14 April 2013

Budaya Ngaret

Akhirnya Ujian Tengah Semester (UTS) aku beres juga alhamdulillah! Beres ujian, aku langsung pulang ke Jakarta karena ada keperluan nganterin barang buat yeyek-yeyek (tante) aku. Aku nggak ikut main ke Pantai Sawarna, Malam Keakraban, ataupun sekedar jalan-jalan sama temen. Jadi aku pilih alternatif lain. Kebetulan aku nemu informasi seminar tentang social business di Jakarta. Berhubung memang lagi tertarik dan mau belajar soal itu buat diterapkan tahun ini, aku daftar.

Dibalik mewahnya lokasi seminar di grand ballroom hotel, gratisnya tiket seminar, pembicara yang keren, panitia dari organisasi (yang katanya) internasional dari kampus yang (katanya) diidam-idamkan mayoritas anak SMA kelas tiga, ada hal yang 'merusak' semua itu, yaitu: budaya ngaret.

Budaya ngaret? Yep. Malam sebelum hari H, panitia mengirimkan pesan bahwa para peserta harus sudah sampai di lokasi pukul delapan untuk registrasi, karena acara akan dimulai pukul sembilan. Karena acara dikabarkan dimulai pukul sembilan, aku dan Ayu tenang-tenang aja sampai lokasi pukul setengah sembilan. Tapi rupanya panitianya ngaretos siempre. Acara baru dimulai pukul setengah sebelas.

Yang paling membosankan adalah ketika mendengarkan sambutan dari salah satu pihak kementrian perekonomian. Kebanyak kalimat diulang-ulang sampai hampir satu jam, mending bagus, nyatanya enggak. Padahal menurut rundown, cuma dijadwalkan 20 menit. Aku sampe tidur (beneran). Akibatnya pas tiba sesi talkshow, pembicara yang hadir nggak punya banyak waktu buat memaparkan materi, ah padahal disitu intinyaaa *sebel.

Salah satu pembicara bahkan dengan jelas mengkritik panitia diatas panggung. Beliau juga mengungkapkan kritik dan sarannya via akun twitter pribadinya (nggak disebut nama acara dan siapa panitianya).
 

pembicara yang dikecewakan

Pembicara tersebut mengungkapkan kekecewaannya terhadap anak muda yang katanya mau jadi agen perubahan, tapi untuk kebiasaan kecil seperti tepat waktu aja masih enggan ditegakkan.

Kekecewaan aku terhadap sesi pembukaan dan sesi pertama talkshow sedikit terobati lah waktu jam makan siang hahaha. Nasi, ayam kecap, dendeng, udang balado, sayur jagung muda, plus puding pandan vla cukup memperbaiki suasana hati siang itu. Tapi dipikir-pikir ada hikmahnya juga atas tragedi ngaret tadi. Aku dan peserta lain jadi 'tersentil' kata-kata pembicara tersebut. Ya, harus lebih hati-hati untuk nggak ngaret lagi di kehidupan sehari-hari nantinya.

Talkshow sesi kedua berjalan lancar dan nggak mengecewakan seperti sesi sebelumnya. Tapi ada satu hal menarik yang lebih 'menyentil' daripada materi-materi yang disampaikan para pembicara. Salah satu pembicara yang gayanya agak nyentrik, berkata, "Saya mau minta follow-up dari panitia. Apa tindak lanjut setelah adanya seminar ini? Benar-benar diaplikasikan atau tidak? Atau jangan-jangan panitia dari kampus ternama ini cuma pinter bikin acara saja?". Jleb. Semua ketawa.

Banyak pelajaran unik yang didapet pada seminar kali ini. Nggak cuma dari materi yang disampaikan, melainkan juga dari setiap kalimat lain yang keluar dari mulut para pembicara yang inspiratif. Terimakasih atas semua pihak yang terlibat, terutama buat yang masak macaroni schotel dan croissant, juga buat yang ngasih majalah Marketeers :)

Tidak ada komentar: