11 Mei 2013

Ayo Belajar Belanja Sambil Antre


Halo! Hari Sabtu ini seperti biasa kami turun lapang rutin ke Desa Pabuaran, Ciaruteun Ilir, Kabupaten Bogor. Ada delapan kakak asuh yang hari ini mendonorkan waktu luangnya untuk mengajar lagi, yaitu Feber, Ferdi, Citra, Azka, Raudhah, Audina, Gia dan Yosita. 

Kabupaten Bogor di pagi menjelang siang itu terkena sinar matahari yang lumayan terik. Puluhan angkot di jalan yang tidak terlalu lebar membuat arus lalu lintas menjadi tidak lancar. Tetapi semangat kami jauh lebih membara daripada suhu udara di angkot sewaan saat itu.

Adik-adik Sanggar Juara sudah lebih dulu sampai di markas kecil kami. Dua orang anak laki-laki yang pemberani memimpin doa untuk membuka kegiatan hari ini. 

“Apa kabar Sanggar Juara???” tanya kami usai berdoa.
“Luar biasa sehat, cerdas, ceria!!!” pekikan semangat mereka bahkan mengalahkan suporter tim olahraga manapun.

Jika Sabtu lalu adik-adik belajar membuat nata de coco, maka Sabtu ini kami mengajak adik-adik untuk membuat tempat pensil yang bisa diletakkan di atas meja mereka. Tema belajar hari ini selain memanfaatkan barang bekas, yaitu mengajarkan budaya mengantre kepada adik-adik Sanggar Juara sejak dini.

Belajar budaya mengantre? Bagaimana caranya? Adik-adik dibagi menjadi lima kelompok. Setiap kelompok diberikan tiga botol bekas kemasan air mineral. Beberapa kakak asuh bertugas menjadi pemilik warung yang menjual barang-barang yang adik-adik butuhkan untuk menghias tempat pensil mereka.

Setiap kelompok dibekali beberapa lembar uang dengan nominal berbeda-beda untuk membeli barang yang berbeda-beda pula. Ada warung pemotong botol, penjual gunting, penjual spidol, penjual lem, dan penjual kertas warna. Masing-masing adik di dalam kelompok tersebut memiliki tugas untuk menuju warung/ toko yang berbeda-beda dan dibekali lembaran uang yang berbeda. Mereka harus belajar berbelanja sambil mengantre.

Rupanya sangat sulit membiasakan adik-adik mengantre untuk mendapatkan sesuatu. Masih sangat banyak adik-adik yang menyerobot antrean temannya dan enggan mengantre. Kakak-kakak yang menjadi penjual dibuat harus ekstra bersabar untuk mengajarkan budaya antre kepada mereka. Tetapi sulit bukan berarti tidak bisa. Setelah diberi pemahaman mengapa kita harus mengantre, adik-adik sedikit demi sedikit mulai membentuk barisan dengan tertib untuk berbelanja.

Antre itu penting lho, karena dengan mengantre berarti kita menghargai keperluan manusia lain. Enggan mengantre berarti kita menganggap bahwa keperluan orang lain tidak lebih penting daripada keperluan kita. Untuk menghindari hal itu, perlu diajarkan dan dibiasakan budaya mengantre sejak dini.

hasil karya salah satu kelompok
Satu kelompok terbaik kami pilih sebagai juara. Selain karena tempat pensil yang mereka buat sangat kreatif, mereka juga sangat kompak dan semangat meneriakkan yel-yel. Di penghujung kegiatan, bersama-sama kami menyanyikan lagu “Terimakasih Guru” dan membaca doa penutup.


beberapa adik-adik Juara
(Kebagian nulis jurnal buat Sanggar Juara atas turun lapang hari ini, sekalian post di blog. foto-foto oleh Audina Amanda)

Tidak ada komentar: