09 Mei 2012

Bersama, Bantu Lunasi Janji Kemerdekaan

Minggu (06/05), aku hadir di seminar dan talkshow mengenai pendidikan bertajuk IDEA, IPB's Dedication for Education. Berikut cerita yang bisa dibagi, semoga menginspirasi :)

Sesi 1: Berhenti Lipat Tangan, Saatnya Turun Tangan
Pembicaranya adalah Anies Baswedan. Siapa yang nggak kenal beliau? Rektor Universitas Paramadina sekaligus founder Yayasan Indonesia Mengajar.

Selama ini Indonesia salah soal "konsep kekayaan" bangsa. Jika ditanya apa kekayaan bangsa Indonesia, kita selalu menjawab soal minyak, gas, tambang, hutan, dan laut. Padahal, kekayaan Indonesia lebih dari itu, yaitu manusia. Indonesia menduduki peringkat ke-4 soal jumlah manusia.

Salah satu janji kemerdekaan adalah "mencerdaskan kehidupan bangsa". Siapakah yang harus melunasi janji tersebut? Tidak hanya pemerintah, tetapi juga kita.

5,3 juta masyarakat Indonesia pernah masuk SD, selanjutnya berkurang, berkurang, dan berkurang hingga hanya 0,8 juta masyarakat Indonesia yang lulus dari perguruan tinggi. Kemana sisanya? Begitu banyak yang hilang di jalan. Mereka bukan tidak mampu, mereka bukan tidak mau sekolah. Mereka hanya kesulitan "akses".

Yayasan Indonesia Mengajar terinspirasi dari Penyebaran Tenaga Mahasiswa (PTM) jaman dahulu. Mahasiswa dikirim ke berbagai pelosok negeri untuk mengajar tanpa dibayar. Tujuannya adalah memberi akses kepada masyarakat pelosok untuk mendapatkan pendidikan.

Seberapa penting kegiatan ini? Yayasan Indonesia Mengajar mungkin tidak mampu menyelesaikan semua masalah pendidikan yang ada, namun setidaknya berusaha berkontribusi secara langsung.

Pak Anies bercerita, saat itu ia sedang shalat Jum'at di dekat kampus (Paramadina) dan mengobrol dengan seorang dokter tua asal Pare yang telah pensiun. Beliau bercerita soal Indonesia Mengajar. Dokter tua tersebut antusias dan mengatakan bahwa dulu ia adalah salah satu anak yang diajar oleh mahasiswa dari program PTM.
"Kalau tidak ada guru ke Pare waktu itu, saya tidak mungkin bisa jadi seperti sekarang ini. Guru itulah yang membuat saya bermimpi dan akhirnya bisa lulus dari Fakultas Kedokteran di Universitas Hasanudin"

Ketika Pengajar Muda hadir di pelosok untuk mengajar, masyarakat begitu antusias dan tersentuh.
"Terimakasih sudah mau mengajar disini. Padahal, pemerintah saja belum kirim orang untuk mengajar di tempat kami,"
"Saya hadir mewakili bangsa. Tidak penting siapa yang kirim,"

Pendidikan itu soal interaksi antarmanusia. Fasilitas, kurikulum, dan lainnya hanyalah penunjang. Maka jika ingin iuran, daripada iuran uang dan barang, lebih baik iuran badan, waktu, dan perhatian.

Kita sering berdiskusi serius soal pendidikan. Memberikan solusi brilian dan mendorong orang lain melakukannya. Berhenti melipat tangan, sudah saatnya turun tangan. Katakan, "Saya sudah melakukan sesuatu untuk bangsa saya sendiri,"

Mendidik merupakan tanggung jawab orang terdidik. Datanglah "kesana". Berikan inspirasi. Buatlah mereka bermimpi melampaui hidupnya. Ajarkan kejujuran, karakter pembelajar.





P.S: Pendaftaran Pengajar Muda akan ditutup 15 Mei 2012. Cek indonesiamengajar.org. Jadilah Pengajar Muda. Setahun mengabdi, seumur hidup menginspirasi.


Sesi 2: Surat Cintaku untuk Negeri
Dua orang Pengajar Muda angkatan pertama yang sudah kembali hendak berbagi cerita, yaitu Rusdi Shaleh (alumnus IPB) dan Saktiana Dwi Hastuti (alumnus UI). Moderatornya adalah Rio Aditya, mahasiswa berprestasi IPB dari Fakultas Kedokteran Hewan.

Ada satu kata-kata Kak Rusdi yang aku suka. Dia bilang, "Saya belum jadi apa-apa. Tapi saya sudah tahu pasti mau menuju kemana,". Kak Rusdi sejak lahir hingga lulus kuliah berada di Bogor. Ia ingin mengetahui bagaimana Indonesia sesungguhnya. Itulah motivasinya menjadi Pengajar Muda.

Kak Rusdi ditempatkan di Kabupaten Tulang Bawang Barat, Lampung. Banyak hal yang ia dapatkan selama mengajar disana. Mulai dari menghadapi masyarakat yang berbeda budaya hingga mengkondisikan kelas agar kondusif. Maka menurutnya, mengajar itu belajar.

Lain lagi cerita dari Kak Sakti. Setelah lulus, ia merenung. Selama ini ia bersekolah di sekolah negeri. Sekolah yang dibiayai oleh pemerintah. Uang pemerintah berasal dari uang masyarakat Indonesia. Pertanyaan "Apa yang sudah saya lakukan untuk bangsa ini?" adalah motivasinya menjadi Pengajar Muda.

Ia ditempatkan di Kabupaten Majene, Sulawesi. Selain mengajar anak-anak SD, ia juga mendirikan TK. Malam sebelum ia kembali ke Jakarta, 50 murid-muridnya menginap di rumahnya (rumah orang tua asuhnya).

Dan ketika ia mulai naik traktor untuk pulang (mobil biasa tidak bisa jalan disana), murid-muridnya berlari mengejar dan berteriak, "Ibuuu, tunggu aku di Jakarta ya!"

Nangis. Bagi kalian yang penasaran, buku Indonesia Mengajar, kumpulan cerita para Pengajar Muda, wajib dibaca. Inspiratif dan mengharukan.

Sesi 3: Pendidikan Soal "Akses" dan "Mutu"

Dimoderatori oleh Alvin Adam (entertainment journalist program Just Alvin). Pembicara pertama adalah Pak Herry, Rektor IPB. Beliau yang menyebutkan bahwa pendidikan itu soal "akses" dan "mutu". Dua kunci itu yang diterapkan oleh IPB.

Akses berarti membuka peluang bagi mereka yang memiliki kemampuan akademik. Selain pencetus perubahan program sarjana dari enam tahun ke empat tahun, IPB juga pioneer jaluk PMDK, penerimaan mahasiswa melalui rapot. Menurut data yang ada, mahasiswa yang masuk melalui jalur rapot menunjukkan prestasi yang lebih baik daripada jalur tes. Itulah yang menjadi dasar penerapan SNMPTN Undangan oleh pemerintah.

60% mahasiswa IPB diterima melalui jalur tersebut. Tujuannya adalah membuka peluang bagi siswa-siswi di seluruh Indonesia untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Maka dipilihlah siswa-siswi yang memiliki kemampuan akademik yang baik di kelasnya, di daerahnya. Karena mereka akan sangat kesulitan jika ingin meneruskan kuliah lewat seleksi nasional. Mereka tidak bisa disamakan dengan siswa-siswi yang mendapatkan akses pendidikan di kota-kota besar.

Sedangkan mutu berarti memberi pelayanan yang sebaik-baiknya. Memberi kualitas pendidikan yang terbaik. Akses dan mutu harus berdampingan. Jika akses yang diutamakan, maka mutu akan terbengkalai. Jika hanya mutu yang diutamakan, hanya orang-orang tertentu yang mendapat kelayakan.

Pembicara selanjutnya adalah Dik Doank, pendiri Kandank Jurank Doank. Menurutnya ada yang salah soal kurikulum pendidikan di Indonesia. Terlalu banyak dijejali ilmu pasti, sehingga ilmu-ilmu lainnya dianggap tidak penting. Anak-anak Indonesia perlu dididik untuk menjadi bangsa pencipta, bukan peniru seperti selama ini.
Apa yang membuat Dik Doank sekarang lebih fokus di dunia pendidikan?
"Televisi itu seperti akuarium. Ikan-ikan yang berenang disana harus cantik, harus unik. Tetapi, bagus mana ikan-ikan di akuarium dengan ikan-ikan di samudra? Bagiku, dunia luar ini adalah samudra"

Pembicara ketiga adalah Nurrohim, pendiri Yayasan Bina Insan Mandiri. Yayasan tersebut merupakan sekolah untuk anak-anak yang hidup di jalanan. Beliau terinspirasi dari kisah hidupnya sendiri.

Waktu kecil, Bapaknya adalah pedagang kain, sedangkan Ibunya adalah penjual makanan di terminal. Keduanya bercerai. Sejak saat itu Beliau hidup di jalanan. Mengamen, tidur di kolong jembatan. Beliau diselamatkan oleh Kakeknya dan dikirim ke pesantren. Beliau tetap jadi anak yang nakal hingga suatu hari Kyai berkata, "Semoga nanti kamu jadi guru dan murid-muridnya nakal semua,". Hahaha.

Beliau ingin anak-anak jalanan mendapatkan pendidikan. Beliau ingin berbagi walaupun dengan segala keterbatasan ilmu dan fasilitas. Selama ini selain mengajar di terminal, Beliau juga sudah memiliki sepetak ruangan untuk mengajar bersama para relawan.

Tantangan banyak dihadapi. Anak-anak itu tidak nakal. Mereka hanya kurang perhatian. Anak-anak binaannya ada yang berhasil masuk UI, bahkan tidak kurang dari lima anak-anak binaannya yang setiap tahun mendapatkan beasiswa ke luar negeri.

Hidup ini bukan soal apa yang kamu dapatkan, tapi soal apa yang bisa kamu berikan. Selamat hari pendidikan nasional!

2 komentar:

Filia mengatakan...

Janji kemerdekaan memang mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun faktanya persepsi orang, terutama pelajar dan mahasiswa, memandang pendidikan itu untuk memperkaya diri. Saya sekolah tinggi, maka saya dapat jabatan tinggi. Salah persepsi. Ubah mindset, jangan jadikan pendidikan untuk mengejar materi dan profesi, tapi untuk mencerdaskan bangsa, membangun Indonesia.
Selamat hari pendidikan nasional!
Salam pendidikan!
:)

Nadia Azka mengatakan...

setuju kak :D