17 Oktober 2012

Sanggar Juara dan Social Media Festival 2012

Akhir pekan ini, Sanggar Juara puasa mengajar dulu. Kami diundang buka stand di dua tempat. Di Agriphoria (acaranya Fakultas Pertanian) hari Sabtu (13/10) dan di Social Media Festival 2012 mulai hari Jumat (12/10) sampai Minggu (14/10).

Hari Sabtu sepulang kuliah, aku jaga stand di Agriphoria di Graha Widya Wisuda IPB. Adik-adik dari SDN Situ Leutik yang kami rutin kunjungi tiap Minggu juga diundang untuk outbound oleh panitia Agriphoria. Antusiasme mahasiswa, peserta seminar, dan tamu undangan cukup tinggi. Banyak yang tertarik untuk jadi anggota (dikira open for recruitment), berniat menyumbang buku, termasuk jadi donatur tetap.

Hari Minggu, aku berangkat ke Gelanggang Renang Senayan untuk jaga stand di Social Media Festival hari terakhir. Senayan siang itu bisa dibilang sangat panas karena matahari terlalu semangat berterik. Tapi tetep nggak mengurangi tingkat keseruan Social Media Festival di hari terakhir.

Artis dan musisi banyak yang berkunjung. Kalau hari sebelumnya ada talkshow film bareng Nicholas Saputra. Hari ini giliran Endah and Rhesa plus Barry Likumahua yang ngasih hiburan. Melanie Subono juga sempat mampir dan berfoto di stand Sanggar Juara lho.

spanduk Sanggar Juara
Aku jalan-jalan muterin stand-stand yang ada. Mampir sana, mampir sini. Ternyata banyak komunitas yang seru dan keren. Banyak komunitas yang hobi jalan-jalan macam Jejak Kaki dan Balibackpacker. Komunitas  filatelis, komunitas Parkour, dll. Aku mampir ke Komunitas Sahabat Pulau. Seru deh, mereka punya program One Youth, One Child. Programnya berbentuk kegiatan menulis surat sama sahabat pena, dan sahabat penanya itu adalah salah seorang anak yang tinggal di daerah terpencil di luar pulau Jawa.

di depan spanduknya komunitas Sahabat Pulau
Aku dipanggil kak Nina (senior di salah satu organisasi) ke stand @SaveStreetChildren. Rupanya Kak Nina ini aktif di komunitas ini juga. Waktu aku tanya kegiatan komunitas ini ngapain aja, Kak Nina nunjuk salah seorang temennya untuk ngejelasin. Tapi lho kok temennya kenal aku sih. Ternyata itu Rizqa Amalia, ALSTE 2011 (alumni SMA 3 Semarang). Sekarang Rizka kuliah di Akademi Pimpinan Perusahaan (APP) Jakarta, Jagakarsa.

Kembali ke Social Media Festival, selain puluhan stand komunitas, banyak juga berdiri stand beberapa toko online macam Gantibaju.com, Fimelashop. Barang-barang yang dijual bener-bener menarik, jadi hati-hati harus kontrol diri jangan sampai bertindak konsumtif.

Tees.co.id, kita bisa menjual desain kaos kita sendiri lho

stand Kartumuu.

Cerita dari Kak Gressa hari sebelumnya, dia dapet banyak souvenir dari aneka macam stand disana. Kaos, goodie bag, dll. Aku lewat stand Nescafe. Salah seorang SPG manggil, "Follow twitter kita dong! Ntar dapet souvenir gantungan kunci ini,". Cukup rempong juga karena kita harus follow twitter dan mention mereka pada saat itu juga melalui iPad yang mereka sediakan. Tapi enggak apa-apalah, demi sebuah gantungan kunci -_-

Selain para sponsor dari Nescafe dan Teh Kotak yang rajin bagi-bagi souvenir, komunitas-komunitas juga nggak kalah 'modal'. Selain kartu nama atau brosur, banyak juga komunitas yang menyediakan hadiah bagi pengunjung stand mereka. Aku dapat celengan dari @CoinAChance, majalah travel dari @DigicamINA, buku Koin Keadilan dari Salingsilang.com, buku tentang Maroko-Indonesia dari PPWI, bahkan bolu pisang dari @piknikasik (tapi aku ogah pisang tentunya).

beberapa souvenir
Usai magrib, kami resmi menutup stand. Tapi masih banyak aja yang mampir dan antusias mau jadi donatur, ajak kerjasama bikin kegiatan, pengen jadi relawan, dan lain lain. Terimakasih semuanya!

Mulai malam, artis-artis dan para musisi kembali bermunculan. Malam itu gilirannya Kikan, mantan vokalis band Cokelat, yang beraksi di panggung. Berhubung stand kami lokasinya paling deket dengan panggung utama, cukup duduk dan menikmati di kursi aja.

panggung utama social media festival 2012, kikan lagi nyanyi

Pulangnya dijemput om-nya Kak Ajeng di Senayan dan dianter sampai Dramaga. Alhamdulillah nggak perlu repot-repot naik kopaja - krl - angkot 03 - angkot kampus dalam. Seru! Tahun depan kalau ada lagi, harus mau ikut lagi ah.

Jadi, bagi yang tertarik pendonor untuk sang juara bisa hubungi @SanggarJuara. Donor bisa berupa donasi/ uang, sumbangan buku, atau sumbangan tenaga untuk mengajar di akhir pekan. Tunggu apalagi?

08 Oktober 2012

Waspada Maling Kos-kosan

Sepulang dari Gramedia hari Minggu malam, aku tidur karena capek. Bangun pukul sebelas dan terjaga sampai pukul satu pagi. Sedikit membaca buku Mikroekonomi-nya si Walter Nicholson dan main laptop tentunya. Baterai laptop habis dan aku ngantuk lagi. Jam satu aku keluar kamar cari angin. Sebelum tidur, aku charge tuh si laptop di kursi warna hijau deket jendela yang terbuka, tirainya sih aku tutup.

Seperti biasa aku bangun jam empat pagi, tapi beranjak dari kasur setengah jam kemudian. Aku nyuci peralatan makan di kamar mandi, termasuk tempat beras di dalam rice cooker. Aku keluar kamar berniat mengambil lap untuk peralatan makan (aku taruh di jemuran mini depan jendela kamar). Tapi anehnya, aku mendapati posisi jemurannya miring. Janggal. Masa iya kena angin sampe begini amat?

posisi jemuran saat aku keluar kamar pukul setengah lima pagi

Aku bingung, tapi aku cuek. Kesadaran muncul waktu aku mau nancepin kabel rice cooker ke stop kontak. Gyaaa, laptop aku raib. Tinggal chargernya doang menggantung. Aku langsung turun ke bawah. Ngecek pintu ruang tamu, pintu tengah, dan pintu pagar. Semua masih terkunci. Saat itu juga aku yakin pelakunya orang dalam. Ya, anak satu kosan tapi entah siapa.

TKP. Kursi hijau dan stop kontak dekat jendela
Bapak kos langsung nyamperin dan kakak-kakak kosan yang lain langsung keluar. Kak Ana (kamar sebelah) takut juga kalau laptopnya dicuri karena isinya skripsinya dia. Untungnya laptopnya dia taruh di kamar temennya di lantai bawah (kamar Kak Izza).

Kak Balqis bilang, sekitar jam 03.00-03.30, dia masih bangun untuk ngerjain tugas dan ngerasa ada yang hampir menyibak tirai kamarnya. Kak Balqis kira angin, atau apalah, dan nggak terdengar langkah kaki, jadi dia enggak ngecek keluar kamar.

Kami sempet mengira kalau pelakunya orang luar. Tapi nggak ada tanda-tanda. Semua bersih. Gembok masih terpasang. Kawat di pagar sebelah kamar Kak Kiki juga masih rapi.

kawat masih rapi. tanda pencuri bukan orang luar.
Akhirnya kita membongkar kamar satu per satu, tapi karena aku kuliah jam tujuh pagi, hanya beberapa kamar yang sempet dicek. Aku nggak mungkin bolos karena udah pernah bolos satu kali gara-gara ikut fieldtrip ke Bursa Efek Jakarta dan Trans TV. Kalau bolos lagi, jatahku habis. Nanti kalau terjadi sesuatu yang nggak terduga di waktu yang akan datang kan repot jadinya.

Ya, akhirnya aku sms sana-sini. Ammah Intan, Galih, Ipehlien. Hari Senin aku cuma kuliah sampai jam duabelas. Jam satu siang, omku dateng ngebawain laptop dan masangin kunci ekstra biar lebih aman, rencananya juga mau pasang teralis di jendela.

Setelah dilihat-lihat, ada jejak kaki di lantai berdebu di bawah jendela. Jelas itu bukan kakiku. Ngapain juga aku menapakkan kaki di depan jendela. Palingan kalau ada cuma bekas alas sepatu, itupun jarang aku naruh sepatu di depan jendela kiri, biasanya di depan jendela kanan. Itupun cuman naruh sepatu aja karena aku selalu copot sepatu di depan pintu. Aku yakin itu pasti langkah si maling.

perhatikan bekas jejak di samping sepatu
Ada cerita aneh lain. Sepulang kuliah, aku curhat sama Teh Nina (ibu-ibu yang biasa bersihin kosan), Kak Yuka, dan Kak Mira. Pagi ini Kak Yuka menemukan tempat sampahnya meleleh, efek terbakar api yang entah berasal darimana. Aneh. Kak Yuka nggak pernah pakai api. Bekas-bekas puntung rokokpun enggak ditemukan semisal ada yang membuang kesitu. Padahal tempat sampah Kak Yuka ini plastik yang kokoh. Kalau terbakar sebesar itu, api darimana pula?

tempat sampah Kak Yuka meleleh
Aku nggak curiga samasekali bakal kemalingan di pagi buta. Biasanya kan maling kosan muncul siang-siang. Tapi siapa sangka kalau pelakunya orang dalam kosan. Aku udah ikhlas soal laptop. Malah jadi kasian sama yang mencuri. Dia pasti lagi kekurangan uang. Ini juga bisa jadi pelajaran biar aku lebih waspada. Jendela dan pintu harus aku kunci kalau lagi tidur, nonton tv, atau masak.

Maling bisa jadi siapa saja dan kapan saja. Waspadalah! Waspadalah!