25 Juli 2012

Bangkitkan Semangat Anak-anak Indonesia

Sampoerna School of Education Blog Competition 2012

"Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti trimakasihku 'tuk pengabdianmu
Engkau bagaikan pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa, tanpa tanda jasa"

Enam tahun lalu aku dan teman-teman tanpa sadar meneteskan air mata usai menyanyikan lagu Hymne Guru di acara perpisahan sekolah. Bapak dan Ibu guru selalu membuat aku bersemangat untuk terus mengejar impian. Aku bahkan pernah berjanji pada diri sendiri bahwa kelak ingin menjadi pendidik atau guru seperti mereka.

Janji tersebut hampir aku lupakan hingga suatu hari aku menemukan buku Indonesia Mengajar, kumpulan cerita dari para pengajar muda di Yayasan Indonesia Mengajar. Kisah-kisah inspiratif dan mengharukan dalam buku tersebut seolah mengingatkan dan membuat aku bersemangat untuk mewujudkan janji masa lalu.

Aku nggak percaya dengan yang namanya kebetulan. Sesaat setelah aku menutup lembaran terakhir dari buku Indonesia Mengajar, aku membuka salah satu situs jejaring sosial dan menemukan poster open recruitmen Sanggar Juara, komunitas independen yang mengajar anak-anak kurang beruntung. Tanpa pikir panjang, aku langsung mendaftar, menjalani tes wawancara, dan lolos. 

Sanggar Juara dan kegiatannya

Perjalanan ke desa lokasi komunitas Sanggar Juara mengajar terbilang jauh dan tidak bisa dikatakan mudah. Jalanan yang sempit dan penuh bebatuan mengguncang angkot yang kami sewa di siang yang terik itu.

Setengah jam sebelum kegiatan dimulai. Wajah anak-anak kelas satu, dua, dan tiga itu sudah memenuhi ruang kelas. Mereka menyapa kami dengan lambaian tangan dan senyum.

"Kakak, ayo!" ujar salah seorang adik kecil.

Bulan ini, Sanggar Juara memilih "Mimpi" sebagai tema mengajar. Adik-adik ini perlu dididik sejak dini mengenai pentingnya memiliki dan mengejar impian. 

"Cita-cita kamu kalau sudah besar nanti apa?" tanya salah seorang teman kepada anak laki-laki di depannya.
"Doni kalau sudah besar mau jadi presiden," ujar anak itu sambil tersenyum.

Di sela-sela kegiatan mengajar, aku memperhatikan seorang anak lelaki berbaju kuning yang asik berkutat dengan pensil, penggaris, dan buku tulis. Ia menggambar sebuah monumen dengan serius.

"Gambar apa Sanusi?" tanyaku sambil mendekat.
"Monas kak," jawabnya.
"Wah bagus. Kamu sudah pernah ke Monas?"
"Belum pernah, kak. Aku pengen kesana," Sanusi tersenyum, kemudian menutup buku tersebut karena kegiatan belajar kembali dimulai. Ia begitu semangat dan serius memperhatikan papan tulis.

Sanusi dan gambar Monasnya


Aku menatapnya. Aku dan Sanusi ternyata punya kesamaan. Keinginan Sanusi melihat Monas mungkin sama besarnya dengan keinginanku melihat Menara Eiffel dengan mata kepalaku sendiri. Kami sama-sama punya impian, cita-cita, dan modal semangat untuk meraihnya.

Wajah ceria adik-adik membuat aku selalu menikmati kegiatan ini. Semangat belajar rupanya tidak hanya dirasakan oleh mereka yang ada di dalam kelas, melainkan juga oleh anak-anak lain dari kelas empat dan lima yang jauh lebih besar. Mereka mengintip kegiatan kelas dari jendela dan pintu.

mengintip dari pintu

Semangat anak-anak Indonesia untuk belajar tidak pernah kurang, kita hanya perlu bersama-sama membangkitkan semangat mereka agar lebih besar, besar, dan besar. Mendidik bisa dimana saja, kapan saja, dan melalui apa saja. Buku Indonesia Mengajar mendidik aku untuk bersemangat mengejar impian dan melawan keterbatasan. Maka lewat Sanggar Juara, aku juga ingin mendidik adik-adik untuk selalu bersemangat dan berani menatap masa depan yang cerah.

"Mendidik merupakan tanggung jawab orang terdidik. Datanglah kesana. Berikan semangat dan inspirasi. Buatlah mereka bermimpi melampaui hidupnya," - Anies Baswedan. Pendiri Yayasan Indonesia Mengajar.


sumber: klik

7 komentar:

Catatan Ciki mengatakan...

wah menarik sekali komunitasnya, kakak. itu yang boleh mendaftar jadi anggota siapa aja? apa harus mahasiswa IPB?

Pratiwi Febrina mengatakan...

lokasi mengajarnya biasanya dimana saja mbak? bisa menyumbang buku?

Nadia Azka mengatakan...

@catatan ciki: boleh siapa aja kok. nggak harus anak IPB. ini komunitasnya bukang naungan IPB. ini independen :)

@pratiwi: di situ leutik dan desa pabuaran. bisa banget mbak bukunya buat perpustakaan juara untuk adik-adik.

Anonim mengatakan...

yang ngintip lucu ka

Rida mengatakan...

kapan2 mau jadi pengajar muda juga ga az? :)
bareng2 yuk daftar jd pengajar muda, aku pengen banget dari dulu, tapi selalu lupa bilang sm kamu kl di kelas :D

Nadia Azka mengatakan...

@rida aduh pengen :3 nanti kalo kita udah lulus S1 yuk baru boleh daftarnya kan ya

Rida mengatakan...

iyaa he'em kalo uda lulus baru bs daftar, semoga aja dpt kesempatannya yaa :)