26 Juli 2012

Berjalan Menembus Batas: Bersyukur, Kerja Keras, dan Optimis



Malam itu mengoceh "aku pengen pulang" berkali-kali sambil memegang kalender akademik untuk menghitung hari kapan aku akan pulang saat liburan. Salah satu teman sekamar, Cuneng, yang satu meja belajar dengan aku akhirnya buka suara.

"Kamu kenapa?"
"Aku kangen ibuku. Udah tiga bulan nggak ketemu,"
"Aku udah tiga tahun nggak ketemu,"

Aku langsung diam. Malu sama diri sendiri.

Aku nggak ada apa-apanya dibandingkan Cuneng. Dia hebat. Dia tegar. Ayahnya yang sangat dekat dengan dia meninggal beberapa tahun lalu. Saat ini Ibunya bekerja di Jordania dan terakhir pulang ke tanah air tiga tahun yang lalu. Keluarganya bahkan tadinya nggak setuju kalau dia kuliah, tapi dia ngotot dan akhirnya bisa kuliah di IPB.

Padahal aku baru tiga bulan nggak ketemu. Cuneng udah tiga tahun. Padahal aku bisa leluasa meminta ditelepon kapanpun aku mau. Sementara Cuneng biasanya hanya berkirim pesan singkat dan sangat jarang menelepon karena biayanya cukup mahal.

Cuneng cuma salah satu dari sekian banyak orang dengan kisah hidup nggak terduga yang aku temui di kampus. Dan ternyata jauh lebih banyak lagi yang kisah hidupnya lebih dramatis dari sinetron manapun tapi tetap bersyukur dan semangat menjalani hidup.

Aku makin sadar bahwa segala keluhan-keluhanku selama ini jauh lebih ringan dan nggak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kisah-kisah hidup di buku biru muda kecil yang baru aku beli, "Berjalan Menembus Batas". Buku ini disusun oleh Ahmad Fuadi, pekerja sosial dan mantan wartawan yang juga penulis buku "Negeri Lima Menara".

"Berjalan Menembus Batas" berisi kumpulan cerita inspiratif dari 13 orang yang bercerita mengenai hidup melawan keterbatasan baik fisik, materi, maupun lingkungan. Buku ini refleksi dari orang-orang yang selalu bersyukur, tak lelah bekerja keras, dan optimis memandang masa depan.

Diantaranya ada cerita bagaimana kerja keras seorang loper koran untuk bisa mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, ketegaran seorang dokter pengidap leukimia yang ditinggal seluruh anggota keluarganya, hingga kisah seorang anak miskin yatim dari desa yang akhirnya bisa kuliah di Jerman.

Di awal setiap cerita buku ini disisipi dengan kata-kata mutiara dari orang-orang terkenal seperti "Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang" dari Imam Syafi'i atau "Masa depan adalah milik mereka yang percaya pada indahnya mimpi-mimpi mereka" dari Eleanor Roosevelt. 

Buku ini sekali lagi membuktikan bahwa barang siapa bersungguh-sungguh, maka ia akan berhasil. Man jadda wajada.


4 komentar:

Catatan Ciki mengatakan...

harga bukunya berapa? saya jadi pengen beli :)

Nadia Azka mengatakan...

39.000 kak

izza mengatakan...

wah, sering2 ditemenin ya temennya, hehehe...
azka, kalo kesepian ato kangen rumah, ajak aku maen aja, ^_^v (lho...)

bukunya pernah aku pegang beberapa menit dan aku baca beberapa halaman...

Nadia Azka mengatakan...

eh ada mbak iza :D
iya mbak aku sering ke kontrakannya walaupun udah keluar dari asrama. baik bgt mbak dia selalu bawain ikan kesukaanku kalo dia abis pulang :')