26 Desember 2013

2013; Fears, Tears, and Cheers

When I was ten, I asked myself, "How does it feel when I am twenty years old?". Then here I am, 2013. So how does it feel? It is hard to explain. Because no matter how detail I tell you the story, you will never know what I've been through.

This is the year I explored myself. The year I challenged myself. The year I ran a social project with no budget. The year I did something new. The year I traveled new places. The year I met so many new people. The year I learned a lot from them. The year I changed the way I think.

This is the year I bought lipstick, lipbalm, and compact powder for the first time LOL! The year I learned the meaning of friendship. The year I kept my self-promises. The year I got what I want. The year I failed. The year I felt excited, happy, sad, and dissapointed at the same time.

This is the year I got a serious disease. The year I could not sleep tight at night. The year I ate medicine everyday. The year I saw the doctor every weekend. The year I thought I will lose my future. The year I cried alone... a lot.

This is the year I unpublished my high school blog posts. The year I've been blogging  for five years woaaa. The year I realized that there were fears and tears, but thanks God, I had soooo many reasons for cheers!

Goodbye 2013. Welcome 2014 :)

25 Desember 2013

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

Waktu aku masih SD, Ayah menyodorkan sebuah buku tua berwarna biru.

"Teh, ini loh. Mbah nangis melulu kalo baca buku ini," kata Ayah.
"Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck? Buya Hamka itu siapa? Terkenal?"
"Terkenal banget!"

Di rak buku rumah, aku pernah lihat beberapa buku karangan Buya Hamka. Aku coba baca, tapi bahasanya bener-bener susah dipahami, macam melayu kuno. Beberapa tahun kemudian aku baru tahu kalau tipe-tipe karangan Buya Hamka itu disebut hikayat. Aku ketik 'Buya Hamka' di google dan rupanya Beliau benar-benar terkenal.

Aku nggak nyangka, waktu aku lagi naik commuter line, ada sebuah poster film di gerbong; Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck! Wah buku tua itu dijadiin film tahun ini. Karena dulu aku bacanya cuma sampai sepertiga dari total halaman, aku nggak tau alurnya seperti apa, bagaimana endingnya.

Beberapa hari sebelum aku berencana nonton, Ayah sms:
"Teh, Ayah sama Ibu mau nonton Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Kita nungguin Teteh pulang dulu apa gimana?"
"Duluan aja. Aku juga mau nonton minggu ini. Mbah suruh nonton, Yah,"

Ah, andai di Pandeglang ada bioskop biar Mbah bisa nonton :)



Akhirnya semalam aku nonton Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Sinopsisnya silakan baca sendiri di sini. Kisah yang diangkat dalam buku/ film ini adalah bentuk kritik dari Buya Hamka terhadap tradisi atau adat Minang yang berlaku pada jaman tersebut.

Diskriminasi Suku

"Di Makassar, aku dianggap orang Minang. Di Minang, aku dianggap orang Makassar,"

Sepenggal kalimat dalam surat Zainuddin kepada Hayati mengenai keluhannya terhadap pandangan masyarakat setempat mengenai dirinya. Bapak Zainuddin keturunan Minangkabau, sementara Ibu Zainuddin keturunan Makassar. Secara adat Minangkabau, Zainuddin tidak diakui sebagai orang Minang karena darah Minang itu ditentukan oleh garis keturunan Ibu.

Zainuddin tidak diajak bergaul dan dilarang mengikuti pembicaraan di Batipuh karena dianggap bukan orang Minang. Zainuddin dilarang menikah dengan Hayati karena asal-usulnya dianggap tidak jelas.

Agama Hanya 'Pembungkus'

Paman Hayati, sebagai ketua adat, dan masyarakat Batipuh mengatakan bahwa mereka menjunjung tinggi nilai agama. Sayangnya tidak tercermin dalam sikap dan perilaku keseharian. Diskriminasi terhadap Zainuddin, intimidasi dan pemaksaan terhadap Hayati menunjukkan bahwa agama yang mereka banggakan hanyalah sebagai pembungkus diri, ajaran agama yang sesungguhnya tidak masuk ke dalam jiwa mereka.

Mereka memutuskan untuk menerima lamaran Aziz dan menolak lamaran Zainuddin kepada Hayati atas dasar 'keturunan Minang terhormat' dan 'kekayaan'. Padahal pada kenyataannya Zainuddin adalah pemuda yang taat beragama, sementara Aziz senang berfoya-foya, berjudi, dan bermain perempuan.

Peran Perempuan

Pada proses musyawarah keluarga besar Hayati untuk memilih akan menerima lamaran Aziz atau Zainuddin, perempuan seperti Ibu, Bibi, dan lainnya tidak mendapat kesempatan untuk bersuara lebih. Laki-laki mendominasi dan cenderung memaksakan kehendak. Perempuan tak diijinkan untuk memperjuangkan pendapat.

Akting Reza Rahardian sebagai Aziz dalam film bener-bener bikin merinding pada waktu adegan membentak dan memarahi Hayati sebagai istrinya. Di dunia nyata, aku belum pernah melihat laki-laki sekasar itu. Hayati digambarkan sebagai istri yang harus menuruti seluruh keinginan suaminya walaupun hal tersebut tidak baik untuk dilakukan. Tugas Hayati hanya berdiam diri di rumah untuk menunggu dan melayani kepulangan Aziz setiap Sabtu dari Padang Panjang.

Secara umum, filmnya bagus. Siapa pula yang terpikir untuk menjadikan buku terbitan tahun 1939 diterbitkan tahun ini. Meskipun dalam film proses jatuh cinta dan kedekatan Zainuddin - Hayati terkesan singkat, padahal aslinya lebih penuh lika-liku berbulan-bulan. Selain itu endingnya juga berbeda, dalam buku dituliskan bahwa tak lama setelah Hayati meninggal, Zainuddin ikut meninggal dan dimakamkan berdampingan dengan makam Hayati. Sementara ending dalam film, Zainuddin tidak meninggal. Ia menjadikan rumahnya sebagai panti asuhan yang diberi nama Panti Asuhan Hayati.

Sudah, nonton dulu sanah~

23 Desember 2013

Survey dan Penolakan

Penelitian. Ini masuk ke daftar hal yang paling pengen aku pelajarin semester ini. Kebetulan pula, semester ini aku dapat matakuliah Riset Pemasaran yang membahas mengenai cara-cara melakukan penelitian di bidang pemasaran. Pada awal pertemuan, aku kira dosen bakal memberikan kami tugas penelitian kecil-kecilan, tapi nyatanya cuma tugas membuat proposal penelitian dan menganalisis beberapa laporan penelitian. Ah, sedih. Nggak menantang (?)

Aku punya target buat 2014 untuk menjalankan suatu penelitian dengan serius yang ada manfaatnya buat masyarakat luas. Sayangnya aku belum pernah melakukan penelitian. Pucuk dicinta ulampun tiba. Bu Linda, dosen mayor aku yang fokus di bidang Manajemen Sumber Daya Manusia, membuka lowongan untuk ikut penelitian bareng Beliau. Aku apply dan diterima bersama sebelas orang teman lainnya.

Kompensasi Karyawan UKM
Penelitian pertama kami mengenai kompensasi karyawan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Kabupaten dan Kota Bogor. Berangkat dari demonstrasi buruh yang meminta kenaikan Upah Minimum Regional (UMR) yang membuat beberapa perusahaan besar pindah pabrik ke negara lain.

Jumlah UMR yang diminta para buruh tersebut memang kontroversial. Selain jumlahnya yang setara dengan pangkat tertentu dalam kompensasi Pegawai Negeri Sipil (PNS), para buruh juga memasukkan barang-barang yang dinilai kurang penting seperti jaket kulit ke dalam rincian rencana penggunaan UMR yang mereka terima. Kalau upah minimum naik, bagaimana nasib UKM-UKM? Apakah mereka masih sanggup mengakomodir kompensasi karyawan?

Survey 
Aku dapat jatah survey ke UKM bagian makanan dan minuman. Kelihatannya gampang, mudah, kan banyak tuh penjual makanan dan minuman, responden berlimpah. Tapi nyatanya, astaga, susah! Emang sih ada data daftar UKM beserta alamatnya dari Dinas Kabupaten dan Kota Bogor, tapi banyak yang nggak ada nomor teleponnya. Cari di internet? Nggak semuanya ada. Mana banyak yang lokasinya antah berantah entah dimana.

Beberapa kali aku dan temen-temen nyamperin banyak UKM, tapi tersendat banyak hal. Mulai dari kenyataan bahwa ternyata yang kami datangi bukan UKM (ada syarat jumlah pegawai dan omset minimun tertentu) dan berbagai penolakan.

Sebut saja sebuah toko roti di Bangbarung...

"Selamat pagi, Teteh!"
"Pagi,"
"Salam kenal, Teh. Saya Nadia dari IPB. Saya, teman-teman, dan dosen saya sedang melakukan penelitian bla bla bla. Kalau boleh, bisa saya bertemu dengan manajer toko ini?"
"Orangnya jarang kesini. Biasanya sebulan sekali,"
"Kalau begitu, boleh saya minta kartu nama atau nomor telepon manajernya?"
"Wah saya nggak punya," #denganmukajutek

Hah mustahil amat nggak punya nomor telepon atasan langsungnya. Kalau udah ngasih bukti resmi bahwa ini penelitian dari IPB, udah jelisain latar belakang penelitian dan janji bahwa nama UKMnya nggak akan dipublikasikan, namun pihak UKMnya nggak welcome, mendingan tinggalin aja daripada buang waktu.

Ada pula, pemilik UKM yang entah kenapa takut kalau jadi responden penelitian ini. Sebut saja Kafe X di dekat Rumah Sakit Karya Bhakti (lupa nama daerahnya ahaha).

"Selamat sore,"
"Sore, mbak,"
"Salam kenal, Mas. "Saya Nadia dari IPB. Saya, teman-teman, dan dosen saya sedang melakukan penelitian bla bla bla. Kalau boleh, bisa saya bertemu dengan pemilik kafe ini?"
"Ya. Saya sendiri, mbak,"
"Ya, Mas. Jadi begini, Mas nggak usah khawatir karena nama UKMnya tidak akan dipublikasikan bla bla bla,"
"Mbak, gimana kalau jangan saya respondennya. Disana ada kafe juga kok," #denganmukaketakutan

Emang aku menyeramkan apa yah? -____-

Selain itu ada juga yang begini.

"Malam Pak X. Saya Nadia dari IPB. Saya, teman-teman, dan dosen saya sedang melakukan penelitian bla bla bla. Kalau boleh, bersediakah Bapak jadi responden untuk UKM ini?"
"Bersedia. Mengenai apa ya?"
"Kompensasi atau penggajian, Pak,"
"Oh kalau mengenai itu, saya tidak bisa,"

Masih mending yang kelompok aku alami saat survey, daripada kelompok lain yang kebagian survey UKM di bidang herbal dan obat-obatan. 

"Malam Pak X. Saya dari IPB. Saya, teman-teman, dan dosen saya sedang melakukan penelitian tentang kompensasi bla bla bla. Kalau boleh, bersediakah Bapak jadi responden untuk UKM ini?"
"Tidak! Kamu mau jadi mata-mata dari pesaing saya ya?! Sudah banyak mata-mata yang berkedok mahasiswa penelitian!"

-____- 

Kesimpulan dari survey selama ini adalah orang berpendidikan pasti akan bersedia menjadi responden penelitian ini. Pemilik-pemilik UKM yang bersedia jadi responden emang cerdas, mereka memang aktif ikut pelatihan dari Dinas dan berjejaring dengan UKM lainnya.

Jelas-jelas pada waktu survey kami membawa surat resmi yang menunjukkan bahwa kami dari IPB, menjelaskan latar belakang penelitian dan manfaatnya, menjelaskan bahwa responden akan dirahasiakan. Pemilik UKM yang menolak sepertinya takut bahwa kami adalah mata-mata pesaing (LOL) atau agen rahasia dari pemerintah yang mengecek apakah UKM tersebut sudah memberi upah yang layak kepada karyawannya. Padahal kan, untuk apa takut kalau kita merasa benar?

15 Desember 2013

Sanggar Juara Festival 2013


Februari 2011, aku ikut jadi pengurus dan kakak asuh/ pengajar di Sanggar Juara. Sanggar Juara adalah komunitas independen, tidak dibawahi siapapun dan apapun. Pada awalnya, Sanggar Juara memang merupakan program kreativitas mahasiswa yang didanai oleh Direktorat Jendral Perguruan Tinggi/ Dikti. Namun setelah itu, Sanggar Juara benar-benar independen.

Sanggar Juara fokus ke pendidikan anak usia 7-12 tahun dengan metode pendidikan karakter berbasis holistik. Target Sanggar Juara adalah anak-anak di Kabupaten Bogor. Mereka begitu dekat secara lokasi dengan IPB sebagai salah satu perguruan tinggi terbesar di Indonesia, tapi akses mereka terhadap pendidikan yang berkualitas masih sangat jauh dari mudah. Hingga saat ini Sanggar Juara mengajar di dua titik, yaitu Situleutik dan Pabuaran. 

Sanggar Juara Festival merupakan kegiatan tahunan yang diadakan Sanggar Juara sejak tahun 2010. Tema tahun ini adalah Petualangan Sang Juara. Kami mengadakan pra-acara pada 8 Desember 2013 dan mengundang komunitas pendidikan anak se-Bogor untuk berkolaborasi, bermain bersama mencari harta karun.

Sementara puncak acara diadakan 15 Desember 2013. Konsepnya adalah talkshow dan penampilan dari adik-adik asuh Sanggar Juara berupa tari tradisional, tari modern, drama musikal, paduan suara, dan fashion show. Tahun ini tiket masuknya gratis! Terimakasih kepada Telkom yang menjadi sponsor utama acara ini :)

Kak Trian (pemenang Advan Young Movement), Bu Tati (pendiri Forum Indonesia Muda), Kak Yosea (pendiri Youth ESN), dan Kak Sisi (Runner-up World Muslimah) sebagai moderator

ramainya pengunjung
drama musikal; harta karun anak pesisir

Selain itu ada pembicara dari Pengajar Muda Indonesia Mengajar. Penampilan dari band Dennis and Non-Essential. Aku bertugas sebagai resepsionis bareng Nevvi. Ternyata capek juga ya tapi senang karena banyak pengunjung yang hadir waaaa terimakasih pengunjung!

meja registrasi

Terimakasih yang spesial untuk Pak Endriatmo, guru besar dari Fakultas Ekologi Manusia, yang menjadi keynote speaker di pembukaan acara. Aku nggak nyangka bahwa Beliau akan menghadiri Sanggar Juara Festival hingga selesai. Bahkan sampai mengajak kami makan di Galuga usai acara untuk evaluasi dan pembubaran panitia.

makan-makan di Galuga, rumah makan sunda, ditraktir Pak Endriatmo

Terimakasih kepada seluruh adik-adik Sanggar Juara, panitia, pengurus, steering committee, sponsor, media partner, pengunjung, pembicara, moderator, MC, pengisi acara, dan para donatur.

14 Desember 2013

What a Weekend

Hari ini tuh bisa disebut apa ya? Padat, penuh perjuangan, tapi senang to the moon and back (kalo kata anak jaman sekarang)! Aku nginep di kontrakan Galih, Lina, Rika, Dewi, dan Anggi sejak 2 hari sebelumnya karena laptop aku rusak secara mendadak sementara aku butuh pinjaman laptop untuk mengerjakan tugas yang menumpuk gila.

Kuliah Pengganti, Pelatihan, dan Monthly Meeting
Sabtu ini aku harus ke kampus karena ada kuliah pengganti matakuliah Teknik Pengambilan Keputusan (TPK) jam delapan pagi. Sabtu ini juga Bu Linda juga meminta aku dan sebelas orang lainnya ikut pelatihan adobe photoshop di kampus IPB Baranangsiang untuk keperluan proyek. Sabtu ini juga ada Young On Top Monthly Meeting jam satu siang dan acara bareng anak-anak Panti Asuhan Agape sore harinya.

Setelah berdiskusi dengan Pak Deddy, dosen TPK, akhirnya aku dan sebelas teman lainnya diijinkan untuk tanda tangan tanda kehadiran dan mengikuti kuliah selama satu jam aja. Alhamdulillah, Pak Deddy baik banget.

Kami langsung menuju kampus Baranangsiang dan ikut pelatihan di ruang rapat ekstensi manajemen. Macet sih panas sih di jalan tapi nggak nyesel karena dapet ilmu baru. Aku buta adobe photoshop. Cuma pernah belajar waktu SMA, tapi lupa lagi. Sebelum zuhur, aku langsung menuju stasiun dan naik commuter line. Eh ketemu Karin, Siti, Tiwi, dan Egi di gerbong delapan. Alhamdulillah dapet duduk ahaha jadi bisa tidur.

Young On Top December Monthly Meeting
Ini pertama kalinya aku naik kereta menuju monthly meeting di Kuningan. Aku bingung turun dimana yang paling dekat dengan Kuningan.

"Anty, Adit, kalo naik kereta dari Bogor mau ke Cyber 2 enaknya turun di stasiun apa dan lanjut naik apa?"
"Turun di stasiun Tebet, terus naik P44" *mereka berdua memberikan jawaban yang sama

Tapi aku mikir... naik P44 kan macet!!! Aku memutuskan untuk turun di Stasiun Sudirman, terus naik busway dari Dukuh Atas. Tapi ternyata malah hujan deras. Aku turun di halte Depkes dan harus jalan kaki menuju Cyber 2. Basah kuyup. Payung rusak. Dan aku terlambat 20 menit... Okay.

Setiap monthly meeting, akan ditunjuk dua orang untuk presentasi mengenai tema bulan itu. Bulan ini temanya Mind Mapping. Dag dig dug. Presentasi yang aku persiapkan semalam nggak bagus-bagus amat. Moodku sedang tidak bagus karena kehujanan. Tiba-tiba... Mas Billy menunjuk Bryant dan aku untuk presentasi. Aku cuma bisa bilang "Oke!" dengan senyum lebar dan muka (sok) ceria seolah nggak terjadi apa-apa.

Bryant maju duluan. Asik gitu pas di awal. Aku jadi takut nanti kalo pas aku presentasi malah garing gimana dong. Glek. Mana flashdisk aku nggak terdeteksi di laptop Ima dan Rafel (operator) pula. Untung akhirnya terdeteksi di laptop Bryant.

Aku (sok) pede berdiri di depan tengah, menyapa selamat siang para mentor yang ganteng dan cantik dan sobat-sobat yang selalu tampil oke (entah mengapa aku bilang begini tapi ini sukses jadi ice breaking). Perkenalan diri dengan muka seceria mungkin. Aku samperin si Anisa, "Ini kan udah bulan Desember. Tahun 2014 sebentar lagi. Kalian pasti punya resolusi kan? Mau tanya Anisahe ah sesuai namanya twitternya,".

"Anisaheee 2014 mau mencapai apa?"
"Nikah! Nikah!"

Nggak deng. Itumah jawaban Dita.

"IPK naik!"

Presentasi berjalan dengan lancar. Interaksi, body languange, joke, ice breaking, kontak mata, pede yang aku latih waktu ikut acara Danamon sebelumnya bener-bener berguna. Mas Billy bilang, "Itu salah satu presentasi yang saya suka! I'm so glad that I chose you! Tepuk tangan buat Azka!". Thanks Mas :D

Bulan ini masing-masing kelompok mentoring bakal presentasi mengenai buku bacaan yang diwajibkan baca oleh mentor masing-masing. Kelompokku presentasi buku Life Coaching-nya Andrea Molloy. Walaupun Adit dan Rafel enggak ikut, alhamdulillah presentasinya lancar dan nggak memakan banyak waktu.
presentasi buku; anty, aku, arista, dea. adit nggak hadir. rafel lagi ganti baju.

Anak-anak Panti Asuhan Agape
Sore ini Young On Top mengundang anak-anak dari Panti Asuhan Agape (dari Kelapa Gading) untuk berbagi bersama dalam rangka menjelang natal. Terimakasih dan selamat buat Yohanes dan Fioni selaku project officer karena acaranya berjalan lancar dan asik. Rentang usia anak-anak ini dari TK hingga SMA.

Ada Rafel yang menyamar sebagai Santa Klaus dan Anisahe sebagai malaikat hahaha. Ada juga penampilan dari Adri (gitar) dan Tomo (vokal) nyanyi Eenie Meenie-nya Justin Bieber woohoo. Selain itu ada paduan suara dari UI dan break-dance dari adik-adik Panti Asuhan Agape yeay!

bagi-bagi coklat


paduan suara dari UI

Happy holiday! (padahal ujian masih januari)

Aku pulang menuju stasiun Tebet bareng Divika (kita nebeng taksinya Arista. Thanks Arista!). Ternyata stasiun Tebet deket banget men ke Cyber 2 Tower! Baru tau aku kalo naik P44 bisa turun di samping tower. Malam itu aku pulangnya ke Bogor karena besok Minggu ada kegiatan. Kereta sepi jadi bisa tiduuur...

08 Desember 2013

Danamon Young Leaders Award 2013 (2)

Lanjutan...

Hari 4
Pagi ini kami menanam pohon dan aku baru merasakan bahwa mencangkul sangat susah. Setelah sarapan, kami berdiskusi kelompok lagi untuk menentukan ide dan inovasi yang dapat dilakukan untuk menjawab pertanyaan yang diberikan Bank Danamon. Kami ngobrol dan menyusun begini begini begitu begitu. Setelah rapi, kami berdiskusi dengan mentor, Kak Eci. Kami diberi beberapa saran dan berkesempatan kepo-kepo mengenai apa aja yang perlu diperbaiki Danamon di topik yang kami bahas. Mentor setuju dengan ide kami.

Siangnya, kami outbound! Ada permainan lucu dari Om Bob.

"Yang mau ikut outbound harus menyebutkan nama dan barang apa yang mau dibawa," kata Om Bob.
"Azka. Indomie,"
"Nggak boleh,"
"Tiwi. Magicom,"
"Nggak boleh,"
"Janet. Jeruk,"
"Boleh,"

Ini apa maksudnya???? Satu per satu orang yang tadinya nggak boleh ikut, jadi ikut karena mengganti barang yang mau dibawa. Akhirnya...

"Azka. Api,"
"Boleh,"

Ahahah! Tersisa 6 orang yang belum boleh ikut wkwkwk mereka bingung bukan kepalang harus bawa apa hahaha. Terakhir si Devira yang nggak paham-paham tapi akhinya paham juga yeay! Kami dibagi ke dalam tiga tim. Aku di tim 2. Walaupun gerimis dan akhirnya hujan deras, kami tetep main. Seruuu hehehe.

Malamnya, abis mandi dan makan, kami kumpul bareng kelompok masing-masing. Bikin presentasi, menentukan bagaimana cara presentasi, dll. Internet lelet. Tapi akhirnya presentasi jadi juga jam 11 malam. Kami lumayan tenang sampai Kak Bany dan Kak Natalie (mentor-mentor) datang dan mengomentari ide kami.

Rasanya kayak udah bangun gedung tinggi, terus gedungnya diruntuhin.

Kelompokku diskusi ulang dan merombak seluruh ide dan presentasi kami. Sampai jam satu pagi, slide selesai. Kami pindah ke lobi asrama. Bagi-bagi tugas. Nyawa udah tinggal berapa persen, mulut menguap berkali-kali, jam dua pagi kami memutuskan untuk ke kamar masing-masing dan tidur. Kelompok lain masih ada yang berkumpul, bahkan temen sekamarku nggak balik ke kamar.

Hari 5Kami ada meditasi dengan yoga. Yoga asik! Di akhir meditasi, kami diminta terlentang, dan mayoritas orang tertidur... sampe ngorok pula. Aku nggak bisa tidur gara-gara denger suara orang ngorok huh. Si Vivi dibangunin nggak bangun-bangun hahaha. Aku jadi pengen yoga lagi, asik!

Pagi ini adalah pagi ter deg-degan. Kelompokku dapat urutan keempat. Dag dig dug. Mana pas awal-awal mau menyambungkan laptop dengan LCD malah error. Aku dapat jatah banyak omong di presentasi, harus memulai pembukaan, ya akhirnya berhasil juga hahah.

"Pagi semuanya!!! Kalau saya bilang Aloha, jawab Ao! yaaa! ALOHA!"
"AOOOO!!!"
"Kanan, ALOHA!"
"AOOO!!!"
"Kiri, ALOHA!"
"AOOO!!!"
"Kita nggak berpelukan nih?" tanya salah satu dewan juri.
*seisi ruangan ketawa*

Fyuh. Setidaknya ice-breaking dadakan ini berhasil. Deg-degan? Pasti. Tanpa latihan? Yep. Tapi Alhamdulillah, entah kenapa hari ini aku jadi bisa banyak omong dan presentasi dengan baik, interaksi dengan peserta, interaksi dengan juri, melawak, menjawab pertanyaan, dll. Senang! Dan sangat senang melihat presentasi tim lain yang WAOW BANGET. KOK BISA SIH MEREKA NGASIH IDE DAN PRESENTASI SEMENARIK ITU.
Usai makan siang, kami lanjut presentasi perorangan dengan elevator pitch. Presentasi singkat gitu. Lagi-lagi WAOW BANGET. KOK BISA SIH MEREKA NGASIH IDE DAN PRESENTASI SEMENARIK ITU.

bersama para juri

Malamnya kami perpisahan kecil-kecilan, kelompokku maju pertama kali hahaha. Lagi-lagi aku yang banyak omong dan narik-narikin peserta korban game wkwkw nggak bisa untuk nggak ketawa denger mereka ngomong. Ah pokoknya hari ini hari terseru!

Hari 6

Kami menuju Comma (co-working space) di Jakarta. Daridulu aku penasaran Comma ini kayak apa dan ternyata WAOW BANGET. Kecil tapi nyaman dan kreatif banget! Bagi yang belum tahu, Comma ini tempat buat meeting dan kerja. Komunitas, freelancer, atau siapapun bisa ke Comma. Tapi bayar hehe.

photo booth

kelompok 4; dicky, aku, lukas, linda, gero
 Ada alumni DYLA 2011 dan 2012. Ada Kak William yang nulis buku bareng Mas Taufan. Pemenang diumumkan! Selamat buat kelompok 6 dan kelompok 5! Kami foto-foto dan makan-makan. Photo booth dan asesorinya keren banget. Makanannya super beragam dan enak banget. Walaupun nggak menang, tapi tetep senaaaang :D

terlalu cute untuk dimakan. tapi enakkkk!
nemu kartu nama mba mega di dinding comma

Aku pulang ke Bogor dianterin Om Amir bareng Stefi dan Vivi. Terimakasih Danamon. One of my life changing experience :)

*foto-foto lain menyusul

Danamon Young Leaders Award 2013 (1)


1-7 Desember 2013, aku bolos kuliah satu minggu untuk ikut pelatihan dan lomba Danamon Young Leaders Award 2013. Nggak nyesel! Seru banget!

Hari 0

"Nanti berangkatnya dari Kantor Danamon di Kuningan ya mbak,"
"Oh yang di Kuningan ya. Oke oke,"

Demikian isi percapakapan via telepon dari aku dan Om Bob, pihak dari Danamon, mengenai lokasi keberangkatan dari Jakarta menuju Danamon Corporate University (DCU) di Ciawi. Kantor utama Danamon yang di Mega Kuningan mah aku sering lewat. Jadi Minggu pagi itu aku langsung menuju Kuningan.

Singkat kata, ternyata aku salah! Lokasi keberangkatan adalah dari kantor Danamon yang di Plaza Kuningan. Bukan di Menara Bank Danamon di Mega Kuningan. Hiks aku nggak baca e-mail dengan teliti ih.

putri, ayu, janet, dicky, adrian, anggi, aku, exa

Aku berangkat bareng Janet (Binus), Dicky (President University), Putri (UI), Ayu (Universitas Bakrie), Exa (UI), Adrian (UI), dan Anggi (Paramadina).

Sesampainya di DCU, aku ditempatkan satu kamar dengan Riris (Universitas Airlangga). Beberapa hari lalu kami udah ngobrol via BBM hehe. Kami makan siang, lalu sesi perkenalan. Aku ditempatkan satu tim dengan Dicky, Lukas (Universitas Sumatera Utara), Linda (Institut Teknologi Surabaya), dan Gero (Universitas Andalas).

Sebelum makan malam, kami menimbang badan hahaha. Dan benar aja, malam itu kami makan enak dan banyak. Nyam! Kami juga mainan game aneh dan bodoh yang bikin penasaran -___- kapan-kapan aku tulis~

Hari 1

Kami bangun pagi dan menuju Menara Bank Danamon. Kami dipersilakan masuk ke ruang direksi dan bertemu petinggi-petinggi Bank Danamon. Mereka menjelaskan mengenai sejarah Bank Danamon, kegiatan di dunia perbankan, dll.

di ruang direksi
Kemudian kami makan siang di kantor Danamon yang di Ciputra World (tower perkantoran di Lotte Shopping Avenue, sebelah Menara Bank Danamon). Kami dijelaskan mengenai berbagai produk seperti Micro Banking/ Danamon Simpan Pinjam, Danamon Small Medium Business, Credit Card, Danamon Online, dll.

kuis berhadiah di ciputra world

bareng direksi

Makan malam masih tetap di Ciputra World, tapi nggak di kantor, melainkan di dalam mall, di Seribu Rasa. Tidak perlu diragukan lagi, makanannya enak-enak, ala-ala Cina gitu. Ada insiden pada sebuah jenis makanan.

Janet: Lo tadi makan ini nggak?
Devira: Makan. Rasanya kayak ...
Janet: Babi.
Bony: Serius? Mana coba? *nyoba* iya kayak babi!

Mereka boleh makan babi sih, nggak masalah.

Putri: Mbak *panggil waitress* , ini daging apa? Babi?
Waitress: Oh itu ayam. Semua disini halal.
Aku: *makan* enak!
Janet: Begitulah rasanya babi! Enak!
Putri: Mungkin nama restoran ini Seribu Rasa karena bisa menyediakan aneka rasa makanan termasuk daging babi.
Devira: Bisa bisa!

Hari 2

Olahraga pagi ini keliling kampus. Aku pengen bubur ayam, ternyata ada pas sarapan yeay! Sarapannya ada tiga pilihan; bubur, roti, nasi. Surga makanan pokoknya.

Hari ini kami diajak untuk self discovery bareng Mbak Adella, konselor psikologi. Kami juga menjalani psikotest dan berkonsultasi secara perorangan mengenai rencana hidup ke depan. Ternyata asik juga ya konsultasi.

Bu Elsa selaku ketua acara juga memberikan informasi dan tips mengenai dunia kerja. Bagaimana menghadapi wawancara kerja, pengembangan karir, dll. Kami juga berkesempatan diberitahui mengenai manajemen SDM oleh manajer SDM Bank Danamon secara langsung. Beliau ramah, kami makan malam satu meja, dan ternyata beliau enggak makan nasi kalau malam sudah sepuluh tahun demi hidup sehat. Waaa.

Hari 3

Setelah olahraga pagi keliling desa setempat, kami menuju executive room dan kedatangan Rene Suhardono dan Didi Mudita! Rene dan Mas Didi asik banget!!! Kita menggambar sambil mendengarkan lagu kesukaan dan latihan elevator pitch hehe.

dengerin lagu Happy-nya Mocca, gambar makanan

Adrian sama Ari gambar benang ruwet (?) yang punya makna tersendiri

Siang ini kami diberikan pertanyaan untuk dijawab dan dipresentasikan secara kreatif. Kami diskusi 15 menit dan langsung presentasi astaga sebenernya kaget. Kelompokku pakai simulasi mini drama.

30 November 2013

Integrity + Penampilan


I am not for sale. At any prices. - Mas Didip/ @HenryPradipta

Akhirnya setelah dua bulan nggak ikut Young On Top Monthly Meeting, bulan November ini aku ikut lagi. Bulan September nggak ikut karena ke dokter. Bulan Oktober nggak ikut karena ada acara beasiswa dan harus ketemu sponsor (ternyata sponsorku nggak hadir). Monthly Meeting bulan ini asik (selalu sih). Temanya mengenai integritas.

Sedikit cerita diluar materi, aku janjian sama Ona di Dukuh Atas dan naik busway di siang yang panas. Sebenernya kami satu kelompok mentoring janjian dandan sebelum ke Monthy Meeting. Pake jilbab yang dimodel-modelin (Rafel sampe ngasih referensi di group whatsapp -___-). Kita pake make-up, tapi make-up aku sama Ona udah luntur kayanya gara-gara kepanasan di jalan. Semua ini demi penampilan. Yep, penampilan itu penting kata Mbak Mega, dan kami setuju.

Resolusi 2014; perhatian sama penampilan :P


Tulisan yang tidak fokus ya, yaudah dadaaah!

Little Brother



This is my brother. I always envy his talent. He is good at playing guitar and drawing. My blog header was created by him.  As a big sister, it is not easy to see my little brother grow up, but happy birthday!

18 November 2013

Lima Bulan Terakhir

Aku bikin target untuk semester lima. Aku mau 'masuk' ke perusahaan dengan berpartisipasi dalam program kegiatan mereka seperti kompetisi maupun magang karena menurutku, aku udah siap untuk itu. #pedeabis #sokyey

Ini lucu sih. Print-sreen ini diambil waktu bulan Juli lalu, aku sedang gencar-gencarnya melamar magang ke beberapa perusahaan yang besar maupun kecil. Sebenernya aku belum diwajibkan magang oleh pihak kampus, masih tahun depan, tapi ya... aku mau! Jadi, aku mengirim banyaaaaaak banget lamaran. Aku jadi sadar, nyari tempat magang itu susah!

Ada yang jelas-jelas menolak. Ada yang menolak magang, tapi menawarkan part-time. Ada yang nggak merespon. Tapi ada juga yang menelepon dan mengirim e-mail untuk mengundang aku wawancara.

aku mengirim super banyak lamaran magang

x: Halo selamat pagi, dengan Nadia Azka?
aku: Selamat pagi. Ya, benar. Ini darimana? Ada yang bisa saya bantu?
x: Saya x dari HRD PT. United Tractors Indonesia, kami tertarik dengan lamaran yang Nadia kirim. Bisa datang untuk wawancara?

Sayangnya setelah berbincang lebih lanjut dengan Pak X, ternyata pihak mereka meminta aku magang enam bulan astaga mana bisa, aku bilang aku cuma bisa dua bulan.

Aku sempet wawancara dengan PT. Colibrii, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang konsultasi e-commerce. Mereka bilang tertarik dengan lamaran yang aku kirim, dan kami ketemuan di Starbucks Cideng untuk wawancara. Aku diwawancara oleh tiga orang perempuan muda, gaul, dan cerdas. Walaupun akhirnya nggak jadi magang karena lagi-lagi masalah waktu (mereka minta aku magang 30 jam seminggu), aku banyak belajar dari Bu Dea, dan hm lupa nama dua orang lainnya lagi.


Undangan wawancara dari Wego Indonesia, situs reportase perjalanan


Begitu mulai kuliah, aku berhenti cari kesempatan magang karena nggak nemu yang cocok. Semester lalu aku daftar XL Future Leader, dan pihak XL baru mengumumkan tes selanjutnya semester ini. Berhubung harus berkomitmen satu tahun untuk program itu, aku memutuskan untuk enggak melanjutkan seleksi karena udah berkomitmen sama hal-hal lain untuk setahun ke depan. Aku mau cari kegiatan yang komitmennya nggak selama itu.

Aku daftar Nutrifood Leadership Award lagi tahun ini dan gagal pada tahap kedua, cek disini. Aku lihat orang-orang yang lolos jadi TOP 20 memang nggak perlu diragukan lagi, aku udah pernah ketemu beberapa dari mereka dan wajar banget kalo mereka yang lolos.

Sebulan kemudian, aku daftar Unilever Future Leader League yang benar-benar mengasah otak dan menggunakan pemahaman mata kuliah selama ini. Tapi aku baru baca kasus H-sekian jam batas pengiriman. Sesungguhnya, aku nggak sanggup harus membaca  laporan tahunan Unilever dan mengaitkannya dengan kasus dalam waktu beberapa jam doang. Waktu ngerjain online test dari Unilever (astaga tesnya pake english, susah, dan diwaktuin), aku bela-belain bangun jam dua pagi biar koneksi lancar, dan tetep aja akhirnya gagal, nggak masuk TOP 30. Dari IPB yang lolos cuma satu, Kak Yoga dari Teknologi Pangan, temen di beasiswa Goodwill.



Aku pikir yaudahlah ya mungkin belum saatnya semester ini. Tapi beberapa hari kemudian ada Danamon Young Leaders Award (DYLA) yang mention aku dan elsa di twitter. Kepo kepo, acaranya sejenis dengan acara dari Nutrifood dan Unilever yang aku daftar sebelumnya. Kepo kepo lagi, rupanya pihak DYLA ini dateng ke monthly meeting Young On Top kemarin disaat aku hadir di pertemuan sponsor Goodwill, yang mana rupanya sponsor aku nggak jadi hadir.

Jangan-jangan miminnya anak Young On Top yang lagi magang di Danamon, soalnya twitternya langsung mention ke aku, Elsa, Sherly, Kevin, Indi, Arfan, dll.




H-2 batas pendaftaran. Lagi UTS pula. Tetep deh daftar dan muter otak ngisi form dan nulis essay. Beberapa minggu kemudian, aku diwawancara. Di hari pengumuman TOP 30, aku ngecek websitenya, udah pesimis karena nama aku nggak muncul-muncul, klik next, next, munculnya Infra Ranisetya, Vania Santoso, terus seketika hopeless.................. yang lolos mapres Undip (kakaknya Pristi), mapres Unair (salah satu duta Tunza PBB, pernah jadi pembicara di kegiatan yang aku ikutin di ITS). 

Aku mah apa atuh.

Eh akhirnya di halaman terakhir akhirnya muncul foto aku ahaha. Alhamdulillah.

Aku nggak nyangka menjadi segetol itu dalam lima bulan terakhir. Lucu aja liat diri sendiri sedemikian rupa.
source

17 November 2013

Titik Balik


Titik balik kehidupan. Setiap orang, sadar atau tidak, pernah mengalami suatu titik dimana pemahamannya mengenai kehidupan itu berbalik, dari yang tadinya A menjadi B. Pikiran yang tadinya tertutup menjadi terbuka, jalan yang tadinya salah menjadi benar, dan lain-lain.

Pelatihan beasiswa Goodwill bulan ini mengenai public speaking dan self knowledge. Biasanya aku malas beraktif-aktif ria dalam pelatihan Goodwill yang sebelumnya, tapi berhubung bulan ini udah janji sama diri sendiri untuk berubah, jadilah aku aktif dalam berinteraksi dengan fasilitator. Hahaha puas rasanya.

Fasilitator bulan ini asik! Ada Mbak Ratu Gumelar dari Jakarta Toastmaster. Pelatihan public speaking seru dan menyenangkan karena aku dapat banyak permen yupi! Ada juga Bu Ita, seorang psikolog, yang menjadi fasilitator pelatihan mengenai self knowledge. Di sesi inilah, Bu Ita mengajak kami berbincang mengenai turning point.

source

Bu Ita mengalami beberapa kali titik balik selama hampir empat puluh tahun Beliau hidup. Pada saat SMA, Beliau memutuskan untuk mengenakan jilbab disaat keadaan Indonesia saat itu sedang sangat kontroversi dengan penggunaan pakaian agamis. Bu Ita tidak diijinkan untuk mengikuti kegiatan belajar di kelas, ia harus duduk di luar kelas sambil memandang papan tulis dari jendela.

Lulus SMA, Bu Ita terpilih menjadi salah satu pelajar yang mengikuti program pertukaran ke Jepang selama satu tahun. Lagi-lagi ia dipersulit karena mengenakan jilbab. Untungnya, keluarga Jepang yang ia tinggali dan teman-temannya di sekolah bisa memahami perbedaan keyakinan. Saat bulan puasa, pihak sekolah mengumumkan kepada seluruh siswa bahwa Bu Ita sedang berpuasa agar mereka bisa menjaga sikap dan ber-tenggang-rasa.

Beberapa tahun setelah menikah, Bu Ita harus kehilangan suaminya karena sakit. Setahun kemudian, Bu Ita juga harus kehilangan Ibunya. Kehidupan memang naik turun, namun Bu Ita yakin Tuhan memiliki skenario tersendiri bagi tiap-tiap hambaNya.

Titik Balik Kehidupan Teman-teman; Ada-ada Aja
Kami dibagi menjadi beberapa kelompok dan diminta menceritakan titik balik kehidupan kami masing-masing secara bergantian. Kesimpulannya adalah ada-ada aja.

Ada yang memutuskan untuk mengenakan jilbab karena mengikuti les di Nurul Fikri yang mewajibkan pesertanya menutup aurat. Ada yang kehilangan orangtua. Ada yang berjuang mati-matian untuk masuk universitas idaman. Ada yang bosan karena selalu mendapat peringkat pertama di Sekolah Dasar selama enam tahun. Ada!

"Aku nggak peduli sama ranking tiap mau ambil rapot karena pasti aku ranking satu terus. Udah biasa,"
"Sama! Gue juga tiap mau ambil rapot selalu mikir 'ah palingan yang ranking satu ntar gue lagi gue lagi'"

Astaga. Ahaha ada juga yang demikian ya.

Amel (lupa jurusannya pokoknya di UI) cerita mengenai kebosanannya mendapat peringkat satu dan selalu menjuarai berbagai perlombaan yang diikuti berturut-turut selama bertahun-tahun. Sampai akhirnya saat SMP kelas dua, dia nggak dapat peringkat satu lagi, dia senang! Tapi dia heran kenapa orang-orang di sekitarnya malah bersedih hahaha.

Phobia
Ada yang lucu dan gila hahaha. Kak Kiki cerita mengenai salah seorang temennya di kampus (FKG UI), sebut saja si X. Menjelang kelulusan, kan ada co-ass dan harus jaga rumah sakit, si X ini rupanya baru terdeteksi bahwa ia memiliki phobia terhadap rumah sakit. Setiap kebagian piket, si X selalu sakit, sampai akhirnya ketahuan bahwa ia punya phobia rumah sakit. Si X memutuskan untuk hengkang dari dunia kedokteran gigi (setelah empat tahun kuliah) dan pindah haluan ke jalur bisnis. Saat ini si X sedang kuliah di Canberra.

Rupanya Kak Kiki juga baru sadar bahwa dia phobia nanah. Ketika melihat salah seorang temannya (FK UI) membersihkan nanah seorang pasien, Kak Kiki mendadak pusing dan lemes. Untung dokter gigi jarang berinteraksi sama nanah -___-

Aku?
Titik balik kehidupan aku kapan aja ya? Sepertinya waktu aku pindah ke Semarang, waktu aku masuk SMP, dan tentunya setiap tahun sejak masuk kuliah selalu jadi titik balik kehidupan yang punya makna berbeda-beda. Terimakasih Ya Allah~

13 November 2013

Mestakung


Pernah denger kata mestakung alias semesta mendukung? Banyak kejadian-kejadian mestakung yang udah nggak bisa aku itung lagi, tapi hal ini baru terjadi Selasa kemarin. 

Hari Selasa, aku selesai kuliah jam 17.00 WIB di Dramaga, Kabupaten Bogor, sementara ada pertemuan mentor dan mentee jam 18.30 WIB di Senayan, Jakarta. Nampak mustahil memang. Normalnya mungkin aku sampai Senayan baru jam 20.00 WIB (dari Dramaga ke Bogor Kota sejam, kemudian nunggu kereta Tanah Abang yang superlama, kemudian menempuh macet dari Sudirman ke Senayan).

Tapi lagi-lagi ada yang namanya mestakung. Jam tiga sore aku sampai kampus dan rupanya kelas ditiadakan. Walaupun hujan, aku langsung naik angkot menuju stasiun Bogor dan lucky ada kereta Tanah Abang bertengger di gerbong tiga. Tapi sayangnya mulai berangkatnya lamaaaa banget, ada kali 40 menitan diem doang di stasiun Bogor.

Dari grup whatsapp, Anty dan Adit ngabarin kalau di Depok ujan badai dan mereka nggak bisa keluar. Tapi akhirnya Adit bisa naik kereta yang sama dari stasiun UI, sementara Anty masih ketinggalan di stasiun Depok, tapi beruntungnya lagi, langsung ada kereta Tanah Abang juga di belakang kereta yang aku naikin (padahal biasanya jaraknya sejam)!

Kami bertiga akhirnya ketemu di stasiun Sudirman. Alhamdulillah. Macet-macetan dan berdiri di metromini dari Sudirman ke Senayan enggak sendirian. Sesampainya di lokasi (Chill in Cafe, STC Senayan), ternyata malam ini Mbak Mega mau traktir kita yeeaaay! 

Ona, Adit, Arista, Rafel, Mbak Mega, Anty, aku, Dea

Aku nggak kebayang gimana semisal aku bener-bener berangkat jam 17.00 WIB dari Dramaga, atau gimana semisal aku harus nunggu kereta Tanah Abang lama seperti biasanya, atau gimana semisal enggak ketemu Adit dan Anty di Sudirman, dan atau atau yang lainnya.

Terimakasih Tuhan, terimakasih semesta!

P.S: konten pertemuannya secara garis besar aku tulis disini.

10 November 2013

Anak Mall


Semester ini jauh berbeda dari semester lalu, hampir tiap akhir pekan aku ke mall astaga... bukan hedon sih, palingan rapat, ikut klub, wawancara, dll. Sabtu lalu seharian di Senayan City, Sabtu ini nge-mall lagi~

1) McDonald Kota Kasablanka
Selasa lalu, Adit meminta kami semua berkumpul di McDonald Kota Kasablanka. Sandro dateng duluan dan menuju lantai dasar dimana foodcourt berada, dan.......... nggak ada McDonald di Kokas.

"Dit lu dimana sih? Gue udah muter-muter nggak nemu McDonald di Kokas,"
"Oh gitu ya ndro? Yah gue kira ada.....,"
"Grrr,"

Untung aku nggak ikut karena lagi di Bandung.

2) Mall Ciputa Kuningan
Sabtu ini, Adit kembali meminta untuk ketemu dan dia menunjuk Mall Ciputra Kuningan sebagai lokasinya. Di dalamnya ternyata nggak ada makanan murah! Sandro lagi-lagi dateng duluan dan nggak nemu tempat makan murah. Akhirnya kami memutuskan untuk pindah ke Mall Ambasador yang ada di depannya karena benar-benar lapar.

"Dit lu gimana sih nggak survey dulu apa cari tau di Ciputra ada makanan murah apa enggak,"
"Yah gue kan iseng aja gitu. Daripada di Kokas melulu ya sesekali coba di Ciputra,"

Astaga, udah nggak kira-kira nentuin tempat, pake telat pula jam setengah dua baru jalan dari Bekasi (janjian jam dua padahal). Akhirnya kami makan di D'Cost. Enak banget, mungkin karena aku kelaparan.


kenalin ini om sandro, paman adit, dan mbak oni. tante elsa lagi ngambil duit di ATM.

Oni ponselnya baru uhuy! Sabtu lalu ponselnya abis ilang karena ketika lagi di charge di kampus, Oni mau pergi sebentar dan menitipkan ponsel itu ke temannya, eh temannya malah ketiduran, ponselnya ilang -____- Oh ini rupanya Sabtu lalu si Ona siang-siang heboh nelepon provider 3 buat ngeblokir kartunya Oni.

Tips nge-mall: 
1) Sebaiknya udah makan di rumah
2) Bawa botol minum sendiri
3) Bawa cemilan buat dimakan bareng-bareng
4) Hindari mall-mall mewah

Hari Minggu, aku mampir ke Panti Asuhan Kampung Melayu sebelum pulang ke Bogor, disana ada kegiatan mengajar bulanan gitu. Lokasinya deket stasiun Tebet (aku baru tau daerah situ), jadi okelah.


ini Arfan lagi ngajar

07 November 2013

Bandung Barang Sejenak

Ujian seminggu lebih satu hari non-stop membuat aku dan temen-temen sekelas punya sisa waktu beberapa hari sebelum hari Senin kembali ke perkuliahan biasa. Ada yang pulang kampung, ada yang jalan-jalan ke Jogja, ada yang ke Dunia Fantasi, aku dan Galih memutuskan untuk ke Bandung sebentar. Kenapa sebentar? Karena kita juga butuh leha-leha di rumah bersama keluarga, dan aku juga ada acara lain akhir pekan ini. Tadinya Neneng dan Yuyun mau ikut, tapi batal.

Aku dan Galih memutuskan untuk tidak menumpang ke salah seorang teman kami yang berkuliah di Bandung. Selain karena tidak ingin merepotkan, teman kami berbeda (kami tidak satu sekolah pada saat SMA), kami juga mau tau bagaimana caranya pesan penginapan online hahaha. Kami pesat lewat klikhotel.com (jaman sekarang memang canggih).

Penginapan pertama di Lembang, penginapan kedua di Dago, Bandung. Usai ujian Sistem Infomasi Manajemen yang memusingkan, kami menuju terminal Baranangsiang dan langsung naik bus menuju terimal Leuwi Panjang. Kemudian, kami lanjut naik Damri ke terminal Ledeng.

"Teh kalo ada apa-apa telepon Ayah ya. Kamu udah dimana?" Ibuku telepon.
"Lagi naik bus mau ke terminal Ledeng,"
"Naik Damri ya?"
"Iya kok tau?"
"Dulu kos-kosan Ibu deket terminal. Kampus Ibu kan depan terminal Ledeng tau. Kamu inget ngggak?"

Aku tidak ingat. Ngomong-ngomong, waktu aku masih umur empat/ lima tahun, Ibuku sudah lulus D3 dari IKIP Jakarta (sekarang UNJ) dan bekerja, kemudian Ibu melanjutkan kuliah S1 di IKIP Bandung (sekarang UPI). Karena aku selalu menangis kalau ditinggal Ibu kuliah, akhirnya aku diajak kesana satu kali.

"Tapi di Bandung dingin dan enggak ada guling, kamu nggak papa?" tanya Ibu sekitar lima belas tahun lalu.
"Kok enggak ada guling? Iyadeh nggak papa,"

Di pikiranku waktu itu adalah.... di seantero Bandung tidak ada benda bernama guling. Guling hanya ada di Jakarta saja. Beberapa tahun kemudian, aku baru sadar bahwa maksud Ibu 'di Bandung nggak ada guling' adalah 'di kos-kosannya nggak ada guling'. Astaga aku merasa tertipu.

Kembali ke tahun 2013, akhirnya aku dan Galih sampai di terminal Ledeng dan langsung naik angkot putih sesuai saran sebuah blog yang menjelaskan akses menuju penginapan yang kami pesan. Di dalam angkot, kami bilang kepada kernet untuk diturunkan di Jl. Raya Lembang No. 1A. 

"Mau ke penginapan apa?"
"Rumah Pinus,"

Bapak Kernet pada awalnya memperhatikan jalanan, namun lama kelamaan beliau asyik ngobrol dengan temannya, Aku dan Galih nggak nemu-nemu Rumah Pinus sepanjang jalan tapi tiba-tiba.... " Itu neng Rumah Pinus tadi," ujar beberapa orang di dalam angkot. Wah baik sekali mereka :') Akhirnya kami sampai di Rumah Pinus, menyerahkan voucher booking, dan dipersilakan masuk ke kamar. Kamarnya bagus!!! Padahal di website keliatan sempit gitu, tapi ternyata luas.

Kamar di Rumah Pinus

Malamnya, kami keluar untuk cari makan dan memutuskan untuk makan di Warung Sate Pak Sapri (sebenernya mencari pusat pasar tapi enggak nemu-nemu jauh bener). Ih mahal jadi menyesal. Saran deh mendingan pesan di penginapan karena harganya sama aja. Kita pesan teh manis hangat. Ternyata dapat teh hangat gratis iiih tau gitu enggak usah pesen minum tadi, rugi bandar. Pulangnya nunggu angkot setengah jam dipinggir jalan kedinginan -____-

Keesokan harinya, kita naik angkot dan minta diturunkan di tempat pacuan kuda, jalan kaki lumayan jauh (hemat tanpa ojek ataupun delman), dan akhirnya sampai di De Ranch.


de Ranch

Di De Ranch, wisata utamanya adalah pacuan kuda, tapi selain itu juga ada panjang tebing, flying fox, trampolin, tangkap ikan, dll. Biaya masuknya murah, cuma 5000 rupiah. Kita tinggal pilih mau main apa aja, harga tiket tiap permainan bervariasi, sekitar 10.000-25.000 rupiah. Usai bermain-main, asiknya minum susu/ yoghurt sambil menikmati udara Lembang yang sejuk di foodcourt De Ranch. Ngomong-ngomong, harga tiket masuk itu sudah termasuk satu gelas welcome drink berupa susu loh, kita bisa pilih rasa mocca, strarberry, atau melon.

cow-girl Nadia
sebelum deg-degan panjat tebing

Keluar dari De Ranch, kita ketemu Jennifer, orang asing yang menjelaskan tentang Alkitab gitu. Semacam organisasi yang mensosialisasikan isi Alkitab agar tidak ada kesalahpahaman antar agama. Kami kemudian menuju Tangkuban Perahu naik mobil semacam ELF gitu. Sesampainya di pintu utama, ternyata kami baru tau kalo naik angkot masuk ke dalam ongkosnya 30rb plus 28rb untuk tiket masuk. Kalau naik ojek 25rb. Gila! Mahal banget! Kami enggak jadi masuk -___- Bapak kernet angkotnya kasian gitu sama muka kami hahahah. Untungnya kami nemu kebun teh yang asyik.


kebun teh
Akhirnya kita memutuskan untuk langsung ke penginapan berikutnya di Dago, Bandung. Sepanjang perjalanan, paling asik menikmati pohon pinus yang tinggi-tinggi. Walaupun siang, panasnya nggak terasa. Aaah damai banget deh pokoknya. Ternyata banyak lokasi wisata bertemakan kuda dan outbound di sepanjang jalan Lembang-Tangkuban Parahu. Kapan-kapan kalau kesini lagi mau coba ah! Selain itu di jalan banyak orang menjual buah labu dan nanas yang kecil-kecil lucu gituuu. Liat deh~


labu dan nanas kecil-kecil imut

Penginapan kedua ini agak lebih sedikit susah nyarinya. Berbekal petunjuk dari pengurus penginapan untuk turun di Taman Budaya Dago, akhirnya kami tanya-tanya orang sekitar situ. Jalanannya menanjak karena di bukit. Duh mana panas siang-siang di Bandung kota (tapi panasan Bogor-Jakarta sih). Akhirnya pas pertigaan kami bingung dan tanya seorang Bapak yang lagi manasin mobil.

"Permisi pak, nomor 20C dimana ya?"
"What"
"Where is Bukit Dago II Street Number 20C?"
"No. No. Saya bukan orang asing,"

-_______- Lah! Ngapain tadi bilang what what segala mana mukanya chinese gitu kan mendukung banget tuh! Untung beliau tau lokasi yang kami maksud. Fiuh. Akhirnya kami sampai di penginapan Bantal Guling Guest House. Kamarnya nyaman, ber-AC, cuma lebih sempit dan nggak ada guling. Aneh banget namanya Bantal Guling tapi enggak menyediakan guling?!

kamar di Bantal Guling Guest House

Sorenya kami main ke Jalan Braga. Kalau biasanya sudut 'tua'/ 'lama' di sebuah kota itu sepi dan mati, berbeda halnya dengan Jalan Braga yang ramai dan lebih hidup. Jalanannya tidak menggunakan aspal, melainkan paving (sepertinya ini namanya). Bangunannya kuno dan masih digunakan untuk toko maupun penginapan.

kumpulan lukisan di Jalan Braga

salah satu bangunan tua paling besar

Puas berjalan-jalan di Braga, kami liat-liat Factory Outlet (hanya melihat) dan makan di Pizza Domino. Mumpung hari Selasa ada promo beli satu pizza, gratis satu pizza, buat kami makan dua kali dengan nanti malam hahaha hemat. Tadinya mau ke museum sekalian, tapi mengingat ini tanggal merah, jadi ya ditunda besok aja deh.

beef-mushroom pizza dan american classic cheese burger pizza

Pulangnya kami naik angkot lagi dan ada anak kecil nangis tanpa alasan nggak berhenti-berhenti. Dia melirik ke arah pintu angkot terus sambil mengarahkan tangannya kesana seolah-olah ada yang mau dicapai. Dipeluk ibunya enggak mau. Dilepas ibunya, dia malah berjalan ke arah pintu angkot. Dugaanku, dia melihat hantu! Tapi aku baca ayat kursi tetap saja dia menangis sambil mau ke arah pintu angkot. Hiiii.

Besoknya kami ke Museum Kereta Api dan gagal karena ternyata museumnya udah nggak ada -_____- Kami juga mampir ke Saung Angklung Udjo meskipun enggak nonton pertunjukannya karena mahal hahaha (untuk mahasiswa dan umum 60.000 rupiah). Yaudah deh kapan-kapan aja. Walau cuma sebentar yang penting seru dan aneh. Aku pulang ke Bogor dulu karena mau beres-beres kamar, baru deh Kamisnya pulang ke Jakarta yeay~

03 November 2013

Nopember dan Ngeberesin Idup

Aku pikir aku cuma butuh baca buku pengembangan diri jaman dulu waktu masih abege seperti yang aku tulis disini, tapi pada kenyataannya di awal umur 20an ini, kebutuhan hidup dan problem yang dihadapi berbeda dan makin rumit. Sebagai manusia tipe cenderung melankolis, aku suka bingung dan mikir 'harus gimana ya' atau 'kok aku begini sih'. Aku dan teman-teman diminta oleh Mbak Bunga Mega untuk wajib membaca buku 8 Easy Steps to Coach Yourself to Success karya Andrea Molloy.

Setelah sekitar sebulan cari buku ini di berbagai toko buku yang 'nyata' maupun 'maya' dan enggak ketemu-ketemu, akhirnya Fiona, temen satu kelompok mentoring, nemu juga di salah satu toko buku 'nyata' dan memborong sebanyak tujuh biji. Perjuangan buat cari buku ini nggak sia-sia karena...... isinya bermanfaat banget!

8 Easy Steps to Coach Yourself to Success

Apaan tuh life coaching? Hampir setiap atlet olimpiade punya coach yang membantu mereka berlatih agar bisa mencapai target. Konsep tersebut dapat dianalogikan seperti itu, tapi life coaching kerap menggunakan metode konseling dan terapi psikologi. Berhubung engga mampu menyewa life coach, ya pake buku enggak apa-apa lah yauw.

Berhubung aku belum selesai bacanya, jadi belum bisa bikin review secara keseluruhan. Tapi aku mau tulis hal menarik pertama yang aku baca di buku ini, yaitu di kolom tip dari bab satu.


Untuk mengidentifikasi target Anda, mulailah dengan merenungkan tentang seberapa bahagianya Anda dengan hidup Anda sekarang. Dari skala 1-10, ukurlah kepuasan Anda mulai dari aspek karier, pendidikan, keuangan, kesehatan, kebugaran, keluarga, menjalani hubungan, dan rekreasi. Dari kegiatan ini, Anda akan tahu mana aspek hidup Anda yang belum memuaskan Anda. Pikirkanlah cara untuk memperbaikinya.

Pada awalnya terkesan bahwa 'ah buku ini nggak cocok buat aku. Ini mah buku buat orang yang udah kerja, udah menikah, dll'. Tapi ya masa mau nyerah gitu aja, mikir kreatif dikit, misalnya aspek karier bisa diibaratkan tentang kinerja kita di organisasi maupun komunitas yang kita seriusin (yang sejalan dengan passion kita, bukan sekedar hobi belaka).

Hasilnya?
Karier 4
Pendidikan 7
Rekreasi 2
(udah segini aja yang ditampilin ahahah)

Betapa mikirnya aku 'lah kok begini amat hasilnya'. Jadi ngetawain diri sendiri. Aku mulai menyusun rencana untuk memperbaiki hidup aku yang acak-acakan dan tidak seimbang ini dan baru mau memulai bulan Nopember (menurut KBBI begini kan ya penulisannya?) ini wuhuuu walaupun 2013 udah mau abis aja tapi aku enggak terlambat kan ya!

Aku abis ujian lima hari non-stop (ada yang sehari dua kali) ujian. Sisanya tinggal satu. Pulang dulu ke Jakarta untuk menghindari hiruk pikuk Bogor. Emang ya musuh terbesar tuh setan, setan yang bersarang dalam diri sendiri tepatnya. Betapa enaknya akhir pekan leha-leha di rumah sambil ngemil dan nonton televisi, tapi setelah inget catetan kepuasan terhadap aspek-aspek yang aku ukur dan target serta rencana untuk memperbaikinya, lumayan jadi bisa ngelawan setan dalam diri ini.

Hari Sabtu seharian bareng Fiona dan Sarah (plus Eva, Tyo) di Senayan City untuk mewawancarai calon relawan buat acara donor darah Young On Top bertajuk Love Donation Pebruari nanti. Nggak nyangka, aku ketemu Rizqa temen SMA (kami terakhir ketemu 4 bulan lalu) kyaa senang. Mengenai wawancara, ya pegel juga, wawancaranya bener-bener detil dan rapi. Udah sekitar dua bulan vakum dari kegiatan Young On Top (selain mentoring dan kegiatan tim Marketing Communication) akibat harus ke dokter dan ketemu acara beasiswa tiap akhir pekan. Pertama kali bangetlah aku begini. Kepuasan terhadap aspek karier jadi meningkat.

Hari Minggu, aku jam enam pagi udah bertengger di Fx Sudirman buat jogging rame-rame sampe Bundaran Hotel Indonesia. Ngomong-ngomong disini aku ketemu adik kelas waktu SMA, nggak nyangka kyaa. Selain itu dapet pengetahuan baru mengenai pentingnya menyayangi tulang ekor dari Mas Anggia Silalahi. Walaupun kaki pegel, rasanya seneng parah karena aku super duper jarang olahraga. Udah lama aku nggak se-berkeringat dan se-capek itu. Kepuasan terhadap aspek kebugaran jadi meningkat.

Beberapa orang berkomentar 'Kamu ngapain sih baca buku beginian kayak orang frustasi dan desperate aja' atau 'Ngapain bikin target-target kaya begitu, hidup mah selow aja santai nggak usah serius-serius kali'.

Yeee biarin aja ya kan, ya kan, tipe orang kan beda-beda. Lagipula nyusun-nyusun target kaya begini bukan berarti serius melulu, pokoknya buka pikiran aja deh, nggak dipungkiri bahwa kita perlu belajar dari banyak orang agar bisa menentukan cara kita menghadapi hidup kita sendiri. Yea~

26 Oktober 2013

Get Together with Goodwill Sponsors

Hari ini sedikit menyedihkan. Ada monthly meeting Young On Top dan sudah bulan kedua aku nggak bisa ikut. Bulan sebelumnya, aku harus kontrol ke dokter. Sementara bulan ini, aku harus hadir di acara Get Together, pertemuan penerima beasiswa Goodwill dengan sponsornya masing-masing. Bu Mien sudah wanti-wanti sejak dulu bahwa kami wajib hadir di acara Get Together karena para sponsor akan hadir.

Pagi-pagi aku dan teman-teman udah sampai di FISIP UI (lokasi Get Together di auditorium-nya). Ngobrol dengan Bu Mien dan melihat daftar sponsor yang konfirmasi hadir dan...... betapa kecewanya aku karena sponsorku, pihak American Chamber of Commerce/ AmCham, tidak konfirmasi hadir. Padahal aku super duper ingin bertemu hiks.


padahal sudah kepo terlebih dahulu mengenai sponsor

Acara dimulai. Mulai banyak bule-bule berdatangan dari Nordic Club, American Women's Association, British International School-PTA, St. Patrick’s Society, beberapa orang secara pribadi (tanpa organisasi/ perusahaan) dan kelompok alumni. Yang menarik, ada seorang bapak bernama William Sunderlin, beliau mensponsori sekitar 10 anak, waktu makan siang, mereka kumpul bareng dan seperti seorang Ayah dengan banyak anak hihi. Yang lucu lagi, si Ayu, disponsori oleh Kimberly Fisher dan suaminya, Daniel Horan, mereka berfoto dan makan siang seperti orangtua dan satu anak tunggalnya.


bersama sponsor dan pengurus yayasan


Aku sempet ngobrol dengan salah satu teman dari FKG UI yang sponsornya juga tidak hadir sejak tahun lalu karena tinggal di luar negeri (dia ikut perpanjangan beasiswa lagi tahun ini), katanya AmCham membiayai special training Goodwill tahun lalu (pelatihan khusus di Wisma Kinasih, Puncak, tiap April). AmCham juga ada di daftar fasilitator pelatihan terakhir bulan Juni 2014. Semoga aku bisa ketemu AmCham di Get Together berikutnya aamin!

Ohiya mengapa hari ini sedikit menyedihkan? Karena ternyata Mas Rene Suhardono hadir jadi tamu di monthly meeting Young On Top! Aku penggemar bukunya padahal. Sayang banget aku nggak bisa hadir. Dan besok Senin aku UTS dua biji kyaaaa~