01 Agustus 2013

Catatan Na Willa

Semalam usai rapat di tempat makan di sebuah mall, aku iseng mampir ke toko buku. Berbeda dengan bulan-bulan sebelumnya dimana aku sedang niat-niatnya membeli buku-buku yang serius, kali ini aku mau beli buku yang santai dan sederhana aja. Aku nggak terlalu suka novel fiksi, jadi aku beralih ke rak-rak yang menyediakan sastra.

Diantara kumpulan buku-buku dengan judul lugas menantang dan desain sampul yang tidak menarik, ada satu buku tipis yang berbeda. Warnanya krem pudar, seperti tikar anyaman milik nenek, font judulnya aneh tapi aku suka, dan ilustrasi yang terkesan antik; Na Willa. Cerita oleh Reda Gaudiamo. Ilustrasi oleh Cecilia Hidayat.

Ini jelas fiksi, tapi kenapa bisa begitu menarik ya. Aku selalu suka cerita dan memoar soal masa kanak-kanak, apalagi disertai ilustrasi sederhana. Seketika aku ingat serial Lupus Kecil dengan cerita dari Hilman Hariwijaya dan ilustrasi dari Wedha. Sama-sama fiksi sederhana dan menarik.

Kata orang, dunia anak kecil adalah dunia yang polos dan serba terus terang. Dunia yang penuh dengan keriangan, kekaguman, bahkan keterkejutan. Kisah dalam buku ini mengungkan kenangan seorang anak kecil berusia lima tahun bernama Na Willa. Na Willa memiliki Ibu orang jawa dan seorang Bapak keturunan Tionghoa. Berlatar tahun 1960-an, Na Willa tinggal di sebuah gang kecil di Surabaya. Bapak Na Willa seorang pelaut, karenanya kisah keseharian Na Willa banyak bercerita tentang interaksinya dengan sang Ibu.

Na Willa sama seperti anak-anak pada umumnya. Ia banyak bertanya. Ia dipenuhi jutaan rasa penasaran. Mengapa Bapak tidak pergi pagi pulang sore seperti tetangga? Mengapa ada orang yang mengejeknya cino? Pertanyaan-pertanyaan tersebut muncul dalam benak Na Willa ketika berinteraksi dengan orang-orang dan menemukan benda-benda. Na Willa yang tadinya hanya berkeliaran di sekitar rumah, akhirnya menemukan dunia baru, yaitu sekolah, dimana rasa penasaran sekaligus gembiranya semakin meluap-luap.

Bagi kalian yang suka memoar masa kanak-kanak, coba baca Totto-chan, Gadis Cilik di Jendela (Tetsuko Kuroyanagi), Botchan (Natsume Soseki), dan Nenek Hebat dari Saga (Yoshichi Shimada). Berbeda dengan Na Willa ataupun Lupus Kecil, ketiga buku barusan adalah kisah nyata para penulisnya yang dikemas dalam narasi.

Tidak ada komentar: