26 Oktober 2013

Get Together with Goodwill Sponsors

Hari ini sedikit menyedihkan. Ada monthly meeting Young On Top dan sudah bulan kedua aku nggak bisa ikut. Bulan sebelumnya, aku harus kontrol ke dokter. Sementara bulan ini, aku harus hadir di acara Get Together, pertemuan penerima beasiswa Goodwill dengan sponsornya masing-masing. Bu Mien sudah wanti-wanti sejak dulu bahwa kami wajib hadir di acara Get Together karena para sponsor akan hadir.

Pagi-pagi aku dan teman-teman udah sampai di FISIP UI (lokasi Get Together di auditorium-nya). Ngobrol dengan Bu Mien dan melihat daftar sponsor yang konfirmasi hadir dan...... betapa kecewanya aku karena sponsorku, pihak American Chamber of Commerce/ AmCham, tidak konfirmasi hadir. Padahal aku super duper ingin bertemu hiks.


padahal sudah kepo terlebih dahulu mengenai sponsor

Acara dimulai. Mulai banyak bule-bule berdatangan dari Nordic Club, American Women's Association, British International School-PTA, St. Patrick’s Society, beberapa orang secara pribadi (tanpa organisasi/ perusahaan) dan kelompok alumni. Yang menarik, ada seorang bapak bernama William Sunderlin, beliau mensponsori sekitar 10 anak, waktu makan siang, mereka kumpul bareng dan seperti seorang Ayah dengan banyak anak hihi. Yang lucu lagi, si Ayu, disponsori oleh Kimberly Fisher dan suaminya, Daniel Horan, mereka berfoto dan makan siang seperti orangtua dan satu anak tunggalnya.


bersama sponsor dan pengurus yayasan


Aku sempet ngobrol dengan salah satu teman dari FKG UI yang sponsornya juga tidak hadir sejak tahun lalu karena tinggal di luar negeri (dia ikut perpanjangan beasiswa lagi tahun ini), katanya AmCham membiayai special training Goodwill tahun lalu (pelatihan khusus di Wisma Kinasih, Puncak, tiap April). AmCham juga ada di daftar fasilitator pelatihan terakhir bulan Juni 2014. Semoga aku bisa ketemu AmCham di Get Together berikutnya aamin!

Ohiya mengapa hari ini sedikit menyedihkan? Karena ternyata Mas Rene Suhardono hadir jadi tamu di monthly meeting Young On Top! Aku penggemar bukunya padahal. Sayang banget aku nggak bisa hadir. Dan besok Senin aku UTS dua biji kyaaaa~

20 Oktober 2013

Hot Button to Press, Tips Magang, dan Presentasi Efektif

Setiap bulan, sebagai penerima beasiswa Goodwill, aku wajib ikut pelatihan yang diberikan. Bulan ini pertama kalinya aku berangkat bareng temen-temen dari kampus, biasanya berangkat dari Jakarta. Berangkat dari Dramaga emang agak waswas, selain karena jauh dari stasiun Bogor, medan yang sempit dan acapkali macet sering jadi penghambat datang tepat waktu. Berhubung beasiswa ini khusus IPB dan UI, maka proses pelatihan selalu diadakan di UI, nggak mungkin di IPB yang jauh (=_=)

Sesampainya di UI, kami kebingungan menuju Pusat Kegiatan Mahasiswa (Pusgiwa), naik bis kuning kuno (bis yang biasanya sedang dipakai untuk acara bedah kampus anak SMA), jalan kaki kesana kemari, akhirnya sampai juga beberapa menit sebelum acara dimulai.

Fasilitator pelatihan pertama hari itu yaitu Mas Dipta Dwitya dari Medco. Tema pelatihannya adalah kepemimpinan. Aku udah berkali-kali denger orang bicara soal kepemimpinandan rata-rata ya sama topik bahasannya itu-itu aja. Tapi anehnya, kali ini beda.

Hot Button to Press
Kami dibagi menjadi beberapa kelompok dan diminta mencari jalan keluar suatu kasus yang terkait dengan kepemimpinan. Kasus tersebut kita cari akar masalahnya, lalu kita putuskan nilai kepemimpinan yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah tersebut. Kemudian kita cari hot button to press agar masalah tersebut dapat diselesaikan.

Apa itu hot button to press? Hot button to press adalah tombol utama yang harus ditekan atau penawar atas masalah yang ada. Misalnya, badan si X bau. Maka kalau aku menjual parfum kepada si X, sesungguhnya bukan parfumnya yang aku tawarkan, melainkan adalah wanginya, nah itulah hot button to press-nya.

Setelah itu, tiap-tiap kelompok akan mempresentasikan hasilnya bersama-sama. Lumayan canggung disini karena tanpa persiapan harus presentasi dengan Bahasa Inggris. Sebenernya bisa aja pakai Bahasa Indonesia, tapi kalau dipikir-pikir kapan mau belajar kalo takut salah terus, jadi ya..... udah ceplas ceplos aja walau belum bener sepenuhnya juga.

Tips Magang
Salah satu anak Goodwill baru aja beres magang di Medco dan Mas Dipta jadi pembimbing magangnya. Oleh karena itu Mas Dipta jadi sadar betapa pentingnya memberi pengetahuan mengenai magang supaya kami nggak bingung harus melakukan apa ke depannya jika sedang magang. Berikut sedikit rangkumannya (aslinya banyak sih tapi sulit merangkumnya).

1) Langkah pertama; Mengapa harus magang? Bagaimana menjalani hari pertama? Bagaimana agar bisa bergabung dengan karyawan lain?
Magang dibutuhkan agar kita bisa belajar lebih jauh. Menjadi mahasiswa yang magang bukan berarti kita hanya fokus kepada penyelesaian tugas magang kita, melainkan juga fokus membangung koneksi dengan perusahaan. Berkenalan dengan para karyawan merupakan hal yang wajib dilakukan di hari pertama. Sering-sering menyapa dan menawarkan bantuan juga merupakan tips agar bisa lebih dekat dengan karyawan lain.

2) Kerja Keras; Berpikiran terbuka, maanfaatkan waktu.
Mahasiswa seringkali hanya fokus di bagian dimana mereka ditempatkan untuk magang sehingga tidak mempedulikan bagian lain dalam perusahaan sekalipun bagian tersebut berkaitan. Padahal seharusnya mahasiswa berpikiran terbuka dan aktif belajar dari bagian manapun.

3) Penyempurna; Tinggalkan kesan
Agar diingat oleh pembimbing dan karyawan lain di perusahaan, mahasiswa perlu meninggalkan kesan yang baik, misalnya dengan bertukar kartu nama, memberi bingkisan, dan tentunya merawat hubungan baik dengan silaturahmi.

Contoh Presentasi Efektif
Fasilitator pelatihan kedua hari itu adalah Kak Steisianasari Mileiva dari World Bank. Kak Steisi juga alumni Goodwill dan IPB. Presentasi merupakan salah satu rutinitas Kak Steisi, nggak heran ia bisa menyediakan materi yang simpel tapi dahsyat dan menyampaikannya dengan hampir sempurna.

Materinya umum, bisa dibaca dan dibawakan oleh siapapun, bisa dicari di google juga. Tapi contoh nyata yang diberikan Kak Steisi saat mempresentasikan tips presentasi merupakan presentasi terbaik yang pernah aku saksikan (serius). Memang benar ya, cara terbaik untuk menyampaikan sesuatu itu dengan memberi contoh nyata.

Bermanfaat banget lah pelatihan hari itu. Nggak nyesel baru pulang sore-sore kehujanan jalan kaki dari Pusgiwa sampai Stasiun Pondok Cina (akibat udah nggak ada bis kuning dan ojek). Sayangnya sore itu terjadi penumpukan mahasiswa yang hendak beli tiket di depan loket stasiun yang cuma buka satu. Alhasil suasana Stasiun Pocin sore itu penuh sesak kayak antri BLT.

15 Oktober 2013

Social Media Festival 2013

Hore! Akhirnya Social Media Festival (SocmedFest) tahun ini ada lagi! Berbeda dengan tahun sebelumnya yang dilaksanakan di Gelanggang Renang Gelora Bung Karno, tahun ini SocmedFest diadakan di Fx Sudirman. Tahun ini SocmedFest hanya diadakan dua hari, yaitu 12 dan 13 Oktober 2013. Aku cuma datang di hari kedua karena hari sebelumnya ada pernikahan sepupu.

Indoor Kurang Seru?
Menurutku malah jadi kurang seru karena untuk acara begini asiknya justru outdoor biar lebih ramai dan leluasa. Terlebih lagi, tahun ini space untuk tiap komunitas diperkecil. Bayangkan, masa satu meja kecil dipakai oleh tiga komunitas sekaligus. Panggung utama ada di luar Fx, kumpulan komunitas pertama ada di F1, sementara komunitas lainnya ada di F3. Terpisah, jadi kurang ramai, kurang greget.

Donor untuk Sang Juara
Tahun ini Sanggar Juara daftar lagi dan lolos kurasi. Kami dapat jatah buka gerai di F3 dan satu meja bareng Save Street Child dan Coin A Chance. Kami juga memanfaatkan acara ini untuk menggalang dana lewat program Donor untuk Sang Juara. Kalau ada pengunjung yang menyumbang dalam nominal tertentu, kami akan membelikan barang tertentu sesuai paket-paket yang ada. Alhamdulillah banyak juga yang mau berdonasi yeay~

gerai Sanggar Juara gabung sama Save Street Child
 
beberapa artis dan donatur Sanggar Juara

Banyak komunitas lain yang nggak kalah serunya. Aku sempet mampir ke Pedemunegeri, Cardtopost, dll. Beberapa komunitas juga kasih souvenir lucu.

Ini logo Sanggar Juara

gerai Indonesia Berseru. Foto dari @desasejahtera

Bukan Anak Gaul
Masa ada yang lucu ahaha, aku, Fikra, dan Apri mampir ke gerai nyunyu.com , kata mas penjaga gerainya sih nyunyu.com ini website tentang cinta dan galau-galauan buat anak gaul gitu. Di mejanya ada kertas yang isinya beberapa tanda tangan.

"Wah, bisa tanda tangan disini ya? Aku mau dong tanda tangan," kata Fikra.
"Eh nggak boleh. Yang tanda tangan disini cuma para artis dan anak gaul Jakarta," kata mas tersebut.

Hahahah. Setelah kami liat, ternyata bener. Yang tanda tangan ada Ardina Rasti dan artis-artis lain plus anak-anak gaul Jakarta macam galiheyou, bla bla bla (gatau itu siapa tapi katanya Fikra dia memang anak gaul sejak SMA, anak geng cipidiw nahloh apa coba googling aja). 


aku, Fikra, dan Apri di gerai @KenaCubit

Selebihnya, terimakasih banyak kepada teman-teman yang rela meluangkan waktunya untuk jaga gerai dan repot-repot dari Bogor ke Jakarta dan....... terimakasih buat para donatur yang bersedia menyisihkan sebagian uangnya untuk adik-adik Sanggar Juara :)

14 Oktober 2013

Seberapa serius kamu sama tujuan kamu?


Di hari cuti bersama kejepit nasional ini, aku mau ketemuan sama Elsa, Sandro, Tanzi, Adit, dan Fioni. Elsa bilang ketemuannya di Melawai Blok M. Aku kira Optik Melawai abisnya di daerah Blok M ada Optik Melawai, tapi Elsa memperjelas bahwa ketemuannya di Optik Seis, Jl Melawai, Blok M. Oke sepertinya aku tau ada kantor Optik Seis di samping Blok M Plaza (walaupun aku nggak tau nama jalanannya apa).

Sebelumnya, aku ke Blok M Square dulu karena mau cari buku murah. Sekeluarnya aku dari Blok M Square, aku nemu kantor Optik Seis. Aku lihat kanan kiri jalan, tertera Jl Melawai. Lah, apakah kantor Optik Seis yang ini yang dimaksud Elsa??? Sama-sama di Jl. Melawai Blok M -___-

"Elsa, kantor Optik Seisnya yang di samping Blok M Square apa Blok M Plaza?"
"Aduhhh bingung. Yang di perempatan itu deket lampu merah,"

Oh yang di perempatan berarti Blok M Plaza. Pantesan. Yang di samping Blok M Square kantor Optik Seisnya kecil gitu. Kalo yang di samping Blok M Plaza kan besar. Sesampainya di kantor Optik Seis, aku harus bilang sama petugas di dalamnya bahwa aku mau ke kantor JIM Executive karena lift-nya enggak bisa di-set orang awam. Dan akhirnya... yeay aku sampai juga di lokasi. Biasanya kami ketemuan di mall, kali ini enak lah, deket dari rumah.

Serius sama masa depan ala Sandro dan Tanzi
Selain ngomongin kerjaan, biasalah arah pembicaraan suka ngalor ngidul kemana. Aku nggak pernah mikirin, atau membayangkan sedikitpun, soal keseharian temen-temen. Daaaan.... oke, aku sedikit kaget dan kagum sama ceritanya Sandro dan Tanzi.

"Lo nggak pada tau kan umur gue berapa? Lo tuh enak masih pada muda. Kalo gue bisa balik ke umur lo-lo pada nih, gue rasanya pengen maksimalin kegiatan gue biar produktif"

Yeaaa. Tenang, umur Sandro nggak setua yang kalian bayangkan. Sandro udah kerja jadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kementrian ****** (dirahasiakan).

Yang dibilang bahwa PNS itu gabut alias 'gaji buta' bisa dibilang benar untuk beberapa kasus. Sandro melakukan lebih dari yang seharusnya ia lakukan. Sandro banyak mengerjakan tugas senior-seniornya yang mayoritas berada di usia hampir pensiun. Maklum, generasi tua nggak punya kompetensi untuk mengoperasikan komputer, mengirim e-mail, dll.

Budaya senioritas lebih kuat daripada atasan-bawahan. Orang yang lebih muda (walaupun jabatannya lebih tinggi) nggak bisa menegur orang yang lebih tua alias yang lebih lama bekerja. Sandro kerja keras, nggak ada penghargaan apapun dari atasan, atau dari pegawai yang lebih tua yang tugasnya dikerjain Sandro, jadi ya...... bete sih.

Sandro masih lulusan D3, sekarang lanjut S1. Senin-Jumat kerja. Sabtu-Minggu kuliah. Belum lagi dia salah satu pemegang posisi kunci di organisasi lain. Kebayang sibuk dan capeknya kayak apa. Tapi Sandro punya strategi dan langkah-langkah ke depan. Dia nggak mau bertindak bodoh hanya karena lelah 'sesaat'. Yaaaa semoga Sandro bisa jadi dosen, marketing communicator, public speaker, dan aktivis yang peduli sama generasi muda Indonesia. Yeaaaa!


Beda ceritanya sama Tanzi. Dari luar, Tanzi ini nampak seperti anak gaul sejati yeaaa. Stylish, kemana-mana bawa make-up dan parfum (ini mah wajar sih perempuan).

"Prioritas nomor satu dalam hidup gue adalah having fun,"

Tanzi masih kuliah di UI. Tanzi pengen ambil S2 di bidang fashion di luar negeri kalo bisa Eropa. Paling jelek targetnya yaitu Korea. Maka dari itu, Tanzi bela-belain les bahasa Korea di Kedutaan Korea biar berkualitas dan lebih murah. Nggak tanggung-tanggung, seminggu dua kali. Dia rela bolak-balik Jakarta-Depok di weekdays demi belajar bahasa Korea.

Selain les bahasa Korea buat menunjang pendidikan S2nya kalo harus belajar di Asia, dan harus Korea, Tanzi juga ambil kursus di Esmod. Karena pengen fokus di bidang fashion, sementara dia kuliah di jurusan Advertising UI, jadi dia harus memperdalam pengetahuan di bidang fashion karena tes masuk universitas yang dia incar bakal ditanyain soal pengetahuan jurusan yang akan diambil juga. Kalo sampe ambil kursus di Esmod, silakan nilai sendiri keseriusan Tanzi. Iya, dia bolak-balik Jakarta-Depok buat hal ini juga.

"Semua butuh pengorbanan. Gue nggak mau kalo semisal gue cuma kuliah doang, trus beberapa tahun lagi gue nyesel kenapa dulu gue nggak les ini dan nggak kursus ini,"

Belom lagi Tanzi masih ikut klub dance di kampusnya. Nyawanya ada berapa ya bisa seaktif itu. Cita-cita Tanzi pengen dateng ke Jakarta Fashion Week trus jadi orang yang bisa belanja barang ini itu buat majalah terkenal (fashion stylist kali). Yeaaaa!!!

Dari luar kelihatannya santai dan biasa aja, tapi ternyata wuhu bangetlah dalemnya si Sandro dan Tanzi ini. Kayak tamparan, kamu mah apa atuh Az kalo nggak kuliah sama ngerjain tugas, kerjaannya makan sama tidur di kosan.  Tuh kayak gitu tuh yang serius sama masa depannya.

07 Oktober 2013

Being Rejected is Okay


Hello! Did the universe treat you well? Many things happened. Some things are too stoooooopid to be told, too private to be blogged, too bad I couldn't press the publish button in my blog post even I'm not sure that anyone would read my blog except my close friend and my family. But the point is, I'm blessed!

Last year, I applied for Nutrifood Leadership Award with my friends but none of us passed the first phase. I registered again this year and passed the first phase. Ok, just the first phase hahaha but it's okay. I learn a lot that being rejected is not a big deal anymore.

Few months ago, I joined the recruitment of Indonesian Future Leaders (IFL). I passed the first phase and then being rejected. I was like, "Hey you interviewed me for almost one hour (it felt that long) and then you're not accepting me?!". Of course I was not saying that. I was just thinking, but I found myself so melancholic. Such a teenager.

But now I know that God didn't gave what us want because there's always a good reason, a better plan (look how mature I am when I turned 20 :p). Many things happened few months later and I just could not imagine if I accepted as IFL team, how can I manage my time?

At the audition (6th October), I met Sandro, Arfan, and Andita. As long as I know them for 3 months, they are absolutely great. I also met so many stunning people with a great public speaking and story telling skill, ah especially the 'Prasetiya-Mulya-guy' who became the object of me, Sandro, and Arfan's conversation during the way home. I never felt like wasting my time. AH THANKS GOD I LEARNED A LOT THERE!

Jakarta Chapter

Anyway, goodluck Sandro and Arfan for the next phase!

05 Oktober 2013

Bertumbuh di Musim Sulit

Perhatikan musim hidupmu! Yang menyenangkan dari musim hidup yaitu pembentukannya. Bagaimana kita tetap bertumbuh di musim sulit sekalipun. - perempuansore