedia/ Shopee, unfollow online shop di Instagram, minimalisir kunjungan ke mall. Tiap malam Senin, saya siapin baju kerja untuk seminggu. Atur mix and match pakaian yang jarang digunakan berdampingan.
Tapi tentunya saya juga punya pakaian dan aksesori yang masuk ke wishlist. Entah kapan dibeli, sampai sekarang sih masih sanggup menahan diri.

Buku baru
Dulu saya suka ke toko buku dan kadang impulsif beli buku dan berujung nggak dibaca karena nggak suka.
Tips: Rajin baca ulasan mengenai buku yang ingin dibeli. Kalau udah bener-bener yakin, baru deh beli, jadi meminimalisir buku yang dianggurin karena ternyata nggak suka.
Nah kalo soal ini, saya punya daftar buku yang mau dibaca di tahun 2019. Nantinya akan dibeli secara berkala (kalau satu buku sudah tamat, baru beli yang baru). Oh atau teman-teman yang mau beliin saya kado, tolong beliin ini, ini dan ini lol.

Ini hal yang berhasil saya hemat meskipun tidak strict di banned:

Sarapan atau makan siang di luar
Dulu saya sering banget beli sarapan dan makan siang di luar. Padahal dulu selalu berangkat lebih siang karena naik ojek ke kantor.
Tips: Sekarang saya bangun lebih pagi, jadi bisa bikin jus, sarapan dan masak bekal makan siang sebelum kemudian berangkat naik transjakarta. Saya juga mengurangi intensitas belanja di supermarket, beralih ke tukang sayur dan minimarket deket rumah.
Thanks God, intensitas sarapan atau makan siang di luar lebih jarang. Sesekali tentu pernah beli ketika lagi capek dan nggak sempat masak, tapi bisa dihitung pakai jari deh selama tiga bulan ini.

Ini hal-hal nggak berfaedah yang saya beli:

Jajan. Biasanya kegiatan ini dilaksanakan usai jam kantor atau dikala akhir pekan. Secara budget, memang masih under control tapi ya tetep deh nggak berfaedah kan. Setelah melihat catatan keuangan, saya sering banget jajan es krim dan makanan manis (biasanya coklat, saya sering bikin brownies karena hampir selalu craving makanan manis). Tips: Nggak tau hiks.

Koin webtoon. Iya ini gila emang, saya menghabiskan Rp 30.000,- cuma demi baca unpublished episode dari komik The Secret of Angel dan Young Mom. Nominalnya emang kecil ya segitu doang, tapi itu merupakan bentuk dari sebuah aksi mindless purchase hiks. Tips: Saya merasa guilty banget sampai akhirnya uninstall aplikasi webtoon biar nggak bisa beli-beli koin lagi. Plus, clear cookies and cache Google Playstore sehingga password untuk akses ke kartu debit terhapus dan harus diketik ulang (jadi bikin malas dan mengurungkan niat beli koin gitu).

Setelah tiga bulan, saya nggak akan melanjutkan shopping ban. Tapi lebih ke berusaha untuk menjadi konsumen yang lebih mindful dan sadar sebelum membeli apapun. Sesederhana mau beli sarapan misalnya, ya beli bubur ayam karena memang diniatkan, jadi bisa siapin tempat makan dulu biar nggak pakai sterofoam. Bukan karena lihat tukang bubur, lalu terlintas di pikiran tiba-tiba 'Beli ah!'. Ya gitu deh ngerti kan hahaha.

Yang belum pernah coba shopping ban, silakan dicoba dan tentukan hal-hal yang boleh kamu beli dan hal-hal yang nggak boleh dibeli. Sumber keborosan tiap orang beda-beda. Saya bisa jadi boros di belanja dan beli makan siang di luar, tapi kamu boros di jajan kopi misalnya. Nah disitulah pengeluaran yang harus ditekan. Nggak tau boros dimana? Coba catat dulu pengeluaran bulanan untuk apa aja yah biar tahu bagian mana yang bikin boros.

Semua kuncinya ada di niat. Saya pun naik turun konsistensinya. Banyak baca-baca aja tulisan orang yang sharing tentang mindful living, conscious living, frugal living, minimalist lifestyle, dll sebagai pengingat diri :)