31 Maret 2013

Buku dan Pameran Seni

Setelah dua bulan mendekam di Dramaga dan Bogor, akhirnya aku keluar juga akhir bulan ini. Hari Jum'at libur nasional dan akhir pekan ini aku nggak ada kegiatan. Walaupun minggu depan UTS, aku tetep pulang menuju rumah nenek dan kakek.

Seperti biasa, sore-sore selalu hujan deras. Terjebak di kampus usai kuliah sampai hujan lumayan reda. Alhamdulillah sesampainya di stasiun, aku dapet tempat duduk jadi bisa tidur. Sampai di rumah langsung tidur dengan nyenyak.

Akhir pekan ini aku targetnya mau beli buku dan jalan-jalan ke museum.

Hari Jum'at aku main ke Gr*media sendirian. Emang kalo ke toko buku itu paling enak sendirian. Bisa berlama-lama sesuka hati. Tadinya aku berencana beli bukunya Rhenald Kasali Efek pengen meningkatkan pengetahuan karena cerita Kak Sachi, asisten praktikum. Dia cerita soal persaingan dunia luar yang semakin ketat, jangan mau kalah soal ilmu, jadi jangan cuma belajar dari buku-buku kuliah.

Jadi aku memutuskan untuk beli buku-bukunya Rhenald Kasali yang terkait dengan bidang studi yang aku ambil. Sayangnya, di toko buku yang aku samperin, cuma ada bukunya Rhenald Kasali yang Wirausaha Muda Mandiri. Udah pernah baca.


Billy Boen - Young on Top, Marketeers - 100 Kisah Klasik Pemasaran, James Tooley - Sekolah untuk Kaum Miskin

Setelah aku muter-muter, ternyata banyak buku-buku asik soal ilmu manajemen. Malah jadi pengen beli banyak, tapi berhubung harus inget kantong, aku pilih satu buku aja soal pemasaran. Muter-muter lagi, aku nemu banyak buku bagus. Jadi ingin ini, ingin itu, banyak sekali! Akhirnya aku tambah dua buku lagi. Hm uangku -__-

Yang mengejutkan (menurut aku) yaitu adanya novel Lupus baru yang dibuat jadi film. Judulnya "Lupus, Bangun Lagi Dong!". Dulu sih ada yang judulnya "Bangun dong, Lupus!". Novel yang baru ini beda banget. Dari segi ukuran, jenis kertas, desain cover, apalagi harga hahaha. Sebagai penggemar Hilman Hariwijaya, aku nggak suka kalau buku-bukunya jadi kehilangan identitas. Lupus tuh inspiratif dan penuh kenangan. Serial Lupus masih jadi penghuni mayoritas rak buku di kamarku di rumah sejak SD.

Hari Sabtu, aku batal ke museum. Berhubung ada Indonesia Arts Festival (ARTE Indonesia) di Jakarta Convention Center (JCC), aku pilih kesana aja. Udah dari kecil aku pengen liat pameran seni yang keren, akhirnya kesampaian juga. 

ARTE Indonesia

aku dan Ayu di instagram palsu

Seni itu abstrak. Mulai dari hal-hal sederhana macam tempelan koran-koran dan gambar, rekaman suara dedaunan yang tertiup angin, sampai benda berteknologi tinggi-pun juga bisa jadi karya seni. Sayangnya, mbak-mbak cantik penjaga benda-benda seninya nggak bisa menjelaskan soal maksud dari karya-karya yang ditampilkan. Malah sibuk mainan ponsel. Waktu aku tanya dimana kuratornya, malah melarikan diri.


salah satu karya seni dari aluminium

Habis liat pameran karya seni, aku mampir ke pasar seni. Banyak seniman-seniman yang menjual karya seni buatan mereka. Unik-unik. Notes, kursi, meja, sofa mini, ecobag, ah semua bagus-bagus pantesan mahal. Brand yang digunakan juga menarik, Oma Ana Handmade, Unkl, dll.

Favoritku nih; One Reuse Art. Nama senimannya Pak One Zhan. Beliau fokus pada pembuatan karya seni dari barang-barang bekas seperti kardus, majalah bekas, kaleng sampah bekas, dll. Beliau juga jual buku yang berisi gambar-gambarnya dan para mahasiswa jurusan desain. Murah loh 35k untuk ukuran buku full gambar dan desain yang keren. Kalau di gr*media bisa mencapai ratusan ribu. Aku beli buat Adli deh.


One Reuse Arts

Selain pameran karya seni dan pasar seni, ada juga seni kuliner. Kita bisa lihat cara masak yang berseni untuk menghasilkan kuliner bernilai seni. Siang itu chefnya lagi mendemokan seni foaming (busa) pada minuman. Ada juga penampilan musik dari band-band indie (tenang, bukan yang kayak di pentas seni anak SMA) yang keren. Pemutaran film juga ada tapi sayangnya bayar dan lokasinya terpisah, nggak di JCC.

Inspiratif banget deh para seniman-seniman. Semoga mereka dapet pahala banyak karena bikin orang seneng dan terkagum-kagum.

28 Maret 2013

Dreams Come True

Azwar, Azka, Ayu, Aji

When I was in Tingkat Persiapan Bersama (TPB), I listed my dreams in a piece of paper. One of them is running my own social project. Anyway, I have been dream about it since I was in junior high school, after I read a book (I forgot the title) and it gave me a lot of inspiration.

I made a big decision to study outside my city. I want to develop myself better. Lucky me, it just like dream come true because I got involved in various organization and community, got a chance to volunteer with some big non-governmental organization to upgrade myself, meet someone new, and of course learned a lot about how to running a socio-environment project.

I told my friends about it, we decided to apply it as a PKM. Unfortunately, a problem occured and we could not handle it. So we did not apply PKM at all. I learned that everything must be well prepared, do not delay the work, make sure the deadline, and beat my laziness and ego.

A few months later, I applied this idea in a big competition. I hope to get funding for this project. But the universe did not conspire. My project was not selected as a finalist. At least, I got a lot of feedback from friends for execution of this project. I'm happy.

Next semester, my friend invited me to run our own projects. We joined a project competition. We invited other friends. And without any funding from another, we started running this project. I learned that money is absolutely did not mean everything. We could handle it even with limited funds.

the kids and Aji
 
Ayu was helping the girls to make a craft

Dadan and a little circle of boys
I learned a lot; how to make a detail plan, how to communicate and having partnership with others, etc. The competition ends. I'm totally happy because God let me realize it although it was pretty hard. I do really hope this project continues, so it can give positive impact to others. Of course I got a plan what will we do next :)

Reduce, Reuse, Recycle in Action! (photo by Ahmad)

You evolve as a person by making mistakes. No mistakes, no evolution. Stop spinning your wheels. Take a chance. - @CountMeInID

24 Maret 2013

Lepas Kangen di Pabuaran

"Sabtu ini kita turun lapang perdana bareng kakak-kakak asuh baru ya!"

Entah berapa kali Feber ngejarkom soal turun lapang perdana Sanggar Juara dalam sepekan terakhir. Akhirnya setelah cukup lama berkutat dengan perekrutan anggota dan kepengurusan baru, kita bisa turun lapang bareng kakak-kakak asuh yang baru.

Rencananya untuk turun lapang perdana ini kami mau ajak seluruh kakak-kakak asuh baru untuk mendampingi adik-adik membuat "buku tugas". Apa itu buku tugas? Buku tugas merupakan media penilaian untuk kurikulum pendidikan holistik berbasis karakter yang mulai tahun ini bakal kami terapkan. Kami akan mengevaluasi perkembangan adik-adik setiap tiga bulan melalui buku yang akan mereka isi sendiri sesuai materi yang kami sampaikan. Soal kurikulum ini memang sulit untuk membuat, mengatur, dan menjalankannya. Tapi apa sih yang enggak mungkin, kita pasti bisa.

Sabtu pagi menjelang siang, habis dari rumah dosenku di Pakuan Regency untuk minta koreksi proposal proyek, aku langsung berangkat bareng kakak-kakak Sanggar Juara ke Pabuaran. Yeaay!

Cuaca masih tetap sama, panas terik. Jalanan ke Pabuaran juga masih super jauh dan berbatu. Anak-anak Pabuaran masih tetap semangat. Akhirnya bisa lepas kangen sama Pabuaran. Masih ada Sinta, Santi si kembar, Bolu yang lucu, Irwan yang semangat, Imah yang pemalu, dll.

"Teh Azka lama banget nggak kesini lagi setelah nginep waktu itu," kata Teh Dedeh.

Hehehe iya sih ya. Awal tahun kan ujian akhir semester, terus liburan, terus masuk lagi dan masih ribet ngurus presidium kepengurusan baru di Sanggar Juara, jadi hampir tiga bulan nggak ke Pabuaran. Teh Dedeh cerita kalau suaminya, Aa Usup habis sakit. Berkeringat dan nyeri di badan sepanjang malam. Tapi alhamdulillah udah sembuh. Teh Dedeh juga masih suka pusing kadang-kadang, diingetin jangan males makan tapi bandel nih Teh Dedehnya.

Semua berjalan lancar, kakak-kakak asuh baru juga pada seneng berkunjung ke Pabuaran untuk pertama kalinya. Semoga mereka nggak kapok dan berkelanjutan aktif disini.


perkenalan sama kakak-kakak asuh baru


kebagian cerita-cerita bareng anak-anak SMP; mela, iip, dan indri


bareng anak-anak kelas 1 SD

Pulangnya hujan super deras. Aku basah kuyup. Seru sih, udah lama nggak basah kuyup keujanan.

16 Maret 2013

Paralien

di hari terakhir sekelas bareng jaman TPB.

Siapa tuh? Itu orang-orang aneh yang aku kenal selama hampir satu setengah tahun kuliah. Kami berasal dari berbagai departemen/ jurusan yang berbeda. Tahun pertama di kampus, kami masih berada dalam tahap Tingkat Persiapan Bersama (TPB) dimana kami masih harus mengambil matakuliah dasar dan umum dan belum bisa dikatakan resmi masuk jurusan tertentu. Kami digabungkan di dalam kelas yang mahasiswanya berasal dari berbagai jurusan. Kalau orang-orang bilang bahwa menemukan teman apalagi sahabat yang tulus di dunia perkuliahan itu sulit, itu salah!

Kami biasa mengerjakan tugas, berangkat, dan pulang kuliah bareng (iyah soalnya dulu kan tinggal di asrama). Kami juga suka makan usai kuliah maupun olahraga sore hari. Mulai dari bakso gepeng yang nggak gepeng-gepeng amat depan alfamart, ayam sambel cowet, sop tahu dahlia, sampai fuyunghai di mulyasari (tempat makan yg nunggunya makanannya dateng lama banget). Sampai sekarang kalau ke tempat-tempat itu lagi, rasanya aneh kalau nggak sama mereka hahaha.

ujian senam TPB. yang kedua dari kanan namanya Finda, asal Jambi, dia naik ojek dari asrama ke gymnasium (nggak ada satu kilo) waktu latihan senam jam setengah enam pagi huahahah

Setelah masuk departemen, rasanya juga aneh. Hei, nggak ada lagi yang berteriak di depan kamarmu untuk berangkat kuliah, nggak ada lagi yang mengingatkanmu untuk belajar dan mengerjakan PR bersama, nggak ada lagi makan di tempat yang berbeda-beda, dan nggak ada lagi teman mengobrol selama pulang. Pengalaman adaptasi kehilangan temen-temen TPB dan asrama merupakan perpaduan yang berat.

Eh bukan kehilangan, lebih tepatnya berkurangnya penampakan mereka dalam keseharian. 

Aku masih ketemu sama beberapa temen TPB di kelas interdepartemen waktu semester tiga. Tiap Rabu, kami makan siang di Bread Unit. Atau kalau terlampau lapar dan ingin nasi, kami makan di kantin Sapta. Atau kalau sedang gila, kami jalan kaki melewati hutan untuk makan di Blue Corner, kantin Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.

Mereka masih ada. Di saat genting aku belum beli buku pengantar akuntansi, sementara besok pagi jam tujuh ada responsi dan wajib bawa buku, aku telepon Syifa dan dengan baik hati dia akan meminjamkan. Di saat gawat jam sepuluh malam aku nggak paham materi metode statistika semestara besok pagi ujian tengah semester, aku telepon Eno dan langsung menuju kontrakannya untuk diajarin sampai lewat tengah malam. Di saat kapanpun aku mau numpang tidur siang disela kuliah, aku menuju kontrakan Lina dan Rika. Dan di saat aku menemukan suatu fenomena aneh, Ipeh dengan cepat akan menanggapi dan ikut mengomentari setelah aku kirim sms.

Nggak cuma yang namanya aku sebut di paragraf sebelumnya, masih banyak, ada Della yang dihadiahi alat-alat mandi serba pink ketika ulang tahun, ada Finda yang tiba-tiba sms "apa kabar alien" ketika liburan, ada Hilda si beyonce yang rela mengajari aku mikroekonomi untuk ujian akhir. Dan masih banyak lagi juga teman-teman mereka yang baru aku temui ternyata aneh juga hahaha.

Kami masih menyempatkan diri bertemu beberapa menit untuk sekadar menceritakan hal-hal bodoh dan mengejutkan yang terjadi, menonton kalau ada film yang menarik, berbelanja hal yang dibutuhkan ketika ada satu hari libur nasional, dan yang baru saja pagi ini dilakukan adalah meng-sms hal yang tidak penting.

"Huh aku terjebak di forum membosankan bersama kakak-kakak bercelana bahan!"
"Hahaha celana bahan! Aku sedang di pembukaan bina desa bersama blupblupblup loh!"

Itu sms Ipeh kyahaha sekarang dia sangat sibuk dengan badan eksekutif di fakultas. Bahkan ketika kami ingin bepergian di akhir pekan dua minggu lalu, aku terlalu cepat datang di tempat janjian, sementara dua teman kami yang juga akan ikut bepergian masih berleha-leha di kontrakan. Oke, aku cengo sendirian menunggu 'orang yang biasanya main Jojo Fashion Show di asrama' selesai rapat bem, hahaha gaul emang sekarang nih si Ipeh.

Aku kira sebelumnya cerita dan minta pendapat siapapun itu sama aja. Aku pernah ada di fase bingung mengenai apa yang sebaiknya dilakukan dan aku minta pendapat seorang teman yang baik hati dan bijak. Dia memberi aku nasihat dan mengucapkan quotes yang keren. Sayangnya nasihat bijak dan quotenya nggak bikin aku berkata "oooh" ataupun mengangguk dalam hati.

Sementara ketika aku bercerita dengan lantang, bebas dan lepas kepada orang-orang ini, mereka dengan kata-kata sederhana dan tanpa konotasi apapun bisa membuat aku berkata "ooh gitu ya!" dan mengiyakan. Oke, aku ternyata bukan tipe orang yang gampang tersentuh dengan quotes. 

Ya, kami bukan tetipe orang yang suka dan menikmati kegalauan. Mereka tipikal orang-orang yang selalu bahagia. Mereka orang-orang yang mau diajak main dengan cara aneh dan antimainstream, naik angkot manapun yang kita enggak tahu, turun dimanapun dan mulai berpetualang. Iyah, seaneh itu. Kalau diibaratkan dengan serial komedi "How I Met Your Mother", mereka itu bagai Ted, Robin, Marshall, Lily, dan Barney versi perempuan dan nyata.

Keep calm and keep being an alien :D

15 Maret 2013

Buku, Misi Sederhana

Minggu lalu, akhirnya tim Sanggar Juara mengadakan 'upgrading'. Sebenernya aku masih bingung dengan definisi dari upgrading sendiri. Up dan grade. Secara bahasa, berarti artinya meningkatkan level diri-kah (?). Apapun deh, yang jelas lingkungan sekitar mengartikan upgrading pada umumnya sebagai proses untuk menjalin keakraban dan kekompakan untuk anggota baru dalam suatu organisasi.

persiapan

Tahun lalu sebagai anggota baru aku nggak ikut upgrading Sanggar Juara karena ada pelatihan jurnalistik bareng Tempo dan Radar Bogor. Jadi, ini pertama kalinya aku ikut upgrading yeaah! Kegiatan upgrading pengenalan masing-masing individu pengenalan organisasi lebih dalam, dan permainan berkelompok, yaitu pemaparan papan visi (vision board).


pemaparan papan visi oleh salah satu anggota baru

Tahun ini banyak papan visi yang keren, dari segi desain maupun isi.Yang menarik, mayoritas dari mereka bercita-cita jadi seorang entrepreneur. Tepuk tangan deh hehehe, jarang sekali habisnya rata-rata orang hanya ingin menjadi pekerja di perusahaan milik orang lain.

Ngomong-ngomong soal visi hidup, aku jadi inget resolusi tahun ini. Bukan resolusi tertulis sih, lebih kepada janji sama diri sendiri. Resolusi ini merupakan bagian dari misi untuk mencapai visi hidup. Awal tahun ini aku baca tempo.co dan menemukan artikel berjudul "40 Resolusi Tahun Baru Paling Populer di Inggris", ini linknya http://www.tempo.co/read/news/2013/01/03/174451906/Ini-40-Resolusi-Tahun-Baru-Paling-Populer. Apa resolusi paling populer nomor satu? Membaca buku lebih banyak tahun ini.

Kedengarannya sederhana. Cuma baca buku. Walaupun aku suka banget, tapi menyempatkan diri untuk membaca buku selain buku-buku kuliah ternyata susah men! Apalagi sampai rela mengeluarkan uang untuk membelinya. Tapi setiap orang beda-beda sih, ada juga kok yang loyal sama buku. Alternatif selain membeli, sebenernya banyak buku bagus di perpustakaan, tapi yang bikin nggak nyaman adalah ada durasi untuk peminjamannya.


(Not) Alone in Other Land, Kreatif Sampai Mati, Dream Catcher


Dua bulan lalu, aku beli (Not) Alone in Other Land. Bulan lalu aku beli Kreatif Sampai Mati. Bulan ini? Belum beli. Tapi aku akhirnya dapet pinjeman Dream Catcher dari Kak Iqoh, kakak tingkat di Sanggar Juara. Udah lama pengen beli dan baca buku ini, tapi sayangnya tiap ke toko buku selalu tergoda sama buku-buku lain. Kalap gitu kalo udah di gr*media, banyak buku bagus dan pengen dibeli zzzz.

Dikit banget waktu yang aku luangkan buat baca buku selain materi kuliah. Semoga besok-besok bisa mengatasi 'rasa malas' ini. Ohiya mulai tahun ini aku juga punya celengan khusus buat beli buku lho hahaha.

Jadi, pengen punya pengetahuan luas merupakan salah satu visi hidup, sementara salah satu misinya adalah dengan membaca buku dan nabung buat rajin beli buku. Sampe tahu buku-buku yang aku beli bisa berguna buat orang lain di masa depan.

Ngomong-ngomong soal buku, sejak tahun lalu hingga tahun ini, banyak film Indonesia yang diangkat dari buku-buku yang bagus (novel fiksi). Salah satunya, tahun ini kabarnya novel jadul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka bakal dirilis dalam bentuk film. Waktu aku kecil, Ayah bilang kalau Nenekku nangis setelah baca novel ini. Aku pernah meresensi novel berbahasa sulit ini buat tugas sinopsis sastra lama waktu SMP. Nggak nyangka buku ini bakal dijadiin film, pasalnya mayoritas film diadaptasi dari novel populer (jaman sekarang).

Sayangnya, banyak orang yang baru mengetahui atau menyukai buku/ novel yang bersangkutan setelah diadaptasi menjadi sebuah film. Padahal buku/ novelnya udah terbit sejak bertahun-tahun yang lalu. Seorang teman berkomentar, "Orang-orang heboh banget sih sama film X. Pada koar-koar filmnya bagus. Dulu aja waktu novelnya terbit dan gue koar-koar enggak ada yg tertarik buat baca,".

Buat orang-orang yang beralasan nggak suka baca karena buku itu terkesan 'serius'. Aduh sayang banget. Nggak ada buku yang serius, adanya buku yang nggak sesuai sama kesukaan kita. Jadi, pilih buku yang sesuai sama diri kita. Banyak kok. Buku tipe apapun tersedia di toko buku. Asal kitanya enggak males aja kesananya.

02 Maret 2013

Kepala dua, Penelitian, Skripsi, Kerja? Hah?

Hari Jum'at, aku cuma ada satu matakuliah supporting course (sc), yaitu Pengantar Ekonomi Keluarga (PEK) dari Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK). Kenapa ambil matakuliah itu? Kenapa bisa ngambil matakuliah dari jurusan lain? Bagi mahasiswa non-IPB mungkin bingung. Yah, tapi bukan itu topik bahasan kali ini.

Di kelas PEK pagi itu ada seorang senior yang maju ke depan kelas untuk menuliskan jawaban tugas. Setau aku itu kan angkatan 46. Sementara PEK ini matakuliah untuk angkatan 48. Nggak mungkin kalau si senior itu pengulang matakuliah karena aku tau si senior itu merupakan salah satu mahasiswi berprestasi.

Aku tanya ke mahasiswi jurusan IKK yang duduk di sebelah aku, "Eh kakak itu angkatan 46 kan? Kok dia baru ngambil matakuliah ini sekarang?"
"Iya. Mungkin dia ngehabisin matakuliah minor dulu, jadi mayornya baru diambil sekarang. Banyak senior yang begitu,"

Malamnya, ada rapat umum kegiatan Stock Day (program kerja Himpro Manajemen), sayangnya aku nggak bisa ikut. Maaf temen-temen. Ada verifikasi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan aku nggak bisa bantu banyak. Selain memang karena nggak paham prosedurnya, aku ikut kumpul rutin Klub Bacot Marketing.

Di akhir pertemuan, kakak-kakak senior angkatan 46 bilang, "Mungkin setelah ini kami nggak akan bisa se-intens ini ketemu kalian karena kami harus penelitian untuk skripsi,".

Penelitian. Skripsi. Aduh. Belum terbayang.

Usai kumpul, aku menuju sekretariat Koran Kampus dan mendapati orang-orang lagi makan kue ulang tahun. Yah, aku ketinggalan sesi pemberian kue buat si Shaun the Sheep, Fadhli. Karena jam malam student center, kita keluar untuk memberi surprise siraman air barbar kepada Shaun (dan ternyata dia udah bawa kaos cadangan!), kemudian ditraktir makan-makan!

Tadinya mau di Mie Aceh di jalan raya Dramaga. Tapi mie-nya ternyata udah abis. Saking bingungnya mau kemana, kita makan di emperan Babakan Raya (Bara) dan pesen makanan dan minuman dari gerobak terdekat. Hahaha seru, unik, murah meriah. Setelah tahun lalu pernah kemping di Cikabayan (kebun penelitian IPB yang jauh dan terpencil), ini salah satu malam ter-aneh bersama orang-orang ini.

mie rebus, roti bakar, pisang bakar, kopi, susu, teh. pura-puranya lagi di angkringan Jogja

Sambil nungguin makanan datang, Kak Wilaga cerita betapa sedihnya kalo ke kampus ngeliat orang-orang kuliah sementara dia udah enggak kuliah. Ya, semester delapan, ngurus skripsi.

Terus Nanda tanya, "Kak, abis lulus lu mau ngapain?"
*kemudian hening.

"Ya maunya punya usaha sendiri lah!". Aamiin kak!

Ya ampun, teman-temanku yang seangkatan udah pada berumur 20 tahun! Yang angkatan atas bahkan udah berumur 21, 22! Kepala dua lho. Dulu sih waktu kecil aku mikir kalo umur kepala dua itu ya buat tante-tante dan om-om.

Belom siap rasanya meninggalkan status sebagai teenagers.