23 Agustus 2013

Menyoal Ospek dan Kebutuhan

Ospek atau entah dengan nama apapun kalian menyebutnya, aku pandang sebagai sebuah kebutuhan. Kebutuhan untuk mengenal suatu objek, dalam konteks ini yaitu berupa universitas, fakultas, maupun jurusan, menyoal pihak-pihak yang berkepentingan di dalamnya, prestasi, tips, dll. Jika dilihat dari berbagai macam sisi, ospek ini lebih banyak manfaatnya daripada ruginya (misal: waktu, tenaga, uang, dll).

Ikutlah ospek karena butuh. Bukan karena sekadar memenuhi kewajiban. Soal melaksanakan tugas-tugas dengan total, itu kembali lagi pada kebutuhan. Menjadi salah satu panitia ospek tahun ini membawa aku pada suatu sudut pandang baru. Aku melihat junior sebagai cerminan aku yang dulu.

Terus terang, hal-hal semacam solidaritas, kekompakan, menghormati senior dan lalalalala terdengar membosankan di telingaku ketika disinggung saat ospek berlangsung. Kenapa kekompakan kelas harus dikait-kaitkan dengan mengikuti rangkaian kegiatan yang dibuat oleh senior bersama-sama? Kenapa aku harus menyapa senior yang bahkan tidak peduli-peduli amat soal keberadaanku? Apa gunanya aku datang ke malam keakraban yang tidak mengakrabkan? Lagi-lagi, semuanya kembali pada kebutuhan pribadi masing-masing.

Tapi sayangnya hidup bukan hanya soal seberapa butuh atau tidak butuh. Kadangkala, prinsip, moral dan etika jauh lebih berperan... Kita bukan robot yang harus mengikuti setiap hal yang diperintahkan manusia lain, kita tahu mana yang baik mana yang benar, mana yang perlu dilakukan mana yang tidak, mana yang buang-buang waktu mana yang berguna, mana yang nonsense mana yang penting, ikuti sesuai prinsip.

Ngomong-ngomong, 'mengikuti prinsip' itu berbeda ya dengan 'malas'.

2 komentar:

Rieza Amalia mengatakan...

setuju banget sama 3 pertanyaan 'kenapa' mu ka. cieeeeh jd senior yg ngospek. ga bs bayangin wajahmu wakakak

Nadia Azka mengatakan...

godaan banget za untuk senyum dan ketawa.