21 Mei 2013

Main ke Coca Cola

Senin, 20 Mei 2013, aku berkesempatan untuk 'main' ke PT. Coca Cola Amatil Indonesia, Rancaekek, Bandung. Coca Cola memang fenomenal. Tahun ini Coca Cola menyandang gelar sebagai merek dengan nilai paling tinggi dan paling terkenal di dunia.

nuansa merah Coca Cola

Pada kelas manajamen pemasaran, dosen saya, Pak Jono mengajak kami menebak berapa nilai merek Coca Cola saat ini dan jeng jeng jeng... 50,2 miliar dolar Amerika! Mungkin sekarang sudah semakin meningkat. Kefenomenalan Coca Cola juga pernah aku baca di Majalah Marketeers edisi Februari lalu. Dalam satu lembar halaman artistik infografis yang menarik, banyak diungkapkan mengenai fakta-fakta dari minuman coke yang super terkenal ini.

126 Tahun. Usia sirup yang menjadi bahan penting pembuatan Coca Cola. Ramuan ini dibuat oleh apoteker bernama John Smith pada 1886.
4 Triliun Botol. Jumlah botol Coca Cola yang telah diproduksi hingga saat ini. 
94% populasi di dunia mengaku mengenal brand Coca Cola.
3500++. Jumlah portofolio minuman yang dimiliki oleh Coca Cola. Seluruh produk hadir dengan 500 jenis merek berbeda.
200. Jumlah negara yang menjadi target pasar Coca Cola. Logonya juga ditulis dengan 80 bahasa negara yang berbeda.
245.000%. Jumlah keuntungan yang Anda kantongi jika membeli saham Coca Cola sejak Initial Public Offering (IPO) pada tahun 1919 dan menyimpannya hingga kini. Salah satu orang terkaya di dunia, Warren Buffett, menjadikan Coca Cola sebagai saham favoritnya hingga kini.
9 gelas/ hari. Jumlah penjualan Coca Cola pada tahun pertama penjualannya. Saat ini Coca Cola dikonsumsi sebanyak 1 miliar botol per hari di seluruh dunia.


giant bottle

aku dan botol kaleng raksasa

Seru sekali melihat proses pembuatan dan mengetahui alur distribusi yang dilakukan oleh Coca Cola. Yang nggak kalah serunya adalah perjalanan di bus bareng temen-temen sekelas. Ada di bus A sejak perjalanan berangkat hingga pulang, tolong... nggak bisa berhenti ketawa. Mulai dari karaoke lagu normal, nonton Habibie Ainun dan Malaikat Tanpa Sayap, sampe main game jujur-jujuran yang menguak banyak rahasia yang nggak disangka. Terimakasih teman-temaaan.

Walaupun capek dan kurang tidur, tetap kuliah yeyeye!

20 Mei 2013

East Java !



"When was the last time you doing something for the first time?" - Trinity on The Naked Traveler 3.
Few years ago, I was a type of people who doesn't like to meet someone new. When I was in high school, I did not really like the school policy to change the classes every year. I hate to leave my old classmates and meet the new one. But life has told me the art of meeting new people. Since graduated from high school and become college student, I learn a lot. Life change, people change, you have to change (to be so good). Life is a mystery, so going to new places, learn about new people, get new friends and relation is one of what I called fascinating experiences.

Last month I sent my application and essay to Youth Environmental Leader Summit (YELS) 2013 in Surabaya. And thanks God, I accepted as the main participant. My friends were interested to apply in Future Leader Summit (FLS) in Semarang. Both of those events are will be hold in the same date, I chose YELS it means I have to go to Surabaya alone by myself on 16th May.

My parents supported me but they asked, "Are you scared?"
"No, I'm not going to Papua. And even I'm going to Papua, I will not scared. I must be excited," I told them.

I arrived at Surabaya on Thursday morning. The committee picked me up and took me to Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). My first thought after seeing ITS was... cool. Although ITS is not as big as my campus, it was really tidy, green, and clean there.

We got a strawberry bread for breakfast. I was in one table with Kak Iis from Universitas Sriwijaya (Palembang) and three boys from Bandung, Eko from Universitas Pendidikan Indonesia, Andrian from Universitas Padjajaran, and Diki from LP3I. Diki is the youngest among us. I'm salute for those new college students who were active to join such an event like this in another city since their first year. I thought that 100% peoples here are the persons I haven't ever meet yet but suddenly I found Destra, one of my friends in IYGS 2013, from Unair hahaha.

We got some materials during the first day. We met Mr. Sulistyono, an activist, he's one of the person that fight for education and environment. His willing to delete RSBI from Indonesia was accepted few months ago by the government after a long time fight. Mr. Sulistyono gave a material about self motivation. We also got a chance to meet Mrs. Hermien Roosita from Kementrian Lingkungan Hidup. She told us about government policy of environment. I felt grateful to hear and asked her about some policy thingy that I haven't ever think about before.

Me and all the participants got a surprise. The committee brought us to Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Mojokerto. It took about 2 hours by bus from Surabaya. I saw so many things during the trip. Surabaya was awesome. Tidy, clean, and green for sure.

I got a great three days in Mojokerto and Surabaya. New friends, new relation, new information, became a team leader, discussed something, planted mangrove, aah thanks God for letting me going to East Java and join this event so I could develop my self, my capacity to start doing something for my environment and beloved country.

view around Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Mojokerto

FGD team


outbound team
mangrove time!
 
many lampions and chinese thingy at pantai kenjeran surabaya


Aulia, me, Idris on our "enviro-man" T-shirts

I finished my time in East Java at 6.15 PM. The next day, I arrived at Jakarta then went to Bogor because I needed to take a rest before going to Bandung on Monday.

Anyway why did I write this post in English? I used to watch a comedy serial titled How I Met Your Mother by using english subtitle. Then I try to watch another well-known comedy serial named The Big Bang Theory without any subtitle. I felt bad and stupid because I rarely learn how to improve my english skill, so I tried to write this post in english :)

11 Mei 2013

Ayo Belajar Belanja Sambil Antre


Halo! Hari Sabtu ini seperti biasa kami turun lapang rutin ke Desa Pabuaran, Ciaruteun Ilir, Kabupaten Bogor. Ada delapan kakak asuh yang hari ini mendonorkan waktu luangnya untuk mengajar lagi, yaitu Feber, Ferdi, Citra, Azka, Raudhah, Audina, Gia dan Yosita. 

Kabupaten Bogor di pagi menjelang siang itu terkena sinar matahari yang lumayan terik. Puluhan angkot di jalan yang tidak terlalu lebar membuat arus lalu lintas menjadi tidak lancar. Tetapi semangat kami jauh lebih membara daripada suhu udara di angkot sewaan saat itu.

Adik-adik Sanggar Juara sudah lebih dulu sampai di markas kecil kami. Dua orang anak laki-laki yang pemberani memimpin doa untuk membuka kegiatan hari ini. 

“Apa kabar Sanggar Juara???” tanya kami usai berdoa.
“Luar biasa sehat, cerdas, ceria!!!” pekikan semangat mereka bahkan mengalahkan suporter tim olahraga manapun.

Jika Sabtu lalu adik-adik belajar membuat nata de coco, maka Sabtu ini kami mengajak adik-adik untuk membuat tempat pensil yang bisa diletakkan di atas meja mereka. Tema belajar hari ini selain memanfaatkan barang bekas, yaitu mengajarkan budaya mengantre kepada adik-adik Sanggar Juara sejak dini.

Belajar budaya mengantre? Bagaimana caranya? Adik-adik dibagi menjadi lima kelompok. Setiap kelompok diberikan tiga botol bekas kemasan air mineral. Beberapa kakak asuh bertugas menjadi pemilik warung yang menjual barang-barang yang adik-adik butuhkan untuk menghias tempat pensil mereka.

Setiap kelompok dibekali beberapa lembar uang dengan nominal berbeda-beda untuk membeli barang yang berbeda-beda pula. Ada warung pemotong botol, penjual gunting, penjual spidol, penjual lem, dan penjual kertas warna. Masing-masing adik di dalam kelompok tersebut memiliki tugas untuk menuju warung/ toko yang berbeda-beda dan dibekali lembaran uang yang berbeda. Mereka harus belajar berbelanja sambil mengantre.

Rupanya sangat sulit membiasakan adik-adik mengantre untuk mendapatkan sesuatu. Masih sangat banyak adik-adik yang menyerobot antrean temannya dan enggan mengantre. Kakak-kakak yang menjadi penjual dibuat harus ekstra bersabar untuk mengajarkan budaya antre kepada mereka. Tetapi sulit bukan berarti tidak bisa. Setelah diberi pemahaman mengapa kita harus mengantre, adik-adik sedikit demi sedikit mulai membentuk barisan dengan tertib untuk berbelanja.

Antre itu penting lho, karena dengan mengantre berarti kita menghargai keperluan manusia lain. Enggan mengantre berarti kita menganggap bahwa keperluan orang lain tidak lebih penting daripada keperluan kita. Untuk menghindari hal itu, perlu diajarkan dan dibiasakan budaya mengantre sejak dini.

hasil karya salah satu kelompok
Satu kelompok terbaik kami pilih sebagai juara. Selain karena tempat pensil yang mereka buat sangat kreatif, mereka juga sangat kompak dan semangat meneriakkan yel-yel. Di penghujung kegiatan, bersama-sama kami menyanyikan lagu “Terimakasih Guru” dan membaca doa penutup.


beberapa adik-adik Juara
(Kebagian nulis jurnal buat Sanggar Juara atas turun lapang hari ini, sekalian post di blog. foto-foto oleh Audina Amanda)

07 Mei 2013

Museum Nasional

Aku mampir ke diskusi terbuka tentang strategi budaya baru menuju dunia yang hijau dan damai. Berguna soalnya aku mau bikin paper tentang itu. Menariknya, interior ruangan didesain seperti gala dinner dan lokasinya di museum, yak Museum Nasional! Berkali-kali ngelewatin tapi baru kali ini masuk Museum Nasionalnya ahaha.

diskusi sama pihak PBB dan pemerintah Kalimantan Timur
Aku, Vrizky (Trisakti), Risma, dan Nafis (Sampoerna School of Education) muter-muter ke museum yang baru pertama kali kami kunjungi ini hehehe.


replika manusia purba bikin api


di samping almari peninggalan pejabat belanda

Vrizky, Risma, aku


replika perahu irian

06 Mei 2013

Kereta Malam


source
Akhir pekan ini aku bolak balik Jakarta-Bogor. Hari Jumat siang sepulang kuliah, aku ke Jakarta, terus nginep. Sabtu pagi balik ke Bogor lagi. Minggu pagi ke Jakarta lagi, dan malamnya pulang ke Bogor lagi. Tolong jangan tanya ngapain.

Soal pulang, aku lebih suka naik kereta/ commuter line. Selain karena lebih murah dan aku nggak terlalu suka naik bus (suka pusing dan mual), ada sekelebat keinginan aneh waktu kelas 3 SD. Aku dan keluarga lagi nungguin kereta ke Semarang di Gambir dan aku lihat ada kereta mirip dengan kereta yang digambarkan oleh Yoshito Usui, komikus Crayon Shinchan.

"Ayah, itu kereta apasih kok kayak di komik?"
"Itu kereta Jakarta-Bogor. Kereta bekas Jepang,"

Oooh pantesan mirip sama yang digambar di komik. Detik itu juga, aku pengen naik commuter line kalau aku besar nanti. Oke akhirnya keinginan aneh ini tercapai. Aku diajarin Ayah naik commuter line dari Bogor ke Jakarta sepuluh tahun kemudian waktu baru kuliah. Aku turun di Gambir, persis seperti keinginan sepuluh tahun lalu. Tapi sayangnya sekarang commuter line udah nggak berhenti di Gambir lagi.

Eh aku naik kereta yang kayak di komik-komik itu lho. Kereta yang dinaikin Ayahnya Shinchan kalau berangkat ke kantor, kereta yang dinaikin Miiko dan Mari-chan di komik Kocchimuite Miiko waktu mereka main ke kota sebelah. Ahaha.

Kalau pulang ke Jakarta, aku paling suka pulang malam/ usai magrib dari Bogor. Kereta nggak terlalu penuh karena melawan arus. Aku bisa duduk dan memperhatikan orang-orang di sekitar. Setelah turun di stasiun, aku bisa naik bus dan lihat muka orang-orang yang lelah habis bekerja, lampu-lampu kota, dan banyak kendaraan yang berlalu lalang. Jakarta lebih cantik kalau malam :)

04 Mei 2013

Teori Pohon Kuat dan Pohon Bambu

Jumat kemarin aku berkesempatan buat ketemu Kak Jonathan Christian untuk suatu keperluan. Selain Kak Jojo, sore itu ada juga Kak Zamzam (IPB), Kak Nicky (Prasmul), Kak Anggun (Univ Bakrie), Bryant (Sampoerna), dan Fioni (Atmajaya). Kami ber-enam tergolong orang-orang yang dituduh perfeksionis oleh orang-orang sekitar maupun dari pendapat internal diri kami sendiri.

"Wah, kalo perfeksionis biasanya moody tuh," ujar Kak Jojo sambil ketawa.

Ada teori menarik yang sedikit menohok orang-orang perfeksionis yang diceritakan oleh Kak Jojo sore itu. Teori pohon kuat dan pohon bambu.

"Pernah liat pohon tumbang?" tanya Kak Jojo.
"Pernaaah," kami serempak menjawab.
"Nah biasanya pohon yang tumbang itu pohon yang kuat kan," tambahnya.

Kak Jojo mengibaratkan orang-orang perfeksionis itu sebagai pohon yang kokoh dan kuat. Punya pendirian, standarisasi, dan berusaha keras untuk mempertahankannya. Tapi jika pohon tersebut diterpa angin yang lebih kuat, pohon itu akan tumbang. Jatuh. Dan sulit untuk bangkit lagi.

Berbeda halnya dengan pohon bambu. Pohon yang satu ini selalu bergerak mengikuti angin, seberapa besarpun anginnya, pohon bambu selalu bisa bertahan dan sangat jarang tumbang. Bergerak mengikuti angin bukan berarti nggak punya pendirian, tapi merupakan bentuk adaptasi menyesuaikan diri khususnya pada standarisasi terhadap kondisi lingkungan.

"Coba deh sesekali jadi pohon bambu,"

Pohon bambu ya. Iya memang sesekali harus belajar jadi pohon yang berbeda-beda. Sesekali harus memahami lingkungan sekitar lebih dalam dan tidak terlalu menuntut standar yang kita tentukan terpenuhi.