21 Februari 2013

Daur Ulang Sampah bareng anak SMP-SMA Bogor

Hari ini aku dapet kesempatan untuk berkampanye mengolah sampah bersama anak-anak SMP-SMA di kota Bogor. Temen SMA-ku, si Momod (atau disini biasa dikenal orang sebagai Irvan), merupakan koordinator Earth Hour Bogor (EH  Bogor). Ada yang belum tau Earth Hour dan WWF? Cek langsung di websitenya ya http://earthhour.wwf.or.id . Earth Hour punya kampanye-kampanye rutin tentang lingkungan sebagai sosialisasi earth hour tanggal 23 Maret 2013 nanti.

Karena temen satu team ReAction aku si Ayu juga volunteer EH Bogor, jadi Momod menawarkan kami untuk mengisi salah satu sub-acara di school-campaign mereka. Kami mau isi dengan kampanye pengolahan sampah plastik. Untuk belajar membuat 'sesuatu' dari bekas bungkus minuman rupanya susah juga. Perlu kesabaran dan ekstra pemikiran buat menyambungkan satu satu bungkus itu.

Tadinya kami sempet kesulitan mencari bungkus minumannya, tapi setelah rapat bareng anak-anak EH Bogor rasanya lega karena mereka mau bantuin mengumpulkan bungkus bekas minuman. Yeay! Kami dapat banyak bungkus, lebih dari 130, dan bisa digunting menjadi dua bagian.

Acara hari ini dimulai pukul delapan. Tapi aku dan Ayu kuliah dulu dari jam 7-9, baru setelah itu menuju SMA 1 Bogor (lokasi kampanye). Alhamdulillah jalanan lancar, sempet bagi-bagi dan menata bungkus yang satu merek untuk dianyam biar cantik. Diluar dugaan, yang tadinya kami cuma mau ngajarin bikin kotak kecil, ternyata anak-anak ini pada antusias dan kreatif! Ada yang jadi kipas, dompet, mahkota, dll.

school campaign

Sebelum mengolah sampah bungkus minuman ini, mereka ada sesi diskusi kelompok untuk menentukan gerakan-gerakan kecil yang bisa dilakukan dalam rangka menjaga kelestarian bumi. Apa aja ya? Selain hemat menggunakan listrik dan naik kendaraan umum, ada satu nih yang masih langka dilakukan anak muda jaman sekarang. Pakai ecobag! Ya, jangan lupa bawa tas (atau minimal plastik sendiri) ketika berbelanja untuk diet kantong plastik ya. Buat perubahan untuk lingkunganmu mulai dari diri sendiri.

salah satu kelompok. robot dari bungkus kopi dan ide mereka untuk menjaga kelestarian bumi

kipas dari bungkus kopi

Kami juga ber-flashmob ria dan foto membentuk angka 60+ bareng anak-anak SMP dan SMA yang jauh-jauh datang ke SMA 1 Bogor untuk menghadiri kampanye lingkungan yang super seru ini.Tanggal 3 Maret nanti, EH Bogor akan mengadakan mall-campaign di Eka Lokasari (Elos). Ini aksiku, mana aksimu?! *jargon

20 Februari 2013

Goodwill Scholarship Interview

"Selamat siang?"
"Ya? Siang,"
"Dengan Nadia Azka dari IPB?"
"Ya, ini darimana?"
"Kami dari Yayasan Goodwill International, Anda diminta menghubungi Bu Rosa di nomor telepon kantor kami besok Senin. Nomornya XXXX,"

Itu telepon yang aku terima tanggal 10 Februari. Jaman sekarang ini banyak modus penipuan. Apalagi terkait kalimat "diminta menghubungi" orang penting. Untuk memastikan bahwa itu bukan penipuan, jadi aku cek ke official websitenya Goodwill, rupanya nama dan nomor telepon yang disebutkan memang ada dan benar-benar dari kantor yang bersangkutan.

Dua bulan lalu, aku kirim aplikasi untuk melamar sebagai penerima beasiswa Goodwill. Super ribet memang karena calon pelamar beasiswa diharuskan mengisi berlembar-lembar formulir dan membuat cukup banyak essay dalam bahasa Inggris. Tapi justru disitu menariknya! Ketika beasiswa lainnya hanya memberi syarat untuk mengumpulkan transkrip nilai, slip gaji orangtua, dll, si Goodwill meminta calon pelamar untuk menjawab banyak pertanyaan super menarik dan essay dalam bahasa Inggris. Dari proses pengisian formulir dan membuat essay, aku banyak belajar.

Setelah aku menelepon kantor dan mendapat tanggal wawancara, yaitu tanggal 19 Februari di kantor Goodwill di daerah Komplek Perumahan Departemen Pertanian, Pasar Minggu. Aku diminta mengumpulkan surat rekomendasi dari dosen pembimbing akademik (PA) dan dosen yang menjabat sebagai kepala departemen (kadep). Minta tanda tangan dosen itu perlu pengorbanan perasaan dan waktu karena bener-bener nggak bisa dibilang mudah. Bahkan, aku dan Galih (temen satu jurusan yang juga akan mengikuti wawancara) sampai harus menemui dosen ke kampus pascasarjana IPB di Baranangsiang. Tapi ada hikmahnya, aku jadi bisa sekalian ke gramedia Botani Square untuk beli buku baru!

Tibalah di hari Senin dimana aku cuma kuliah sampai jam 11.40. Karena besok Selasa pagi jadwal aku wawancara, jadi siang itu aku pulang menuju rumah nenek di Jakarta. Biar berangkatnya rumah nenek aja, kan lebih deket dan nggak terburu-buru daripada aku berangkat pagi-pagi dari Bogor. Kebetulan, besok Selasa yang biasanya ada kuliah pagi dibatalkan karena dosennya sedang berhalangan. Hore, aku nggak harus bolos!

Selasa pagi aku berangkat dari rumah nenek jam 07.30. Jalanan macet, sempet nyasar, jadi aku baru sampai di lokasi pukul 08.55. Hari itu ada tiga orang yang diwawancara. Satu mahasiswa UI dan dua mahasiswa IPB (termasuk aku). Pewawancara aku rupanya ibu-ibu orang Indonesia (walaupun Beliau berbicara bahasa Inggris), sama dengan temen aku, Alul, yang udah wawancara hari sebelumnya. Aku kira pewawancaranya bakal orang asing karena waktu googling, aku nemu blog yang menceritakan pengalamannya ketika wawancara beasiswa ini dan pewawancaranya adalah orang asing. Tapi si Galih (wawancara hari Kamis) kebagian diwawancara orang asing. Beda-beda ya.

Aku dapet urutan ke-tiga. Si anak UI yang pertama diwawancara. Dia masuk ke ruangan dan suaranya terdengar samar-samar. Dia diminta baca puisi loh! Terus dia baca puisinya Chairil Anwar. Si anak IPB yang berikutnya diwawancara. Suaranya juga samar-samar terdengar. Dan disini aku mulai deg-degan karena terdengar pembicaraan mengenai government bla bla bla. Gimana ntar kalau aku ditanya yang aneh-aneh? Akhirnya giliran aku tiba. Aku masuk ruangan.

"Good morning,"
"Good morning. Sit down please,"
"Thank you,"
"So, you are Nadia Azka? 'Azka' means 'good', right?"

Di essay mengenai cerita tentang diri kita sendiri, aku menulis pengertian dan doa yang terkandung dalam nama aku sebagai paragraf pembuka. Dimulailah sesi wawancara, Bu Min menanyakan soal mengapa aku mengajukan diri sebagai penerima beasiswa Goodwill, dilanjutkan dengan pertanyaannya mengenai keluarga, mengapa aku memilih jurusan manajemen, rencana jangka panjang, dll.

"What will you do after graduate from the university,"
"I have planned it. I would like to work in a company for some years and collecting money to opened my own business. I wanna be an entrepreneur and help people to get a job,"
"Good. What business?"
"A bakery. I will apply food diversification on my future bakery,"

Beliau menanyakan penerapan diversifikasi pangan ke sebuah toko roti impianku ini. Aku jelaskan sedikit mengenai bahan bakunya yang bukan dari gandum, tapi dari pangan lokal yang bermacam-macam seperti ubi, singkong, dll.

"Do you have plan to continue your study abroad?"
"Of course! It's my dream!"
"What country do you like to continue your study?"
"Turkey! Because it's located between Asia and Europe. I will learn a lot there,"
"Do you think that Turkey is a good place to study when you have to reach dream to have your own food-diversification bakery?"

Disitu aku mati kutu 2 detik. Baru sadar, harusnya kalau mau belajar soal pertanian yang bagus baiknya ke Belanda, bukan Turki -___- Aku berkelit. Aku bilang aku bisa menggabungkan ilmunya karena di IPB aku cukup banyak belajar soal diversifikasi pangan.

"So, you wrote that you were becoming an ethnic bag reseller?"
"Yes, it named Maika,"
"Can I see the bag?"
"Oh I don't bring the bag but I bring the catalogue,"
"Wow, so you bring the catalogue?"
"Yes, because I also came to Jakarta yesterday to send it to my customer,"
"How did you sell it?"
"I sell it online,"
"Are you still sell it? By yourself?"
"Yes, I still sell it since February 2012. But because it needs lotta money, so I work with my friend,"
"Wow how smart you are,"

Kebetulan banget abis nganter tas buat Yeyek dan bawa katalog terbaru Maika juga. Bu Min bilang Beliau sangat tertarik dengan kegiatan-kegiatan aku. Beliau banyak bertanya soal bagaimana Sanggar Juara mendapatkan dana, apakah aku dibayar ketika turun lapang, apa saja kegiatan Indonesian Youth Act, dan Beliau kaget ketika aku bercerita mengenai kegiatan aku dulu di Uni Konservasi Fauna soal pengamatan elang hitam di kampus. Beliau kira elang di kampus dikandangin, padahal mah terbang bebas lewat di atas LSI tiap pukul lima sore-an.

Di akhir wawancara, aku tiba-tiba inget di panduan "How To Answer 64 Toughest Interview Questions" dituliskan mengenai jika pewawancara menanyakan apakah dirinya merupakan pewawancara yang bagus. Bu Min enggak tanya soal itu, tapi aku inisiatif aja.

"You're a good interviewer, Maam,"
"Aww why did you say that?"
"Because you're very friendly,"
"Waah thank you,"

Segala keputusan ada di tangan Allah di akhir Juli nanti. Aku banyak belajar dan dapet pengalaman dari proses wawancara ini. Aku sampai kampus jam satu kurang satu menit, ada kuliah jam satu, jadi aku buru-buru naik ojek dari GWW dan sampai ruang kelas dengan tepat waktu! Thanks God.

12 Februari 2013

Re-Action Team dan Kosgoro

11 Februari! Hari ini hari pertama aku mulai masuk kuliah di semester empat! Mata kuliahnya menarik dan seru. Usai kuliah, aku dan beberapa temen mengajukan surat permohonan tambahan kuota supporting course (sc) matakuliah Pendidikan Ekonomi Keluarga dari Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK). KRS-an di kampusku emang ribet, kapan-kapan aku cerita di postingan khusus. Lama banget nungguin sekretariat buka berhubung sedang jam makan siang. Akhirnya aku ijin pergi karena mau ngurus kegiatan lain.

Kegiatan apa? Jadi, aku dan temen-temen (ReAction Team) punya proyek sosial tentang edukasi pengolahan sampah. Dan hari ini hari pertama kampanye kami, lokasinya di Panti Asuhan Kosgoro, Cibanteng. Ini diluar jadwal. Seharusnya tanggal 24 Februari, tapi rupanya tanggal segitu ada pilgub Jabar, jadi penggantinya dibuat hari ini. Cukup ribet ngurus berapa kardus dan majalah bekas yang dibutuhkan, gunting, cemilan, dll. Mana siang itu panasss banget.

Aku pulang ke kost-an. Mandi, shalat, dan langsung siap-siap berangkat menuju lokasi janjian di BNI. Waktu aku keluar kamar, eh malah gerimis dan muncul guntur. Mbak Ana (tetangga kamar sebelah) yang lagi main gitar di depan pintu nanyain aku.

"Mau pergi, ka? Ini bakal hujan deres lho kayaknya,"
"Iya. Aku udah janji,"

Mau cuaca kayak gimanapun juga, kami udah janjian sama pengurus dan anak-anak panti. Jadi ya tetep berangkat dong. Toh hujan deras tiap sore juga udah biasa. Eh di jalan ketemu si Eno.

"Hey lien mau pergi? Rempong bawa gembolan,"
"Iya no hehehe,"

Ngeliat si Eno lagi jalan menuju kontrakannya yang tinggal beberapa meter lagi, sementara di tengah gerimis menuju hujan deras ini aku harus beraktivitas diluar itu rasanya... "Haaah enak banget si Eno ntar ujan deres udah sampe di kontrakan bisa makan, istirahat, nonton tv,". Hmm, but life goes on

Turun dari angkot, walaupun bawa payung, aku memilih berteduh cukup lama di toko counter pulsa. Sekalian beliin pulsa buat Mbak Ana yang tadi nitip. Kalau aku jalan ke BNI, toh pasti temen-temen yang lain belum sampe, hujan terlalu deras, jalanan tergenang. Bisa-bisa aku kehujanan, properti basah dan rusak, aku bisa sakit. Jadi mendingan berteduh sama beberapa anak-anak SMP yang enggak sedia payung sebelum hujan.

Sejam kemudian hujan reda, tinggal gerimis. Aku langsung ke BNI. Akhirnya temen-temen datang satu per satu. Ayu, Dadan. Aji enggak bisa ikut karena lagi rapat BEM. Terus ada dua temen kami yang bersedia jadi relawan, yaitu Mpit dan Tipong. Tinggal nungguin si Ahmad yang enggak ngangkat telepon maupun balas sms. Selang lama kita menunggu, akhirnya ada sms dari Ahmad, "Saya udah di lokasi,". Lah tau gitu bilang kek daritadi malah nggak angkat telpon/ bales sms -___-

Sesampainya di lokasi, kami ngajakin adik-adik panti untuk berkumpul di masjid. Syukurlah ternyata mereka anak-anak SD (walaupun ada beberapa anak SMP dan SMA juga). Aku pernah berkegiatan di panti asuhan waktu SMA, aku dan kelompokku mengira kalau anak-anak yang tinggal disana masih SD, rupanya malahan udah SMA. Kaget. Gimana caranya anak SMA yang belum ngerti apa-apa kayak aku dan temen-temen kelompokku disuruh bikin aktivitas sama anak-anak SMA juga. Canggung-lah. Tapi alhamdulillah kegiatan selama empat harinya lancar. Cek disini.

Balik ke cerita, setelah kami mengumpulkan anak-anak di masjid, kami ajak mereka kenalan satu per satu dengan games domikado. Hehehe pokoknya adik-adik ini menyenangkan banget deh! Mereka juga ngajakin nari, nah kebetulan kami memang mau ngajakin mereka nari roll dancenya AIESEC. Awalnya susah untuk meminta mereka baris yang rapi biar bergeraknya lebih leluasa, tapi akhirnya bisa dibujuk juga. Aku ajakin nari dan mereka bener-bener semangat ngikutin gerakan tariannya.

Disini aku banyak bicara. Bisa dibilang bertindak sebagai MC atau pemandu acaranya. Waktu nggak banyak karena kami telat datang akibat hujan, jadi harus diatur sedemikian rupa tatanan acaranya. 

Kami ajak adik-adik untuk duduk melingkar. Kami menjelaskan soal pentingnya membuang sampah di tempat sampah dan pengolahan sampah. Perlu pancingan-pancingan tersendiri untuk membuat anak-anak ini memperhatikan, aktif, dan merespon apa yang kita sampaikan.

"Menurut adik-adik, sampah itu gimana sih?", aku coba lontarkan pertanyaan.
"Bau!"
"Jijik!"
"Harus dibuang!"

Mereka menyampaikan hal-hal negatif jika ditanya mengenai sampah. Ketika kami menanyakan bagaimana seharusnya agar sampah di dunia ini berkurang, mereka juga masih menjawabnya dengan kosakata seperti: dikubur, dibakar, dll. Nggak ada kata 'olah' atau 'didaur ulang'. Kami ajak mereka melihat video mengenai pentingnya membuang sampah sembarangan, dampaknya, dll. Sebagai contoh, aku tanya, "Emangnya kalian mau kalau di Bogor banjir kayak Jakarta?"

"Mau kak, soalnya bisa berenang,"
"Iya kak, kan seru tuh!"

Hihihi anak-anak. Setelah kami jelasin bahwa di air banjir itu banyak terdapat penyakit dan menyebabkan banyak kerugian lainnya, akhirnya mereka paham bahwa banjir nggak se-seru yang mereka bayangkan. Kami ajak mereka mingle-mingle (berbaur satu sama lain berputar-putar) dan membuat kelompok. Masing-masing kelompok diharuskan membuat kerajinan tangan dari kardus bekas sepatu, majah bekas, dll.
 
dadan dan ahmad plus sekelompok adek-adek Kosgoro

Aku sempet negative thinking karena aku takut mereka nggak tertarik, tapi ternyata aku salah besar. Mereka suka banget! Mereka bikin karya bagus-bagus! Serius menggunting, menempel, menggambar. Sampai pada akhirnya azan magrib berkumandang dan kami harus shalat berjamaah.

"Nanti dulu kak, aku masih bikin ini nih,"
"Ayo udah dipanggil Allah tuh. Solat dulu, ngaji dulu, baru kita mainan lagi,"

aku, ayu, dan adek-adek Kosgoro

aku suka daur ulang sampah

Usai shalat, kami mengobrol dengan pengurus panti, sementara adik-adik kembali melanjutkan kerajinan tangan mereka (bener-bener nggak nyangka mereka seantusias ini). Karena udah terlalu malam dan besok kami kuliah pagi, jadi terpaksa kami ajak adik-adik berhenti dulu. Kan mereka juga harus ngaji dan belajar.

"Kesini lagi ya kak!"

Wah terimakasih YaAllah telah mempertemukan kami dengan adik-adik super ini :)
Minggu depan, kami bakal berkolaborasi sama Earth Hour Bogor loh! Semangat!

10 Februari 2013

Belajar Bahasa Mandarin di Tahun Baru Cina

Di hari terakhir liburan dan bertepatan dengan Tahun Baru Cina, aku main bareng kakak-kakak dan adik-adik Sanggar Juara yang di Situleutik. Kali ini kami ditemenin sama tim AIESEC IPB dan dua orang exchange participants (EPs) dari Cina, namanya Shaun dan Stacy. Nama Indonesia mereka adalah Bambang dan Juminten.

Kami janjian di depan BNI pukul setengah delapan. Setelah ketemu sama mereka, kami langsung jalan kaki menuju lokasi. Usai menyebrang, kami lewat gang kecil di sebelah Bakso Favorit, tiba-tiba Stacy teriak sangat panjang dan keras, "AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA,". Kira-kira sepanjang itu selama satu menitan. Aku ada di barisan paling depan dan super kaget. Waktu aku tanya what's wrong with her, ternyata Stacy ketakutan karena ada kucing lewat -_____-

Aku cerita sama Galih (temen sekelas yang juga AIESEC, tapi nggak ikut kegiatan hari itu) soal ini. Rupanya waktu para EPs dan tim AIESEC mengunjungi Taman Safari, si Stacy nangis karena dia takut semua hewan. Apalagi kalau di Taman Safari kita bener-bener deket dengan berbagai hewan, cuma dibatasi kaca mobil. Wah ada-ada aja yah.

Oke kembali ke perjalanan menuju Situleutik. Banyak kucing dan ayam berkeliaran sepanjang jalan (Indonesia gituloh). Stacy sepertinya bisa bertoleransi sama para ayam. Tapi untuk kucing, akhirnya Shaun berbaik hati menggendong dan menyingkirkan kucing-kucing yang ada di sepanjang jalan yang kami lalui.

Akhirnya kami sampai di lokasi SD dengan selamat tanpa teriakan Stacy yang cetar membahana lagi. Aku dan Kak Dwi jadi MC dadakan. Kegiatan pagi itu dimulai dengan doa, jargon Sanggar Juara dan nyanyi Share Banana. Shaun dan Stacy ngajarin bahasa Mandarin. Ni hao, Wo Ai Ni, Wo Xiang Ni, dll. Walaupun susah, alhamdulillah adik-adik antusias.

Setelah itu kami membuat pigura dari kardus bekas. Adik-adik dibagi menjadi lima tim dan berkreasi sesuka hati mereka. Setelah itu, Shaun dan Stacy memilih satu kelompok yang menurut mereka paling kreatif dan paling bagus untuk diberi penghargaan. 

Feber dan Mbak Yustika ngebantuin adik-adik bikin pigura dari kardus


story telling dari Shaun, diterjemahin oleh Kak Asta

Shaun dan Stacy ngajarin adik-adik menyanyi head and shoulders, knees and toe dan menyebutkan anggota tubuh dengan bahasa Cina. Hahaha seru deh adik-adiknya super antusias. Lalu Shaun mendongeng tentang kambing kecil yang menyebrang sungai dan adik-adik menggali makna yang dapat diambil dari cerita tersebut. Terakhir, ada persembahan tari Saman dari adik-adik Sanggar Juara :)

Usai dari Situleutik, aku makan bareng Citra, Nindya, Kak Dwi dan Kak Syifa di Yellow Corner. Kami dapet oleh-oleh coklat kurma dari Mega yang baru pulang abis umroh. Kami juga banyak ngobrol soal sistem pendidikan anak. Seru deh apalagi ada Kak Dwi dari jurusan Ilmu Keluarga dan Konsumen yang udah dapet banyak ilmu lewat perkuliahan. Soal anak autis, pengembangan karakter, dll. Kak Syifa (Presiden Sanggar Juara) juga banyak cerita soal latar belakang adik-adik di Pabuaran yang enggak terduga. 

Ternyata anak autis seharusnya diperlakukan seperti anak biasa. Disekolahkan di sekolah biasa. Sayangnya banyak sekolah biasa yang tidak mau menerima, maka dari itu diadakan sekolah luar biasa. Masih banyak lagi topik obrolan yang pengen aku gali saking penasarannya, tapi udah siang. Panas banget pula. Jadi balik deh ke kosan.

Habis tidur siang dan mandi, aku mau ke gladiator kampus buat reuni lorong tujuh asrama TPB IPB. Yeay kangen banget sama loju, lorong paling berisik. Sayangnya hujan deras muncul dan waktu janjian jadi diundur. Aku berangkat bareng Cuneng, temen sekamar dulu hahaha dia ospeknya akhirnya beres juga, sekarang dia aktif di BEM FPIK kiw kiw. Setelah pada kumpul, kami makan ayam bakar di depan Al-Amin gratis! Dibayarin duit sisa kas lorong hahaha horeee. Udah lama kangen dan pengen kumpul lagi sama Oneng, Dindo, Ayu, Bu RT, dll. Kami juga kasih cupcakes buat Rica (Umi) yang ulang tahun. Happy Birthday Ricamon!

cuneng dan aku (gendut T_T)

Terus aku ke kosan Kak Nana buat balikin buku Walpole Metode Statistik yang jadi matakuliah interdepartemen semester lalu. Lanjut deh kita ke sekret Koran Kampus buat dateng ke presentasi usaha kaos Kak Wilaga. Di kampus ada banyak orang jualan kaos, tapi yang paling laku tuh yang alfabet lambang fakultas, ABCDEFGHI. Dan aku barutau beberapa bulan lalu kalo itu punyanya Kak Wilaga. Kak Wilaga bilang dulu usaha kaosnya selalu rugi, terus dia baca buku 7 Keajaiban Rezeki-nya Ippo Santhosa, diterapin dan akhirnya usaha kaosnya jadi untung. Kak Nana juga ngajak kami kumpul untuk rapat kecil pra rapat redaksi. Bagi rubrik dan kompartemen.

Alhamdulillah hari ini ketemu banyak orang-orang yang dikangenin. Siap tempur buat semester empat!

05 Februari 2013

International Camp AIESEC LC UNDIP Part 2



Setelah hari pertama yang menyenangkan, ternyata hari kedua jauh lebih seru. Pagi ini pintu kamar diketok subuh-subuh oleh panitia yang bersuara, "Morning Call" berkali-kali sampe aku teriak YES, WE'RE ALREADY WAKE UP!. Menurutku suaranya serem, kayak kuntilanak. Hiii.

Setelah sarapan, opening plenary pagi ini diawali oleh Fun Team. Tim yang isinya bikin gosip dan membacakan to-do-list buat para peserta. Hahaha bener-bener menghibur, apalagi waktu para EPs dari Korea maju ke depan dan ber-gangnam style bareng-bareng.

Kami melakukan mingle-mingle (berbaur muter-muter), dan harus bikin kelompok dengan anggota 10 orang. Aku sekelompok bareng Anna dari Kanada, Mbak Infra (kakaknya Pristy, temen di Koran Kampus), Disti, Kak Febri, Boni, dll

HOW TO MAKE A GOOD PROJECT
Kami dapat materi singkat dan disuguhkan video mengenai apa yang bisa kita lakukan untuk membantu pencapaian MDGs. Mulai dari menyusun OGSM, timeline, budget plan, dokumentasi yang harus dilakukan, dll.

PROJECT SIMULATION
Saatnya melakukan simulasi yang seru banget! Kami diberi waktu 7 hari. Tapi di simulasi ini diibaratkan perhari adalah 7 menit. Hari pertama, kami harus menyusun jobdesk masing-masing. Hari kedua harus menemui pihak media partner, speaker, sponsor, venue. Hari ketiga kantor-kantor media partner dan hotel buat venue tutup. Hari keempat tim program (acara) sakit, dll. Paling susah waktu harus ketemu dan mengajak kerjasama pihak luar, bagaimana kita harus berargumen, melobi orang, dan membuat MoU, bagaimana kalau teman kita sakit, dst bener-bener melatih kita.

Tim aku kompak dan seru banget hahaha si Anna diajak ngelawak nyambung juga sama kami, sampe-sampe MCnya bilang "Seru amat sih ini kalian,". Kami dapet kesempatan presentasi di depan bareng-bareng.

SHARING
Kami mingle-mingle lagi dan buat kelompok lagi dengan orang yang berbeda. Dalam tiap kelompok ada EPnya dan kita bisa tanya-tanya mengenai negara mereka. Aku duduk di sebelah si Se Rim dari Korea Selatan. Dia ramah dan lucu.

bareng Se Rim dan Kak Kiki dari Jogja

Aku tanya apakah dia melakukan operasi plastik. Dia bilang dokter-dokter di Korea Selatan memang ahli dan kreatif karena sampai membuat paket-paket khusus untuk operasi plastik, tapi ia dan teman-temannya enggak ikut-ikutan. Se Rim juga bercerita betapa kagetnya ia waktu tahu masyarakat Indonesia sangat religius sementara di negara asalnya banyak yang tidak beragama termasuk dirinya sendiri.

Se Rim baru belajar bahasa Inggris dua tahun lalu karena ia bekerja sambilan di sebuah toko dimana banyak orang asing yang berbelanja, jadi bahasa Inggrisnya lancar deh. Di akhir sesi cerita, ketika salah seorang temen bertanya apa pesan yang mau ia sampaikan biar Indonesia bisa jadi negara hebat seperti Korea, Se Rim bilang, "Korea Selatan bukan contoh yang baik. Saya rasa Indonesia bisa jadi jauh lebih baik dengan menemukan caranya sendiri,".

DREAM SESSION
Usai makan siang, kami mingle-mingle (lagi) dan berkelompok dengan orang yang berbeda (lagi) dan entah kenapa kali ini sekelompok sama orang Korea (lagi). Namanya Mina Lee. Kami menggambar bersama. Mina ketawa dan mengomentari gambarku, "Hahaha apa yang mau kamu gambar? Kita sama-sama bingung ya," -___-

CLOSING
Di akhir acara, ada pesan-kesan dan tangisan haru dari panitia, peserta, serta para EPs. Aku enggak menganggap itu berlebihan, karena aku yakin mereka pasti super total buat melaksanakan program ini. Standing applause buat panitia yang cuma delapan orang ini. Seru, unik, ramah, dan dekat dengan para peserta. Beda sama tipe-tipe "kepanitiaan" yang selama ini pernah aku liat hehe. Ohiya si Uniek temen SMA tadi mampir juga, dia juga AIESECer tapi enggak ngurus program yang ini. Hahaha sempet ketawa ketiwi sama si Uniek juga.

sang-eun

Banyak pengetahuan, pengalaman, dan teman baru karena acara ini. Terimakasih AIESEC LC Universitas Diponegoro! You're cool, like a pool *sambil bikin ombak dari tangan :) 

foto-foto menyusul. 

International Camp AIESEC LC UNDIP Part 1


Weekend kemarin (2-3 Februari), aku ikut acara seru yang diadakan oleh AIESEC Local Committee Universitas Diponegoro. Eh, apakah ada yang belum tahu apa itu AIESEC? Aku pertama kali tau mengenai AIESEC waktu SMA dari buku "Merah Putih Benua Biru"-nya Erditya Arfah.

AIESEC (Association Internationale des Etudiants en Sciences Economiques et Commerciales) merupakan organisasi mahasiswa global, non-politis, independen, dan tidak berorientasi pada profit. Tujuan AIESEC yaitu membentuk pemimpin muda yang berpengaruh positif pada lingkungannya. AIESEC sudah tersebar di puluhan negara, termasuk Indonesia (tersebar di beberapa universitas). Seperti keripik m*icih, AIESEC juga ada level/tingkatannya lho. Level awal disebut expansion, berikutnya official expansion, lalu local committee.

AIESEC LC UNDIP punya beberapa program untuk winter ini. Selain Sunshine Project (waktu itu aku mau daftar, tapi telat dan keburu tutup), ada juga Youngers Project. Nah, di Youngers Project ini salah satu kegiatannya adalah International Camp.

Kebetulan, aku dan empat orang temen juga mau ikutan project competition, salah satu kegiatan Youngers Project ini, dan dengan ikut International Camp kali ini, kami harap bisa dapet ilmu dan tips yang berguna buat eksekusi proyek kami nantinya. Sayangnya, cuma dua orang yang bisa ikut camp, cuma aku dan Ayu (dari Sukabumi). Yang satu sibuk, yang satu di Jawa Timur, dan yang satunya lagi di Jambi.

Tema International Camp-nya adalah Millenium Development Goals (MDGs). Apalagi tuh MDGs? Istilah MDGs sendiri cukup sering ditampilkan di berita-berita stasiun Metro TV, terlebih akhir-akhir ini. Jadi, MDGs adalah hasil kesepakatan 189 negara Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang mulai dilaksanakan pada tahun 2000. Tujuannya adalah tercapainya kesejahteraan rakyat dan pembangunan masyarakat pada 2015.

International Camp ini berlangsung selama dua hari di Wisma Sumbing, Balai Diklat Jawa Tengah, Semarang. Setelah berkenalan dengan beberapa panitia dan peserta, mereka heran karena ada peserta dari IPB. Kok rela jauh-jauh? Padahal emang rumahku di Semarang dan ini lagi liburan.

nostalgia asrama

Aku ditempatkan di kamar 102 bareng Mbak Yulia dari Universitas Negeri Yogyakarta, Natalia dari Universitas Diponegoro, dan Kim Hyeeon, salah satu Exchange Participan (EPs) dari Korea Selatan.

GRAND OPENING
Acara pembukaannya seru dan super unik. Darisini aku belajar banyak budaya di AIESEC. Ketika diteriakkan "Hey AIESEC!", kita harus menjawab "What's up?!". Ketika ditanya kabar, kita jawab, "Excellent!", dan ketika ditanya, "Is it cool?", dijawab, "Like a pool". Yang paling seru sih yaitu roll dance! Banyak macam-macam roll dance dengan lagu yang berbeda-beda. Ini salah satu contohnya:



AIESEC di IPB masih tergolong baru, yaitu masih ada di level expansion dan masih 'diasuh' sama AIESEC LC Universitas Indonesia (UI). Jadi walaupun di kampus ada AIESEC juga, aku belum paham apa aja budaya-budaya organisasi yang ada di AIESEC karena AIESEC IPB belum pernah mengadakan acara besar seperti ini dimana mahasiswa umum non-anggota bisa ikutan.

MDGs INTRODUCTION
Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Jawa Tengah menjelaskan mengenai MDGs di Indonesia pada umumnya dan Jawa Tengah pada khususnya. Kalau mau tau, cek disini aja ya sebagai gambaran umumnya.

LEARNING CIRCLE SESSION
Usai makan malam, ada dua sesi diskusi. Untuk sesi pertama, aku pilih bergabung dengan kelompok yang membahas isu kemiskinan dan kelaparan. Pemateri berasal dari Jaringan Rumah Usaha, foundernya Rhenald Kasali dan Sandiaga Uno. Untuk sesi kedua, aku pilih bergabung dengan kelompok yang membahas isu lingkungan. Pematerinya dari Kesemat. Di dua sesi diskusi ini selain banyak kenalan dengan para EPs dan dapet banyak ilmu, aku bisa banyak tanya dan diskusi dengan si pemateri terkait tips menjalankan sebuah proyek.

PINK PARTY
Selanjutnya ada "Pink Party". Kami harus pakai baju dengan nuansa pink! Ada beberapa games. Dan pada salah satu games, aku kalah dan harus dihukum di depan bareng temen-temen lainnya. Tengah malam, kami kembali ke asrama menuju kamar masing-masing buat tidur dan bersiap buat hari kedua!

pink party! aku ditengah :D