08 Oktober 2012

Waspada Maling Kos-kosan

Sepulang dari Gramedia hari Minggu malam, aku tidur karena capek. Bangun pukul sebelas dan terjaga sampai pukul satu pagi. Sedikit membaca buku Mikroekonomi-nya si Walter Nicholson dan main laptop tentunya. Baterai laptop habis dan aku ngantuk lagi. Jam satu aku keluar kamar cari angin. Sebelum tidur, aku charge tuh si laptop di kursi warna hijau deket jendela yang terbuka, tirainya sih aku tutup.

Seperti biasa aku bangun jam empat pagi, tapi beranjak dari kasur setengah jam kemudian. Aku nyuci peralatan makan di kamar mandi, termasuk tempat beras di dalam rice cooker. Aku keluar kamar berniat mengambil lap untuk peralatan makan (aku taruh di jemuran mini depan jendela kamar). Tapi anehnya, aku mendapati posisi jemurannya miring. Janggal. Masa iya kena angin sampe begini amat?

posisi jemuran saat aku keluar kamar pukul setengah lima pagi

Aku bingung, tapi aku cuek. Kesadaran muncul waktu aku mau nancepin kabel rice cooker ke stop kontak. Gyaaa, laptop aku raib. Tinggal chargernya doang menggantung. Aku langsung turun ke bawah. Ngecek pintu ruang tamu, pintu tengah, dan pintu pagar. Semua masih terkunci. Saat itu juga aku yakin pelakunya orang dalam. Ya, anak satu kosan tapi entah siapa.

TKP. Kursi hijau dan stop kontak dekat jendela
Bapak kos langsung nyamperin dan kakak-kakak kosan yang lain langsung keluar. Kak Ana (kamar sebelah) takut juga kalau laptopnya dicuri karena isinya skripsinya dia. Untungnya laptopnya dia taruh di kamar temennya di lantai bawah (kamar Kak Izza).

Kak Balqis bilang, sekitar jam 03.00-03.30, dia masih bangun untuk ngerjain tugas dan ngerasa ada yang hampir menyibak tirai kamarnya. Kak Balqis kira angin, atau apalah, dan nggak terdengar langkah kaki, jadi dia enggak ngecek keluar kamar.

Kami sempet mengira kalau pelakunya orang luar. Tapi nggak ada tanda-tanda. Semua bersih. Gembok masih terpasang. Kawat di pagar sebelah kamar Kak Kiki juga masih rapi.

kawat masih rapi. tanda pencuri bukan orang luar.
Akhirnya kita membongkar kamar satu per satu, tapi karena aku kuliah jam tujuh pagi, hanya beberapa kamar yang sempet dicek. Aku nggak mungkin bolos karena udah pernah bolos satu kali gara-gara ikut fieldtrip ke Bursa Efek Jakarta dan Trans TV. Kalau bolos lagi, jatahku habis. Nanti kalau terjadi sesuatu yang nggak terduga di waktu yang akan datang kan repot jadinya.

Ya, akhirnya aku sms sana-sini. Ammah Intan, Galih, Ipehlien. Hari Senin aku cuma kuliah sampai jam duabelas. Jam satu siang, omku dateng ngebawain laptop dan masangin kunci ekstra biar lebih aman, rencananya juga mau pasang teralis di jendela.

Setelah dilihat-lihat, ada jejak kaki di lantai berdebu di bawah jendela. Jelas itu bukan kakiku. Ngapain juga aku menapakkan kaki di depan jendela. Palingan kalau ada cuma bekas alas sepatu, itupun jarang aku naruh sepatu di depan jendela kiri, biasanya di depan jendela kanan. Itupun cuman naruh sepatu aja karena aku selalu copot sepatu di depan pintu. Aku yakin itu pasti langkah si maling.

perhatikan bekas jejak di samping sepatu
Ada cerita aneh lain. Sepulang kuliah, aku curhat sama Teh Nina (ibu-ibu yang biasa bersihin kosan), Kak Yuka, dan Kak Mira. Pagi ini Kak Yuka menemukan tempat sampahnya meleleh, efek terbakar api yang entah berasal darimana. Aneh. Kak Yuka nggak pernah pakai api. Bekas-bekas puntung rokokpun enggak ditemukan semisal ada yang membuang kesitu. Padahal tempat sampah Kak Yuka ini plastik yang kokoh. Kalau terbakar sebesar itu, api darimana pula?

tempat sampah Kak Yuka meleleh
Aku nggak curiga samasekali bakal kemalingan di pagi buta. Biasanya kan maling kosan muncul siang-siang. Tapi siapa sangka kalau pelakunya orang dalam kosan. Aku udah ikhlas soal laptop. Malah jadi kasian sama yang mencuri. Dia pasti lagi kekurangan uang. Ini juga bisa jadi pelajaran biar aku lebih waspada. Jendela dan pintu harus aku kunci kalau lagi tidur, nonton tv, atau masak.

Maling bisa jadi siapa saja dan kapan saja. Waspadalah! Waspadalah!

Tidak ada komentar: