23 Desember 2013

Survey dan Penolakan

Penelitian. Ini masuk ke daftar hal yang paling pengen aku pelajarin semester ini. Kebetulan pula, semester ini aku dapat matakuliah Riset Pemasaran yang membahas mengenai cara-cara melakukan penelitian di bidang pemasaran. Pada awal pertemuan, aku kira dosen bakal memberikan kami tugas penelitian kecil-kecilan, tapi nyatanya cuma tugas membuat proposal penelitian dan menganalisis beberapa laporan penelitian. Ah, sedih. Nggak menantang (?)

Aku punya target buat 2014 untuk menjalankan suatu penelitian dengan serius yang ada manfaatnya buat masyarakat luas. Sayangnya aku belum pernah melakukan penelitian. Pucuk dicinta ulampun tiba. Bu Linda, dosen mayor aku yang fokus di bidang Manajemen Sumber Daya Manusia, membuka lowongan untuk ikut penelitian bareng Beliau. Aku apply dan diterima bersama sebelas orang teman lainnya.

Kompensasi Karyawan UKM
Penelitian pertama kami mengenai kompensasi karyawan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Kabupaten dan Kota Bogor. Berangkat dari demonstrasi buruh yang meminta kenaikan Upah Minimum Regional (UMR) yang membuat beberapa perusahaan besar pindah pabrik ke negara lain.

Jumlah UMR yang diminta para buruh tersebut memang kontroversial. Selain jumlahnya yang setara dengan pangkat tertentu dalam kompensasi Pegawai Negeri Sipil (PNS), para buruh juga memasukkan barang-barang yang dinilai kurang penting seperti jaket kulit ke dalam rincian rencana penggunaan UMR yang mereka terima. Kalau upah minimum naik, bagaimana nasib UKM-UKM? Apakah mereka masih sanggup mengakomodir kompensasi karyawan?

Survey 
Aku dapat jatah survey ke UKM bagian makanan dan minuman. Kelihatannya gampang, mudah, kan banyak tuh penjual makanan dan minuman, responden berlimpah. Tapi nyatanya, astaga, susah! Emang sih ada data daftar UKM beserta alamatnya dari Dinas Kabupaten dan Kota Bogor, tapi banyak yang nggak ada nomor teleponnya. Cari di internet? Nggak semuanya ada. Mana banyak yang lokasinya antah berantah entah dimana.

Beberapa kali aku dan temen-temen nyamperin banyak UKM, tapi tersendat banyak hal. Mulai dari kenyataan bahwa ternyata yang kami datangi bukan UKM (ada syarat jumlah pegawai dan omset minimun tertentu) dan berbagai penolakan.

Sebut saja sebuah toko roti di Bangbarung...

"Selamat pagi, Teteh!"
"Pagi,"
"Salam kenal, Teh. Saya Nadia dari IPB. Saya, teman-teman, dan dosen saya sedang melakukan penelitian bla bla bla. Kalau boleh, bisa saya bertemu dengan manajer toko ini?"
"Orangnya jarang kesini. Biasanya sebulan sekali,"
"Kalau begitu, boleh saya minta kartu nama atau nomor telepon manajernya?"
"Wah saya nggak punya," #denganmukajutek

Hah mustahil amat nggak punya nomor telepon atasan langsungnya. Kalau udah ngasih bukti resmi bahwa ini penelitian dari IPB, udah jelisain latar belakang penelitian dan janji bahwa nama UKMnya nggak akan dipublikasikan, namun pihak UKMnya nggak welcome, mendingan tinggalin aja daripada buang waktu.

Ada pula, pemilik UKM yang entah kenapa takut kalau jadi responden penelitian ini. Sebut saja Kafe X di dekat Rumah Sakit Karya Bhakti (lupa nama daerahnya ahaha).

"Selamat sore,"
"Sore, mbak,"
"Salam kenal, Mas. "Saya Nadia dari IPB. Saya, teman-teman, dan dosen saya sedang melakukan penelitian bla bla bla. Kalau boleh, bisa saya bertemu dengan pemilik kafe ini?"
"Ya. Saya sendiri, mbak,"
"Ya, Mas. Jadi begini, Mas nggak usah khawatir karena nama UKMnya tidak akan dipublikasikan bla bla bla,"
"Mbak, gimana kalau jangan saya respondennya. Disana ada kafe juga kok," #denganmukaketakutan

Emang aku menyeramkan apa yah? -____-

Selain itu ada juga yang begini.

"Malam Pak X. Saya Nadia dari IPB. Saya, teman-teman, dan dosen saya sedang melakukan penelitian bla bla bla. Kalau boleh, bersediakah Bapak jadi responden untuk UKM ini?"
"Bersedia. Mengenai apa ya?"
"Kompensasi atau penggajian, Pak,"
"Oh kalau mengenai itu, saya tidak bisa,"

Masih mending yang kelompok aku alami saat survey, daripada kelompok lain yang kebagian survey UKM di bidang herbal dan obat-obatan. 

"Malam Pak X. Saya dari IPB. Saya, teman-teman, dan dosen saya sedang melakukan penelitian tentang kompensasi bla bla bla. Kalau boleh, bersediakah Bapak jadi responden untuk UKM ini?"
"Tidak! Kamu mau jadi mata-mata dari pesaing saya ya?! Sudah banyak mata-mata yang berkedok mahasiswa penelitian!"

-____- 

Kesimpulan dari survey selama ini adalah orang berpendidikan pasti akan bersedia menjadi responden penelitian ini. Pemilik-pemilik UKM yang bersedia jadi responden emang cerdas, mereka memang aktif ikut pelatihan dari Dinas dan berjejaring dengan UKM lainnya.

Jelas-jelas pada waktu survey kami membawa surat resmi yang menunjukkan bahwa kami dari IPB, menjelaskan latar belakang penelitian dan manfaatnya, menjelaskan bahwa responden akan dirahasiakan. Pemilik UKM yang menolak sepertinya takut bahwa kami adalah mata-mata pesaing (LOL) atau agen rahasia dari pemerintah yang mengecek apakah UKM tersebut sudah memberi upah yang layak kepada karyawannya. Padahal kan, untuk apa takut kalau kita merasa benar?

Tidak ada komentar: