09 Mei 2012

Bersama, Bantu Lunasi Janji Kemerdekaan

Minggu (06/05), aku hadir di seminar dan talkshow mengenai pendidikan bertajuk IDEA, IPB's Dedication for Education. Berikut cerita yang bisa dibagi, semoga menginspirasi :)

Sesi 1: Berhenti Lipat Tangan, Saatnya Turun Tangan
Pembicaranya adalah Anies Baswedan. Siapa yang nggak kenal beliau? Rektor Universitas Paramadina sekaligus founder Yayasan Indonesia Mengajar.

Selama ini Indonesia salah soal "konsep kekayaan" bangsa. Jika ditanya apa kekayaan bangsa Indonesia, kita selalu menjawab soal minyak, gas, tambang, hutan, dan laut. Padahal, kekayaan Indonesia lebih dari itu, yaitu manusia. Indonesia menduduki peringkat ke-4 soal jumlah manusia.

Salah satu janji kemerdekaan adalah "mencerdaskan kehidupan bangsa". Siapakah yang harus melunasi janji tersebut? Tidak hanya pemerintah, tetapi juga kita.

5,3 juta masyarakat Indonesia pernah masuk SD, selanjutnya berkurang, berkurang, dan berkurang hingga hanya 0,8 juta masyarakat Indonesia yang lulus dari perguruan tinggi. Kemana sisanya? Begitu banyak yang hilang di jalan. Mereka bukan tidak mampu, mereka bukan tidak mau sekolah. Mereka hanya kesulitan "akses".

Yayasan Indonesia Mengajar terinspirasi dari Penyebaran Tenaga Mahasiswa (PTM) jaman dahulu. Mahasiswa dikirim ke berbagai pelosok negeri untuk mengajar tanpa dibayar. Tujuannya adalah memberi akses kepada masyarakat pelosok untuk mendapatkan pendidikan.

Seberapa penting kegiatan ini? Yayasan Indonesia Mengajar mungkin tidak mampu menyelesaikan semua masalah pendidikan yang ada, namun setidaknya berusaha berkontribusi secara langsung.

Pak Anies bercerita, saat itu ia sedang shalat Jum'at di dekat kampus (Paramadina) dan mengobrol dengan seorang dokter tua asal Pare yang telah pensiun. Beliau bercerita soal Indonesia Mengajar. Dokter tua tersebut antusias dan mengatakan bahwa dulu ia adalah salah satu anak yang diajar oleh mahasiswa dari program PTM.
"Kalau tidak ada guru ke Pare waktu itu, saya tidak mungkin bisa jadi seperti sekarang ini. Guru itulah yang membuat saya bermimpi dan akhirnya bisa lulus dari Fakultas Kedokteran di Universitas Hasanudin"

Ketika Pengajar Muda hadir di pelosok untuk mengajar, masyarakat begitu antusias dan tersentuh.
"Terimakasih sudah mau mengajar disini. Padahal, pemerintah saja belum kirim orang untuk mengajar di tempat kami,"
"Saya hadir mewakili bangsa. Tidak penting siapa yang kirim,"

Pendidikan itu soal interaksi antarmanusia. Fasilitas, kurikulum, dan lainnya hanyalah penunjang. Maka jika ingin iuran, daripada iuran uang dan barang, lebih baik iuran badan, waktu, dan perhatian.

Kita sering berdiskusi serius soal pendidikan. Memberikan solusi brilian dan mendorong orang lain melakukannya. Berhenti melipat tangan, sudah saatnya turun tangan. Katakan, "Saya sudah melakukan sesuatu untuk bangsa saya sendiri,"

Mendidik merupakan tanggung jawab orang terdidik. Datanglah "kesana". Berikan inspirasi. Buatlah mereka bermimpi melampaui hidupnya. Ajarkan kejujuran, karakter pembelajar.





P.S: Pendaftaran Pengajar Muda akan ditutup 15 Mei 2012. Cek indonesiamengajar.org. Jadilah Pengajar Muda. Setahun mengabdi, seumur hidup menginspirasi.


Sesi 2: Surat Cintaku untuk Negeri
Dua orang Pengajar Muda angkatan pertama yang sudah kembali hendak berbagi cerita, yaitu Rusdi Shaleh (alumnus IPB) dan Saktiana Dwi Hastuti (alumnus UI). Moderatornya adalah Rio Aditya, mahasiswa berprestasi IPB dari Fakultas Kedokteran Hewan.

Ada satu kata-kata Kak Rusdi yang aku suka. Dia bilang, "Saya belum jadi apa-apa. Tapi saya sudah tahu pasti mau menuju kemana,". Kak Rusdi sejak lahir hingga lulus kuliah berada di Bogor. Ia ingin mengetahui bagaimana Indonesia sesungguhnya. Itulah motivasinya menjadi Pengajar Muda.

Kak Rusdi ditempatkan di Kabupaten Tulang Bawang Barat, Lampung. Banyak hal yang ia dapatkan selama mengajar disana. Mulai dari menghadapi masyarakat yang berbeda budaya hingga mengkondisikan kelas agar kondusif. Maka menurutnya, mengajar itu belajar.

Lain lagi cerita dari Kak Sakti. Setelah lulus, ia merenung. Selama ini ia bersekolah di sekolah negeri. Sekolah yang dibiayai oleh pemerintah. Uang pemerintah berasal dari uang masyarakat Indonesia. Pertanyaan "Apa yang sudah saya lakukan untuk bangsa ini?" adalah motivasinya menjadi Pengajar Muda.

Ia ditempatkan di Kabupaten Majene, Sulawesi. Selain mengajar anak-anak SD, ia juga mendirikan TK. Malam sebelum ia kembali ke Jakarta, 50 murid-muridnya menginap di rumahnya (rumah orang tua asuhnya).

Dan ketika ia mulai naik traktor untuk pulang (mobil biasa tidak bisa jalan disana), murid-muridnya berlari mengejar dan berteriak, "Ibuuu, tunggu aku di Jakarta ya!"

Nangis. Bagi kalian yang penasaran, buku Indonesia Mengajar, kumpulan cerita para Pengajar Muda, wajib dibaca. Inspiratif dan mengharukan.

Sesi 3: Pendidikan Soal "Akses" dan "Mutu"

Dimoderatori oleh Alvin Adam (entertainment journalist program Just Alvin). Pembicara pertama adalah Pak Herry, Rektor IPB. Beliau yang menyebutkan bahwa pendidikan itu soal "akses" dan "mutu". Dua kunci itu yang diterapkan oleh IPB.

Akses berarti membuka peluang bagi mereka yang memiliki kemampuan akademik. Selain pencetus perubahan program sarjana dari enam tahun ke empat tahun, IPB juga pioneer jaluk PMDK, penerimaan mahasiswa melalui rapot. Menurut data yang ada, mahasiswa yang masuk melalui jalur rapot menunjukkan prestasi yang lebih baik daripada jalur tes. Itulah yang menjadi dasar penerapan SNMPTN Undangan oleh pemerintah.

60% mahasiswa IPB diterima melalui jalur tersebut. Tujuannya adalah membuka peluang bagi siswa-siswi di seluruh Indonesia untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Maka dipilihlah siswa-siswi yang memiliki kemampuan akademik yang baik di kelasnya, di daerahnya. Karena mereka akan sangat kesulitan jika ingin meneruskan kuliah lewat seleksi nasional. Mereka tidak bisa disamakan dengan siswa-siswi yang mendapatkan akses pendidikan di kota-kota besar.

Sedangkan mutu berarti memberi pelayanan yang sebaik-baiknya. Memberi kualitas pendidikan yang terbaik. Akses dan mutu harus berdampingan. Jika akses yang diutamakan, maka mutu akan terbengkalai. Jika hanya mutu yang diutamakan, hanya orang-orang tertentu yang mendapat kelayakan.

Pembicara selanjutnya adalah Dik Doank, pendiri Kandank Jurank Doank. Menurutnya ada yang salah soal kurikulum pendidikan di Indonesia. Terlalu banyak dijejali ilmu pasti, sehingga ilmu-ilmu lainnya dianggap tidak penting. Anak-anak Indonesia perlu dididik untuk menjadi bangsa pencipta, bukan peniru seperti selama ini.
Apa yang membuat Dik Doank sekarang lebih fokus di dunia pendidikan?
"Televisi itu seperti akuarium. Ikan-ikan yang berenang disana harus cantik, harus unik. Tetapi, bagus mana ikan-ikan di akuarium dengan ikan-ikan di samudra? Bagiku, inilah adalah samudra"

Pembicara ketiga adalah Nurrohim, pendiri Yayasan Bina Insan Mandiri. Yayasan tersebut merupakan sekolah untuk anak-anak yang hidup di jalanan. Beliau terinspirasi dari kisah hidupnya sendiri.

Waktu kecil, Bapaknya adalah pedagang kain, sedangkan Ibunya adalah penjual makanan di terminal. Keduanya bercerai. Sejak saat itu Beliau hidup di jalanan. Mengamen, tidur di kolong jembatan. Beliau diselamatkan oleh Kakeknya dan dikirim ke pesantren. Beliau tetap jadi anak yang nakal hingga suatu hari Kyai berkata, "Semoga nanti kamu jadi guru dan murid-muridnya nakal semua,". Hahaha.

Beliau ingin anak-anak jalanan mendapatkan pendidikan. Beliau ingin berbagi walaupun dengan segala keterbatasan ilmu dan fasilitas. Selama ini selain mengajar di terminal, Beliau juga sudah memiliki sepetak ruangan untuk mengajar bersama para relawan.

Tantangan banyak dihadapi. Anak-anak itu tidak nakal. Mereka hanya kurang perhatian. Anak-anak binaannya ada yang berhasil masuk UI, bahkan tidak kurang dari lima anak-anak binaannya yang setiap tahun mendapatkan beasiswa ke luar negeri.

Hidup ini bukan soal apa yang kamu dapatkan, tapi soal apa yang bisa kamu berikan. Selamat hari pendidikan nasional!

05 Mei 2012

Adik-adik Sanggar Juara


Sejak Maret lalu, aku jadi anggota Sanggar Juara, komunitas mengajar anak-anak yang berbasis lingkungan dan socialpreneurship. Targetnya adalah anak-anak kurang mampu di lingkar kampus IPB melalui jalur pendidikan.

Aku penasaran sama Desa Pabuaran yang baru-baru ini dibicarakan. Dua minggu yang lalu, Sanggar Juara melakukan peresmian pembukaan perpustakaan disana. Sayangnya aku nggak bisa ikut karena ada seminar dan outbound wajib dari departemen manajemen.

Semua orang cerita betapa antusiasnya adik-adik disana. Pembukaan perpustakaan baru dimulai pukul 9, sementara adik-adik udah nunggu disana sejak pukul 7! Wah... Apalagi temen-temen yang turun lapang minggu lalu cerita kalau angkot yang mereka sewa mogok, mana jalanannya jelek. Tuh kan, bikin makin penasaran.

Tapi lagi-lagi kelompokku belum dapet jatah turun lapang minggu ini. Saking penasarannya, aku ikut turun lapang sebagai relawan hehehe.

Sabtu siang ini kita kumpul di BNI dan cari angkot. Ketemulah sebuah angkot dan supirnya yang bersedia disewa.

pak supir: ini mau ke pabuaran ya?
kak fifa
: iya pak. bapak tau tempatnya?
pak supir: tau. saya pernah nganter anak-anak TK kesana.
kak ganies
: oh, kalau gitu kita langganan bapak aja setiap sabtu jam 11. boleh minta nomor hp pak?
pak supir: boleh. saya yusuf. 08XXX

setelah pak yusuf pergi...

kak ganies: lho kok di hp gue udah ada nomor hp pak ucup ternyata

Hahaha kok bisa sih. Setelah ditanya ke yang bersangkutan, ternyata Pak Yusuf ini supir angkot langganan Uni Konservasi Fauna (UKF) dan Kak Ganies juga anggota UKF. Pantesan... Dulu pernah kontakan rupanya.

Perjalanan dari kampus menuju lokasi memakan waktu satu jam. Rute yang dilewati jalanannya sempit dan batu semua. Tergoyang-goyang-lah di angkot. Untung nggak mabok. Ini sih jalanannya lebih parah dari jalanan ke kampung Ayah di Menes, Pandeglang. Setelah turun dari angkot, kita jalan kaki sebentar masuk gang, menuruni tangga, dan sampailah di lokasi...
sepetak ruangan perpustakaan juara sekaligus lokasi ngajar

pemandangan depan perpustakaan juara

Awalnya, ada sesi perkenalan kakak-kakak asuh satu per satu. Karena baru pertama kali kesana, rasanya lucu juga waktu anak-anak kelas satu sampai tiga ini ngasih salam rame-rame, "Halo Kak Azka!". Aduh, nggak bisa berhenti nyengir liat mereka semua :D

Mereka punya aneka macam tepuk-tepukan. LOL. Jadi inget waktu "Live In" di Desa Plososari, Kendal, aku diajak Bapak Asuh ngajar ngaji anak-anak di TPA dan mereka juga punya aneka macam tepuk. Adik-adik di Pabuaran ini punya tepuk semangat, tepuk anak shaleh, sampe tepuk setan huahaha!

Tema bulan ini adalah "kebudayaan". Kelas dibuka dengan pertunjukkan wayang golek antara Rama dan Shinta yang lagi ngomongin lagu Rasa Sayang-sayange. Setelah itu kita nyanyi beberapa lagu daerah bareng-bareng.

Ternyata referensi lagu nusantara mereka masih sedikit. Bahkan lagu manuk dadali mereka nggak hafal. Jadi bingung mau ajak nyanyi lagu apa. Tiba-tiba aku inget lagu yang Ayah nyanyiin waktu aku kecil. "Tokecang," teriak aku. Akhirnya ada dua orang anak perempuan yang maju ke depan untuk nyanyi hihihi.
sanusi dan temannya serius belajar

kakak-kakak asuh

Usai berkutat dengan lagu daerah, kita belajar sejarah tentang pahlawan nasional. Antusias mereka cukup tinggi. Mereka rebutan liat gambar sang pahlawan dan nyatet nama-nama pahlawan di buku tulis. Biar mereka makin hapal, kita adakan games berupa kuis. Kelas dibagi enam kelompok bareng kakak-kakak asuh. Aku kebagian ngurus kelompok empat (cewek).
kelompok empat paling oke

Selama games, suasana nggak henti-hentinya memaksa aku untuk ketawa.  Adik-adik ini bener-bener lucu dan penuh semangat. Mulai dari kompetisi yel-yel sampai rebutan angkat tangan duluan untuk jawab pertanyaan.
kegiatan kami

Selanjutnya, kita belajar Bahasa Inggris. Materi kali ini tentang MY FACE, yaitu pengenalan bahasa inggris dari rambut, mata, mulut, dll. Aku duduk di belakang ngajarin beberapa anak menggambar wajah dan memberi keterangan bahasa inggrisnya.

aku: alis itu eyebrow
doni: apa kak?
aku: aibrou
doni: apa? hai bro?

Gyahaha malah jadi "hai bro". Doni ini hiperaktif, tapi tetep mau belajar. Ada juga adik berbaju oren (lupa namanya) yang nyamperin aku sambil bawa kamus bahasa inggris bergambar dan minta diajarin. Aiiih dia pinter banget lho.

Saking serunya kelas, ada anak yang mengintip dari jendela dan pintu belakang. Mereka kelas 4-5 yang lagi latihan tari saman buat tampil di hari kelulusan kelas 6 bareng Kak Syifa di teras.
intip-intip

Hari itu ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Rofi. Barisan yang paling rapi boleh pulang duluan. Aaah lucu banget ngelihat tingkah mereka.
salim dulu sama kakak-kakak asuh

Bener-bener pengalaman unik dan nggak terlupakan. Sampai jumpa lagi adik-adik :)

P.S: Bagi yang berminat jadi relawan maupun donatur untuk Sanggar Juara bisa menghubungi lewat twitter @SanggarJuara. Selain itu, kami juga menerima bantuan berupa buku-buku untuk anak, alat tulis, dll.

19 Maret 2012

Asyiknya Weekend di Kampus

Weekend ini aku nggak pulang ke Jakarta. Tanggung toh minggu depan ada long weekend karena hari Nyepi. Tadinya takut weekend di kampus bakal sunyi dan suram. Tapi ternyata enggak. Weekend di kampus bisa jadi asyik kalau kita tahu caranya bersenang-senang.

SABTU

Sabtu pagi ada senam bersama (mata kuliah olahraga) di lapangan rektorat. Asik ganti suasana karena biasanya senam indoor di Gymnasium. Pemandangan rame dengan orang-orang yang ngobrol, jualan donat, cari serangga (anak Hama dan Proteksi Tanaman), dan belajar tulang (anak Kedokteran Hewan yang mau ujian). Ponselku sempet ilang :( Alhamdulillah ada orang yang nemuin. Selanjutnya, kelasku latihan senam aerobik bersama menjelang ujian tengah semester.

Sampai kamar, semua temen sekamar pada terlelap. Aku nganggur dan akhirnya nonton film India yang berjudul "Paa". Bagus deh ceritanya tentang seorang anak pengidap penyakit langka bernama Progreria.

Aku nggak tahan nganggur di kamar. Bolak-balik setel film yang udah pernah ditonton, buka twitter, denger musik, tidur-tiduran. Bener-bener nggak produktif dan nggak asik.

Tiba-tiba muncul ide gila untuk jalan-jalan ke studio Arsitektur Landscape (ARL). Aku bener-bener kesana sama temen sekamar, Cuneng. Sebenernya Cuneng lagi nungguin Kamil, mereka mau ke shelter Uni Konservasi Fauna (UKF) di Balio, tapi Kamil masih kerja kelompok. Aku nggak ikut karena ngg... udah keluar.

Studio ARL enak, sayangnya rumputnya terlalu panjang jadi nggak enak didudukin. Jadinya kita ke lapangan rektorat dan liat-liat rumah kayu yang ada di sebelah miniatur hutan tropis. Dan uniknya, ada angsa disitu hihihi. Lagi bertelur pula. Aku mau motret tapi takut dipatok :(

HTD itu apaan yah hahaha

rumah kayu kecil yang cantik

ada keterangan terbuat dari kayu apa

numpang foto :p

miniatur hutan tropis

entah tanaman apa -_-

lapangan rektorat, lokasi senam tadi pagi

Setelah Cuneng pergi sama Kamil, aku ke perpustakaan. Perpustakaan ini lebih sering disebut LSI, tapi aku nggak tau singkatannya apa hehe. Aku lupa kapan terakhir kali masuk kesini.

danau LSI sore hari

Aku suka tangga kayu di LSI. Unik dan antik. Aku naik ke lantai dua, duduk di samping jendela yang menawarkan pemandangan danau dan pohon, buka laptop dan agak sebel dengan koneksinya yang entah kenapa lama.

18.30. Udah malam dan aku buru-buru ngeberesin barang buat balik ke asrama. Tadinya mau naik ojek, tapi pangkalan ojek di depan Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) udah kosong. Untungnya gedung di IPB itu nyambung-nyambung, jadi aku bisa pulang jalan kaki lewat gedung. Bisa gila aku kalau harus jalan kaki lewat Fateta dan Fahutan. IPB udah kayak hutan hantu kalo malem-malem begini. Apalagi akhir-akhir ini marak pencopetan malam-malam.

Lewat dalem gedung horor juga ternyata. Eh tau-tau ketemu Momod dan gerombolan laki-laki, entah komunitas apa yang ngadain acara malem-malem gini di kampus. Ketemu Pristi yang mau technical meeting IPB Art Contest (cie hihi). Dan terakhir ketemu Intan di kantin Agri.

Padahal cuma aktivitas sederhana, tapi aku suka. Jalan kaki, lihat pemandangan, baca-baca blog orang, dan muterin kampus di malam hari jauh lebih baik daripada cuma sekedar tidur-tiduran di kamar dan main twitter.

MINGGU

Minggu pagi di Bogor dan aku nggak ada kerjaan. Kapan lagi ada kesempatan kayak gini? Kalau hari weekend nganggur, aku pasti nginep di Jakarta. Alhamdulillah sekarang bisa ngerasain momen langka.

Setelah minum susu dan mandi, aku jalan-jalan ke Bara buat liat Pasar Kaget. Pasar Kaget ini pasar yang cuma ada pada hari Minggu di Bara. Isinya tukang jualan macem-macem serba murah. Ada baju, jam tangan, alat rumah tangga, mainan, dvd bajakan, alas kaki, dll. Tertarik beli keset, tapi nggak bisa ditawar males ah. Aku malah beli freshcorn :3 Kangen deh dulu aku dan Ibu sering bikin di rumah.

pasar kaget. masih terlalu pagi belum ramai.

Habis dari pasar kaget, aku bingung mau ngapain. Masa balik ke asrama dan tidur-tiduran di kamar? Ih nggak bermanfaat banget. Sebenernya ada tawaran ngeliput Earth Hour di Sempur dan Eagle Awards di Auditorium Andi Hakim Nasution (AHN). Tapi karena alasan konyol, aku nggak ambil liputan itu dan... nyesel -_-

Akhirnya aku ke Graha Widya Wisuda (GWW) buat nonton Grand Launching Leadershing and Entrepreneurship School (LES). Sebenernya harus bayar 25000 dan ngantri super panjang. Tapi berkat press card Koran Kampus, aku bisa masuk gratis dan tanpa ngantri. Dan orang-orang langsung ngeliatin iri kyahaha. Padahal aku nggak mau ngeliput lho. Ini jatah liputannya Dio buat Koran Kampus Online. Lagipula kita nggak ber-media-partner sama acara ini. Untuk rangkaian acara Grand Launching LES akan aku tulis pada postingan khusus nanti. Bermanfaat banget deh pokoknya.

Eh sore tadi aku nemu dua anak Hama dan Proteksi Tanaman (HPT) yang baru pulang dari berburu serangga. Aku potret diem-diem dari belakang hahaha abisnya lucu sih, jadi inget Crayon Shinchan episode berburu kumbang.

dua mahasiswi HPT 48 dengan dua jaring-jaring mereka

Alhamdulillah, weekend kali ini tetep asyik walaupun di kampus. Minggu depan kuliah cuma sampai Kamis pagi lho hihihi. Rencananya aku & Ipeh langsung balik ke Jakarta dan mau jalan-jalan di daerah Kota :D

07 Maret 2012

Penyihir dan Hantu Cilik

Banyak buku yang aku beli dan selalu pengen nulis sinopsisnya di blog tapi nggak pernah sempet. Padahal semua isinya menarik dan akan bermanfaat kalau di-share. Diantaranya Merah Putih di Benua Biru, Nenek Hebat dari Saga, 99 Cahaya di Langit Eropa, dan yang terbaru yaitu Indonesia Mengajar. Silahkan cari reviewnya di google ya.

Nah sekarang aku mau cerita soal dua novel favorit waktu kecil, yaitu Hantu Cilik dan Penyihir Cilik karya Otfried PreuBler. Kedua novel ini terjemahan dari Jerman dan usianya cukup tua. Penyihir Cilik (Die Kleine Hexe) terbit tahun 1957, sementara Hantu Cilik (Das Kleine Gespenst) terbit tahun 1966. Kedua novel ini baru diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama pada tahun 1985.

Kalau nggak salah, sepertinya Hantu Cilik ini novel pertamaku. Aku beli di Gramedia Pandanaran Semarang beberapa hari sebelum liburan kenaikan kelas tiga SD. Novel ini aku bawa ke Jakarta dan tertinggal di rumah Nenek sebelum aku sempat baca. Beberapa bulan kemudian, aku membeli Penyihir Cilik di tempat yang sama dan menamatkannya di Semarang. Karena ceritanya bagus, aku jadi yakin bahwa Hantu Cilik juga bagus. Jadi ketika aku liburan ke rumah Nenek lagi, aku langsung cari novel itu.

Penyihir Cilik
Penyihir Cilik (umurnya baru 127 1/2 tahun) yang tertangkap saat menyelinap ke pesta penyihir dewasa. Ia dihukum dan baru diperbolehkan mengikuti pesta tahun depan jika selama setahun itu ia menjadi penyihir yang baik. Maka selama setahun ia menghapal seluruh mantra sihir, berlatih, dan berbuat baik kepada setiap manusia. Namun pada akhirnya, Dewan Penyihir marah besar karena Penyihir Cilik bukanlah penyihir yang baik. Penyihir yang baik adalah penyihir yang selalu mengganggu manusia, bukan malah berbuat baik kepada manusia. Hahaha kasian banget ya si Penyihir Cilik.

cover 'Penyihir Cilik'

Penyihir Cilik dan burung gagaknya, Abraksas


Hantu Cilik
Alkisah ada seorang (atau sebuah) hantu yang tinggal di gedung tua. Ia terbangun setiap denting jam berbunyi pukul duabelas malam. Hantu Cilik selalu penasaran bagaimana suasana kota ketika siang hari. Suatu hari, ia berhasil bangun pada pukul duabelas siang. Namun ia malah membuat keadaan kota menjadi kacau. Ia kebingungan karena sejak saat itu ia tidak bisa bangun pada tengah malam lagi. Pada akhirnya berkat bantuan beberapa anak, Hantu Cilik bisa kembali menjalani hidup seperti biasa, yaitu tidur di siang hari dan terbangun pukul duabelas malam.

cover 'Hantu Cilik'

Dua novel ini bisa membawa kita seakan masuk ke dunia si tokoh. Ikut merasakan tinggal di sebuah rumah kecil di tengah hutan seperti Penyihir Cilik, dan ikut kebingungan di tengah kota siang hari seperti Hantu Cilik. Dan yang paling penting, buku ini nggak sehoror judulnya!

07 Februari 2012

Selamat Ulang Tahun Ayah!

Selama enam tahun lebih sejak kelahiranku, Ayah nggak tinggal bareng aku, Ibu, dan Adli (adikku). Ayah di Semarang, sementara kami di Jakarta.

Aku nggak ingat seberapa sering Ayah pulang ke Jakarta. Tapi yang pasti di hari ketika Ayah datang, aku selalu keluar kamar dengan senyum riang, duduk di kursi sebelah Ayah, mengikuti gaya duduk Ayah (kaki kanan ditaruh diatas paha kiri) dan ikut membaca koran serta mencicipi kopi. Aku ingat waktu itu Ayah membawa oleh-oleh boneka Teletubbies, saat itu belum ada tayangannya di televisi tapi aku udah punya bonekanya :D

Ayah udah membeli rumah di sebelah rumah Utih (nenekku) karena rencananya Beliau akan pindah ke Jakarta. Namun rencana tinggal rencana. Ayah nggak suka Jakarta. Dan akhirnya kami yang pindah ke Semarang.

Setiap hari Minggu pagi, Ayah mengajak berenang. Entah di kolam renang di hotel tempat Beliau dulu bekerja, kolam renang di gelanggang olahraga, atau ke pantai dan naik perahu.

Kalau sore hari juga suka lari di GOR Tri Lomba Juang. Huehehe aku inget banget kita cuma bawa sebotol tupperware doang padahal. Ayah dan bapak-bapak setempat juga hobi main badminton.

Waktu aku pindah ke Semarang, aku diajarin main games di komputer. Bahkan, aku udah pernah lihat internet dan email waktu kelas tiga SD. Waktu itu Ayah buka Yahoo.com. Aku diajarin menu-menu beragam di microsoft office disaat anak SD lain belum bisa. Gimana, gaul banget kan?!

Ayah pernah cerita, dulu waktu jaman-jaman komputer baru muncul, hotel tempat Ayah bekerja sudah punya dan Ayah udah bisa pakai. Ayah bikin tugas kuliah pakai komputer, eh dosen Ayah ngamuk dan nyuruh Ayah ngetik tugas pake mesin tik.

Ayah selalu ngasih tau pentingnya membaca. Ayah rajin baca koran dan ngerti semua info terbaru. Agak sebel karena dulu sebenernya aku pengen baca Junior, tabloid anak mingguan bonus Suara Merdeka (koran paling oke di Semarang). Tapi Ayah lebih suka Kompas, yang bonus mingguannya buat anak-anak cuma dua lembar. Huh.

Ayah beliin komik pertamaku, yaitu Crayon Shinchan dan novel pertamaku itu Napak Tilas Keluarga Hantu karya Hilman Hariwijaya.

Ayah bikin aku jadi suka menulis. Di koran ada lomba sinopsis novel karya Arswendo Atmowiloto (penulis Keluarga Cemara), aku langsung dibeliin tiga buku sekaligus. Pesta Jangkrik, Dewa Mabuk, dan Kapten Bola. Bukunya bagus banget! Tapi yang Kapten Bola nggak aku baca sampe sekarang karena tokoh utamanya namanya Kunti. Takut ah.

Ayah bahkan pernah baca cerpenku waktu SD dan baca blogku waktu SMA -__-

Walaupun kuliah di luar kota, aku termasuk sering kontak sama orangtua, untuk hal nggak penting sekalipun. Contohnya waktu itu Ayah sms dan aku lagi main ke Universitas Paramadina, untuk ketemu pers mahasiswanya.

"lagi apa teh?"
"aku lagi di Paramadina nih. ditraktir jus jambu sama ayam goreng loh"
"ayah kemaren juga makan tongseng sama ibu nyamnyam enak minumnya air putih"

Wkwkwk gimana deh ini aku kan mau pamer ditraktir kok malah aku jadi ngiler pengen makan tongseng. Tapi itu yang minum air putih kenapa disebutin?

Karena Ayah suka males minum air putih, aku cukup sering sms dan ngingetin "Jangan lupa mimik air putih loh yah". Aku protes kalo Ayah ngerokok, tapi kalo lagi di rumah Utih aku nggak pernah protes kalo Kakung ngerokok.

"Kalo Ayah ngerokok di rumah diprotes, tapi teteh nggak protes kalo kakung ngerokok?"
"Kan ini kan rumah kakung yah"
"Yee di semarang juga rumah ayah"

Terlalu banyak cerita. Intinya selamat ulangtahun Ayah. Padahal nggak ada yang tau kapan pastinya tanggal ulangtahun Ayah. Jaman dulu kan di Pandeglang nggak ada akta kelahiran, jadi tahunnya mah Insya Allah bener, tapi tanggal sama bulannya ragu-ragu. Yang tertera di KTP sih hari ini.

Semoga Ayah makin dekat sama Allah, panjang umur, dan sehat selalu :D

ayah & aku

mohon maaf jadi curhat hehe