25 Desember 2013

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

Waktu aku masih SD, Ayah menyodorkan sebuah buku tua berwarna biru.

"Teh, ini loh. Mbah nangis melulu kalo baca buku ini," kata Ayah.
"Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck? Buya Hamka itu siapa? Terkenal?"
"Terkenal banget!"

Di rak buku rumah, aku pernah lihat beberapa buku karangan Buya Hamka. Aku coba baca, tapi bahasanya bener-bener susah dipahami, macam melayu kuno. Beberapa tahun kemudian aku baru tahu kalau tipe-tipe karangan Buya Hamka itu disebut hikayat. Aku ketik 'Buya Hamka' di google dan rupanya Beliau benar-benar terkenal.

Aku nggak nyangka, waktu aku lagi naik commuter line, ada sebuah poster film di gerbong; Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck! Wah buku tua itu dijadiin film tahun ini. Karena dulu aku bacanya cuma sampai sepertiga dari total halaman, aku nggak tau alurnya seperti apa, bagaimana endingnya.

Beberapa hari sebelum aku berencana nonton, Ayah sms:
"Teh, Ayah sama Ibu mau nonton Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Kita nungguin Teteh pulang dulu apa gimana?"
"Duluan aja. Aku juga mau nonton minggu ini. Mbah suruh nonton, Yah,"

Ah, andai di Pandeglang ada bioskop biar Mbah bisa nonton :)



Akhirnya semalam aku nonton Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Sinopsisnya silakan baca sendiri di sini. Kisah yang diangkat dalam buku/ film ini adalah bentuk kritik dari Buya Hamka terhadap tradisi atau adat Minang yang berlaku pada jaman tersebut.

Diskriminasi Suku

"Di Makassar, aku dianggap orang Minang. Di Minang, aku dianggap orang Makassar,"

Sepenggal kalimat dalam surat Zainuddin kepada Hayati mengenai keluhannya terhadap pandangan masyarakat setempat mengenai dirinya. Bapak Zainuddin keturunan Minangkabau, sementara Ibu Zainuddin keturunan Makassar. Secara adat Minangkabau, Zainuddin tidak diakui sebagai orang Minang karena darah Minang itu ditentukan oleh garis keturunan Ibu.

Zainuddin tidak diajak bergaul dan dilarang mengikuti pembicaraan di Batipuh karena dianggap bukan orang Minang. Zainuddin dilarang menikah dengan Hayati karena asal-usulnya dianggap tidak jelas.

Agama Hanya 'Pembungkus'

Paman Hayati, sebagai ketua adat, dan masyarakat Batipuh mengatakan bahwa mereka menjunjung tinggi nilai agama. Sayangnya tidak tercermin dalam sikap dan perilaku keseharian. Diskriminasi terhadap Zainuddin, intimidasi dan pemaksaan terhadap Hayati menunjukkan bahwa agama yang mereka banggakan hanyalah sebagai pembungkus diri, ajaran agama yang sesungguhnya tidak masuk ke dalam jiwa mereka.

Mereka memutuskan untuk menerima lamaran Aziz dan menolak lamaran Zainuddin kepada Hayati atas dasar 'keturunan Minang terhormat' dan 'kekayaan'. Padahal pada kenyataannya Zainuddin adalah pemuda yang taat beragama, sementara Aziz senang berfoya-foya, berjudi, dan bermain perempuan.

Peran Perempuan

Pada proses musyawarah keluarga besar Hayati untuk memilih akan menerima lamaran Aziz atau Zainuddin, perempuan seperti Ibu, Bibi, dan lainnya tidak mendapat kesempatan untuk bersuara lebih. Laki-laki mendominasi dan cenderung memaksakan kehendak. Perempuan tak diijinkan untuk memperjuangkan pendapat.

Akting Reza Rahardian sebagai Aziz dalam film bener-bener bikin merinding pada waktu adegan membentak dan memarahi Hayati sebagai istrinya. Di dunia nyata, aku belum pernah melihat laki-laki sekasar itu. Hayati digambarkan sebagai istri yang harus menuruti seluruh keinginan suaminya walaupun hal tersebut tidak baik untuk dilakukan. Tugas Hayati hanya berdiam diri di rumah untuk menunggu dan melayani kepulangan Aziz setiap Sabtu dari Padang Panjang.

Secara umum, filmnya bagus. Siapa pula yang terpikir untuk menjadikan buku terbitan tahun 1939 diterbitkan tahun ini. Meskipun dalam film proses jatuh cinta dan kedekatan Zainuddin - Hayati terkesan singkat, padahal aslinya lebih penuh lika-liku berbulan-bulan. Selain itu endingnya juga berbeda, dalam buku dituliskan bahwa tak lama setelah Hayati meninggal, Zainuddin ikut meninggal dan dimakamkan berdampingan dengan makam Hayati. Sementara ending dalam film, Zainuddin tidak meninggal. Ia menjadikan rumahnya sebagai panti asuhan yang diberi nama Panti Asuhan Hayati.

Sudah, nonton dulu sanah~

Tidak ada komentar: