22 April 2011

Surprise for Nonik

Selesai ujian nasional kemarin, aku & the bitches (Riang, Sarah, Ayu, Faila, Rieza, Nia, Ririn, Kamal) ngerjain Nonik. Ultahnya emang udah berlalu, bahkan traktirannya-pun udah lewat. Kita belum sempet ngerjain Nonik karena minggu-minggu sebelumnya kita masih sibuk persiapan ujian nasional.

Kebegoan terjadi. Kali ini gara-gara Nia. Nia ngajakin Nonik karaokean. Terus paginya si Nonik tanya ke Kamal & aku. Aku & Kamal nggak ngerti apa-apa karena Nia nggak bilang, jadi kita jujur aja, "Ha? Kok Nia nggak ngajak kita?". Curigalah si Nonik.

Lanjut, kita kumpul di depan Lab Biologi dan ngumpetin helm Nonik di loker Ayu. Kita bingung mau ngerjain Nonik dimana karena nggak mungkin ngerjain di sekolah sementara sekolah masih rame abis ujian nasional. Perlu diketahui, sekolahku ngelarang merayakan ulang tahun di sekolah wkwk.

Akhirnya kita ke gramedia dulu. Di penitipan tas, Nonik dan yang lain naik dulu ke lantai dua. Sementara aku, Faila & Rieza pura-pura mau ke toilet. Padahal mau ngambil barang berharga di tasnya Nonik. Dan gilanya si Ayu malah tanya, "Lho Az, kamu mau ke toilet lagi?". Aduuh Ayu -_-

Di toilet aku buka tuh pintu *iseng. Eh ternyata ada mas-mas lagi bersihin toilet wkwk. Ngakak deh si Faila & Rieza. Akhirnya kita balik ke penitipan tas dan ngambil kunci motor Nonik. Setelah liat-liat buku diatas, kita semua balik lagi ke sekolah.

Di parkiran, kita iket mata dan tangannya Nonik. Nonik teriak-teriak gembira. Digeret ke greenhouse. Kita masukin air ke balon dan ambil ciduk dari kamar mandi buat nyiram Nonik. Dasar Nonik gila, gara-gara aku nyeret Nonik, aku jadi jatoh di sumur! Eh tapi sumurnya lagi ditutup. Eh gatau deng itu sumur apa bukan. Eh si Nia sinting hapenya jatoh di atas cake ultah wkwk. 

Kita paksa si Nonik nyamperin kita buat tiup lilin. Dia kira cakenya bakal kita tumplekin ke mukanya. Oww tidak bisaa. Kita tidak semubazir itu. Akhirnya setelah nyanyi dan tiup lilin, Nonik motong cake pake giginya. Kita olesin mukanya pake cream. Sarah, Riang  Ririn malah masukkin balon ke tasnya Nonik. Selanjutnya, kita foto-foto. Difotoin Beti yang abis ngerjain Prita dalam rangka ultah juga. Habis itu Kamal pulang, Faila juga pulang karena mau ke Wonosobo.

Tinggallah kita berdelapan kecapekan dan kehausan. Ngotot minta ditraktir di es rumpi. Nonik setuju tapi cuma 25% bayarnya wkwk. Pas mau nyalain motor dia baru sadar kuncinya ilang. Aku balikin deh kuncinya demi dapat traktiran. Oh iya, aku bonceng tiga bareng Nia dan Ririn lhoo. Sarah, Ayu, Riang juga boceng tiga. Ah cuma deket ini ke pujasera. Dulu aku, Nia, Ririn juga pernah cenglu dari rumahku ke lapangan ligasha tanggal 6 Februari 2010 wkwk ada datanya.

Di es rumpi semua pesen ice leci squash, kecuali si Rieza es teler, aku es kolam bola. Nia, Ayu & Riang pesen mie ayam bakso. Sarah pesen soto. Gile ini lama buanget pesenannya nongol. Mana capek, kepanasan, kayak udah puasa aja gitu hehe. Kita ngobrol cuman sekitar satu jam doang. Huaaaah capek juga rasanya.

21 April 2011

Ujian Nasional

Alhamdulillah ujian nasional akhirnya kelar juga. Lega tahap satu deh. Segala kehebohan persiapan ujian nasional SMA ini begitu membuat gila. Dulu waktu baru naik ke kelas tiga, kita selalu mikir "ah masih beberapa bulan lagi. masih banyak waktu". Nah tau-tau sekarang ujian di depan mata.

Flashback ke dua minggu sebelum ujian nasional, temen-temen jadi berubah semua. Bayangkan, ketika buka pintu kelas semuanya duduk, ada yang sendiri ada yang berkelompok, tapi semuanya belajar. Bahkan ketika nggak ada guru sekalipun. Semua jadi tobat! Kenapa kita nggak kayak gini daridulu aja ya?

Kekonyolan terjadi pada salah seorang temen saya, Rida Ayu. Dia bilang dia degdegan dan ngerasa nggak sehat menjelan ujian nasional. Besoknya, dia bilang gini, "Semalem habis ngerjain soal matematika ternyata gampang. Aku jadi ngerasa sehat".

Ngomong-ngomong, aku kira praktek kecurangan ujian nasional macam bocoran soal itu cuma ada di dalam berita-berita dan nggak bakal terjadi di Semarang. Apalagi ujian nasional ini lima paket. Ternyata oh ternyata praktek kecurangan begitu dekat. Nggak perlu-lah mengomentari orang-orang macam begitu. Setiap orang boleh memilih untuk lulus dengan cara terhormat atau tidak.

Kalo kata Hilmi di facebook, "Cita-cita setinggi langit tapi ngandelin bocoran UN? Buang cita-citamu nang!"

Atau waktu itu aku liat status (lupa siapa) di twitter, "Lulus UN dengan bocoran sama dengan koruptor yang lolos dari jeratan hukum,"

Tiap sebelum masuk ruangan, kelasku berdoa bareng dulu. Trus kumpulin tangan ditengah dan teriak DISPENSER LULUS 100%. Hari berikutnya kita begitu lagi, terus kelas sebelah juga ikut-ikutan wkwk trendsetter. 

Pengawas dari sekolah-sekolah lain cukup baik. Dari dulu aku paling sebel kalo ada pengawas cerewet dan tukang ngobrol. Ganggu konstentrasi banget mengingat aku duduk persis di depan mereka. Ada tuh pengawas yang malah ngobrol. Aku udah bilang, "SSST" berkali-kali ih malah nggak ngefek sialan nggak peka banget. Mau negur tapi nggak enak. Akhirnya aku pasrah ngerjain soal ditemani oleh ocehan mereka.

Yah sudahlah semoga ujianku membawa berkah :D

02 April 2011

Jangan Karena Gara-gara Gayus


Dengan munculnya salah satu pegawai Dirjen Pajak yang tersangkut kasus mafia pajak, yaitu Gayus Tambunan, maka nama baik instansi dimana ia bekerja tentu ikut tercoreng.

Karena nila setitik, rusak susu sebelangga. Peribahasa yang tepat untuk menggambarkan penilaian masyarakat terhadap Dirjen Pajak saat ini. Namun pantaskah kita menilai instansi itu buruk hanya atas dasar busuknya Gayus Tambunan?

Kita misalkan saja, ada teroris di Indonesia (memang ada sih). Lalu apakah kita rela jika negara lain memberi cap bahwa Indonesia adalah negara teroris? Tentu tidak. Karena watak seseorang tergantung kepada pribadi masing-masing. Bukan berdasarkan instansi, klub, atau negara tempat ia tinggal.

Marilah kita bijak menilai kinerja Dirjen Pajak. Jangan menilai sesuatu dengan terburu-buru karena belum tentu hal tersebut bisa dibuktikan. Cobalah melihat sesuatu secara objektif bukan subjektif. Bayangkan apabila Anda berada di instansi tersebut. Bagaimana nasib kelanjutan pembangunan negeri ini apabila masyarakatnya enggan membayar pajak?

Ayo tetap bayar pajak dan awasi pengurusannya!


"Apa Kata Dunia?" - Tampar Balik Dirjen Pajak

Tentu kita sudah tidak asing lagi dengan beberapa iklan pajak di televisi yang menggunakan slogan "Apa Kata Dunia?". Mulai dari "Hari gini nggak bayar pajak? Apa kata dunia?" atau "Hari gini nggak punya NPWP? Apa kata dunia?".

Slogan tersebut sangat akrab di telinga masyarakat. Apalagi baru-baru ini kasus mafia pajak yang melibatkan Gayus Tambunan, seorang pegawai Direktorat Jenderal Pajak mencuat ke permukaan.

Slogan ciptaan Dirjen Pajak tersebut seolah "menampar balik instansi itu sendiri. Dikarenakan kinerja buruknya tercium oleh masyarakat luas, maka slogan ini-pun dijadikan kalimat teguran balik yang "menampar" Dirjen Pajak.

Slogan yang semula "Hari gini nggak bayar pajak? Apa kata dunia?", diplesetkan menjadi "Hari gini jadi mafia pajak? Apa kata akhirat?". Kalimat tersebut tentunya seolah menjadi senjata makan tuan. LOL.

Sepertinya Dirjen Pajak harus segera mengganti slogan ini. Atau lebih tepatnya, sepertinya Dirjen Pajak harus segera mengganti pegawai "nakal"nya.



Surat untuk Dirjen Pajak

Kepada yang terhormat Direktorat Jenderal Pajak,

Baru-baru ini kami, masyarakat menyaksikan dan mendengar dengan mata serta telinga kami sendiri mengenai kasus mafia pajak. Tentunya Anda sudah mengetahuinya. Mungkin Anda juga sudah mengetahui hal ini dari bertahun-tahun yang lalu, ketika kasus ini belum muncul ke permukaan pers.

Kami sudah tidak asing lagi dengan kasus korupsi di kalangan pejabat negara. Kami sudah tidak merasa heran ketika salah satu pegawai Anda, yaitu Gayus Tambunan, mendadak terkenal di seluruh Indonesia. Segala kinerja buruk pemerintah yang terkuak ke media sudah kami duga sejak jauh-jauh hari.

Kami memang tidak kaget dan tidak heran. Tapi untuk kesekian kalinya, kami merasa kecewa. Sangat kecewa. Apalagi kali ini menyangkut Anda, Dirjen Pajak. Instansi dimana kami rela mengorbankan waktu kami hanya untuk mengantre membayar pajak demi memenuhi kewajiban kami sebagai warga negara. Tidak jarang kami harus bolak-balik untuk mengurus surat-surat tertentu. Bahkan pegawai Anda, sering mempersulit kami untuk membayar pajak.

Kami berusaha percaya pada Anda untuk mengurus perpajakan. Mengurus tersalurnya dana untuk pembangunan negeri yang sampai saat ini belum kami rasakan perubahannya.

Anda sungguh mengecewakan kami. Hingga saat ini, kami hanya bisa menanti datangnya hari dimana Anda bisa melakukan pekerjaan Anda dengan baik dan benar. Kapan hari itu datang? Kami rasa hanya Anda sendiri yang bisa menjawabnya.




Nakalnya Petugas Pajak

Tidak sedikit masyarakat Indonesia yang sudah memiliki kesadaran untuk memenuhi kewajiban mereka sebagai warga negara dengan ikut membayar pajak. Sayangnya niat baik mereka seringkali disalahgunakan oleh aparat pajak.

Sungguh ironis, pembayaran pajak yang seharusnya mudah dan tidak berbelit-belit, malah dipersulit oleh aparat pajak dengan modus untuk mencari keuntungan.

Salah satu buktinya dimuat dalam kolom surat pembaca harian KOMPAS. Seseorang mengaku pernah dipersulit saat hendak membayar pajak. Petugas meminta berbagai macam surat yang dirasanya tidak relevan untuk urusan pajak tersebut. Ketika ia sedang bingung, ia dihampiri oleh petugas lainnya. Petugas tersebut menawarkan bantuan untuk mengurus pembayaran pajaknya tanpa perlu menyertakan surat-surat yang diminta. Syaratnya, tentu saja uang. Salahkah kalau kita curiga bahwa permintaan bermacam surat tersebut hanya akal-akalan untuk mendapatkan keuntungan?

Selain itu, menurut berita yang saya saksikan di media massa yang membahas tentang kecurangan dalam pelayanan pajak, ternyata banyak petugas yang berkomplot untuk melakukan kecurangan pelayanan demi mendapatkan keuntungan pribadi. Komplotan ini melibatkan banyak petugas di berbagai tingkat sehingga sudah menyerupai sindikat.

Biasanya yang sering berurusan dengan sindikat tersebut adalah perusahaan-perusahaan besar yang ingin lari dari tanggung jawab untuk membayarkan pajak yang besar. Penghasilan mereka yang mencapai trilyunan rupiah tentu juga membuat mereka harus membayar pajak dengan jumlah yang tidak sedikit. Untuk mempertahankan hartanya, mereka bekerjasama dengan petugas dengan menyuap menggunakan uang yang juga tak kalah besar, namun masih jauh dibanding pajak yang seharusnya mereka bayarkan.

Nampaknya, bukan hanya "masyarakat"-nya yang nakal, tetapi juga "petugas"-nya. Oleh karena itu jika pemerintah menginginkan kasus seperti ini tidak terulang lagi sepertinya harus bekerja ekstra keras untuk memberantas petugas yang nakal. Karena masyarakat bisa nakal, kalau petugasnya mengajak nakal.



Tetap Membayar Pajak: balas air tuba dengan air susu

Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undangsehingga dapat dipaksakan— dengan tiada mendapat balas jasa secara langsung. Pajak dipungut penguasa berdasarkan norma-norma hukum untuk menutup biaya produksi barang-barang dan jasa kolektif untuk mencapai kesejahteraan umum. (pengertian pajak dikutip dari wikipedia)

Biaya untuk pembangunan negeri ini didasarkan atas pajak. Pembangunan jalan, jembatan, transportasi massa, gedung-gedung pemerintah, dan gaji pemerintah semuanya dibiayai oleh pajak. Berarti kitalah sebagai masyarakat yang telah memberi modal kepada pemerintah untuk bekerja membangun Indonesia.

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kinerja pemerintah serta wakil rakyat masih jauh dari kata memuaskan. Banyak dari mereka yang masih bisa bersantai dan berfoya-foya disaat jam kerja. Kita sebagai masyarakat belum bisa merasakan manfaat dari membayar pajak. Ditambah lagi dengan maraknya kasus korupsi pemerintah terutama pada Dirjen Pajak yang menjadi sorotan pada beberapa bulan terakhir.

Hubungan timbal baik atau take and give masih belum dapat dirasakan antara kita sebagai masyarakat dengan pemerintah. Bisa dikatakan seperti peribahasa, masyarakat memberi air susu namun pemerintah membalasnya dengan air tuba.

Tapi andaikan kita mau membuka mata dan pikiran lebih lebar, coba rasakan dan syukuri keadaan di sekitar kita. Jalan raya dan jembatan masih bisa digunakan, sekolah gratis untuk SD dan SMP negeri, pelayanan kesehatan yang terjangkau di puskesmas, dan lainnya itu semua dibiayai oleh pajak. Pantaskah kita menggunakan fasilitas yang dibiayai pajak sementara kita tidak membayar pajak? Apa kata dunia?

Jangan jadikan kinerja pemerintah yang buruk sebagai alasan untuk tidak membayar pajak. Membayar pajak adalah kewajiban kita sebagai warga negara. Sedangkan pengurusan dan penggunaan pajak secara baik dan benar merupakan kewajiban Dirjen Pajak dan pemerintah sebagai instansi yang berwenang.

Jika pemerintah tidak melakukan apa yang sudah menjadi kewajibannya, kita anggap mereka "hina". Lalu, sudikah kita dianggap "hina" juga karena tidak melakukan apa yang menjadi kewajiban kita?

Biarlah mereka-mereka yang "nakal" mendapatkan teguran dan pembalasan dari Tuhan kelak. Percayalah bahwa suatu hari nanti kejahatan mereka akan terungkap. Yang bisa kita lakukan sebagai warga negara adalah membayar pajak dan mengawasi kinerja mereka.

Tidak ada yang lebih baik daripada membalas air tuba dengan air susu. Jadi tunggu apalagi? Jangan ragu untuk tetap membayar pajak dan melaporkan kinerja petugas yang dianggap tidak benar!








Cabut Nggak, Ya?

Anaka-anak kelas 10 dan 11 bisa pulang jam duabelas siang karena mereka baru aja selesai Ujian Tengah Semester. Sementara nasib kami, anak-anak kelas 12 masih harus tetap di sekolah sampai jam setengah tiga.

Terus terang, aku dan beberapa anak pesimis apakah nanti masih ada pelajaran mengingat jam-jam sebelumnya adalah jam kosong gara-gara guru mapel masih sibuk ngurusin UTS.

Jam ke delapan, 13.00. Pak X, guru kami masuk dan menyuruh kami belajar tapi beliau malah keluar ruangan. Aku & Yuan balik badan. Yuan langsung bilang, "Ah pulang aja yok!".

Aku yang emang daritadi punya niat buruk untung pulang langsung setuju, "Ayo. Sekarang ya?"

Yuan emang plin-plan. Baru beberapa detik yang lalu dengan semangat berapi-api ngajak pulang, tiba-tiba masang tampang bimbang. Dia bilang dia takut "nggak berkah". Dengan kita pulang berarti kita dianggap meremehkan pelajaran matematikanya Pak X, guru kami. Sampe tau kalau kita bersikap baik sama pelajaran ini, kita bakal dapet berkah dari Tuhan, yaitu nilai bagus. Gitu kata Yuan. Yuan baru dibilangin Ridho beberapa hari yang lalu.

Kata-kata Ridho bener juga, Aku setuju. Tapi... sekarang Ridho juga nggak ada di kelas! Juga cabut lebih tepatnya. Lagipula anak kelas lain juga pada cabut karena gurunya nggak masuk, bahkan ada yang disuruh pulang sama gurunya.

Oke akhirnya aku & Yuan batal cabut. Kita mengharap dapet berkah dan takut dapet karma. Amit-amit.

Aku itung, di kelas cuma ada 23 anak. Berarti ada 16 anak yang cabut entah kemana. Disaat kita lagi bingung dan cengo nggak tau mau ngapain buat nungguin bel pulang, tiba-tiba Awul (yang lagi nggak ada di kelas) sms: "Bisa tolong bawain tasku nggak? Tasku ada di belakang kelas".

Rupanya Awul ada di luar kelas dan berniat cabut. Kita taroh tas dan jaket Awul di deket tong sampah wkwk. Maksudnya biar Awul ngambil sendiri kesitu gitu loh. Biar nggak ketauan Pak X. Belum ada lima menit, waktu aku & Yuan nengokin apakah tas dan jaket Awul masih ada, ternyata udah nggak ada. Cepet banget ya si Awul. Aku & Yuan nyariin Awul dan ngeliat Awul lagi berusaha nge-starter motornya. Ada Nia juga ternyata.

Motornya Awul entah kenapa error. Mungkin nggak direstui cabut kali. Nia coba starter motor Awul berkali-kali tapi gagal. Awul putus asa dan bilang, "Ngg kayaknya ada suara orang ngetawain aku deh,". Suara malaikat mungkin wul! Untungnya akhirnya motornya Awul bisa bener dan langsung cabut.

Aku & Yuan langsung bertekad ikut pulang. Kita balik ke kelas, ambil tas. Meika mau ikut tapi dia bingung kan sama aja belum dijemput. Akhirnya nggak jadi pulang. Aku & Yuan jadi bimbang lagi karena udah jam dua sekarang. Bel pulang tinggal setengah jam lagi. Trus gimana dong ah bingung. Akhirnya niat kita bulat, cabut! Di jalan ada orang teriak manggil aku. Ternyata si Ayu wkwk dia cabut juga rupanya sama Sarah & Titin kalo nggak salah.

Aku sampe rumah setengah jam lebih awal dari biasanya. Se-sedikit apapun waktu itu berharga. Daripada di sekolah cuma santai-santai leha-leha, mendingan pulang. Hal yang sama bisa dilakukan juga di rumah kan? Eh tapi gimanapun aku juga salah ya. Ampuni kami Ya Tuhan.