30 Desember 2012

2012 dan Segala Perubahan

Akhirnya lewat juga tanggal 21-12-2012, hari yang aku tonton di film 2012 waktu aku kelas dua SMA dulu. Hm berarti udah tiga tahun yang lalu. Tiga tahun, eh? Udah lama banget dong. Nggak terasa sekarang udah 19 tahun. Terdampar di Dramaga, dan jadi mahasiswi semester tiga. Tahun ini aku ngapain aja ya? Sebagai renungan, aku coba bikin review kegiatan tahun 2012.

Januari: Ujian akhir semester pertama. IP pertama. Dan pertama kalinya pulang ke Semarang setelah enam bulan. Ikut promosi IPB Goes to School ke beberapa SMA dan tentunya ikut acara College Expo di SMA 3 sambil reuni. 

Februari: Gabung sama Komunitas Sanggar Juara. Pelatihan jurnalistik bareng Tempo dan Radar Bogor. Mulai belajar jualan tas, seru!

Maret: Bisa ketemu Pak Rhenald Kasali secara langsung di pembukaan acara Leadership and Entrepreneurship School (LES). 

April: Pembukaan perpustakaan Juara. 

Mei: Pertama kali ngajar di Pabuaran. Ikut talkshownya Anies Baswedan. Berkemah bersama keluarga Koran Kampus di hutan kampus hahaha. Ujian senam TPB.

Juni: Farewell party asrama Tingkat Persiapan Bersama (TPB) IPB. Mulai jadi anak kos-kosan. Ribut persiapan MPF-MPD. Ikut acara penandatanganan MoU IPB dan sebuah univ Malaysia. Wawancara rektor. Diundang bareng Koran Kampus ke acara makan malam IPB bareng pihak kepolisian atas tuntasnya kasus penembakan satpam. Reuni di Jakarta bareng Wendy dan Ayu. 

Juli: Pulang ke Semarang. Pertama kali main sepatu roda. Bulan puasa! Buka bersama dimana-mana dengan orang yang beda-beda. 

Agustus: Mudik ke Pandeglang dan Jakarta, sekalian balik ke Bogor. Laptop rusak pas pengisian KRS online. Masa Perkenalan Fakultas dan Masa Perkenalan Departemen. Resmi masuk jurusan. 

September: Ke Greenpeace Indonesia. Ulang tahun aku yang ke-19. 

Oktober: Ke Social Media Festival dan buka stand bareng Sanggar Juara. Kemalingan laptop, dan mendapatkan kembali laptop yang hilang (hal terajaib tahun ini). 

November: Jadi relawan Panda Mobile bareng WWF Indonesia. Makrab omda Semarang. Kesana-kemari ngurus Sanggar Juara Festival. Nge-danus, ngelatih tari, drama, seru! Jalan-jalan ke 3 kota dalam 3 hari, Indramayu, Garut, Sukabumi, sempet nyasar di gunung dan hutan tak berpenghuni. 

Desember: Makrab Manajemen. Belajar menanam hidroponik dengan adik-adik di SLB bareng Indonesian Youth Act Bogor.

Isinya hal-hal yang menyenangkan semua ya? Jangan salah. Banyak kejadian yang nggak sesuai harapan, tapi aku malas mengingat apalagi mengumbar hal-hal buruk. Tapi sedikit sekali ya reviewnya. Rupanya tahun ini postinganku enggak sampai 30 biji. Rasanya banyak yang aku lakukan, tapi enggak aku tulis di blog, jadinya lupa deh apa aja hahaha. Bener juga kata orang kalau menulis itu membantu meningkatkan daya ingat.

Sejak kuliah, capek dengan segala tugas dan kegiatan sering dijadikan alasan untuk enggak meluangkan waktu menulis untuk diri sendiri. Tahun depan enggak akan begitu lagi InsyaAllah. Aku pernah membuat review serupa di tahun 2010 hihihi jaman dimana masing rajin banget posting tentang apapun itu, reviewnya jadi banyak sekali.

Waktu kecil, aku selalu berpikir bahwa jadi perempuan yang menuju fase dewasa itu menyenangkan. Bisa memilih sendiri barang apa yang hendak digunakan, bepergian kemanapun kapanpun, punya banyak teman yang menyenangkan, dan lain-lain. Dan iya, begitulah kenyataannya.

Orang-orang berubah. Yang dekat, yang jauh, seiring bertambahnya usia, perubahan selalu mengikuti. Beberapa bulan lalu, aku sampai pada titik menyadari adanya perubahan tersebut.Tatkala berkumpul (reuni dan buka puasa bersama) dengan teman-teman sekolah dasar (SD) yang sebagian besar sudah enggak aku temui/ hubungi selama 6 tahun di SMP dan SMA, lebih malah karena saat kami bertemu, kami sudah jadi mahasiswa semester tiga, bahkan ada yang sudah bekerja.

"Hai, Nadia! Apa kabar?" ujar mereka.

Raut wajah sebagian orang tidak berubah, sebagian lainnya berubah drastis. Kalau soal penampilan, jangan ditanya. Yang dulu sangat tomboy, sekarang jadi yang paling feminin. Dan rupanya semua teman perempuan menggunakan make-up! Kecuali aku, dan seorang teman bernama Diah Ayu (kami satu SMA dulu). Make-up yang digunakan bukan sekedar bedak tipis dan pelembab bibir. Maskara, eyeshadow, dan beberapa juga menyapukan blush-on di pipinya. Mereka mengenakan tas model wanita dewasa dan alas kaki yang tidak datar.

Perubahan lagi-lagi aku sadari ketika usai shalat zuhur di mushala bersama teman-teman. Aku cuma merapikan kerudung. Sementara yang lain sibuk menyemprotkan wewangian dan menggunakan bedak yang tersedia dalam tas masing-masing. Glek. Ini apakah aku terlalu cuek? Rasanya sih enggak karena aku selalu bawa tissue dan hand sanitizer di tas :P

Perubahan tidak melulu soal fisik semata. Coba perhatikan, topik obrolan ketika berkumpul dengan teman-teman tidak lagi melulu soal si-ini-ngeselin atau nilai-ujianku-jelek. Bahan pembicaraan berubah. Meskipun tidak selalu begitu, tapi tanpa kita sadari, pembicaraan santai dengan teman saat makan, atau usai nonton film bisa jadi berbobot.

Tiap tahunnya aku selalu merasa, persaingan di dunia ini makin ketat. Siapa yang masih berleha-leha dan bermalas-malasan, ia bakal tertinggal. Banyak orang terlihat santai dalam pembawaan, namun ternyata serius dan punya strategi dalam setiap pemikiran, keputusan, dan tindakan yang ia ambil. Alhasil, mereka yang kita kira biasa saja, tahu-tahu bisa jadi luar biasa karena pergerakan sisi lain dari diri mereka yang tidak terlihat oleh kita.

Hidup makin berat, kalau kepribadian tidak makin kuat dan punya daya saing, bisa tumbang di jalan dan tertinggal. Seperti kata salah satu kakak tingkat, "brand yourself" ! Jadilah top-brand. Tunjukkan dirimu yang unik, berbeda, dan punya nilai lebih dibandingkan orang-orang lain. Iya sedikit demi sedikit, di umur terakhir sebagai 'teenager' ini aku harus berubah.

Slogan 'be yourself' sudah tidak berlaku. Bagaimana kalau dirimu orang yang pemalas dan terlalu cuek? Harusnya 'be the best of yourself'. Iya, jadilah versi terbaik dari dirimu sendiri. Selamat datang 2013, selamat datang umur 20 (hiks) hahaha :D

27 Desember 2012

Sakit




Halo rasanya udah lama sekali enggak menulis blog seperti ini. Cerita tiap detilnya. Postingan ini sepertinya postingan terpanjang tahun ini.

Tiga minggu yang lalu, Senin pagi, ketika bangun tidur kok rasanya badanku aneh. Agak panas. Pengen rasanya enggak ikut kuliah Mikroekonomi jam 07.00 pagi ini, tapi hari ini ada kuis. Jadinya aku tetep kuliah sampe jam 08.40, terus pulang ke kos dan enggak ikut kuliah Metode Kuantitatif. Rupanya badan enggak enak karena penyakit bulanan datang. Ah paling abis tidur siang jadi mendingan. Pikirku.

Minggu itu lagi-lagi aku habiskan untuk banyak kegiatan usai kuliah, dari sore sampai malam. Iya meskipun enggak semuanya hal yang serius. Selain kesana-sini cari sponsor, ngedanus, ngelatih drama musikal, jaga stand, rapat ini itu, diskusi, ada juga ngasih kue buat temen yang ulang tahun atau ngopi malem-malem sama temen-temen -_-

Semua berjalan lancar jaya, sampai pada hari Jum'at malam. Di rapat H-2 kegiatan tahunan Sanggar Juara Festival, kepalaku pusing banget, mata berat, ah pokoknya udah enggak sanggup duduk tegak.

"Ska, kok pucet mukanya?"
"Hah? Enggak kok kak. Ini rapatnya bentar lagi beres kan,"
"Iya pucet banget. Pulang aja duluan. Ini masih lama kayaknya. Kamu ada kuis kan besok,"
"Iyah. Ngg....,"

Setelah mikir agak lama. Akhirnya aku memutuskan buat pulang duluan. Malam ini pertama kalinya di minggu ini aku pulang sendiri tanpa ada yang nganter. Ternyata rasanya pusiiiiiing banget. Ketemu temen satu jurusan yang habis rapat juga.

"Pucet banget sih muka lu,"
"Ah emang iya ya?"
"Iya tau. Udah sakit dari Senin kemaren kan? Udah belajar belom buat kuis besok?"
"Belooom. Abis ini mau belajar,"
"Tidur aja biar nggak makin parah. Besok jadi ke SLB?"
"Iya jadi," T.T

Sampai di kos aduuuh rasanya badan udah enggak karuan. Aku buka laptop dan ngerjain tugas dulu. Karena udah enggak kuat, langsung tidur dan baru belajar pagi-pagi.

Untung kuis pagi itu lumayan gampang, enggak segila kuis minggu sebelumnya. Usai kelas, aku sarapan dan lanjut menuju SLB di belakang sungai Cisadane. Berangkat kesana naik angkot dan jalan kaki (kakak-kakak yang lain udah duluan dua jam yang lalu di lokasi karena mereka kosong hari Sabtu). Macet, panas, pusing. Untung pulangnya dianter sampe kosan. Langsung tidur!

Sorenya aku dan Kak Vina berangkat mau nginep ke desa Pabuaran untuk bantu mobilisasi adik-adik sanggar ke kampus besok jam lima pagi. Deg-degan karena aku enggak hapal jalanannya sementara Kak Vina belum pernah kesana. Kita mau nginep di rumah Teh Dedeh, seorang guru ngaji yang rumahnya biasa kami pakai untuk ngajar tiap Sabtu. Gawatnya, kakak-kakak sanggar belum ngabarin Teh Dedeh kalau malem ini aku dan Kak Vina mau datang.

Pasrah. Kami naik angkot dan turun di Polsek Ciampea. Harusnya dari situ naik ojek ke desa. Tiba-tiba pas mau nyebrang ada yang manggil.

"Teeeh kok ada disini? Mau kemana?" rupanya itu Teh Dedeh. Alhamdulillah!
"Saya mau ke rumah Teteh. Kok Teteh disini ngapain?"
"Mau ke klinik itu, Teh," kata Teh Dedeh sambil nunjukkin klinik di depan Polsek.

Akhirnya Kak Vina ke rumah Teh Dedeh duluan naik ojek yang tadi dinaikin Teh Dedeh. Sementara itu aku nemenin Teh Dedeh berobat. Jam setengah tujuh malem kami naik ojek bertiga ke Pabuaran. Itu mana jalanannya gelap, jelek, licin, jauuuuuh pula hahaha malam minggu yang ekstrim pokoknya.

Sampai di rumah Teh Dedeh, ngobrol dan nonton tv bentar. Jam delapan udah nggak kuat. Aku ke kamar duluan. Dingiiiiin. Sebenernya itu aku enggak bisa tidur. Badan panas banget, aku menggigil. Tapi aku enggak bilang karena enggak mau ngerepotin. Apalagi Teh Dedeh juga lagi sakit. Aku enggak bisa tidur sampe jam sebelas malem. Hiks.

Pagi jam empat udah bangun. Kak Vina bilang aku enggak usah ikut acara hari ini. Ya ampun ini acara udah aku tunggu setahun dan kali ini badan bener-bener enggak memungkinkan untuk diajak kompromi. Okelah mau gimana lagi. Jam setengah enam muterin desa buat manggilin adik-adik di rumah masing-masing.

Begitu semua udah di dalem angkot carteran, kita pamit berangkat ke kampus sama bapak-bapak dan ibu-ibu yang nganterin anaknya.

"Teh, tolong titip anak saya ya biar enggak muntah di jalan," ujar salah seorang ibu.

Aku cuma mengangguk dan senyum. Padahal dalem hati: aduuuh saya juga enggak bisa mastiin saya sendiri enggak bakal muntah di jalan pagi ini bu -___-. Tapi amanah tetep amanah. Selain menahan rasa pusing dan mual diri sendiri, aku juga harus bikin anak-anak ini tetep ceria dan segar karena bagi sebagian besar anak, ini pertama kalinya mereka pergi jauh keluar desa. Jadilah kita nyanyi-nyanyi dan ketawa di dalem angkot.

Sanggar Juara Festival 2012 yang terlewatkan. Adik-adik Pabuaran lagi nyanyi :)

Sampe di kampus, aku ijin enggak ikut dan langsung balik ke kosan. Cari sarapan enggak ada warung yang buka. Bahkan semua minimarket juga belum buka. Itu rasanya bener-bener udah mau pingsan di jalan. Akhirnya nemu satu warung yang buka, beli decolgen. Nemu juga satu tempat nasi uduk yang buka tapi antrinya masyaAllah, harus kuat-kuat nahan diri biar enggak tumbang disitu. Sampai kamar langsung tidur.

Bangun tidur enggak ada perubahan. Obat macam apa ini? Malam itu seketika kamar jadi ramai karena aku sakit, aku langsung ke klinik. Makan, minum obat, tidur. Paginya bolos kuliah. Hahaha jatah kuliah Mikroekonomiku abis T.T satunya gegara fieldtrip ke Bursa Efek, satu lagi gegara sakit ini. Tapi jatah kuliah Metode Kuantitatifku udah abis minggu lalu dengan alasan yang sama pula. Jadi hari ini aku harus kuliah. Tapi tiba-tiba ada jarkom kuliah Metode Kuantitatif dibatalkan terkait pelantikan rektor (Y). Tetep aja kudu ke kampus karena ada tugas kelompok. Pfft.

Minggu ini aku memutuskan untuk enggak berkegiatan apa-apa selain kuliah. Jadi kupu-kupu dulu (kuliah-pulang-kuliah-pulang). Hampa juga ya enggak ada kegiatan.Tapi badan sukses jadi lebih baik. Alhamdulillah.

Sampai pada Sabtu sore, seperti biasa hujan. Habis responsi tambahan Metode Statistik, aku makan mie ayam bersama beberapa orang. Yang lain pulang dulu ke kosan, sementara aku langsung menuju stasiun buat balik ke Jakarta. Udah sebulah lebih mendekam di Bogor. Di perjalanan, badan rasanya kembali enggak enak. Menunjukkan gejala masuk angin. 3 hari di rumah nenek malah sakit. Mual, batuk, pilek, sampe muntah. Ke dokter lagi jadinya.

"Mbak, jangan tidur diatas jam sepuluh malam. Jangan makan buah bergetah ya. Jangan makan apel, mangga, ciki, coklat," sang dokter menyebutkan makanan-makanan yang aku makan minggu lalu -__-

Jadinya sekarang aku minum obat lagi. Lebih banyak pula. Semangat penyembuhan badan!

nb: postingan ini dibuat sambil batuk-batuk

20 Desember 2012

Anak-anak Spesial

menanam benih tomat

Akhir pekan kemarin, aku dan teman-teman Indonesian Youth Act di Bogor berkesempatan untuk datang ke Sekolah Luar Biasa (SLB) Al-Irsyad di daerah Empang (belakang sungai Cisadane). Dalam kunjungan pertama ini, kami mengajak mereka belajar menanam tomat dengan metode hidroponik.

"kalian kalau pulang naik apa?"
"naik angkot, kak,"
"berapa kali?"
"dua kali,"
"sama siapa? dijemput?"
"sendiri aja,"

Sendiri. Aku nggak habis pikir. Bagaimana bisa anak-anak (atau remaja) ini dibiarkan pulang-pergi sendirian tanpa didampingi orang dewasa. Aku juga nggak paham bagaimana awal cerita mereka menjadi siswa sekolah ini. Seorang anak mengatakan bahwa ia sudah sejak awal bersekolah di SLB, seorang yang lain mengatakan bahwa dirinya pernah bersekolah di sekolah 'biasa' sebelum akhirnya pindah kemari. Aku nggak ngerti kenapa seorang anak laki-laki yang ingin jadi tentara bisa malu sampai menutup muka walau hanya diminta berkenalan di depan kelas.

Betapa begitu banyak yang aku belum tahu. Ini masih awal untuk mengenal dan masuk ke dunia spesial mereka. Bismillah :)

12 November 2012

Tur Edukasi Bumiku Lestari bareng Tim Panda Mobile WWF

Akhirnya UTS berakhir. Sabtu, 3 November 2012, aku ikut jadi relawan di Tur Edukasi Bumiku Lestari bareng Tim Panda Mobile World Wildlife Fund (WWF) Indonesia.

Apa itu WWF?
World Wildlife Fund (WWF) Indonesia merupakan bagian dari WWF. Organisasi nirlaba ini bergerak di pelestarian global yang bekerja di 100 negara di dunia. Tujuan utama dari WWF adalah mencapai mimpi pelestarian yaitu mewujudkan dunia dimana manusia dapat hidup selaras dengan alam. WWF Indonesia tersebar tidak hanya di Pulau Jawa, melainkan juga di Sumatera, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, hingga Papua. Namun kantor sekretariat nasionalnya berada di Jakarta.

Apa itu Panda Mobile?
Panda Mobile ini berupa sebuah truk yang bisa dibongkar. Panda Mobile berkunjung dari satu tempat ke tempat lainnya (dimana mereka diundang) untuk melakukan kegiatan konservasi kecil-kecilan di area publik. Di dalam Panda Mobile terdapat perpustakaan, permainan edukatif, TV, laptop, dan kabin yang bisa dibuka menjadi area panggung untuk kegiatan seperti mendongeng, menggambar, dll.

Tur kali ini berlokasi di SD Salman Al-Farisi di daerah Cikaret, Cibinong. Sabtu pagi kami berangkat dari Dramaga pukul enam. Karena lokasinya sangat jauh dan entah berada dimana, Uci semalem googling dan menemukan bahwa lokasi SD ini berada di dekat Masjid Al-Barokah.

Kita naik angkot 32 ke arah Cibinong. Bisa dibilang setelah cukup lama, ada Masjid Al-Barokah. Turunlah kami disana dan mulai tanya-tanya penduduk sekitar. Rupanya kami nyasar. Lokasi yang kami maksud masih super jauh dan ini bukan Masjid Al-Barokah yang dimaksud google. Ya namanya masjid, namanya ya begitu-begitu mirip hahaha kebetulan sekali ya.

Singkat perjalanan, akhirnya kami sampai di Salman Al-Farisi Global Interactive School. Wah tadinya aku pikir sekolahnya cuma sekolah negeri biasa, ternyata sekolah swasta yang bagus. 

area Salman Al-Farisi Global Interactive School (ada tempat outboundnya segala)

Kegiatan dimulai dengan mendongeng di kabin Panda Mobile. Setelah itu dilanjutkan dengan menanam pohon dan mendaur ulang barang bekas (membuat tas dari koran, tempat pensil dari botol kemasan air minum, dll). Sekolah ini terletak di dataran tinggi dengan area yang luas, jadi enak untuk kegiatan outdoor. Kemudian ada sesi pemutaran film mengenai perburuan liar dan global warming. Penutupan dimeriahkan oleh penyanyi Oppie Andaresta.
Oppie Andaresta di Panda Mobile

Oppie Andaresta ini sedang meluncurkan album baru yang bertemakan dengan lingkungan. Lagu-lagunya diantaranya Pohon adalah Teman Kita dan Jangan Buang Sampah Sembarangan. Untuk itu, Oppie Andaresta bekerjasama dengan WWF.

Jadi relawan memang nggak dibayar dengan materi berupa uang. Tapi dapat banyak pelajaran dan pengalaman yang nggak akan ditemui jika hanya berdiam diri di kampus dan kos. Terimakasih WWF Indonesia (atas kesempatannya dan juga traktirannya di restoran padang hehe).

Kak Dian, Hana, aku
 Berminat mengundang Panda Mobile? Gratis lho. Info lebih lanjut bisa klik disini.

01 November 2012

Ajaib. Laptop Kembali!

Sudah baca postingan aku yang tentang kemalingan? Bisa klik disini. Seminggu setelah kejadian tersebut, laptop yang habis kemalingan kembali ke tanganku. Keajaiban itu ada, dan begini ceritanya...

Sabtu, 13 Oktober 2012
Aku lagi di acara Agriphoria di GWW dan tiba-tiba ponsel bunyi.

"Assalamualaikum. Nadia Azka Mene 47? Saya Anti IE 46. Saya dapat nomor hp kamu dari Kukuh Mene 46. Besok senin bisa ketemu? Ada hal penting yang mau disampaikan,"

"Waalaikumsalam. Saya Mene 48, kak. Ya, kak. Bisa. Jam 12 gimana? Ada apa ya?"

"Oke. Jam 12 di kantin Metro departemen Gizi Masyarakat ya. Pokoknya penting,"

#fyi, angkatan di IPB disebut sesuai angkatan keberapanya (46, 47, 48) bukan tahun masuk seperti 2009, 2010, atau 2011 di kampus lain.

Ada apa ya? Terpikir, mungkin kakak ini mau kerjasama (media partner) sama Koran Kampus. Minggu lalu, aku habis ngeliput acara Unilevernya Kak Kukuh, jadi mungkin Kak Anti ini juga mau media partner. Padahal jatah media partner buat koran edisi ini udah habis lho.

Senin, 15 Oktober 2012
Pagi ini aku bangun sambil mengenang tujuh hari setelah raibnya laptop. Kak Anti udah sms aja, "Jangan lupa ya nanti,". Tapi janjiannya dimajuin jadi jam 10. Untungnya aku ada jeda kuliah. Jadilah aku nyamperin Kak Anti di kantin Metro.

"Kak Anti ya?"
"Iya Nadia,"

Tanpa basa-basi, Kak Anti langsung tanya, "Kamu habis kemalingan ya?"

Sontak aku kaget. Entah kenapa yang ada di pikiranku kali itu Kak Anti adalah jaringan mahasiswa IPB yang tergabung dalam grup detektif (berkhayal).

"Iya, kak," aku langsung duduk.
"Laptop kan?"
"Iya kak, kok tau?"
"Laptopnya ada di aku,"

Cetarrr...

"Hah? Kok bisa?"
"Ini bukan laptopnya?" Kak Anti ngeluarin sesuatu dari dalam tasnya dan tralala itu laptop aku.

"Coba dicek dulu. Ada yang rusak, atau ada data yang hilang nggak?" katanya lagi.

Aku cek dan alhamdulillah normal. Tapi detik itu juga aku masih nggak percaya dan penasaran kenapa laptop ini bisa balik ke tanganku.

Kak Anti mulai cerita. Jadi, dia ini adalah anak polisi. Jumat lalu, Ayahnya habis menggrebek markas maling. Sayangnya pelakunya kabur semua, saat ini masih dalam proses pelacakan mereka kabur kemana. Seluruh barang bukti dibawa ke rumahnya.

Sejujurnya setelah kemalingan aku sempet nyesel karena aku nggak ngasih password ke laptop. Seenggaknya si maling bakal kesusahan ngebongkar passwordnya pikirku. Tapi ternyata keputusanku untuk nggak masang password adalah tepat.

Diantara barang bukti lain, laptop aku adalah satu-satunya laptop yang baterainya masih nyala dan nggak dipassword. Jadi datanya bisa dibuka. Polisi tersebut buka-buka dataku dan menemukan logo IPB di dalamnya. Kak Anti dipanggil.

"Teh, ini kayaknya punya anak IPB deh. Coba kamu cek," kata Ayahnya.

Kak Anti ngecekin dataku. Banyak nama Nadia Azka. Tapi Kak Anti belum yakin kalau si Nadia Azka ini pemilik laptopnya. Toh bisa aja Nadia Azka udah jual laptop ini ke orang lain, atau kemungkinan-kemungkinan lainnya.

Kak Anti ngetik namaku di google dan... masuk ke blog. Lagi-lagi keputusanku untuk langsung posting habis kemalingan adalah tepat. Kak Anti jadi tau kalau si Nadia Azka inilah yang kehilangan. Kak Anti cari tau aku jurusan apa dan setelah tau aku jurusan mene, Kak Anti langsung tanya temennya yang anak mene.

Dan laptop ini kembali :)

"Kamu nggak lapor polisi pas kemalingan?"
"Emangnya kalau saya lapor bakal ditindaklanjuti ya kak?"
"Enggak sih hahaha. Polisi tuh juga banyak yang jahat tau de,"
"Oya?"
"Polisi jahat kalau habis nemu barang bukti (laptop) kadang ada yang dia jual atau dia pakai sendiri,"

Setelah kemalingan, aku bahkan nggak terpikir atau berharap laptop itu bakal kembali. Udahlah, toh pelakunya mungkin butuh uang buat hal penting. Mungkin ini teguran dari Allah karena aku kurang mawas diri. Maka, pertemuan dengan Kak Anti siang itu aku anggap sebuah keajaiban. Terimakasih Ya Allah.

Sedikit tambahan, setelah aku cerita ke anak-anak Sanggar soal kejadian ini, Kak Tiwi cerita kalau beberapa bulan sebelumnya Kak Valen, pendiri sanggar, pernah kemalingan laptop juga, padahal ada skripsi di dalamnya. Kak Valen kemudian iseng ke toko laptop bekas dan murah. Ketika dia lagi tanya-tanya sama penjualnya, ada seseorang yang lagi masok laptop-laptop ke toko tersebut. Kak Valen lihat laptopnya.

"Ini juga dijual mas?"
"Iya,"
"Boleh saya lihat?"

Setelah dibuka, ternyata itu beneran laptop Kak Valen dan data-datanya juga masih lengkap. Ya, Kak Valen mendapatkan laptop dan skripsinya kembali.

Bahkan sampai sekarang kadang aku masih heran, ada juga ya keajaiban macam ini.

17 Oktober 2012

Sanggar Juara dan Social Media Festival 2012

Akhir pekan ini, Sanggar Juara puasa mengajar dulu. Kami diundang buka stand di dua tempat. Di Agriphoria (acaranya Fakultas Pertanian) hari Sabtu (13/10) dan di Social Media Festival 2012 mulai hari Jumat (12/10) sampai Minggu (14/10).

Hari Sabtu sepulang kuliah, aku jaga stand di Agriphoria di Graha Widya Wisuda IPB. Adik-adik dari SDN Situ Leutik yang kami rutin kunjungi tiap Minggu juga diundang untuk outbound oleh panitia Agriphoria. Antusiasme mahasiswa, peserta seminar, dan tamu undangan cukup tinggi. Banyak yang tertarik untuk jadi anggota (dikira open for recruitment), berniat menyumbang buku, termasuk jadi donatur tetap.

Hari Minggu, aku berangkat ke Gelanggang Renang Senayan untuk jaga stand di Social Media Festival hari terakhir. Senayan siang itu bisa dibilang sangat panas karena matahari terlalu semangat berterik. Tapi tetep nggak mengurangi tingkat keseruan Social Media Festival di hari terakhir.

Artis dan musisi banyak yang berkunjung. Kalau hari sebelumnya ada talkshow film bareng Nicholas Saputra. Hari ini giliran Endah and Rhesa plus Barry Likumahua yang ngasih hiburan. Melanie Subono juga sempat mampir dan berfoto di stand Sanggar Juara lho.

spanduk Sanggar Juara
Aku jalan-jalan muterin stand-stand yang ada. Mampir sana, mampir sini. Ternyata banyak komunitas yang seru dan keren. Banyak komunitas yang hobi jalan-jalan macam Jejak Kaki dan Balibackpacker. Komunitas  filatelis, komunitas Parkour, dll. Aku mampir ke Komunitas Sahabat Pulau. Seru deh, mereka punya program One Youth, One Child. Programnya berbentuk kegiatan menulis surat sama sahabat pena, dan sahabat penanya itu adalah salah seorang anak yang tinggal di daerah terpencil di luar pulau Jawa.

di depan spanduknya komunitas Sahabat Pulau
Aku dipanggil kak Nina (senior di salah satu organisasi) ke stand @SaveStreetChildren. Rupanya Kak Nina ini aktif di komunitas ini juga. Waktu aku tanya kegiatan komunitas ini ngapain aja, Kak Nina nunjuk salah seorang temennya untuk ngejelasin. Tapi lho kok temennya kenal aku sih. Ternyata itu Rizqa Amalia, ALSTE 2011 (alumni SMA 3 Semarang). Sekarang Rizka kuliah di Akademi Pimpinan Perusahaan (APP) Jakarta, Jagakarsa.

Kembali ke Social Media Festival, selain puluhan stand komunitas, banyak juga berdiri stand beberapa toko online macam Gantibaju.com, Fimelashop. Barang-barang yang dijual bener-bener menarik, jadi hati-hati harus kontrol diri jangan sampai bertindak konsumtif.

Tees.co.id, kita bisa menjual desain kaos kita sendiri lho

stand Kartumuu.

Cerita dari Kak Gressa hari sebelumnya, dia dapet banyak souvenir dari aneka macam stand disana. Kaos, goodie bag, dll. Aku lewat stand Nescafe. Salah seorang SPG manggil, "Follow twitter kita dong! Ntar dapet souvenir gantungan kunci ini,". Cukup rempong juga karena kita harus follow twitter dan mention mereka pada saat itu juga melalui iPad yang mereka sediakan. Tapi enggak apa-apalah, demi sebuah gantungan kunci -_-

Selain para sponsor dari Nescafe dan Teh Kotak yang rajin bagi-bagi souvenir, komunitas-komunitas juga nggak kalah 'modal'. Selain kartu nama atau brosur, banyak juga komunitas yang menyediakan hadiah bagi pengunjung stand mereka. Aku dapat celengan dari @CoinAChance, majalah travel dari @DigicamINA, buku Koin Keadilan dari Salingsilang.com, buku tentang Maroko-Indonesia dari PPWI, bahkan bolu pisang dari @piknikasik (tapi aku ogah pisang tentunya).

beberapa souvenir
Usai magrib, kami resmi menutup stand. Tapi masih banyak aja yang mampir dan antusias mau jadi donatur, ajak kerjasama bikin kegiatan, pengen jadi relawan, dan lain lain. Terimakasih semuanya!

Mulai malam, artis-artis dan para musisi kembali bermunculan. Malam itu gilirannya Kikan, mantan vokalis band Cokelat, yang beraksi di panggung. Berhubung stand kami lokasinya paling deket dengan panggung utama, cukup duduk dan menikmati di kursi aja.

panggung utama social media festival 2012, kikan lagi nyanyi

Pulangnya dijemput om-nya Kak Ajeng di Senayan dan dianter sampai Dramaga. Alhamdulillah nggak perlu repot-repot naik kopaja - krl - angkot 03 - angkot kampus dalam. Seru! Tahun depan kalau ada lagi, harus mau ikut lagi ah.

Jadi, bagi yang tertarik pendonor untuk sang juara bisa hubungi @SanggarJuara. Donor bisa berupa donasi/ uang, sumbangan buku, atau sumbangan tenaga untuk mengajar di akhir pekan. Tunggu apalagi?

08 Oktober 2012

Waspada Maling Kos-kosan

Sepulang dari Gramedia hari Minggu malam, aku tidur karena capek. Bangun pukul sebelas dan terjaga sampai pukul satu pagi. Sedikit membaca buku Mikroekonomi-nya si Walter Nicholson dan main laptop tentunya. Baterai laptop habis dan aku ngantuk lagi. Jam satu aku keluar kamar cari angin. Sebelum tidur, aku charge tuh si laptop di kursi warna hijau deket jendela yang terbuka, tirainya sih aku tutup.

Seperti biasa aku bangun jam empat pagi, tapi beranjak dari kasur setengah jam kemudian. Aku nyuci peralatan makan di kamar mandi, termasuk tempat beras di dalam rice cooker. Aku keluar kamar berniat mengambil lap untuk peralatan makan (aku taruh di jemuran mini depan jendela kamar). Tapi anehnya, aku mendapati posisi jemurannya miring. Janggal. Masa iya kena angin sampe begini amat?

posisi jemuran saat aku keluar kamar pukul setengah lima pagi

Aku bingung, tapi aku cuek. Kesadaran muncul waktu aku mau nancepin kabel rice cooker ke stop kontak. Gyaaa, laptop aku raib. Tinggal chargernya doang menggantung. Aku langsung turun ke bawah. Ngecek pintu ruang tamu, pintu tengah, dan pintu pagar. Semua masih terkunci. Saat itu juga aku yakin pelakunya orang dalam. Ya, anak satu kosan tapi entah siapa.

TKP. Kursi hijau dan stop kontak dekat jendela
Bapak kos langsung nyamperin dan kakak-kakak kosan yang lain langsung keluar. Kak Ana (kamar sebelah) takut juga kalau laptopnya dicuri karena isinya skripsinya dia. Untungnya laptopnya dia taruh di kamar temennya di lantai bawah (kamar Kak Izza).

Kak Balqis bilang, sekitar jam 03.00-03.30, dia masih bangun untuk ngerjain tugas dan ngerasa ada yang hampir menyibak tirai kamarnya. Kak Balqis kira angin, atau apalah, dan nggak terdengar langkah kaki, jadi dia enggak ngecek keluar kamar.

Kami sempet mengira kalau pelakunya orang luar. Tapi nggak ada tanda-tanda. Semua bersih. Gembok masih terpasang. Kawat di pagar sebelah kamar Kak Kiki juga masih rapi.

kawat masih rapi. tanda pencuri bukan orang luar.
Akhirnya kita membongkar kamar satu per satu, tapi karena aku kuliah jam tujuh pagi, hanya beberapa kamar yang sempet dicek. Aku nggak mungkin bolos karena udah pernah bolos satu kali gara-gara ikut fieldtrip ke Bursa Efek Jakarta dan Trans TV. Kalau bolos lagi, jatahku habis. Nanti kalau terjadi sesuatu yang nggak terduga di waktu yang akan datang kan repot jadinya.

Ya, akhirnya aku sms sana-sini. Ammah Intan, Galih, Ipehlien. Hari Senin aku cuma kuliah sampai jam duabelas. Jam satu siang, omku dateng ngebawain laptop dan masangin kunci ekstra biar lebih aman, rencananya juga mau pasang teralis di jendela.

Setelah dilihat-lihat, ada jejak kaki di lantai berdebu di bawah jendela. Jelas itu bukan kakiku. Ngapain juga aku menapakkan kaki di depan jendela. Palingan kalau ada cuma bekas alas sepatu, itupun jarang aku naruh sepatu di depan jendela kiri, biasanya di depan jendela kanan. Itupun cuman naruh sepatu aja karena aku selalu copot sepatu di depan pintu. Aku yakin itu pasti langkah si maling.

perhatikan bekas jejak di samping sepatu
Ada cerita aneh lain. Sepulang kuliah, aku curhat sama Teh Nina (ibu-ibu yang biasa bersihin kosan), Kak Yuka, dan Kak Mira. Pagi ini Kak Yuka menemukan tempat sampahnya meleleh, efek terbakar api yang entah berasal darimana. Aneh. Kak Yuka nggak pernah pakai api. Bekas-bekas puntung rokokpun enggak ditemukan semisal ada yang membuang kesitu. Padahal tempat sampah Kak Yuka ini plastik yang kokoh. Kalau terbakar sebesar itu, api darimana pula?

tempat sampah Kak Yuka meleleh
Aku nggak curiga samasekali bakal kemalingan di pagi buta. Biasanya kan maling kosan muncul siang-siang. Tapi siapa sangka kalau pelakunya orang dalam kosan. Aku udah ikhlas soal laptop. Malah jadi kasian sama yang mencuri. Dia pasti lagi kekurangan uang. Ini juga bisa jadi pelajaran biar aku lebih waspada. Jendela dan pintu harus aku kunci kalau lagi tidur, nonton tv, atau masak.

Maling bisa jadi siapa saja dan kapan saja. Waspadalah! Waspadalah!

23 September 2012

Sabtu Tanpa Rencana


Kelas responsi pertama berakhir lebih cepat. Aku buru-buru balik ke kost karena harus mencari selembar kertas berisi data nomor-nomor alumni Koran Kampus yang dicatat pada hari Minggu lalu saat halal bi halal dan ngariung bareng. Sedikit khawatir karena aku lupa naroh kertasnya dimana ckck takut ilang. Tapi alhamdulillah ketemu. 

Sabtu ini Sanggar Juara belum mulai ngajar lagi. Mau pulang ke Jakarta nggak bisa karena besok Minggu ada rencana danus buat kepanitiaan. Akhirnya aku sms Ipeh. Niatnya mau ngajak ke Gramedia. Udah lama nggak beli buku.

"Hoiii bosen nih udah kelar kuliah,"

Si Ipeh dengan gilanya malah bilang.

"Yuk jam 10 ketemu di halte Faperta. Kita main sama Rika,"
"Kemana?"
"Entahlah. Kemana aja berpetualang,"

Siapakah Ipeh dan Rika? Rika adalah partner bisnis yang merupakan temen sekelas sejak matrikulasi dan kami dipersatukan lagi dalam kelas di Tingkat Persiapan Bersama. Nah, sementara Ipeh adalah temen sekelas juga di TPB, dan rupanya kamarnya ada di lorong sebelah lorongku di asrama, rupanya dia juga temen sekamar temen SMA aku, dan rupanya lagi dia temen SMA-nya Rika.

Duh kampus rame banget karena ada tes CPNS dan pesta nikah di Graha Widya Wisuda (GWW). Benar-benar deh IPB komersil yah nggak papa sih. Setelah nganter Ipeh ke Dokter Komputer cabang Bara ujung buat mengobati laptopnya, kita langsung naik angkot Kampus Dalam menuju terminal Laladon.

Kita sengaja lanjut naik angkot no 18. Biar kita berhenti entah dimana dan berharap nyasar ke tempat yang seru. Kita tanya babang angkotnya.

"Bang, kalo lewat jalur ini ada tempat wisata apa aja bang?"
"The Jungle, neng!"
"Yah, kalo wisata alam gitu bang? Apa kek air terjun misalnya,"
"Nggak ada itu mah neng,"

-_- Akhirnya kita turun dan memutuskan untuk naik angkot 03 aja. Kita berhenti di McDonald. Berjalan tak tentu arah karena memang nggak tau mau kemana dan ngapain. Beli combro, aih padahal aku pengen gemblong. Udah lama banget nggak makan makanan ini, enak! Kita mampir ke toko es krim korea, tapi stoknya tinggal dikit. Jadi nggak ada pilihan. Kaki kita tiba-tiba menuju Kampus Program Diploma IPB di Cibeureum.

"Udah pernah masuk kesini belum?"
"Belum,"
"Coba yuk! Pura-pura cari toilet!"
"Yuk yuk!"

Dengan pedenya, kita masuk ke areal kampus. Tapi setelah lihat kanan kiri mahasiswa diploma berlalu lalang, kita sadar bahwa mahasiswa diploma nggak ada yang pake jeans, apalagi kaos!  Sungguh butut penampilan kami jika dibandingkan mahasiswa diploma yang rapi jali itu. Karena adzan zuhur terdengar, kami memutuskan untuk numpang shalat di mushala diploma. 

Kita lapar berat dan akhirnya berjalan lagi menuju kawasan Taman Kencana untuk makan pizza kayu bakar yang menggoda. Nyam nyam kekenyangan jadi ngantuk. Tapi semangat untuk bertualang tidak pernah pudar (?) Kita jalan lagi tanpa tujuan. Tiba-tiba nemu sebuah tangga turun ke arah hutan dan ternyata itu adalah asrama mahasiswa diploma. Bangunannya unik, di tengah hutan dan pepohonan tinggi dengan jendela kamar seperti di rumah-rumah tradisional.

Lanjut kita menyusuri perumahan di kawasan tersebut. Mengomentari satu-persatu sampe ujung. Kita nemu tangga yang misterius. Naik deh. Bener-bener ini tangga tingginya kelewatan. Tiba-tiba kita tembus ke samping sebuah sekolah dasar. Beli air minum karena persediaan udah abis. Karena nggak kuat buka tutup botolnya sampe minta tolong abang-abang di pinggir jalan haha. Kami bener-bener nggak normal siang itu. Orang macam mana yang jalan-jalan kayak begini.

Kita kembali menyusuri jalanan yang dipenuhi pohon-pohon beringin yang tinggi. Sampai akhinya tembus ke Agripark (tempat makan komersil milik IPB). Istirahat di bawah pohon di Taman Kencana sambil ngobrol (sok) serius soal sulitnya akses di kawasan pedesaan. Foto-foto sebentar dan lanjut menyusuri jalanan dan akhirnya tembus di jalan raya depan Program Pascasarjana Manajemen dan Bisnis IPB. Kita numpang shalat ashar di mushalanya. Wuiiih anak-anak pascasarjana ngomongnya pake bahasa Inggris, padahal bukan di dalam kelas. Beda yah anak pascasarjana ckck.

azka dan orang yang bernama ipeh @ taman kencana

Masih jam setengah empat. Tiba-tiba tercetus ide buat melaju ke Baranangsiang alias Botani Square buat nonton Perahu Kertas. Dadakan banget ini tapi kita sepakat.

Sampai Botani Square akhirnya, ih kemanapun melangkah ke tempatnya IPB. Rupanya di XXI udah nggak diputer. Adanya film Cabin in The Woods, The Expendables 2, Step Up 2, dan satu film animasi eskrim walls. Pilihan jatuh pada Cabin in The Woods. Katanya sih comedy-horror. Iya, komedi 1%, horor 99% ini mah bikin tanganku nutupin muka sepanjang film.

Kalau menurutku, film ini unik. Mungkin beberapa orang menganggap, "Ah film apaan nih. Horor bukan. Fiksi ilmiah bukan. Nggak logis,". Padahal Cabin in The Woods itu film cerdas. Komedi yang ditampilkan bukan komedi 'kotor'. Horornya juga menarik. Cerminan sindiran terhadap perilaku masyarakat jaman sekarang yang senang berjudi, melihat orang lain susah, dan money-oriented.

Setelah shalat magrib, kita pulang ke Dramaga dengan Trans Pakuan biar nyaman ditengah kemacetan Bogor di malam minggu. Freaky day, but being normal is boring!

20 September 2012

Greenpeace, Salam Hijau Damai

Liburan lalu, aku diajak Ayu untuk daftar jadi relawan di Greenpeace. Setelah lama menanti tindak lanjut dari pihak terkait, akhirnya suatu sore aku dapat telepon... "Halo, dengan Nadia? Kami dari Greenpeace Indonesia mau mengundang mbak Nadia ke kantor kami besok Sabtu pukul 11.00,"

peta lokasi, 100m dari stasiun Tebet.
Karena MPF, MPD, maupun pengisian KRS online-ku udah beres (alhamdulillah), aku pulang ke Jakarta  (ke rumah nenek) hari Jum'at pagi. Selain karena akhir pekan dan aku mau main ke Greenpeace, aku juga mau 'menyerahkan' laptop yang rusak untuk diperbaiki, sementara aku pinjem punya Yeyek (tante).

Besoknya, Utih (nenek) nyuruh aku berangkat naik ojek Pak Untung, tetangga depan rumah. Berangkat jam 09.30, ternyata jalanan lancar jaya dan sampe kantor Greenpeace pukul 10.00, kecepetan satu jam. Setelah ditanya satpam mau bertemu siapa, ngisi buku tamu, dan meninggalkan tanda pengenal, aku masuk ke kantornya.

Relawan yang datang berasal dari berbagai tempat. Ada mahasiswa dari UNJ, UIN, Trisakti, La Salle College. Selain mahasiswa, ada pula yang sudah 3 tahun bekerja. Banyak juga bapak-bapak yang berasal dari perumahan di sekitar sungai Ciliwung (karena minggu lalu Greenpeace membersihkan sungai Ciliwung bersama masyarakat sekitar).

Motivasi orang-orang yang mendaftar juga beragam. Ada yang mau cari pengalaman, ada yang gregetan melihat kondisi bumi dan pengen ikut andil perubahan, ada yang berniat melakukan penelitian bersama. Aku dapet banyak informasi dan pengetahuan baru. Bagi yang masih bertanya-tanya, aku kasih FAQ (frequently asked question) aja yah :D

Greenpeace itu apasih? Sering denger tapi belum tau.
Greenpeace adalah organisasi kampanye global, beraksi untuk mengubah sikap dan perilaku, untuk melindungi bumi, memelihara lingkungan dan mempromosikan perdamaian.

Kegiatannya ngapain aja?
Fokus utama organisasi Greenpeace adalah kampanye untuk menjaga lingkungan.

Kampanye? Serem dong?
Greenpeace dan organisasi cinta lingkungan lainnya memiliki tujuan yang sama, yaitu memelihara dan menjaga lingkungan. Namun untuk mencapai tujuan tersebut, banyak jalan, banyak cara. Cara kampanye adalah fokus yang dimiliki Greenpeace. Kampanye lebih bertujuan untuk menyadarkan masyarakat. Kampanye lingkungan yang dilakukan Greenpeace diantaranya seperti melakukan penelitian dan berusaha menghentikan perusahaan 'nakal' yang merusak lingkungan (untuk kampanye seperti ini biasanya bekerjasama dengan Greenpeace Asia Tenggara), bersih-bersih sungai, menanam pohon, mengadakan pelatihan kepemimpinan di alam, dll.

Siapa aja yang boleh ikut bekerja bersama Greenpeace? Dibayar nggak?
Siapa aja boleh. Karena bersifat sukarela, jadi relawan nggak dibayar.

Kalau jadi relawan tapi nggak bisa ikut kegiatannya?
Relawan nggak terikat. Jadi berhak menolak kalau tidak ingin ikut.

Begitukah kira-kira pertanyaan yang ada di benak kalian? Oh iya, khusus di Indonesia, Greenpeace punya adik lho, namanya Greenpeace Youth. Dikhususkan untuk anak-anak muda (siswa SMA dan Mahasiswa) yang peduli lingkungan. Koordinator dari Greenpeace Youth namanya Melody. Orangnya komunikatif dan seru. Aku kira udah mahasiswi gitu ternyata masih kelas dua SMA! Dia penyiar radio dan sudah aktif di Greenpeace sejak dua tahun lalu. Glek hebat deh, jadi malu sama diri sendiri yang belum melakukan apa-apa. Mulai sekarang harus bisa jadi orang yang bermanfaat dan nggak menyia-nyiakan waktu!

Info lebih lanjut bisa didapat melalui twitter @GreenpeaceID , @GPYouthID , dan http://greenpeace.co.id

Jangan lupa untuk mengurangi pemakaian kertas dengan memanfaatkan kertas bekas, bawa botol minum dari rumah, dan belanja menggunakan eco-bag untuk mengurangi penggunaan plastik mulai dari sekarang. Semoga berjalan konsisten karena improvement (perbaikan) dimulai dari huruf I (aku).

10 September 2012

Ulang Tahun

Jatah umurku berkurang 19 tahun. Entah masih ada sisa berapa lagi ya? Aku dapat banyak ucapan selamat dan doa, mengutarakan "birthday wish" di depan kelas, dan dapat kejutan ulang tahun di malam hari. Terimakasih semuanya! :D

Nggak ada harapan spesial sebetulnya. Sama saja dengan harapan-harapan setiap harinya, yaitu semoga aku, keluarga, dan orang-orang terdekat selalu berada di bawah lindungan-Nya, sehat, dan bisa bermanfaat bagi masyarakat luas. Amin.

azka dan kue coklat stoberi

04 September 2012

MPF, MPD, dan KRS

Ketika Masa Perkenalan Fakultas (MPF), Masa Perkenalan Departemen (MPD), dan Kartu Rencana Studi (KRS) Online dipadukan, kombinasinya sungguh tidak tepat. Hal ini mungkin dirasakan oleh mayoritas mahasiswa semester tiga di IPB beserta segenap senior yang tergabung dalam kepanitiaan MPF maupun MPD.

Masa perkenalan, atau yang lazim disebut ospek di kampus lain, masih harus aku jalani. Masih jaman? Institut, dimana mahasiswa baru masuk ke jurusan yang ia pilih di semester 3, maka masa perkenalan fakultas dan departemen/ jurusan juga baru dilaksanakan di awal semester 3. Tahun sebelumnya sudah ada Masa Perkenalan Kampus Mahasiswa Baru (MPKMB) yang diorientasikan pada pengenalan kampus secara umum.

Dua bulan lalu, setelah ujian akhir semester dan sebelum liburan dimulai, 

Masa Perkenalan Fakultas Ekonomi dan Manajemen
Bertemakan ORANGE FEM yang merupakan singkatan dari Orientation for New Generation Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Seluruh maba dibagi menjadi 16 perusahaan/ kelompok dengan 2 orang senior yang menjadi penanggung jawab.

Masa Perkenalan Departemen Manajemen
Konsepnya menarik! Ceritanya, kami ini merupakan anggota dari Unite Corporation, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pemasaran. Mahasiswa Manajemen angkatan 48 dibagi menjadi 10 kelompok yang disebut company ditemani satu orang senior yang disebut sebagai advisor atau penasehat perusahaan. Dalam masing-masing company, ada jabatan-jabatan seperti general manager, sekretaris, bendahara, manajer produksi dan operasi, manajer pemasaran, manajer keuangan, dll. 

Setiap company diberi gehu (tahu kotak pedas berisi sayuran). Kami harus membuat produk inovatif dengan bahan dasar tersebut. Company aku namanya PT. Seasky Syalala dengan produk Shuju (saos tahu keju). Kami buat bisnis plan, presentasi, dan iklan berupa video.

Pada hari H, ada marketing games. Kami harus jualan produk kami di lokasi dan dalam jangka waktu yang ditentukan dengan laba setinggi-tingginya. Seru! Mulai dari satpam, tukang ojek, sampai anak-anak SD-pun jadi sasaran. Alhamdulillah laku semua.



KRS (Kartu Rencana Studi)
Pengisian KRS melalui sistem online dimulai pukul 09.00 tanggal 24 dan berakhir pada 31 Agustus. Aku stand by di depan ex-sekretariat TPB buat numpang wifi. Nggak berhasil-berhasil login! Aku pindah ke perpustakaan LSI, gagal login juga. Berhubung mau jumatan, pengunjung diminta keluar. Aku menuju kortan buat numpang wifi dan tetep gagal login. Udah minta dibukain Vanes, dibukain Adli, tetep aja si KRS menampilkan tulisan FATAL ERROR.






07 Agustus 2012

Sehat Alami dengan Produk Indonesia: Gaya Hidup untuk Investasi Kesehatan Masa Depan

Kompetisi Blog Semi SEO, Sehat Alami dengan Produk Indonesia


“Tetangga sebelah tiba-tiba sakit jantung. Padahal di keluarganya nggak ada riwayat penyakit itu. Dia juga masih muda. Aneh ya. Kok bisa ya ckck,” ujar salah seorang teman saya.

Ya, jika dilihat di berbagai pemberitaan media massa, jaman sekarang sepertinya memang banyak penyakit bermunculan. Mulai dari penyakit lama yang belum ditemukan obatnya, hingga penyakit baru yang memiliki nama aneh-aneh.

Saya sering membanding-bandingkan kesehatan para lanjut usia/ lansia yang hidup di kota dan desa. Meskipun tidak selalu sama, secara umum para lansia yang hidup di desa jauh lebih sehat dan kuat jika dibandingkan mereka yang hidup di kota walaupun usianya lebih muda. Mengapa demikian?

Berbagai faktor bisa saja dikaitkan seperti polusi udara, makanan yang dikonsumsi, dan lain-lain. Semua faktor tersebut merujuk pada suatu fakta bahwa semua disebabkan oleh perbedaan gaya hidup satu sama lain. Pernah dengan pepatah yang mengatakan bahwa “apa yang kita tanam, itulah yang akan kita tuai”? Gaya hidup bisa dianalogikan seperti itu. Apa yang kita lakukan saat kita masih muda, itulah yang akan mempengaruhi kondisi kita di hari tua.

Salah satu contohnya adalah penelitian yang membuktikan bahwa orang yang tidur kurang dari tujuh jam setiap harinya berisiko meninggal lebih cepat daripada orang yang tidur cukup, yaitu selama tujuh hingga delapan jam. 

Berbagai penelitian juga telah membuktikan pengaruh makanan-makanan yang dikonsumsi terhadap kesehatan. Contoh sederhana yaitu ketika kita sering mengonsumsi makanan yang banyak mengandung gula maka akan berhadapan dengan risiko terkena penyakit diabetes mellitus. 

Bagaimana dengan gaya hidup Anda selama ini? Jika Anda termasuk orang yang telah menyadari dan menjalankan praktek hidup sehat, Anda beruntung karena telah menghidari risiko dari berbagai penyakit. Namun jika Anda termasuk orang yang cuek terhadap gaya hidup sehat, ayo berubah mulai dari sekarang. Lebih baik terlambat daripada tidak samasekali, bukan?

Beberapa langkah sederhana bisa Anda lakukan untuk memulai gaya hidup sehat:
1) Istirahat cukup. Saat tidur, tubuh akan memperbaiki sel-sel yang rusak. Oleh karena itu pastikan Anda tidur cukup minimal selama tujuh jam setiap harinya.
2) Olahraga rutin. Olahraga memiliki banyak manfaat untuk kesehatan dan kebugaran tubuh. Selain mengurangi risiko penyakit jantung, racun dalam tubuh juga dikeluarkan bersama keringat saat berolahraga.
3) Konsumsi makanan sehat. Saat ini banyak temuan makanan tidak sehat yang dijual di pasaran. Mulai dari yang mengandung formalin, pewarna tekstil, hingga makanan busuk. Untuk menghindari itu semua, ada baiknya apabila Anda memasak sendiri makanan yang akan Anda konsumsi.
4) Minum. Manusia membutuhkan minimal delapan gelas air putih setiap harinya. Banyak orang menyepelekan kebutuhan air dengan alasan tidak haus, padahal dengan air inilah racun-racun dalam tubuh dikeluarkan.

Bagaimana jika sudah terlanjur terkena penyakit? Obat herbal bisa jadi pilihan alternatif. Tren back to nature semakin populer saat ini. Banyak keunggulan yang dimiliki obat herbal. Selain lebih murah dari segi harga, obat herbal juga tidak memiliki efek samping, bebas racun, dan memiliki khasiat lebih banyak.

buah noni, ikon sehat alami dengan produk indonesia

ANAMed telah mengembangkan buah noni sebagai obat herbal asli Indonesia. Tanaman yang berasal dari Kepulauan Maluku ini telah terbukti sebagai tanaman noni yang memiliki kandungan tertinggi diantara tanaman noni dari negara lain. Buah noni merupakan ikon sehat alami dengan produk Indonesia.

Selain mengandung senyawa coumarine yang berkhasiat untuk menormalkan tekanan darah dan mengurangi pengerasan pembuluh darah, buah noni juga mengandung antioksidan super oxide dismutase, yaitu enzim yang melindungi sel-sel tubuh dan mencegah peradangan akibat radikal bebas.

Ada tiga macam jus noni yang disediakan oleh ANAMed, diantaranya jus noni pure (noni murni), jus noni concentrate (kadar airnya dikurangi sehingga kadar noninya sangat tinggi), dan jus noni origin (noni ditambah dengan sari blueberry, anggur, lemon, dan madu). Semua jus noni yang diproduksi oleh ANAMed tidak mengandung gula, bahan pengawet, maupun perasa kimia/ essence sehingga benar-benar alami.
jus noni ANAMed, sehat alami dengan produk indonesia

Ayo berubah mulai dari sekarang. Jangan tunggu sampai terlambat karena gaya hidup adalah investasi kesehatan masa depan. Mari kita galakkan sehat alami dengan produk indonesia!

review mengenai ANAMed dan kandungan buah noni dikutip dari http://blog.sehatalami.co.id

05 Agustus 2012

Sedekah Tepat Sasaran: Penggalangan Dana Online dengan Marimembantu.org

“Assalamualaikum, Bu. Saya ingin minta sumbangan untuk panti asuhan X. Seikhlasnya saja, Bu,”

Kalimat tersebut mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita. Ya, tamu asing yang meminta sumbangan atas nama panti asuhan X, Y, hingga Z. Jika ada satu kali saja memberikan sumbangan, maka ia akan datang lagi, lagi, dan lagi. Namun jika tidak diberi uang, rasanya kok pelit sekali.

Saya juga sering mengamati anak-anak jalanan yang biasa mengemis di perempatan jalan. Wajah kumal, badan kurus, dan baju lusuh mereka seringkali mengiris hati pengguna jalan. Tidak tega rasanya jika membayangkan anak-anak ini harus menjalani kehidupan keras jalanan di usia yang masih sangat muda. Ingin memberi sedekah, tetapi bagaimana jika ternyata uang yang mereka dapat malah disetorkan kepada para preman? Pemerintah bahkan sudah melarang masyarakat untuk memberikan uang kepada pengemis.

Tentu kita tidak mau jika uang yang kita harap bisa diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan malah jatuh ke tangan mereka yang menggunakannya untuk hal-hal yang tidak baik. Alih-alih ingin bersedekah, kita malah membuka peluang untuk berbuat maksiat.

Lalu, bagaimana agar sedekah kita tepat sasaran?

Dengan adanya Marimembantu.org, kita tidak perlu khawatir lagi jika ingin bersedekah dan membantu sesama. Tidak perlu pusing memikirkan apakah uang yang kita sumbangkan jatuh ke tangan yang tepat. Marimembantu.org adalah sebuah penggalangan dana online untuk membantu orang-orang yang membutuhkan yang dikelola oleh Lembaga Zakat Dompet Dhuafa.

Proyek yang diadakan oleh Marimembantu.org diantaranya yaitu “HSBC Amanah Charity Program” untuk membantu meningkatkan taraf kehidupan petani dan rakyat miskin, “Sedekah Ambulan”, dan “Mereka Ingin Sembuh” yang ditujukan untuk penyembuhan orang-orang kurang mampu yang mengalami gangguan jiwa. Anda bisa ikut membantu berjalannya program-program tersebut dengan memulai donasi minimal sebesar lima puluh ribu rupiah.

Selain membantu dengan memberikan donasi, Anda juga bisa membantu memberikan informasi mengenai saudara-saudara kita yang kurang beruntung. Permohonan bantuan bisa diposting di Marimembantu.org. Setelah diverifikasi oleh Yayasan Dompet Dhuafa, maka permohonan Anda akan dipublikasikan.

Tunggu apalagi? Ayo bantu saudara-saudara yang kurang beruntung karena sekarang kita mudah sedekah secara online dengan Marimembantu.org . Sedikit uang Anda, besar pengaruhnya untuk Indonesia.

26 Juli 2012

Berjalan Menembus Batas: Bersyukur, Kerja Keras, dan Optimis



Malam itu mengoceh "aku pengen pulang" berkali-kali sambil memegang kalender akademik untuk menghitung hari kapan aku akan pulang saat liburan. Salah satu teman sekamar, Cuneng, yang satu meja belajar dengan aku akhirnya buka suara.

"Kamu kenapa?"
"Aku kangen ibuku. Udah tiga bulan nggak ketemu,"
"Aku udah tiga tahun nggak ketemu,"

Aku langsung diam. Malu sama diri sendiri.

Aku nggak ada apa-apanya dibandingkan Cuneng. Dia hebat. Dia tegar. Ayahnya yang sangat dekat dengan dia meninggal beberapa tahun lalu. Saat ini Ibunya bekerja di Jordania dan terakhir pulang ke tanah air tiga tahun yang lalu. Keluarganya bahkan tadinya nggak setuju kalau dia kuliah, tapi dia ngotot dan akhirnya bisa kuliah di IPB.

Padahal aku baru tiga bulan nggak ketemu. Cuneng udah tiga tahun. Padahal aku bisa leluasa meminta ditelepon kapanpun aku mau. Sementara Cuneng biasanya hanya berkirim pesan singkat dan sangat jarang menelepon karena biayanya cukup mahal.

Cuneng cuma salah satu dari sekian banyak orang dengan kisah hidup nggak terduga yang aku temui di kampus. Dan ternyata jauh lebih banyak lagi yang kisah hidupnya lebih dramatis dari sinetron manapun tapi tetap bersyukur dan semangat menjalani hidup.

Aku makin sadar bahwa segala keluhan-keluhanku selama ini jauh lebih ringan dan nggak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kisah-kisah hidup di buku biru muda kecil yang baru aku beli, "Berjalan Menembus Batas". Buku ini disusun oleh Ahmad Fuadi, pekerja sosial dan mantan wartawan yang juga penulis buku "Negeri Lima Menara".

"Berjalan Menembus Batas" berisi kumpulan cerita inspiratif dari 13 orang yang bercerita mengenai hidup melawan keterbatasan baik fisik, materi, maupun lingkungan. Buku ini refleksi dari orang-orang yang selalu bersyukur, tak lelah bekerja keras, dan optimis memandang masa depan.

Diantaranya ada cerita bagaimana kerja keras seorang loper koran untuk bisa mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, ketegaran seorang dokter pengidap leukimia yang ditinggal seluruh anggota keluarganya, hingga kisah seorang anak miskin yatim dari desa yang akhirnya bisa kuliah di Jerman.

Di awal setiap cerita buku ini disisipi dengan kata-kata mutiara dari orang-orang terkenal seperti "Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang" dari Imam Syafi'i atau "Masa depan adalah milik mereka yang percaya pada indahnya mimpi-mimpi mereka" dari Eleanor Roosevelt. 

Buku ini sekali lagi membuktikan bahwa barang siapa bersungguh-sungguh, maka ia akan berhasil. Man jadda wajada.


25 Juli 2012

Bangkitkan Semangat Anak-anak Indonesia

Sampoerna School of Education Blog Competition 2012

"Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti trimakasihku 'tuk pengabdianmu
Engkau bagaikan pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa, tanpa tanda jasa"

Enam tahun lalu aku dan teman-teman tanpa sadar meneteskan air mata usai menyanyikan lagu Hymne Guru di acara perpisahan sekolah. Bapak dan Ibu guru selalu membuat aku bersemangat untuk terus mengejar impian. Aku bahkan pernah berjanji pada diri sendiri bahwa kelak ingin menjadi pendidik atau guru seperti mereka.

Janji tersebut hampir aku lupakan hingga suatu hari aku menemukan buku Indonesia Mengajar, kumpulan cerita dari para pengajar muda di Yayasan Indonesia Mengajar. Kisah-kisah inspiratif dan mengharukan dalam buku tersebut seolah mengingatkan dan membuat aku bersemangat untuk mewujudkan janji masa lalu.

Aku nggak percaya dengan yang namanya kebetulan. Sesaat setelah aku menutup lembaran terakhir dari buku Indonesia Mengajar, aku membuka salah satu situs jejaring sosial dan menemukan poster open recruitmen Sanggar Juara, komunitas independen yang mengajar anak-anak kurang beruntung. Tanpa pikir panjang, aku langsung mendaftar, menjalani tes wawancara, dan lolos. 

Sanggar Juara dan kegiatannya

Perjalanan ke desa lokasi komunitas Sanggar Juara mengajar terbilang jauh dan tidak bisa dikatakan mudah. Jalanan yang sempit dan penuh bebatuan mengguncang angkot yang kami sewa di siang yang terik itu.

Setengah jam sebelum kegiatan dimulai. Wajah anak-anak kelas satu, dua, dan tiga itu sudah memenuhi ruang kelas. Mereka menyapa kami dengan lambaian tangan dan senyum.

"Kakak, ayo!" ujar salah seorang adik kecil.

Bulan ini, Sanggar Juara memilih "Mimpi" sebagai tema mengajar. Adik-adik ini perlu dididik sejak dini mengenai pentingnya memiliki dan mengejar impian. 

"Cita-cita kamu kalau sudah besar nanti apa?" tanya salah seorang teman kepada anak laki-laki di depannya.
"Doni kalau sudah besar mau jadi presiden," ujar anak itu sambil tersenyum.

Di sela-sela kegiatan mengajar, aku memperhatikan seorang anak lelaki berbaju kuning yang asik berkutat dengan pensil, penggaris, dan buku tulis. Ia menggambar sebuah monumen dengan serius.

"Gambar apa Sanusi?" tanyaku sambil mendekat.
"Monas kak," jawabnya.
"Wah bagus. Kamu sudah pernah ke Monas?"
"Belum pernah, kak. Aku pengen kesana," Sanusi tersenyum, kemudian menutup buku tersebut karena kegiatan belajar kembali dimulai. Ia begitu semangat dan serius memperhatikan papan tulis.

Sanusi dan gambar Monasnya


Aku menatapnya. Aku dan Sanusi ternyata punya kesamaan. Keinginan Sanusi melihat Monas mungkin sama besarnya dengan keinginanku melihat Menara Eiffel dengan mata kepalaku sendiri. Kami sama-sama punya impian, cita-cita, dan modal semangat untuk meraihnya.

Wajah ceria adik-adik membuat aku selalu menikmati kegiatan ini. Semangat belajar rupanya tidak hanya dirasakan oleh mereka yang ada di dalam kelas, melainkan juga oleh anak-anak lain dari kelas empat dan lima yang jauh lebih besar. Mereka mengintip kegiatan kelas dari jendela dan pintu.

mengintip dari pintu

Semangat anak-anak Indonesia untuk belajar tidak pernah kurang, kita hanya perlu bersama-sama membangkitkan semangat mereka agar lebih besar, besar, dan besar. Mendidik bisa dimana saja, kapan saja, dan melalui apa saja. Buku Indonesia Mengajar mendidik aku untuk bersemangat mengejar impian dan melawan keterbatasan. Maka lewat Sanggar Juara, aku juga ingin mendidik adik-adik untuk selalu bersemangat dan berani menatap masa depan yang cerah.

"Mendidik merupakan tanggung jawab orang terdidik. Datanglah kesana. Berikan semangat dan inspirasi. Buatlah mereka bermimpi melampaui hidupnya," - Anies Baswedan. Pendiri Yayasan Indonesia Mengajar.


sumber: klik

14 Juli 2012

Diusir dari Asrama TPB IPB

Pernah baca tulisan Raditya Dika yang judulnya Pindah? Tulisan tersebut bisa dikaitkan dengan keadaan kami saat harus pindah dari asrama ke kost atau kontrakan masing-masing.
Seminggu setelah Nyokap memberitahu kita bakalan pindah rumah, hidup gue diisi dengan memasukkan barang-barang di kamar ke dalam boks-boks. Di film-film digambarkan ketika kita akan meninggalkan dunia ini maka kenangan-kenangan hidup kita akan muncul bergantian secara kronologis, dari yang baru terjadi hingga ingatan yang paling jauh. Sama halnya dengan ketika gue akan meninggalkan rumah ini. Seiringan dengan gue merapikan barang-barang masuk ke dalam boks pindahan, kenangan-kenangan yang aneh-aneh di rumah ini puntimbul. - Raditya Dika, "Pindah" dalam buku Manusia Setengah Salmon.
Tanpa kita sadari, mungkin asrama ini sudah tidak cocok untuk kita yang nantinya akan masuk ke departemen masing-masing. Asrama ini mungkin akan terlalu ramai jika kita membutuhkan konsentrasi lebih untuk belajar matakuliah yang berbeda satu sama lain. Kamar kita menjadi terlalu sempit untuk mengerjakan tugas-tugas yang membutuhkan banyak ruang seperti penelitian tanah, serangga, daun, maupun makalah.

Iya, mau nggak mau, kita memang harus pindah.   

(foto-foto di hari pengusiran asrama)

kamar 361
aku foto bareng tulisan yang ada di depan kamar

suasana lorong, sisa barang-barang yang belum dibawa ke kost

rica/umi, oci/ucok, aku
bu RT dan nina

ayu nangis

lorong tujuh gedung A3, suatu pagi sebelum kuliah

Rasanya sedih. Nggak ada lagi bunyi alarm dari kamar sebelah. Nggak ada lagi suara air keran yang dahsyat. Nggak ada lagi suara telponan dengan bahasa daerah masing-masing. Nggak ada lagi ngumpet di kamar untuk bolos kegiatan asrama. Tapi aku bersyukur diberikan kesempatan untuk punya keluarga mulai dari Ucok asal Sumatera Utara, sampai Mega si gadis Papua.