07 Juli 2010

Forgive and Forget

Salah satu teman saya pernah bertanya, "Kamu tipe orang yang memaafkan dan melupakan, memaafkan tapi tidak melupakan, atau melupakan tapi tidak memaafkan?". Kalau dipikir-pikir, saya termasuk tipe ke-dua, yaitu memaafkan tapi tidak melupakan. Sungguh pilihan yang kekanakan.

Sedih sekali rasanya ketika kita sudah berusaha meminta maaf, namun tidak dimaafkan. Lebih sakit lagi ketika orang tersebut hanya memaafkan dalam kata-kata, tidak dalam hatinya. Dengan mudahnya orang itu berkata, "Sudah aku maafkan,". Tapi di dalam hatinya orang tersebut samasekali tidak memaafkan kita, bahkan selalu mengingat-ingat kesalahan yang kita perbuat. Terlebih lagi jika orang itu masih bersikap sensi kepada kita. Rasanya ingin marah-marah sambil berkata, "Mau kamu apasih?! Kan aku udah minta maaf!". Tapi kurang pantas jika kita berbicara begitu karena bagaimanapun kita memang pernah berbuat salah.

Kesal? Iya. Ketika kita berusaha membuat kesepakatan untuk bersikap biasa saja satu sama lain. Bersikap seolah-olah tidak pernah ada suatu masalah apapun. Sulit sekali. Orang yang tidak bisa memaafkan dengan tulus lagi-lagi hanya bisa mengiyakan kesepakatan dengan kata-kata. Tanpa ia sadari, ia akan selalu mencari letak kesalahan kita. Selalu sensitif terhadap kita.

Umur kita hampir mendekati umur tujuh belas tahun, umur tolak ukur dimana seseorang dianggap sudah dewasa. Dalam pola pikir maupun tingkah laku. Jadi apa bedanya umur tujuh belas tahun dengan anak kecil yang selalu mengutamakan emosi atau perasaan pribadinya jika kita masih belum bisa memaafkan sekaligus melupakan kesalahan orang lain? Egois.

Saya ingin menjadi orang yang lebih tulus. Yang bisa memaafkan sekaligus melupakan, yang tidak hanya memaafkan dalam ucapan, namun juga memaafkan dalam hati. Karena dengan begitu, orang lain juga akan melakukan hal yang sama terhadap kita.

2 komentar:

osy grasiani ozella mengatakan...

aku yg tanyaaa :p

Nadia Azka mengatakan...

ini inspirasi dari kamu loh! *jangan ge-er