29 Juni 2013

Young On Top National Conference 2013

Tahun ini aku diberi kesempatan untuk gabung di Young On Top dan 'ditempa' selama satu tahun ke depan. Setelah melalui proses seleksi yang sejujurnya menguras otak dan tenaga (mayoritas proses seleksi; nulis), akhirnya aku dipanggil wawancara dan disambut, "Welcome to the jungle!" gitu kata Kak Jo. Semoga nggak cuma bisa sekadar masuk, tapi bisa dinyatakan lulus juga. Aamin.

Ohiya, kemarin aku hadir di Young On Top National Conference 2013, semacam talkshow dan pelepasan Young On Top Campus Ambassador Batch 3. Yeay bisa datang gratis hahaha. Ada Bu Mari Elka Pangestu (Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif), Ken Dean Lawadinata + Andrew Darwis (CEO Kaskus), Mardi Wu (CEO Nutrifood), Noni Purnomo (Vice President Blue Bird Group), Kemal Arsjad (CEO Lynx Film), Hary Tanoesoedibjo (CEO MNC Group), dan Piyu Padi.

YOTers!
bareng kak Iqoh
aku, rika, dewi, mas billy, naufal, dan galih

Berhubung terlalu banyak kalau aku tulis secara detail, jadi aku mau ambil quotes dari masing-masing mereka aja ya. Sumbernya twitter @YoungOnTop
Saya ingin berperan di kebijakan publik yg banyak membantu rakyat - Mari Elka Pangestu.

No smooth road to success - Ken & Andrew.

Saya belajar banyak membangun kepercayaan - Mardi Wu.

Kejujuran itu penting karena itulah dasar dari kesuksesan - Noni Purnomo.

Bangkrut itu biasa. Yang luar biasa adalah memperdalam ilmu agar tidak bangkrut lagi. - Kemal Arsjad.

Apapun yg kita kerjakan fokuslah pada kualitas - Hary Tanoesoedibjo.

Sekarang bukan lagi jamannya kompetisi tapi kolaborasi - Billy Boen & Piyu Padi.

27 Juni 2013

Semester Empat!

Satu tahun Tingkat Persiapan Bersama (TPB) udah lewat. Satu tahun pertama di departemen Manajemen juga udah lewat. Di akhir semester empat ini rasanya super luar biasa. Selain usia yang semakin dekat menuju kepala dua, di tingkat dua perkuliahan ini perjuangan 'hidup' juga makin terasa dekat. Tapi asik dan seru banget!

Matakuliah mayor semester ini cuma lima biji, yaitu Akuntansi Biaya (Akbi), Manajemen Produksi dan Operasi (MPO), Manajemen Pemasaran (Manpas), Manajemen Keuangan (Mankeu), dan Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM). Berhubung aku dan teman-teman harus lepas minor Ilmu Konsumen secara terpaksa, semester ini aku ambil mata kuliah supporting course yaitu Bisnis Internasional dari Agribisnis dan Pengantar Ekonomi Keluarga dari Ilmu Keluarga dan Konsumen.


pura-pura belajar di perpustakaan pusat

Kalo kata orang-orang, hidup itu asik kalau dinikmati. Makanya pilih konsentrasi kuliah yang sesuai dengan apa yang kamu mau. Sesusah apapun, sesulit apapun, kalau kamu suka, pasti kamu menikmati. Semester ini jauh lebih menikmati kuliah daripada semester-semester sebelumnya. Di kelas, dengan dosen-dosen profesional, kamu bisa menemukan banyak fakta di lapangan yang menarik.

"Oooh gitu ya,"
"Wah ternyata....,"
"Kayaknya seru deh kalo ntar aku penelitian soal ini,"

Otak dan hati nggak henti-hentinya manggut-manggut ketika dosen seperti Bu Farida cerita soal pengalamannya menjadi auditor, atau keheranan atas cerita Pak Ali soal PT. Hero yang nggak membagikan dividen kepada para pemegang saham selama bertahun-tahun, bahkan sedikit bergidik ketika Bu Erlin cerita bahwa ia selaku manajer SDM IPB sedang dipusingkan oleh karyawan yang menuntut institusi ke pengadilan.

Pengerjaan tugas MPO yang mengharuskan masing-masing kelompok turun lapang ke lokasi yang berbeda setiap minggunya, meskipun repot, tapi seru. Kami banyak berbincang-bincang mulai dari manajer Pecel Lele Lela hingga dengan mahasiswa angkatan 45 yang sudah punya perusahaan produksi tali sendiri. Pengerjaan tugas Akbi dimana kita harus menghitung Harga Pokok Produksi dan rupanya mayoritas usaha yang diteliti menetapkan HPP dibawah yang seharusnya alias defisit. Pengerjaan iklan Manajemen Pemasaran dimana kelompokku harus jauh-jauh shooting ke Bogor kota. Sampai diskusi beberapa kasus Bisnis Internasional yang berlangsung panas dan alot. Seru :D


Turun Lapang Matakuliah Manajemen Produksi dan Operasi; Analisis Lokasi dan Tata Letak Pecel Lele Lela

Kuliah emang seru, tapi nggak gampang dijalanin (macam iklan provider). Pengerjaan tugas-tugas jangan dikira lancar jaya kayak jalan tol bebas hambatan. Menyesuaikan jadwal dengan anggota kelompok, menahan keegoisan pribadi, bahkan menyesuaikan dengan cuaca dan koneksi internet kadangkala membutuhkan ketabahan yang lebih tabah daripada hujan di bulan Juni-nya Sapardi.

Momen-momen ujian yang mengharuskan begadang selama hampir sepuluh hari jelas nggak mudah. Sebagai orang yang nggak kuat melek sampai malam, aku harus selalu minum kopi kalau mau begadang untuk belajar. Titik terberat yaitu ketika ujian dua matakuliah dalam satu hari dan ketiduran walaupun udah minum kopi. Bahkan teman aku sampai minum kratingdaeng pagi harinya agar bisa melek setelah ujian untuk belajar demi ujian berikutnya. Aku juga pernah mengerjakan ujian dalam keadaan 'setengah sadar', buru-buru keluar dan pulang ke kosan lalu tidur!

Beginilah kehidupan akademik. Tapi tenang aja, kita nggak sendirian, ada temen-temen sekelas :)

H2! (awalan nomor induk mahasiswa kami)

foto-foto oleh Grace, Anjar, dan Okky.

23 Juni 2013

I Am Locavore



Locavore. Istilah ini pertama kali aku dengar tahun lalu waktu mampir ke gerai Indonesia Berseru di Social Media Festival 2012. Jadi apa itu locavore? Pernah belajar IPA waktu SD kan? Nah, makhluk hidup itu ada yang karnivore, herbivore, dan omnivore. Nah, istilah locavore merupakan plesetan unik dari istilah  itu. Locavore merupakan gerakan yang mengkampanyekan pentingnya mengonsumsi pangan lokal. 

Apa itu pangan lokal? Mengapa penting untuk dikonsumsi?
Pangan lokal merupakan pangan yang diproduksi dan diolah di suatu daerah tertentu (dalam konteks ini, Indonesia). Pangan lokal itu identitas, ciri khas. Bukan berarti pangan impor tidak boleh dikonsumsi, tetapi sebaiknya dibatasi jangan berlebihan. Dengan mengonsumsi pangan lokal, secara tidak langsung, kita juga membantu petani lokal, produsen lokal, dan meningkatkan kesejahteraan negeri kita sendiri. Pangan lokal itu lebih segar, lebih sehat, karena tidak mengalami proses dan perjalanan yang panjang dari tangan produsen ke konsumen akhir.

Youth Camp Indonesia Berseru 2013
Acara tahunan ini merupakan kolaborasi antara Indonesia Berseru dan Veco Indonesia. Setelah melalui proses seleksi essay, ada 20 orang yang berhak mengikuti acara ini gratis ditambah 20 orang lainnya delegasi dari Yayasan Pangan Sehat Indonesia (Solo) dan Healthy Life Healthy Food (Bali). Aku tertarik dengan isu ini karena ini jadi hal penting buat menyusun rencana hidup ke depannya untuk buka usaha pribadi di bidang pangan lokal (aamin!)

Lokasi perkemahan sangat jauh dan berada di ketinggian. Kami harus jalan kaki naik ke lokasi karena tingkat kemiringan jalan terlalu ekstrim untuk dilewati kendaraan roda empat. Pegel. Saat itu juga aku mempertanyakan lagi pada diri sendiri soal keinginan untuk naik gunung. Baru berapa puluh meter aja udah kapok begini. Alhamdulillah lokasi perkemahan yang super nyaman dan indah bisa mengobati perjalanan panjang hari itu.

Ohiya disini aku ketemu lagi sama Risma dan Nafis dari Sampoerna School of Education (SSE) yang sekarang namanya berubah jadi Universitas Siswa Bangsa Internasional (USBI). Bulan lalu kami ketemu di Museum Nasional.

D'Jungle Private Camp, Ciburial, Bogor

Selama tiga hari, kami dapat banyak materi soal pengembangan potensi diri dan diskusi mengenai pangan. Ah seru parah! Banyak hal mencengangkan yang selama ini aku bahkan nggak tahu. Semacam merasa gagal jadi anak pertanian karena selama ini informasi dan pengetahuan soal pangan cuma aku dapat dari matakuliah Pengantar Ilmu Pertanian dan Bisnis Internasional. Jadi harus banyak belajar lagi.

mbak Ida lagi speak-up

tim onde-onde; Kak Mor (Garut), Mita (Solo), Yoseph (Bali), aku, Tresna

Selain materi dan diskusi yang terlampau seru, kami juga turun lapang langsung untuk mengamati kondisi pertanian dan pola konsumsi pangan warga sekitar. Aku dan kelompokku berkunjung ke Kampung Pasir Manis dan menemukan warga setempat yang bersedia menjadi responden, beliau bernama Mak Rum, usianya sekitar 70 tahun-an.

Kak Mor, Tresna, dan Mak Rum

Berdasarkan pengamatan beberapa kelompok, masyarakat setempat dikenal sangat senang mengonsumsi mie instan hampir setiap hari. Menggiurkan sih memang enak, praktis, dan mudah didapat. Sayangnya kandungan gizinya kurang baik dan mie terbuat dari gandum yang sudah pasti impor. Tercemar gaya hidup serba instan dan praktis, mereka juga sangat menyukai junk food macam McD dan KFC dan menganggap mengonsumsi junk food merupakan hal yang keren.

Pekerjaan masyarakat sekitar tidak lagi berfokus pada bidang pertanian, melainkan pariwisata. Banyak villa dan air terjun yang dikelola oleh suatu perusahaan sementara warga setempat menjadi karyawannya. Beberapa masyarakat juga menginginkan solusi dari masalah ini, penyuluhan serta pendampingan pertanian dan pangan menjadi alternatif.

Tapi ada satu keluarga yang unik, ibu rumah tangga yang bersangkutan menerapkan pola diversifikasi pangan kepada anak-anaknya! Mereka tidak hanya makan nasi, melainkan juga jagung, singkong, dan ubi sebagai alternatif pangan. Ibu ini justru sangat menghindari konsumsi mie instan untuk anak-anaknya. Ternyata jelas banget peran ibu yang cerdas selaku manajer rumah tangga.

Setidaknya mulai sekarang perlu ada pertimbangan sebelum mengonsumsi sesuatu, darimana pangan tersebut berasal? Sehatkah? Segarkah? Siapa yang kita untungkan apabila kita membelinya?


foto-foto oleh Mas Tejo dan Yoseph

15 Juni 2013

How I Met Your Mother

Pernah mendengar cerita bagaimana kedua orangtua kalian bertemu? Singkat atau panjang? Sederhana atau rumit? Yep, konsep inilah yang diangkat oleh Craig Thomas dan Carter Bays untuk dijadikan sebuah serial televisi.

How I Met Your Mother merupakan serial situasi komedi. Serial ini menggambarkan seorang pria bernama Ted Mosby, yang menceritakan kepada anak-anaknya mengenai bagaimana ia bisa bertemu dengan ibu mereka. Ditayangkan sejak tahun 2005 hingga saat ini, How I Met Your Mother dapat dikatakan sangat sukses. Acara ini dinominasikan sebanyak 24 kali pada Emmy Awards dan telah menang sebanyak tujuh kategori. Dua pemain serial ini, Alyson Hannigan dan Neil Patrick Harris dinobatkan sebagai aktris dan aktor komedi terfavorit.

barney, robin, ted, marshall, lily
Ted mulai 'serius' mencari jodoh ketika Marshall dan Lily, kedua sahabatnya sejak kuliah yang juga tinggal satu apartemen dengannya bertunangan. Ted membicarakan hal ini dengan ketiga sahabatnya, yaitu Marshall, Lily, dan Barney di McLarens Cafe, bar favorit mereka yang berada tepat di samping apartemen Ted, Marshall, dan Lily. Pada hari itu, Ted bertemu dengan Robin, seorang pembawa berita yang menarik perhatiannya. Robin akrab dengan Marshall, Lily, dan Barney. Mereka berlima menjadi sahabat karena sering berkumpul tiap malam di McLarens.

Robin dan Ted berpacaran selama satu tahun hingga mereka putus beberapa hari sebelum pernikahan Marshall dan Lily. Hingga tahun 2013, banyak hal terjadi pada hidup mereka berlima. Marshall dan Lily memiliki anak, akan pindah ke Roma. Barney dan Robin jatuh cinta dan akan menikah. Sementara Ted, berkali-kali bertemu wanita baru yang ternyata bukan jodohnya. Seluruh rangkaian cerita tersebut membawa penonton pada satu pertanyaan, yaitu siapakah sang ibu? Di episode terakhir season 8, muncullah adegan seorang wanita dengan payung berwarna kuning, yang merupakan sang ibu. Sayangnya, saat ini belum ada satu episode-pun dari season 9 yang keluar. Nggak mungkin menulis sinopsis serial ini karena terlalu panjang dan detil, jadi aku mau cerita sedikit soal beberapa hal yang aku suka dari serial How I Met Your Mother.

True New-York-ers

Meskipun hanya Barney dan Lily yang tinggal di New York sejak kecil, namun Ted, Marshall, bahkan Robin yang berasal dari Kanada menganggap diri mereka sebagai penduduk New York sejati. Mereka berlima menganggap New York sebagai tempat tinggal paling ideal untuk hidup. Walaupun penuh keramaian dan gedung pencakar langit, mereka percaya bahwa New York adalah kota modern yang hangat, kota dimana mereka bisa menganggapnya sebagai 'rumah'.

McLarens Cafe

Bar kecil disamping apartemen Ted, Marshall, dan Lily merupakan tempat favorit mereka berlima berkumpul. Mereka selalu duduk di kursi favorit mereka. Pemilik bar dan bartender sudah sangat dekat dan akrab dengan Ted, Marshall, Lily, Barney, dan Robin. Di tempat ini mereka biasa bercerita soal keseharian masing-masing. Mulai dari hal penting, sampai hal terbodoh sekalipun.

Yellow Umbrella

Sejak awal, anak-anak Ted telah mengetahui bahwa pertemuan kedua orangtua mereka disebabkan oleh sebuah benda, yaitu payung berwarna kuning. Ted mengisahkan bagaimana bisa payung kuning miliknya tersebut jatuh ke tangan sang ibu. Berawal dari kunjungan Ted saat malam hujan ke apartemen salah satu mahasiswinya (FYI, Ted dosen arsitek), sampai pada payung tersebut ada di malam pernikahan Barney dan Robin.

Dream Job

Bekerja, bekerja, dan bekerja merupakan ciri khas orang Amerika, terlebih penduduk New York. Hal tersebut juga digambarkan pada serial ini. Proses mendapatkan pekerjaan impian tidaklah mudah bagi Ted, Marshall, Lily, Barney, dan Robin. Ted ingin menjadi seorang arsitek dan membangun gedung pencakar langit di New York. Marshall ingin mengabdikan dirinya sebagai ahli hukum lingkungan. Lily bekerja sebagai guru TK, namun sangat ingin berkutat di bidang seni. Robin yang ingin menjadi jurnalis handal. Dan Barney, menganggap bahwa bekerja di bank adalah pekerjaannya yang paling keren.

Friendship

Ini yang paling lucu sekaligus mengharukan. Sepanjang episode selama delapan season, banyak cerita soal persahabatan Ted, Marshall, Lily, Barney, dan Robin. Kebiasaan mereka berkumpul di bar, makan bersama di apartemen Lily setiap hari besar seperti Thanksgiving, Natal, Ulang Tahun, intervensi ketika salah satu dari mereka berbuat salah, bagaimana mereka menghibur satu sama lain, dll.

Jalan cerita yang unik walaupun mengisahkan keseharian, bikin How I Met Your Mother ahli dalam membuat penonton penasaran mengenai apa yang akan terjadi selanjutnya. Pokoknya empat jempol buat serial ini!


salam,
Nadia, yang menunggu keluarnya season 9

02 Juni 2013

Kumpul-kumpul Komunitas

Semua berawal dari aktivitas aku mengikuti akun-akun twitter gaul yang kaya akan informasi. Suatu hari aku nemu pendaftaran acara Pre-Event Indonesia Community Network 2013 yang diadakan oleh pemudaoptimis.org. Aku kabarin Citra, manajer hubungan masyarakat-nya Sanggar Juara buat daftar dan ikut acara ini biar jaringan, pengetahuan, dan pengalaman kita meluas dan bisa didampak positifkan ke Sanggar Juara. Tapi sayangnya dasar Citra anak Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat yang turun lapang melulu, jadinya Citra nggak bisa dateng dan aku menggantikan. 

Kebetulan Sabtu ini aku dan Feber, pak ketua, bakal ada janji wawancara di Tebet sore harinya. Jadi paginya kami hadir dulu ke ICN 2013 di Hotel Novotel, Glodok. Berhubung Jumat siang aku pulang ke Jakarta, jadi berangkatnya misah karena Feber dari Bogor. Dan acara ICN 2013 bener-bener keren, gaul, mewah, dan... gratis!

ICN 2013 ini sebenernya bertujuan untuk menjadi wadah berkumpulnya komunitas se-Indonesia. Main event sendiri bakal diadakan 28-29 September 2013 nanti. Tiap komunitas bakal buka booth masing-masing. Yang serunya lagi, kami bakal nerbitin buku Do Nation bareng-bareng (aamin!). Tanggal 29 September 2013 nanti insya Allah juga bakal diresmikan sebagai Hari Komunitas Nasional.

Tiba-tiba, aku dapet kabar dari Devina, temen SMP aku. Lama banget kami nggak ketemu. Waktu SMA dia ikut kelas akselerasi dan sekarang kuliah di President University. Selama ini paling dapat kabar via twitter dan baca tumblrnya. Devina dateng mewakili komunitas Cewe Quat, dia juga jadi personal assistant-nya Bunga Mega, founder Cewe Quat yang juga Mentor di Young On Top.

devina

Hal nggak disangka muncul lagi, ada perempuan yang duduk di belakang aku dan manggil, "Azka yaaa?". Wah rupanya itu si Rizqa dari Save Street Child. Rizqa ini satu SMA sama aku dulu. Kami pernah ketemu di Social Media Festival tahun lalu. Pas istirahat, sebelum aku beranjak dari tempat duduk, ada lagi yang nyamperin dan manggil, "Azkaaa,". Yap, lagi-lagi ada temen SMA, yaitu si Lita dari komunitas Jenius (Jendral Hijau Nusantara). Mulailah kami makan siang bareng sekaligus reuni kecil-kecilan hahaha enggak nyangka deh!

Selanjutnya, kami dibagi ke dalam ruangan yang berbeda-beda sesuai dengan bidang yang digeluti masing-masing komunitas. Aku dan Sanggar Juara tentunya di ruangan pendidikan, barengan sama Save Street Child, Rumah Merah Putih, Sahabat Anak, Perkumpulan Hubungan Masyarakat Muda, Cewe Quat, Lingkar Ganja Nasional, English Optimizer, Kampung Engineering, dan Youth Acts For Indonesia. Kami dibagi jadi lima kelompok dan mulai diskusi bareng sesuai tema yang mau dibahas.


rizqa, lita, aku

sama Kak Fay, Bandung Berkebun

Usai FGD, aku dan Feber cabut menuju Tebet. Naik transjakarta menuju Pancoran. Kita mau ketemu kakak-kakak Indonesian Future Leaders (IFL) di Starbucks.

Beberapa hari lalu aku agak kecewa karena ditolak alias gagal seleksi berkas di IPB Goes To Field 2013. Aku daftar yang program Irigasi dan Pemetaan Lahan di Kalimantan sama program pengembangan software buat petani cabe di Lampung. Mungkin aku ditolak karena bidang studi yang aku ambil amat sangat nggak nyambung kali yah, soalnya yang dipilih semuanya anak Fakultas Pertanian. Alhamdulillah ditolak, Allah punya rencana lebih baik buat aku, contohnya kejadian kemarin dan weekend sampai akhir bulan ini sudah full-booked, terjadwal dengan baik hehe. Kalau nggak ditolak kan aku harus ikut kuliah lapang tiap weekend :D