11 September 2010

Lebaran 1431 H

Kamis, 9 September
Jam tujuh pagi berangkat dari Jakarta menuju Pandeglang, Banten. Tahun ini jatahnya lebaran di kampung halaman Ayah. Jakarta sepi banget, jalanan lancar.

Ciri khas Sunda, banyak daerah yang dinamai mengandung huruf "eu". Misalnya Cileunyi, Cihideung, dll. Di jalan ada papan nama "SD Cipeucang". Aku niruin, "Cipecang". Cara baca huruf e-nya seperti kata Jeruk. Tapi kata Ayah salah. Harusnya, "Cipeucang". Aku bisa niruin tapi sulit lah jelasin cara bacanya. "Nah, gitu dong baru orang sunda!". Wkwk sunda abal-abal iya.

Sejak kecil aku mengamati sepanjang perjalanan Jakarta - Pandeglang maupun sebaliknya, banyak rumah dan instansi yang pagarnya dicat putih biru. Heran deh kenapa pada seragam gitu ya warna catnya. Ternyata karena pemimpin Pandeglang itu adalah anggota Partai yg warna dasarnya biru hahaha aneh-aneh aja.

Satu lagi yang menjadi ciri khas mudik di Pandeglang. Setiap bus mudik berhenti dan penumpang turun, banyak tukang ojek yang siap menanti penumpang di depan pintu. Cara mereka menawari penumpang, terkesan "memaksa". Layaknya preman, penumpang ditarik-tarik tas atau bajunya. Bahkan ketika penumpang enggan dan lari kabur, tukang ojek bakal mengejar. Serem lah. Masalahnya, tukang ojek ini sangat banyak! Bener-bener ada di sepanjang rute mudik. Dasar tukang ojek sinting.

Walaupun rumah Mbah Menes (ibu Ayah) lokasinya di sebelah masjid, tapi malam takbiran terasa sepi karena speaker masjid rusak. Jadi cuma suara bedug aja yang terdengar.

Jum'at, 10 September
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H. Minal aidzin wal faidzin. Mohon maaf lahir dan batin. Seperti lebaran-lebaran sebelumnya di Pandeglang, aku dan para perempuan di desa situ solat Ied di Madrasah. Sedangkan laki-laki solat di Masjid. Kalau digabung nggak bakal cukup, jadinya dipisah gitu.

Sambil menunggu solat dimulai, aku memperhatikan orang-orang sekeliling. Tiba-tiba ada seorang perempuan agak tua, bergigi ompong, berwajah aneh dan memakai kaos mickey mouse menepuk pundakku. Dia berkata, "Ie mah ngalamun bae. Salaman atuh!". Oke, aku salaman sama orang aneh itu. Perasaan aku nggak kenal deh, bukan keluarga pula. Siapa sih orang ini.

Tak lama kemudian, salah seorang Ibu-ibu berkata, "Sadeng" sambil menunjuk si perempuan aneh itu. Sadeng dalam bahasa Sunda berarti setengah gila alias kentir dalam bahasa jawa. Si perempuan aneh manggil-manggil beberapa orang sambil teriak, "Minta THR". Dasar kentir. Oh iya ceramahnya pake Bahasa Sunda. Aku cuma ngerti pembukaannya doang, selanjutnya meneketehe tu orang ngomong apa.

Eh eh Mbah-ku punya handphone lhooo. Berani jamin. Di desa situ mbah-mbah yg punya hp palingan cuma Mbah-ku doang. Hahaha. Jadi pagi itu ada telepon. Terus Mbah mencet tombol jawab. Tapi bukannya ngomong sama si penelepon, Mbah malah ngeliatin layar hp sambil ngomong, "Saha ie. Nteu aya namina,". Wakakak. Itu artinya siapa ini kok nggak ada namanya. Emang kalo nggak ada namanya nggak boleh telepon gitu, Mbah? Hp Mbah memang cuma diisi kontak-kontak keluarga dekat aja.

Setelah itu mulailah berdatangan aneka macam sanak saudara. Mbah-ku termasuk "sepuh" dalam keluarga besar kami. Jadi aku nggak perlu repot-repot mengunjungi berbagai saudara di desa lain. Justru mereka yang mengunjungi. Sukur deh nggak perlu capek.

Malamnya, kita sekeluarga ke Cikiray (ke rumah sodaranya Mbah). Disana aku makan "kikiping". Makanan khas Sunda. Agak mirip lemper, tapi dibakar dan isinya rada aneh gatau apaan. Enak tapi. Oh iya aku dikasih uang THR dari Aa Helmi. Tapi dikasihnya lewat Wa Ii (ibunya Aa Helmi). Katanya Aa Helmi malu kalo ngasihin sendiri wkwk ini gaji pertamanya Aa Helmi lho.

Sabtu, 11 September
Pagi-pagi ternyata udah ada Wa Amir (kakak Ayah) dan Wa Iip (istrinya). Aa Agung dan Bagus juga ada. Mereka berempat sampe sini tadi malem. Ngobrol di meja makan sama Wa Iip dan lagi-lagi ditanyain "Mau kuliah dimana? Jurusan apa?".

Jam setengah delapan langsung ke Jakarta. Naik mobil bareng keluarga Wa Ii (kakak Ayah) dan Wa Edy (suaminya). Mereka mau ke Cirebon. Tapi ke Jakarta dulu nganterin keluargaku dan sekalian mampir ke rumah keluarga Wa Mumung yang tahun ini nggak sempet ke Pandeglang. Rumah Wa Mumung rame. Cucu-cucunya pada kumpul. Kecuali keluarga Teh Ina karena lagi di rumah sakit.

Setelah itu kita sampe deh di rumah Utih. Keluarga Wa Ii mampir bentar. Terus lanjut ke Cirebon. Ayah juga langsung ke Semarang karena tgl 13 ada acara reuni kampusnya.

Di rumah Utih, sudah disambut dengan Bakso dan Puding Coklat Vla ala Yek Ai. Aku ngambil bakso, eh malah ditarik-tarik Fathur dan Fathan. Mereka minta nyicipin. Tapi buntut-buntutnya malah mereka yg makan, aku yg nyuapin. Pas baksonya udah abis, Fathur bilang, "Kakak mau baco lagi!". Dasar bocil.

Sorenya, si Fathur ribut minta permen Chacha. Dikasih THR 50.000 dari Ibuku. Dia ke Indomaret ditemenin Sayyid dan Adli. Dasar anak umur 2,5 tahun mau aja dikibulin. Sayyid dan Adli sekalian beli es krim dan aneka cemilan pake duitnya Fathur ahuahhau.

Malam itu hujan. Aku, Sayyid, dan Fathur lagi duduk di ruang tamu. Fathur mulai petingkah. Dia mau buka pintu padahal di luar ujan deres.

aku: hiii di luar ada hantu lho.
fathur: *ngibrit dengan muka takut ke arah Sayyid
sayyid: hii disini ada hantu.
fathur: *ngibrit ke arahku.

Kita ngakak liat kelakuannya. Mulai timbul niat untuk ngerjain bocil ini.

sayyid: *lagi makan cumi goreng
fathur: itu appah? *gangguin Sayyid
sayyid: ini hantu! hantu kepala cumi!!!
fathur: aaaaaa huwee ada atu. ada atu. *nangis. lari ke ruang tengah

WAKAKAK MASA TAKUT SAMA KEPALA CUMI GORENG???? Setelah itu, mulailah si Fathur gangguin aku makan kacang.

fathur: ini appah? *nunjuk bawang goreng
aku: itu hantu.
fathur: hiii atu. teteh mamam atu.

Gyahaha hebat ya Teteh bisa makan hantu.

kakak atut cama atu kepala cumi

Tidak ada komentar: