26 September 2011

Repost: Berdoalah

Sebelumnya, mau ngucapin selamat dulu sama Teh Mila yang baru lulus dari UI semester kemarin. Sayangnya lebaran kemarin nggak sempet ketemu di Jakarta maupun Menes. Aku nemu tulisan bagus deh dari blog Teteh, semoga bisa menginspirasi:

Jika Allah yang berjanji, maka tidaklah pantas kita ragu.
Allah menjanjikan terijabahnya setiap doa di bulan suci ini, terutama, di saat berbuka.

Ini contoh yang sangat sederhana.

Kemarin, seperti biasanya, aku pulang dengan bus 609. Di dompet, hanya tinggal selembar uang 50 ribu, berharap abang kondekturnya punya kembalian dengan uang tersebut. Sayangnya penumpang busnya memang sedang lengang, alhasil: “Belom ada kembaliannya mba, dipegang aja dulu uangnya…”

Baiklah,
uang 50 ribu tersebut dimasukkan lagi ke dalam dompet, sampai nanti sudah ada kembaliannya.

Wah, sore menjelang magrib, cipulir jadi macet sekali. Alhasil, beberapa ratus meter lagi menuju gang rumah, azan sudah menggema.

Setelah bus hampir sampai di gang rumah, aku mengulurkan kembali uang 50 ribu-an tersebut kepada abang kondekturnya.
“Wah mba, belom ada kembaliannya. Udah pegang aja.”, wajahnya datar.
Aku tidak suka kondisi ini, rasanya tidak enak, “yah abang, maaf ya”.
Dan tepat di depan gang, aku turun: tanpa membayar.

Entah kenapa, aku tiba-tiba menangis. Hehe, mungkin karena melepas sedikit gusar dengan macet tadi gara-gara mengejar waktu berbuka di rumah, karena, hari ini semua keluarga sedang berkumpul di rumah. Ditambah, rasa tidak enak karena harus tidak membayar bus.

Dalam hati, sepintas, berharap semoga keesokan hari bisa naik bus yang sama dan membayar ongkos hari ini. Mungkin, meski ini doa sederhana, doa ini dirasa tulus dan penuh harap, hoho.

Dan pagi ini, sekarang, aku tengah naik bus yang sama. Dengan supir dan kondektur yang sama. Membayar dengan uang 50 ribu yang sama. Bedanya, kali ini abangnya punya kembalian untuk ongkos hari ini dan kemarin.

Entah probabilitas tepatnya berapa. Kalau bus 609 yang beroperasi ada 30 bus, maka probabilitas aku naik bus yang sama hanyalah 1/30.
Lagipula, padahal harusnya aku berangkat lebih pagi, tapi terhambat karena suatu hal.
Kalau berangkat lebih pagi, tidak mungkin naik bus yang ini kan?

Simple. Jika harapan semacam itu saja terijabah, mengapa tidak untuk harapan yang lebih besar dan lebih mulia?

Masih ada setidaknya 23 kali kesempatan berbuka lagi di bulan ini. Ditambah 23 x 60 x 24 menit waktu tersisa di bulan ini. Ditambah sekian waktu mustajab diantaranya.

Berdoalah, maka Ia akan kabulkan doamu…
“ud’uni astajib lakum…”

0 komentar: