07 November 2013

Bandung Barang Sejenak

Ujian seminggu lebih satu hari non-stop membuat aku dan temen-temen sekelas punya sisa waktu beberapa hari sebelum hari Senin kembali ke perkuliahan biasa. Ada yang pulang kampung, ada yang jalan-jalan ke Jogja, ada yang ke Dunia Fantasi, aku dan Galih memutuskan untuk ke Bandung sebentar. Kenapa sebentar? Karena kita juga butuh leha-leha di rumah bersama keluarga, dan aku juga ada acara lain akhir pekan ini. Tadinya Neneng dan Yuyun mau ikut, tapi batal.

Aku dan Galih memutuskan untuk tidak menumpang ke salah seorang teman kami yang berkuliah di Bandung. Selain karena tidak ingin merepotkan, teman kami berbeda (kami tidak satu sekolah pada saat SMA), kami juga mau tau bagaimana caranya pesan penginapan online hahaha. Kami pesat lewat klikhotel.com (jaman sekarang memang canggih).

Penginapan pertama di Lembang, penginapan kedua di Dago, Bandung. Usai ujian Sistem Infomasi Manajemen yang memusingkan, kami menuju terminal Baranangsiang dan langsung naik bus menuju terimal Leuwi Panjang. Kemudian, kami lanjut naik Damri ke terminal Ledeng.

"Teh kalo ada apa-apa telepon Ayah ya. Kamu udah dimana?" Ibuku telepon.
"Lagi naik bus mau ke terminal Ledeng,"
"Naik Damri ya?"
"Iya kok tau?"
"Dulu kos-kosan Ibu deket terminal. Kampus Ibu kan depan terminal Ledeng tau. Kamu inget ngggak?"

Aku tidak ingat. Ngomong-ngomong, waktu aku masih umur empat/ lima tahun, Ibuku sudah lulus D3 dari IKIP Jakarta (sekarang UNJ) dan bekerja, kemudian Ibu melanjutkan kuliah S1 di IKIP Bandung (sekarang UPI). Karena aku selalu menangis kalau ditinggal Ibu kuliah, akhirnya aku diajak kesana satu kali.

"Tapi di Bandung dingin dan enggak ada guling, kamu nggak papa?" tanya Ibu sekitar lima belas tahun lalu.
"Kok enggak ada guling? Iyadeh nggak papa,"

Di pikiranku waktu itu adalah.... di seantero Bandung tidak ada benda bernama guling. Guling hanya ada di Jakarta saja. Beberapa tahun kemudian, aku baru sadar bahwa maksud Ibu 'di Bandung nggak ada guling' adalah 'di kos-kosannya nggak ada guling'. Astaga aku merasa tertipu.

Kembali ke tahun 2013, akhirnya aku dan Galih sampai di terminal Ledeng dan langsung naik angkot putih sesuai saran sebuah blog yang menjelaskan akses menuju penginapan yang kami pesan. Di dalam angkot, kami bilang kepada kernet untuk diturunkan di Jl. Raya Lembang No. 1A. 

"Mau ke penginapan apa?"
"Rumah Pinus,"

Bapak Kernet pada awalnya memperhatikan jalanan, namun lama kelamaan beliau asyik ngobrol dengan temannya, Aku dan Galih nggak nemu-nemu Rumah Pinus sepanjang jalan tapi tiba-tiba.... " Itu neng Rumah Pinus tadi," ujar beberapa orang di dalam angkot. Wah baik sekali mereka :') Akhirnya kami sampai di Rumah Pinus, menyerahkan voucher booking, dan dipersilakan masuk ke kamar. Kamarnya bagus!!! Padahal di website keliatan sempit gitu, tapi ternyata luas.

Kamar di Rumah Pinus

Malamnya, kami keluar untuk cari makan dan memutuskan untuk makan di Warung Sate Pak Sapri (sebenernya mencari pusat pasar tapi enggak nemu-nemu jauh bener). Ih mahal jadi menyesal. Saran deh mendingan pesan di penginapan karena harganya sama aja. Kita pesan teh manis hangat. Ternyata dapat teh hangat gratis iiih tau gitu enggak usah pesen minum tadi, rugi bandar. Pulangnya nunggu angkot setengah jam dipinggir jalan kedinginan -____-

Keesokan harinya, kita naik angkot dan minta diturunkan di tempat pacuan kuda, jalan kaki lumayan jauh (hemat tanpa ojek ataupun delman), dan akhirnya sampai di De Ranch.


de Ranch

Di De Ranch, wisata utamanya adalah pacuan kuda, tapi selain itu juga ada panjang tebing, flying fox, trampolin, tangkap ikan, dll. Biaya masuknya murah, cuma 5000 rupiah. Kita tinggal pilih mau main apa aja, harga tiket tiap permainan bervariasi, sekitar 10.000-25.000 rupiah. Usai bermain-main, asiknya minum susu/ yoghurt sambil menikmati udara Lembang yang sejuk di foodcourt De Ranch. Ngomong-ngomong, harga tiket masuk itu sudah termasuk satu gelas welcome drink berupa susu loh, kita bisa pilih rasa mocca, strarberry, atau melon.

cow-girl Nadia
sebelum deg-degan panjat tebing

Keluar dari De Ranch, kita ketemu Jennifer, orang asing yang menjelaskan tentang Alkitab gitu. Semacam organisasi yang mensosialisasikan isi Alkitab agar tidak ada kesalahpahaman antar agama. Kami kemudian menuju Tangkuban Perahu naik mobil semacam ELF gitu. Sesampainya di pintu utama, ternyata kami baru tau kalo naik angkot masuk ke dalam ongkosnya 30rb plus 28rb untuk tiket masuk. Kalau naik ojek 25rb. Gila! Mahal banget! Kami enggak jadi masuk -___- Bapak kernet angkotnya kasian gitu sama muka kami hahahah. Untungnya kami nemu kebun teh yang asyik.


kebun teh
Akhirnya kita memutuskan untuk langsung ke penginapan berikutnya di Dago, Bandung. Sepanjang perjalanan, paling asik menikmati pohon pinus yang tinggi-tinggi. Walaupun siang, panasnya nggak terasa. Aaah damai banget deh pokoknya. Ternyata banyak lokasi wisata bertemakan kuda dan outbound di sepanjang jalan Lembang-Tangkuban Parahu. Kapan-kapan kalau kesini lagi mau coba ah! Selain itu di jalan banyak orang menjual buah labu dan nanas yang kecil-kecil lucu gituuu. Liat deh~


labu dan nanas kecil-kecil imut

Penginapan kedua ini agak lebih sedikit susah nyarinya. Berbekal petunjuk dari pengurus penginapan untuk turun di Taman Budaya Dago, akhirnya kami tanya-tanya orang sekitar situ. Jalanannya menanjak karena di bukit. Duh mana panas siang-siang di Bandung kota (tapi panasan Bogor-Jakarta sih). Akhirnya pas pertigaan kami bingung dan tanya seorang Bapak yang lagi manasin mobil.

"Permisi pak, nomor 20C dimana ya?"
"What"
"Where is Bukit Dago II Street Number 20C?"
"No. No. Saya bukan orang asing,"

-_______- Lah! Ngapain tadi bilang what what segala mana mukanya chinese gitu kan mendukung banget tuh! Untung beliau tau lokasi yang kami maksud. Fiuh. Akhirnya kami sampai di penginapan Bantal Guling Guest House. Kamarnya nyaman, ber-AC, cuma lebih sempit dan nggak ada guling. Aneh banget namanya Bantal Guling tapi enggak menyediakan guling?!

kamar di Bantal Guling Guest House

Sorenya kami main ke Jalan Braga. Kalau biasanya sudut 'tua'/ 'lama' di sebuah kota itu sepi dan mati, berbeda halnya dengan Jalan Braga yang ramai dan lebih hidup. Jalanannya tidak menggunakan aspal, melainkan paving (sepertinya ini namanya). Bangunannya kuno dan masih digunakan untuk toko maupun penginapan.

kumpulan lukisan di Jalan Braga

salah satu bangunan tua paling besar

Puas berjalan-jalan di Braga, kami liat-liat Factory Outlet (hanya melihat) dan makan di Pizza Domino. Mumpung hari Selasa ada promo beli satu pizza, gratis satu pizza, buat kami makan dua kali dengan nanti malam hahaha hemat. Tadinya mau ke museum sekalian, tapi mengingat ini tanggal merah, jadi ya ditunda besok aja deh.

beef-mushroom pizza dan american classic cheese burger pizza

Pulangnya kami naik angkot lagi dan ada anak kecil nangis tanpa alasan nggak berhenti-berhenti. Dia melirik ke arah pintu angkot terus sambil mengarahkan tangannya kesana seolah-olah ada yang mau dicapai. Dipeluk ibunya enggak mau. Dilepas ibunya, dia malah berjalan ke arah pintu angkot. Dugaanku, dia melihat hantu! Tapi aku baca ayat kursi tetap saja dia menangis sambil mau ke arah pintu angkot. Hiiii.

Besoknya kami ke Museum Kereta Api dan gagal karena ternyata museumnya udah nggak ada -_____- Kami juga mampir ke Saung Angklung Udjo meskipun enggak nonton pertunjukannya karena mahal hahaha (untuk mahasiswa dan umum 60.000 rupiah). Yaudah deh kapan-kapan aja. Walau cuma sebentar yang penting seru dan aneh. Aku pulang ke Bogor dulu karena mau beres-beres kamar, baru deh Kamisnya pulang ke Jakarta yeay~

6 komentar:

Anonim mengatakan...

ceritnya menarik, namun yg kurang satu hal di dlmnya. Pd awal cerita, g pnjlsn. who is galih? sy kira perlu pnjlasn tntang para pelakunya siapa aja, biar bs nikmati isi critanya dg lancar...hihihi

Nadia Azka mengatakan...

@anonim: pasti mbak/mas anon enggak mengikuti blog post saya yang lalu-lalu ya jadi enggak tau siapa galih. ini kan cerita hidup saya bersambung, yea gakdeng~ terimakasih sarannya :)

ejamakna mengatakan...

Wuih keren jalan2nya, Zka. Saya baru tau bisa pesan penginapan Ol -_- *lama di desa
Yap, sekalian, blog kedua yang saya baca,yang ceritain promo domino pizza, setelah blog rezki hha

keep writing, Azka. :)

Nadia Azka mengatakan...

@ejamakna: terimakasih ya! siapa ini? nabila? diu? :o

ejamakna mengatakan...

yg di sbut kdua :) mmpir yaa hhe

Nadia Azka mengatakan...

tuh kan sudah kuduga! blognya isinya makassar :D