20 Februari 2013

Goodwill Scholarship Interview

"Selamat siang?"
"Ya? Siang,"
"Dengan Nadia Azka dari IPB?"
"Ya, ini darimana?"
"Kami dari Yayasan Goodwill International, Anda diminta menghubungi Bu Rosa di nomor telepon kantor kami besok Senin. Nomornya XXXX,"

Itu telepon yang aku terima tanggal 10 Februari. Jaman sekarang ini banyak modus penipuan. Apalagi terkait kalimat "diminta menghubungi" orang penting. Untuk memastikan bahwa itu bukan penipuan, jadi aku cek ke official websitenya Goodwill, rupanya nama dan nomor telepon yang disebutkan memang ada dan benar-benar dari kantor yang bersangkutan.

Dua bulan lalu, aku kirim aplikasi untuk melamar sebagai penerima beasiswa Goodwill. Super ribet memang karena calon pelamar beasiswa diharuskan mengisi berlembar-lembar formulir dan membuat cukup banyak essay dalam bahasa Inggris. Tapi justru disitu menariknya! Ketika beasiswa lainnya hanya memberi syarat untuk mengumpulkan transkrip nilai, slip gaji orangtua, dll, si Goodwill meminta calon pelamar untuk menjawab banyak pertanyaan super menarik dan essay dalam bahasa Inggris. Dari proses pengisian formulir dan membuat essay, aku banyak belajar.

Setelah aku menelepon kantor dan mendapat tanggal wawancara, yaitu tanggal 19 Februari di kantor Goodwill di daerah Komplek Perumahan Departemen Pertanian, Pasar Minggu. Aku diminta mengumpulkan surat rekomendasi dari dosen pembimbing akademik (PA) dan dosen yang menjabat sebagai kepala departemen (kadep). Minta tanda tangan dosen itu perlu pengorbanan perasaan dan waktu karena bener-bener nggak bisa dibilang mudah. Bahkan, aku dan Galih (temen satu jurusan yang juga akan mengikuti wawancara) sampai harus menemui dosen ke kampus pascasarjana IPB di Baranangsiang. Tapi ada hikmahnya, aku jadi bisa sekalian ke gramedia Botani Square untuk beli buku baru!

Tibalah di hari Senin dimana aku cuma kuliah sampai jam 11.40. Karena besok Selasa pagi jadwal aku wawancara, jadi siang itu aku pulang menuju rumah nenek di Jakarta. Biar berangkatnya rumah nenek aja, kan lebih deket dan nggak terburu-buru daripada aku berangkat pagi-pagi dari Bogor. Kebetulan, besok Selasa yang biasanya ada kuliah pagi dibatalkan karena dosennya sedang berhalangan. Hore, aku nggak harus bolos!

Selasa pagi aku berangkat dari rumah nenek jam 07.30. Jalanan macet, sempet nyasar, jadi aku baru sampai di lokasi pukul 08.55. Hari itu ada tiga orang yang diwawancara. Satu mahasiswa UI dan dua mahasiswa IPB (termasuk aku). Pewawancara aku rupanya ibu-ibu orang Indonesia (walaupun Beliau berbicara bahasa Inggris), sama dengan temen aku, Alul, yang udah wawancara hari sebelumnya. Aku kira pewawancaranya bakal orang asing karena waktu googling, aku nemu blog yang menceritakan pengalamannya ketika wawancara beasiswa ini dan pewawancaranya adalah orang asing. Tapi si Galih (wawancara hari Kamis) kebagian diwawancara orang asing. Beda-beda ya.

Aku dapet urutan ke-tiga. Si anak UI yang pertama diwawancara. Dia masuk ke ruangan dan suaranya terdengar samar-samar. Dia diminta baca puisi loh! Terus dia baca puisinya Chairil Anwar. Si anak IPB yang berikutnya diwawancara. Suaranya juga samar-samar terdengar. Dan disini aku mulai deg-degan karena terdengar pembicaraan mengenai government bla bla bla. Gimana ntar kalau aku ditanya yang aneh-aneh? Akhirnya giliran aku tiba. Aku masuk ruangan.

"Good morning,"
"Good morning. Sit down please,"
"Thank you,"
"So, you are Nadia Azka? 'Azka' means 'good', right?"

Di essay mengenai cerita tentang diri kita sendiri, aku menulis pengertian dan doa yang terkandung dalam nama aku sebagai paragraf pembuka. Dimulailah sesi wawancara, Bu Min menanyakan soal mengapa aku mengajukan diri sebagai penerima beasiswa Goodwill, dilanjutkan dengan pertanyaannya mengenai keluarga, mengapa aku memilih jurusan manajemen, rencana jangka panjang, dll.

"What will you do after graduate from the university,"
"I have planned it. I would like to work in a company for some years and collecting money to opened my own business. I wanna be an entrepreneur and help people to get a job,"
"Good. What business?"
"A bakery. I will apply food diversification on my future bakery,"

Beliau menanyakan penerapan diversifikasi pangan ke sebuah toko roti impianku ini. Aku jelaskan sedikit mengenai bahan bakunya yang bukan dari gandum, tapi dari pangan lokal yang bermacam-macam seperti ubi, singkong, dll.

"Do you have plan to continue your study abroad?"
"Of course! It's my dream!"
"What country do you like to continue your study?"
"Turkey! Because it's located between Asia and Europe. I will learn a lot there,"
"Do you think that Turkey is a good place to study when you have to reach dream to have your own food-diversification bakery?"

Disitu aku mati kutu 2 detik. Baru sadar, harusnya kalau mau belajar soal pertanian yang bagus baiknya ke Belanda, bukan Turki -___- Aku berkelit. Aku bilang aku bisa menggabungkan ilmunya karena di IPB aku cukup banyak belajar soal diversifikasi pangan.

"So, you wrote that you were becoming an ethnic bag reseller?"
"Yes, it named Maika,"
"Can I see the bag?"
"Oh I don't bring the bag but I bring the catalogue,"
"Wow, so you bring the catalogue?"
"Yes, because I also came to Jakarta yesterday to send it to my customer,"
"How did you sell it?"
"I sell it online,"
"Are you still sell it? By yourself?"
"Yes, I still sell it since February 2012. But because it needs lotta money, so I work with my friend,"
"Wow how smart you are,"

Kebetulan banget abis nganter tas buat Yeyek dan bawa katalog terbaru Maika juga. Bu Min bilang Beliau sangat tertarik dengan kegiatan-kegiatan aku. Beliau banyak bertanya soal bagaimana Sanggar Juara mendapatkan dana, apakah aku dibayar ketika turun lapang, apa saja kegiatan Indonesian Youth Act, dan Beliau kaget ketika aku bercerita mengenai kegiatan aku dulu di Uni Konservasi Fauna soal pengamatan elang hitam di kampus. Beliau kira elang di kampus dikandangin, padahal mah terbang bebas lewat di atas LSI tiap pukul lima sore-an.

Di akhir wawancara, aku tiba-tiba inget di panduan "How To Answer 64 Toughest Interview Questions" dituliskan mengenai jika pewawancara menanyakan apakah dirinya merupakan pewawancara yang bagus. Bu Min enggak tanya soal itu, tapi aku inisiatif aja.

"You're a good interviewer, Maam,"
"Aww why did you say that?"
"Because you're very friendly,"
"Waah thank you,"

Segala keputusan ada di tangan Allah di akhir Juli nanti. Aku banyak belajar dan dapet pengalaman dari proses wawancara ini. Aku sampai kampus jam satu kurang satu menit, ada kuliah jam satu, jadi aku buru-buru naik ojek dari GWW dan sampai ruang kelas dengan tepat waktu! Thanks God.

4 komentar:

Eriska Triana P mengatakan...

keren kak, semoga impiannya tercapai dan dapat beasiswa :)

Umi Trimukti mengatakan...

di tunggu kabar gembiranya azka :)

Nadia Azka mengatakan...

aamiin. semua terserah Allah, yang penting udah berusaha maksimal.

deya mengatakan...

Terimakasih sharingnya kak