23 Juni 2013

I Am Locavore



Locavore. Istilah ini pertama kali aku dengar tahun lalu waktu mampir ke gerai Indonesia Berseru di Social Media Festival 2012. Jadi apa itu locavore? Pernah belajar IPA waktu SD kan? Nah, makhluk hidup itu ada yang karnivore, herbivore, dan omnivore. Nah, istilah locavore merupakan plesetan unik dari istilah  itu. Locavore merupakan gerakan yang mengkampanyekan pentingnya mengonsumsi pangan lokal. 

Apa itu pangan lokal? Mengapa penting untuk dikonsumsi?
Pangan lokal merupakan pangan yang diproduksi dan diolah di suatu daerah tertentu (dalam konteks ini, Indonesia). Pangan lokal itu identitas, ciri khas. Bukan berarti pangan impor tidak boleh dikonsumsi, tetapi sebaiknya dibatasi jangan berlebihan. Dengan mengonsumsi pangan lokal, secara tidak langsung, kita juga membantu petani lokal, produsen lokal, dan meningkatkan kesejahteraan negeri kita sendiri. Pangan lokal itu lebih segar, lebih sehat, karena tidak mengalami proses dan perjalanan yang panjang dari tangan produsen ke konsumen akhir.

Youth Camp Indonesia Berseru 2013
Acara tahunan ini merupakan kolaborasi antara Indonesia Berseru dan Veco Indonesia. Setelah melalui proses seleksi essay, ada 20 orang yang berhak mengikuti acara ini gratis ditambah 20 orang lainnya delegasi dari Yayasan Pangan Sehat Indonesia (Solo) dan Healthy Life Healthy Food (Bali). Aku tertarik dengan isu ini karena ini jadi hal penting buat menyusun rencana hidup ke depannya untuk buka usaha pribadi di bidang pangan lokal (aamin!)

Lokasi perkemahan sangat jauh dan berada di ketinggian. Kami harus jalan kaki naik ke lokasi karena tingkat kemiringan jalan terlalu ekstrim untuk dilewati kendaraan roda empat. Pegel. Saat itu juga aku mempertanyakan lagi pada diri sendiri soal keinginan untuk naik gunung. Baru berapa puluh meter aja udah kapok begini. Alhamdulillah lokasi perkemahan yang super nyaman dan indah bisa mengobati perjalanan panjang hari itu.

Ohiya disini aku ketemu lagi sama Risma dan Nafis dari Sampoerna School of Education (SSE) yang sekarang namanya berubah jadi Universitas Siswa Bangsa Internasional (USBI). Bulan lalu kami ketemu di Museum Nasional.

D'Jungle Private Camp, Ciburial, Bogor

Selama tiga hari, kami dapat banyak materi soal pengembangan potensi diri dan diskusi mengenai pangan. Ah seru parah! Banyak hal mencengangkan yang selama ini aku bahkan nggak tahu. Semacam merasa gagal jadi anak pertanian karena selama ini informasi dan pengetahuan soal pangan cuma aku dapat dari matakuliah Pengantar Ilmu Pertanian dan Bisnis Internasional. Jadi harus banyak belajar lagi.

mbak Ida lagi speak-up

tim onde-onde; Kak Mor (Garut), Mita (Solo), Yoseph (Bali), aku, Tresna

Selain materi dan diskusi yang terlampau seru, kami juga turun lapang langsung untuk mengamati kondisi pertanian dan pola konsumsi pangan warga sekitar. Aku dan kelompokku berkunjung ke Kampung Pasir Manis dan menemukan warga setempat yang bersedia menjadi responden, beliau bernama Mak Rum, usianya sekitar 70 tahun-an.

Kak Mor, Tresna, dan Mak Rum

Berdasarkan pengamatan beberapa kelompok, masyarakat setempat dikenal sangat senang mengonsumsi mie instan hampir setiap hari. Menggiurkan sih memang enak, praktis, dan mudah didapat. Sayangnya kandungan gizinya kurang baik dan mie terbuat dari gandum yang sudah pasti impor. Tercemar gaya hidup serba instan dan praktis, mereka juga sangat menyukai junk food macam McD dan KFC dan menganggap mengonsumsi junk food merupakan hal yang keren.

Pekerjaan masyarakat sekitar tidak lagi berfokus pada bidang pertanian, melainkan pariwisata. Banyak villa dan air terjun yang dikelola oleh suatu perusahaan sementara warga setempat menjadi karyawannya. Beberapa masyarakat juga menginginkan solusi dari masalah ini, penyuluhan serta pendampingan pertanian dan pangan menjadi alternatif.

Tapi ada satu keluarga yang unik, ibu rumah tangga yang bersangkutan menerapkan pola diversifikasi pangan kepada anak-anaknya! Mereka tidak hanya makan nasi, melainkan juga jagung, singkong, dan ubi sebagai alternatif pangan. Ibu ini justru sangat menghindari konsumsi mie instan untuk anak-anaknya. Ternyata jelas banget peran ibu yang cerdas selaku manajer rumah tangga.

Setidaknya mulai sekarang perlu ada pertimbangan sebelum mengonsumsi sesuatu, darimana pangan tersebut berasal? Sehatkah? Segarkah? Siapa yang kita untungkan apabila kita membelinya?


foto-foto oleh Mas Tejo dan Yoseph

Tidak ada komentar: