02 Oktober 2010

Mengintip Sisi Lain Singapura

After Orchard karya Margareta Astaman. Pertama kali melihat buku ini, aku tertarik karena desain covernya yang keren. Setelah aku lihat tulisan di bagian belakang buku yang menjelaskan bahwa buku itu berisi pengalaman Margareta saat kuliah di Singapura, aku sempet negative thinking. Pasalnya, banyak buku berisi pengalaman saat kuliah yang dikemas dalam bentuk "diary-komedi". Aku bosan dengan buku-buku semacam itu karena kebanyakan gaya penulis mirip-mirip dengan Raditya Dika. Tapi setelah melihat bahwa penerbitnya adalah Kompas, aku mantap bawa buku itu ke kasir. Biasanya, penerbit berkelas seperti Kompas pasti selalu menerbitkan buku-buku yang bagus.

Margareta Astaman adalah salah satu anak Indonesia yang telah menjadi alumni NTU (Nanyang Technical University), Singapura. Itu lho tempat dimana David, mahasiswa Indonesia, dikabarkan bunuh diri setelah membunuh profesornya.

Buku ini mengulas tentang kehidupan Margareta selama tinggal di Singapura. Bukan semata tentang berbelanja di Orchard Road, kehidupan kota yang rapi dan bersih, ataupun tempat-tempat wisata. Tetapi Margareta mengajak pembaca untuk mengintip sisi lain kehidupan di Singapura. Sisi lain dibalik gemerlapnya negara Singapura.

Masyarakat Singapura dituntut perfeksionis dalam segala hal. Tidak terbatas pada kalangan pekerja saja, melainkan juga anak kecil. Sejak kecil, mereka telah dididik di lingkungan dengan sistem hukum yang ketat dan dunia penuh persaingan. Itu sebabnya masyarakat Singapura memiliki budaya kiasu alias takut kalah.

Salah satu efeknya tingginya tekanan hidup di Singapura karena masyarakat dituntut selalu sempurna dalam segala hal adalah banyaknya kasus bunuh diri. Mulai dari para pelajar hingga para pekerja juga tak luput dari kasus ini. Banyak mahasiswa yang mencelakai dirinya sendiri karena stress tuntutan kuliah. Bahkan ada yang harus dilarikan ke Rumah Sakit Jiwa saking stress-nya.

Selain itu, tekanan hidup di Singapura mengakibatkan masyarakatnya tidak sempat untuk bersosialisasi, sehingga mereka seakan-akan menjadi robot yang hanya melakukan hal yang menjadi tugasnya saja. Hidup dituntut serba efisien. Sosialisasi dianggap membuang-buang waktu. Itu sebabnya bangku-bangku di taman yang indah selalu kosong. Mereka tidak sempat untuk bersantai-santai disana. Bahkan salah satu masyarakat Singapura yang tinggal di blok 986 tidak tahu dimana letak blok 987. Sekali lagi, semua itu karena mereka tidak memiliki waktu untuk bersosialisasi.

Sistem hukum yang sangat ketat juga membuat aku kaget ketika membaca buku ini. Seorang supir truk didenda besar karena meludah di jalan. Alasannya karena ada lalat masuk ke mulutnya. Ia jelas tidak mau jika harus menelan lalat itu demi mematuhi hukum. Tapi Singapura tidak mau tahu apapun alasannya. Hukum yang menentukan, tidak ada yang namanya "memahami orang lain".

Singapura juga sangat membatasi kebebasan berpendapat. Semua hal yang dianggap tabu (yang membicarakan tentang sisi buruk negara ini) dilarang diterbitkan di media massa. Oleh sebab itu kita di Indonesia tidak pernah tahu bahwa banyak kasus bunuh diri di Singapura. Kita tidak pernah tahu tentang sisi lain Singapura. Semua karena hal tersebut dilarang dipublikasikan ke masyarakat luas. Dan bagi yang melanggarnya, tentu saja dikenai denda.

Buku ini dikemas dengan gaya bahasa yang ringan dan santai, namun isi buku ini penuh makna dan berbobot. Buku ini baru terbit Agustus 2010 lalu. Harganya Rp. 38.000. Dijamin nggak rugi deh kalau beli buku ini!

3 komentar:

Hans Brownsound ツ mengatakan...

kayanya bagus nih buku. nyari ah.
:D nice post nad!

-hans
hansbrownsound.blogspot.com

Nadia Azka mengatakan...

halo terimakasih sudah mampir!

Riffy mengatakan...

barusan temen bilang kalau dia bakalan mau beli nih buku karena dia emang gila banget pengen sekolah di Singapura . dan kayaknya emang bagus sih :) , bakal pinjem deh kalo si teman beli :D