26 Januari 2012

Dimana Kenangan Tersimpan

Siang itu aku riweuh di depan meja belajar karena nyari jam tangan. Aku nggak suka pakai aksesori di pergelangan tangan, tapi berhubung ini mau UAS dan kadang ada ruang ujian yang nggak ber-jam-dinding, penggunaan jam tangan jadi hal yang penting.

Dibongkar-bongkar tumpukan buku, atau kertas-kertas lainnya nggak ketemu juga ini jam tangan. Oke nggak masalah deh aku ujian nggak pake jam tangan, tapi kalo jam tangan itu sampe ilang, nggak rela!!! Karena itu jam tangan ibuku waktu masih muda, ada kenangan panjang dalam jam tangan itu.

Masih segar dalam ingatan, beberapa minggu yang lalu, pagi-pagi sebelum aku pulang ke Jakarta dalam rangka minggu tenang sebelum UAS, aku sibuk cari sisir. Rasanya udah mau nangis waktu obrak-abrik meja belajar. Takut sisir itu ketinggalan di villa kemarin (hari sebelumnya aku baru pulang dari Puncak).

Sisir ini bukan sembarang sisir. Sisir ini super spesial karena Ibuku beli sisir ini waktu masih kuliah. Dan akhirnya sisir ini jatuh ke tanganku sejak aku kelas lima SD, sampe sekarang. Entah kenapa sisir ini enak banget tiada duanya (suer). Aku pernah beberapa kali beli sisir dengan model yang sama, dari yang murah sampe mahal, nggak ada yang enak. Cuma sisir ini yang cocok sama dihati.

Benda 'tua' punya kesan spesial tersendiri. Sejelek apapun, serusak apapun. Dibalik semua kebututannya, benda 'tua' punya jalan cerita yang nggak dimiliki benda-benda baru lainnya.

Hal ini mengingatkan aku pada rumah, tempat dimana kita punya cerita perjalanan hidup, cerita tentang setiap canda, setiap tawa, setiap tetesan air mata dan perjuangan, nggak akan ada tempat lain yang bisa menggantikan.

Kalau dihitung-hitung sejak 27 Juni 2011 lalu, aku udah setengah tahun lebih nggak ke Semarang. Lebaran setiap tahun selalu mudik ke Jakarta - Pandeglang (tahun ini mudik paling deket). Setiap libur, nggak ada alasan untuk pulang ke Semarang karena orangtua selalu nyamperin ke Jakarta. Gimanapun juga aku udah sepuluh tahun tinggal disana. Pasti ada rasa kangen tersendiri. Untungnya libur semesteran bisa ke Semarang :)

Walaupun bukan kota kelahiran, walaupun bukan kampung halaman orangtua, boleh dong anggap Semarang sebagai tempat yang bisa aku sebut 'rumah' ?

Lawang Sewu dan Tugu Muda (sumber)

Karena menurutku Semarang itu nggak tergantikan. Dengan Bogor, Jakarta, atau bahkan Paris sekalipun.

catatan:
ditulis saat hari-hari ujian akhir semester.

5 komentar:

Rieza Amalia mengatakan...

unyu banget ka, terharuu :')

fadhli mengatakan...

Pandeglang? daerah mananya? hwii~

Nadia Azka mengatakan...

@rieza: aaa judul postinganmu di blog rahasia juga bikin terharu :')

@fadhli: menes, rengat. haha tau nggak fad?

rida mengatakan...

aa azkaa jadi kangen kamuu uu

Nadia Azka mengatakan...

@rida: kan udah ketemu di tekkim, gantian kamu yang nemuin aku dong