30 November 2013

Integrity + Penampilan


I am not for sale. At any prices. - Mas Didip/ @HenryPradipta

Akhirnya setelah dua bulan nggak ikut Young On Top Monthly Meeting, bulan November ini aku ikut lagi. Bulan September nggak ikut karena ke dokter. Bulan Oktober nggak ikut karena ada acara beasiswa dan harus ketemu sponsor (ternyata sponsorku nggak hadir). Monthly Meeting bulan ini asik (selalu sih). Temanya mengenai integritas.

Sedikit cerita diluar materi, aku janjian sama Ona di Dukuh Atas dan naik busway di siang yang panas. Sebenernya kami satu kelompok mentoring janjian dandan sebelum ke Monthy Meeting. Pake jilbab yang dimodel-modelin (Rafel sampe ngasih referensi di group whatsapp -___-). Kita pake make-up, tapi make-up aku sama Ona udah luntur kayanya gara-gara kepanasan di jalan. Semua ini demi penampilan. Yep, penampilan itu penting kata Mbak Mega, dan kami setuju.

Resolusi 2014; perhatian sama penampilan :P


Tulisan yang tidak fokus ya, yaudah dadaaah!

Little Brother



This is my brother. I always envy his talent. He is good at playing guitar and drawing. My blog header was created by him.  As a big sister, it is not easy to see my little brother grow up, but happy birthday!

18 November 2013

Lima Bulan Terakhir

Aku bikin target untuk semester lima. Aku mau 'masuk' ke perusahaan dengan berpartisipasi dalam program kegiatan mereka seperti kompetisi maupun magang karena menurutku, aku udah siap untuk itu. #pedeabis #sokyey

Ini lucu sih. Print-sreen ini diambil waktu bulan Juli lalu, aku sedang gencar-gencarnya melamar magang ke beberapa perusahaan yang besar maupun kecil. Sebenernya aku belum diwajibkan magang oleh pihak kampus, masih tahun depan, tapi ya... aku mau! Jadi, aku mengirim banyaaaaaak banget lamaran. Aku jadi sadar, nyari tempat magang itu susah!

Ada yang jelas-jelas menolak. Ada yang menolak magang, tapi menawarkan part-time. Ada yang nggak merespon. Tapi ada juga yang menelepon dan mengirim e-mail untuk mengundang aku wawancara.

aku mengirim super banyak lamaran magang

x: Halo selamat pagi, dengan Nadia Azka?
aku: Selamat pagi. Ya, benar. Ini darimana? Ada yang bisa saya bantu?
x: Saya x dari HRD PT. United Tractors Indonesia, kami tertarik dengan lamaran yang Nadia kirim. Bisa datang untuk wawancara?

Sayangnya setelah berbincang lebih lanjut dengan Pak X, ternyata pihak mereka meminta aku magang enam bulan astaga mana bisa, aku bilang aku cuma bisa dua bulan.

Aku sempet wawancara dengan PT. Colibrii, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang konsultasi e-commerce. Mereka bilang tertarik dengan lamaran yang aku kirim, dan kami ketemuan di Starbucks Cideng untuk wawancara. Aku diwawancara oleh tiga orang perempuan muda, gaul, dan cerdas. Walaupun akhirnya nggak jadi magang karena lagi-lagi masalah waktu (mereka minta aku magang 30 jam seminggu), aku banyak belajar dari Bu Dea, dan hm lupa nama dua orang lainnya lagi.


Undangan wawancara dari Wego Indonesia, situs reportase perjalanan


Begitu mulai kuliah, aku berhenti cari kesempatan magang karena nggak nemu yang cocok. Semester lalu aku daftar XL Future Leader, dan pihak XL baru mengumumkan tes selanjutnya semester ini. Berhubung harus berkomitmen satu tahun untuk program itu, aku memutuskan untuk enggak melanjutkan seleksi karena udah berkomitmen sama hal-hal lain untuk setahun ke depan. Aku mau cari kegiatan yang komitmennya nggak selama itu.

Aku daftar Nutrifood Leadership Award lagi tahun ini dan gagal pada tahap kedua, cek disini. Aku lihat orang-orang yang lolos jadi TOP 20 memang nggak perlu diragukan lagi, aku udah pernah ketemu beberapa dari mereka dan wajar banget kalo mereka yang lolos.

Sebulan kemudian, aku daftar Unilever Future Leader League yang benar-benar mengasah otak dan menggunakan pemahaman mata kuliah selama ini. Tapi aku baru baca kasus H-sekian jam batas pengiriman. Sesungguhnya, aku nggak sanggup harus membaca  laporan tahunan Unilever dan mengaitkannya dengan kasus dalam waktu beberapa jam doang. Waktu ngerjain online test dari Unilever (astaga tesnya pake english, susah, dan diwaktuin), aku bela-belain bangun jam dua pagi biar koneksi lancar, dan tetep aja akhirnya gagal, nggak masuk TOP 30. Dari IPB yang lolos cuma satu, Kak Yoga dari Teknologi Pangan, temen di beasiswa Goodwill.



Aku pikir yaudahlah ya mungkin belum saatnya semester ini. Tapi beberapa hari kemudian ada Danamon Young Leaders Award (DYLA) yang mention aku dan elsa di twitter. Kepo kepo, acaranya sejenis dengan acara dari Nutrifood dan Unilever yang aku daftar sebelumnya. Kepo kepo lagi, rupanya pihak DYLA ini dateng ke monthly meeting Young On Top kemarin disaat aku hadir di pertemuan sponsor Goodwill, yang mana rupanya sponsor aku nggak jadi hadir.

Jangan-jangan miminnya anak Young On Top yang lagi magang di Danamon, soalnya twitternya langsung mention ke aku, Elsa, Sherly, Kevin, Indi, Arfan, dll.




H-2 batas pendaftaran. Lagi UTS pula. Tetep deh daftar dan muter otak ngisi form dan nulis essay. Beberapa minggu kemudian, aku diwawancara. Di hari pengumuman TOP 30, aku ngecek websitenya, udah pesimis karena nama aku nggak muncul-muncul, klik next, next, munculnya Infra Ranisetya, Vania Santoso, terus seketika hopeless.................. yang lolos mapres Undip (kakaknya Pristi), mapres Unair (salah satu duta Tunza PBB, pernah jadi pembicara di kegiatan yang aku ikutin di ITS). 

Aku mah apa atuh.

Eh akhirnya di halaman terakhir akhirnya muncul foto aku ahaha. Alhamdulillah.

Aku nggak nyangka menjadi segetol itu dalam lima bulan terakhir. Lucu aja liat diri sendiri sedemikian rupa.
source

17 November 2013

Titik Balik


Titik balik kehidupan. Setiap orang, sadar atau tidak, pernah mengalami suatu titik dimana pemahamannya mengenai kehidupan itu berbalik, dari yang tadinya A menjadi B. Pikiran yang tadinya tertutup menjadi terbuka, jalan yang tadinya salah menjadi benar, dan lain-lain.

Pelatihan beasiswa Goodwill bulan ini mengenai public speaking dan self knowledge. Biasanya aku malas beraktif-aktif ria dalam pelatihan Goodwill yang sebelumnya, tapi berhubung bulan ini udah janji sama diri sendiri untuk berubah, jadilah aku aktif dalam berinteraksi dengan fasilitator. Hahaha puas rasanya.

Fasilitator bulan ini asik! Ada Mbak Ratu Gumelar dari Jakarta Toastmaster. Pelatihan public speaking seru dan menyenangkan karena aku dapat banyak permen yupi! Ada juga Bu Ita, seorang psikolog, yang menjadi fasilitator pelatihan mengenai self knowledge. Di sesi inilah, Bu Ita mengajak kami berbincang mengenai turning point.

source

Bu Ita mengalami beberapa kali titik balik selama hampir empat puluh tahun Beliau hidup. Pada saat SMA, Beliau memutuskan untuk mengenakan jilbab disaat keadaan Indonesia saat itu sedang sangat kontroversi dengan penggunaan pakaian agamis. Bu Ita tidak diijinkan untuk mengikuti kegiatan belajar di kelas, ia harus duduk di luar kelas sambil memandang papan tulis dari jendela.

Lulus SMA, Bu Ita terpilih menjadi salah satu pelajar yang mengikuti program pertukaran ke Jepang selama satu tahun. Lagi-lagi ia dipersulit karena mengenakan jilbab. Untungnya, keluarga Jepang yang ia tinggali dan teman-temannya di sekolah bisa memahami perbedaan keyakinan. Saat bulan puasa, pihak sekolah mengumumkan kepada seluruh siswa bahwa Bu Ita sedang berpuasa agar mereka bisa menjaga sikap dan ber-tenggang-rasa.

Beberapa tahun setelah menikah, Bu Ita harus kehilangan suaminya karena sakit. Setahun kemudian, Bu Ita juga harus kehilangan Ibunya. Kehidupan memang naik turun, namun Bu Ita yakin Tuhan memiliki skenario tersendiri bagi tiap-tiap hambaNya.

Titik Balik Kehidupan Teman-teman; Ada-ada Aja
Kami dibagi menjadi beberapa kelompok dan diminta menceritakan titik balik kehidupan kami masing-masing secara bergantian. Kesimpulannya adalah ada-ada aja.

Ada yang memutuskan untuk mengenakan jilbab karena mengikuti les di Nurul Fikri yang mewajibkan pesertanya menutup aurat. Ada yang kehilangan orangtua. Ada yang berjuang mati-matian untuk masuk universitas idaman. Ada yang bosan karena selalu mendapat peringkat pertama di Sekolah Dasar selama enam tahun. Ada!

"Aku nggak peduli sama ranking tiap mau ambil rapot karena pasti aku ranking satu terus. Udah biasa,"
"Sama! Gue juga tiap mau ambil rapot selalu mikir 'ah palingan yang ranking satu ntar gue lagi gue lagi'"

Astaga. Ahaha ada juga yang demikian ya.

Amel (lupa jurusannya pokoknya di UI) cerita mengenai kebosanannya mendapat peringkat satu dan selalu menjuarai berbagai perlombaan yang diikuti berturut-turut selama bertahun-tahun. Sampai akhirnya saat SMP kelas dua, dia nggak dapat peringkat satu lagi, dia senang! Tapi dia heran kenapa orang-orang di sekitarnya malah bersedih hahaha.

Phobia
Ada yang lucu dan gila hahaha. Kak Kiki cerita mengenai salah seorang temennya di kampus (FKG UI), sebut saja si X. Menjelang kelulusan, kan ada co-ass dan harus jaga rumah sakit, si X ini rupanya baru terdeteksi bahwa ia memiliki phobia terhadap rumah sakit. Setiap kebagian piket, si X selalu sakit, sampai akhirnya ketahuan bahwa ia punya phobia rumah sakit. Si X memutuskan untuk hengkang dari dunia kedokteran gigi (setelah empat tahun kuliah) dan pindah haluan ke jalur bisnis. Saat ini si X sedang kuliah di Canberra.

Rupanya Kak Kiki juga baru sadar bahwa dia phobia nanah. Ketika melihat salah seorang temannya (FK UI) membersihkan nanah seorang pasien, Kak Kiki mendadak pusing dan lemes. Untung dokter gigi jarang berinteraksi sama nanah -___-

Aku?
Titik balik kehidupan aku kapan aja ya? Sepertinya waktu aku pindah ke Semarang, waktu aku masuk SMP, dan tentunya setiap tahun sejak masuk kuliah selalu jadi titik balik kehidupan yang punya makna berbeda-beda. Terimakasih Ya Allah~

13 November 2013

Mestakung


Pernah denger kata mestakung alias semesta mendukung? Banyak kejadian-kejadian mestakung yang udah nggak bisa aku itung lagi, tapi hal ini baru terjadi Selasa kemarin. 

Hari Selasa, aku selesai kuliah jam 17.00 WIB di Dramaga, Kabupaten Bogor, sementara ada pertemuan mentor dan mentee jam 18.30 WIB di Senayan, Jakarta. Nampak mustahil memang. Normalnya mungkin aku sampai Senayan baru jam 20.00 WIB (dari Dramaga ke Bogor Kota sejam, kemudian nunggu kereta Tanah Abang yang superlama, kemudian menempuh macet dari Sudirman ke Senayan).

Tapi lagi-lagi ada yang namanya mestakung. Jam tiga sore aku sampai kampus dan rupanya kelas ditiadakan. Walaupun hujan, aku langsung naik angkot menuju stasiun Bogor dan lucky ada kereta Tanah Abang bertengger di gerbong tiga. Tapi sayangnya mulai berangkatnya lamaaaa banget, ada kali 40 menitan diem doang di stasiun Bogor.

Dari grup whatsapp, Anty dan Adit ngabarin kalau di Depok ujan badai dan mereka nggak bisa keluar. Tapi akhirnya Adit bisa naik kereta yang sama dari stasiun UI, sementara Anty masih ketinggalan di stasiun Depok, tapi beruntungnya lagi, langsung ada kereta Tanah Abang juga di belakang kereta yang aku naikin (padahal biasanya jaraknya sejam)!

Kami bertiga akhirnya ketemu di stasiun Sudirman. Alhamdulillah. Macet-macetan dan berdiri di metromini dari Sudirman ke Senayan enggak sendirian. Sesampainya di lokasi (Chill in Cafe, STC Senayan), ternyata malam ini Mbak Mega mau traktir kita yeeaaay! 

Ona, Adit, Arista, Rafel, Mbak Mega, Anty, aku, Dea

Aku nggak kebayang gimana semisal aku bener-bener berangkat jam 17.00 WIB dari Dramaga, atau gimana semisal aku harus nunggu kereta Tanah Abang lama seperti biasanya, atau gimana semisal enggak ketemu Adit dan Anty di Sudirman, dan atau atau yang lainnya.

Terimakasih Tuhan, terimakasih semesta!

P.S: konten pertemuannya secara garis besar aku tulis disini.

10 November 2013

Anak Mall


Semester ini jauh berbeda dari semester lalu, hampir tiap akhir pekan aku ke mall astaga... bukan hedon sih, palingan rapat, ikut klub, wawancara, dll. Sabtu lalu seharian di Senayan City, Sabtu ini nge-mall lagi~

1) McDonald Kota Kasablanka
Selasa lalu, Adit meminta kami semua berkumpul di McDonald Kota Kasablanka. Sandro dateng duluan dan menuju lantai dasar dimana foodcourt berada, dan.......... nggak ada McDonald di Kokas.

"Dit lu dimana sih? Gue udah muter-muter nggak nemu McDonald di Kokas,"
"Oh gitu ya ndro? Yah gue kira ada.....,"
"Grrr,"

Untung aku nggak ikut karena lagi di Bandung.

2) Mall Ciputa Kuningan
Sabtu ini, Adit kembali meminta untuk ketemu dan dia menunjuk Mall Ciputra Kuningan sebagai lokasinya. Di dalamnya ternyata nggak ada makanan murah! Sandro lagi-lagi dateng duluan dan nggak nemu tempat makan murah. Akhirnya kami memutuskan untuk pindah ke Mall Ambasador yang ada di depannya karena benar-benar lapar.

"Dit lu gimana sih nggak survey dulu apa cari tau di Ciputra ada makanan murah apa enggak,"
"Yah gue kan iseng aja gitu. Daripada di Kokas melulu ya sesekali coba di Ciputra,"

Astaga, udah nggak kira-kira nentuin tempat, pake telat pula jam setengah dua baru jalan dari Bekasi (janjian jam dua padahal). Akhirnya kami makan di D'Cost. Enak banget, mungkin karena aku kelaparan.


kenalin ini om sandro, paman adit, dan mbak oni. tante elsa lagi ngambil duit di ATM.

Oni ponselnya baru uhuy! Sabtu lalu ponselnya abis ilang karena ketika lagi di charge di kampus, Oni mau pergi sebentar dan menitipkan ponsel itu ke temannya, eh temannya malah ketiduran, ponselnya ilang -____- Oh ini rupanya Sabtu lalu si Ona siang-siang heboh nelepon provider 3 buat ngeblokir kartunya Oni.

Tips nge-mall: 
1) Sebaiknya udah makan di rumah
2) Bawa botol minum sendiri
3) Bawa cemilan buat dimakan bareng-bareng
4) Hindari mall-mall mewah

Hari Minggu, aku mampir ke Panti Asuhan Kampung Melayu sebelum pulang ke Bogor, disana ada kegiatan mengajar bulanan gitu. Lokasinya deket stasiun Tebet (aku baru tau daerah situ), jadi okelah.


ini Arfan lagi ngajar

07 November 2013

Bandung Barang Sejenak

Ujian seminggu lebih satu hari non-stop membuat aku dan temen-temen sekelas punya sisa waktu beberapa hari sebelum hari Senin kembali ke perkuliahan biasa. Ada yang pulang kampung, ada yang jalan-jalan ke Jogja, ada yang ke Dunia Fantasi, aku dan Galih memutuskan untuk ke Bandung sebentar. Kenapa sebentar? Karena kita juga butuh leha-leha di rumah bersama keluarga, dan aku juga ada acara lain akhir pekan ini. Tadinya Neneng dan Yuyun mau ikut, tapi batal.

Aku dan Galih memutuskan untuk tidak menumpang ke salah seorang teman kami yang berkuliah di Bandung. Selain karena tidak ingin merepotkan, teman kami berbeda (kami tidak satu sekolah pada saat SMA), kami juga mau tau bagaimana caranya pesan penginapan online hahaha. Kami pesat lewat klikhotel.com (jaman sekarang memang canggih).

Penginapan pertama di Lembang, penginapan kedua di Dago, Bandung. Usai ujian Sistem Infomasi Manajemen yang memusingkan, kami menuju terminal Baranangsiang dan langsung naik bus menuju terimal Leuwi Panjang. Kemudian, kami lanjut naik Damri ke terminal Ledeng.

"Teh kalo ada apa-apa telepon Ayah ya. Kamu udah dimana?" Ibuku telepon.
"Lagi naik bus mau ke terminal Ledeng,"
"Naik Damri ya?"
"Iya kok tau?"
"Dulu kos-kosan Ibu deket terminal. Kampus Ibu kan depan terminal Ledeng tau. Kamu inget ngggak?"

Aku tidak ingat. Ngomong-ngomong, waktu aku masih umur empat/ lima tahun, Ibuku sudah lulus D3 dari IKIP Jakarta (sekarang UNJ) dan bekerja, kemudian Ibu melanjutkan kuliah S1 di IKIP Bandung (sekarang UPI). Karena aku selalu menangis kalau ditinggal Ibu kuliah, akhirnya aku diajak kesana satu kali.

"Tapi di Bandung dingin dan enggak ada guling, kamu nggak papa?" tanya Ibu sekitar lima belas tahun lalu.
"Kok enggak ada guling? Iyadeh nggak papa,"

Di pikiranku waktu itu adalah.... di seantero Bandung tidak ada benda bernama guling. Guling hanya ada di Jakarta saja. Beberapa tahun kemudian, aku baru sadar bahwa maksud Ibu 'di Bandung nggak ada guling' adalah 'di kos-kosannya nggak ada guling'. Astaga aku merasa tertipu.

Kembali ke tahun 2013, akhirnya aku dan Galih sampai di terminal Ledeng dan langsung naik angkot putih sesuai saran sebuah blog yang menjelaskan akses menuju penginapan yang kami pesan. Di dalam angkot, kami bilang kepada kernet untuk diturunkan di Jl. Raya Lembang No. 1A. 

"Mau ke penginapan apa?"
"Rumah Pinus,"

Bapak Kernet pada awalnya memperhatikan jalanan, namun lama kelamaan beliau asyik ngobrol dengan temannya, Aku dan Galih nggak nemu-nemu Rumah Pinus sepanjang jalan tapi tiba-tiba.... " Itu neng Rumah Pinus tadi," ujar beberapa orang di dalam angkot. Wah baik sekali mereka :') Akhirnya kami sampai di Rumah Pinus, menyerahkan voucher booking, dan dipersilakan masuk ke kamar. Kamarnya bagus!!! Padahal di website keliatan sempit gitu, tapi ternyata luas.

Kamar di Rumah Pinus

Malamnya, kami keluar untuk cari makan dan memutuskan untuk makan di Warung Sate Pak Sapri (sebenernya mencari pusat pasar tapi enggak nemu-nemu jauh bener). Ih mahal jadi menyesal. Saran deh mendingan pesan di penginapan karena harganya sama aja. Kita pesan teh manis hangat. Ternyata dapat teh hangat gratis iiih tau gitu enggak usah pesen minum tadi, rugi bandar. Pulangnya nunggu angkot setengah jam dipinggir jalan kedinginan -____-

Keesokan harinya, kita naik angkot dan minta diturunkan di tempat pacuan kuda, jalan kaki lumayan jauh (hemat tanpa ojek ataupun delman), dan akhirnya sampai di De Ranch.


de Ranch

Di De Ranch, wisata utamanya adalah pacuan kuda, tapi selain itu juga ada panjang tebing, flying fox, trampolin, tangkap ikan, dll. Biaya masuknya murah, cuma 5000 rupiah. Kita tinggal pilih mau main apa aja, harga tiket tiap permainan bervariasi, sekitar 10.000-25.000 rupiah. Usai bermain-main, asiknya minum susu/ yoghurt sambil menikmati udara Lembang yang sejuk di foodcourt De Ranch. Ngomong-ngomong, harga tiket masuk itu sudah termasuk satu gelas welcome drink berupa susu loh, kita bisa pilih rasa mocca, strarberry, atau melon.

cow-girl Nadia
sebelum deg-degan panjat tebing

Keluar dari De Ranch, kita ketemu Jennifer, orang asing yang menjelaskan tentang Alkitab gitu. Semacam organisasi yang mensosialisasikan isi Alkitab agar tidak ada kesalahpahaman antar agama. Kami kemudian menuju Tangkuban Perahu naik mobil semacam ELF gitu. Sesampainya di pintu utama, ternyata kami baru tau kalo naik angkot masuk ke dalam ongkosnya 30rb plus 28rb untuk tiket masuk. Kalau naik ojek 25rb. Gila! Mahal banget! Kami enggak jadi masuk -___- Bapak kernet angkotnya kasian gitu sama muka kami hahahah. Untungnya kami nemu kebun teh yang asyik.


kebun teh
Akhirnya kita memutuskan untuk langsung ke penginapan berikutnya di Dago, Bandung. Sepanjang perjalanan, paling asik menikmati pohon pinus yang tinggi-tinggi. Walaupun siang, panasnya nggak terasa. Aaah damai banget deh pokoknya. Ternyata banyak lokasi wisata bertemakan kuda dan outbound di sepanjang jalan Lembang-Tangkuban Parahu. Kapan-kapan kalau kesini lagi mau coba ah! Selain itu di jalan banyak orang menjual buah labu dan nanas yang kecil-kecil lucu gituuu. Liat deh~


labu dan nanas kecil-kecil imut

Penginapan kedua ini agak lebih sedikit susah nyarinya. Berbekal petunjuk dari pengurus penginapan untuk turun di Taman Budaya Dago, akhirnya kami tanya-tanya orang sekitar situ. Jalanannya menanjak karena di bukit. Duh mana panas siang-siang di Bandung kota (tapi panasan Bogor-Jakarta sih). Akhirnya pas pertigaan kami bingung dan tanya seorang Bapak yang lagi manasin mobil.

"Permisi pak, nomor 20C dimana ya?"
"What"
"Where is Bukit Dago II Street Number 20C?"
"No. No. Saya bukan orang asing,"

-_______- Lah! Ngapain tadi bilang what what segala mana mukanya chinese gitu kan mendukung banget tuh! Untung beliau tau lokasi yang kami maksud. Fiuh. Akhirnya kami sampai di penginapan Bantal Guling Guest House. Kamarnya nyaman, ber-AC, cuma lebih sempit dan nggak ada guling. Aneh banget namanya Bantal Guling tapi enggak menyediakan guling?!

kamar di Bantal Guling Guest House

Sorenya kami main ke Jalan Braga. Kalau biasanya sudut 'tua'/ 'lama' di sebuah kota itu sepi dan mati, berbeda halnya dengan Jalan Braga yang ramai dan lebih hidup. Jalanannya tidak menggunakan aspal, melainkan paving (sepertinya ini namanya). Bangunannya kuno dan masih digunakan untuk toko maupun penginapan.

kumpulan lukisan di Jalan Braga

salah satu bangunan tua paling besar

Puas berjalan-jalan di Braga, kami liat-liat Factory Outlet (hanya melihat) dan makan di Pizza Domino. Mumpung hari Selasa ada promo beli satu pizza, gratis satu pizza, buat kami makan dua kali dengan nanti malam hahaha hemat. Tadinya mau ke museum sekalian, tapi mengingat ini tanggal merah, jadi ya ditunda besok aja deh.

beef-mushroom pizza dan american classic cheese burger pizza

Pulangnya kami naik angkot lagi dan ada anak kecil nangis tanpa alasan nggak berhenti-berhenti. Dia melirik ke arah pintu angkot terus sambil mengarahkan tangannya kesana seolah-olah ada yang mau dicapai. Dipeluk ibunya enggak mau. Dilepas ibunya, dia malah berjalan ke arah pintu angkot. Dugaanku, dia melihat hantu! Tapi aku baca ayat kursi tetap saja dia menangis sambil mau ke arah pintu angkot. Hiiii.

Besoknya kami ke Museum Kereta Api dan gagal karena ternyata museumnya udah nggak ada -_____- Kami juga mampir ke Saung Angklung Udjo meskipun enggak nonton pertunjukannya karena mahal hahaha (untuk mahasiswa dan umum 60.000 rupiah). Yaudah deh kapan-kapan aja. Walau cuma sebentar yang penting seru dan aneh. Aku pulang ke Bogor dulu karena mau beres-beres kamar, baru deh Kamisnya pulang ke Jakarta yeay~

03 November 2013

Nopember dan Ngeberesin Idup

Aku pikir aku cuma butuh baca buku pengembangan diri jaman dulu waktu masih abege seperti yang aku tulis disini, tapi pada kenyataannya di awal umur 20an ini, kebutuhan hidup dan problem yang dihadapi berbeda dan makin rumit. Sebagai manusia tipe cenderung melankolis, aku suka bingung dan mikir 'harus gimana ya' atau 'kok aku begini sih'. Aku dan teman-teman diminta oleh Mbak Bunga Mega untuk wajib membaca buku 8 Easy Steps to Coach Yourself to Success karya Andrea Molloy.

Setelah sekitar sebulan cari buku ini di berbagai toko buku yang 'nyata' maupun 'maya' dan enggak ketemu-ketemu, akhirnya Fiona, temen satu kelompok mentoring, nemu juga di salah satu toko buku 'nyata' dan memborong sebanyak tujuh biji. Perjuangan buat cari buku ini nggak sia-sia karena...... isinya bermanfaat banget!

8 Easy Steps to Coach Yourself to Success

Apaan tuh life coaching? Hampir setiap atlet olimpiade punya coach yang membantu mereka berlatih agar bisa mencapai target. Konsep tersebut dapat dianalogikan seperti itu, tapi life coaching kerap menggunakan metode konseling dan terapi psikologi. Berhubung engga mampu menyewa life coach, ya pake buku enggak apa-apa lah yauw.

Berhubung aku belum selesai bacanya, jadi belum bisa bikin review secara keseluruhan. Tapi aku mau tulis hal menarik pertama yang aku baca di buku ini, yaitu di kolom tip dari bab satu.


Untuk mengidentifikasi target Anda, mulailah dengan merenungkan tentang seberapa bahagianya Anda dengan hidup Anda sekarang. Dari skala 1-10, ukurlah kepuasan Anda mulai dari aspek karier, pendidikan, keuangan, kesehatan, kebugaran, keluarga, menjalani hubungan, dan rekreasi. Dari kegiatan ini, Anda akan tahu mana aspek hidup Anda yang belum memuaskan Anda. Pikirkanlah cara untuk memperbaikinya.

Pada awalnya terkesan bahwa 'ah buku ini nggak cocok buat aku. Ini mah buku buat orang yang udah kerja, udah menikah, dll'. Tapi ya masa mau nyerah gitu aja, mikir kreatif dikit, misalnya aspek karier bisa diibaratkan tentang kinerja kita di organisasi maupun komunitas yang kita seriusin (yang sejalan dengan passion kita, bukan sekedar hobi belaka).

Hasilnya?
Karier 4
Pendidikan 7
Rekreasi 2
(udah segini aja yang ditampilin ahahah)

Betapa mikirnya aku 'lah kok begini amat hasilnya'. Jadi ngetawain diri sendiri. Aku mulai menyusun rencana untuk memperbaiki hidup aku yang acak-acakan dan tidak seimbang ini dan baru mau memulai bulan Nopember (menurut KBBI begini kan ya penulisannya?) ini wuhuuu walaupun 2013 udah mau abis aja tapi aku enggak terlambat kan ya!

Aku abis ujian lima hari non-stop (ada yang sehari dua kali) ujian. Sisanya tinggal satu. Pulang dulu ke Jakarta untuk menghindari hiruk pikuk Bogor. Emang ya musuh terbesar tuh setan, setan yang bersarang dalam diri sendiri tepatnya. Betapa enaknya akhir pekan leha-leha di rumah sambil ngemil dan nonton televisi, tapi setelah inget catetan kepuasan terhadap aspek-aspek yang aku ukur dan target serta rencana untuk memperbaikinya, lumayan jadi bisa ngelawan setan dalam diri ini.

Hari Sabtu seharian bareng Fiona dan Sarah (plus Eva, Tyo) di Senayan City untuk mewawancarai calon relawan buat acara donor darah Young On Top bertajuk Love Donation Pebruari nanti. Nggak nyangka, aku ketemu Rizqa temen SMA (kami terakhir ketemu 4 bulan lalu) kyaa senang. Mengenai wawancara, ya pegel juga, wawancaranya bener-bener detil dan rapi. Udah sekitar dua bulan vakum dari kegiatan Young On Top (selain mentoring dan kegiatan tim Marketing Communication) akibat harus ke dokter dan ketemu acara beasiswa tiap akhir pekan. Pertama kali bangetlah aku begini. Kepuasan terhadap aspek karier jadi meningkat.

Hari Minggu, aku jam enam pagi udah bertengger di Fx Sudirman buat jogging rame-rame sampe Bundaran Hotel Indonesia. Ngomong-ngomong disini aku ketemu adik kelas waktu SMA, nggak nyangka kyaa. Selain itu dapet pengetahuan baru mengenai pentingnya menyayangi tulang ekor dari Mas Anggia Silalahi. Walaupun kaki pegel, rasanya seneng parah karena aku super duper jarang olahraga. Udah lama aku nggak se-berkeringat dan se-capek itu. Kepuasan terhadap aspek kebugaran jadi meningkat.

Beberapa orang berkomentar 'Kamu ngapain sih baca buku beginian kayak orang frustasi dan desperate aja' atau 'Ngapain bikin target-target kaya begitu, hidup mah selow aja santai nggak usah serius-serius kali'.

Yeee biarin aja ya kan, ya kan, tipe orang kan beda-beda. Lagipula nyusun-nyusun target kaya begini bukan berarti serius melulu, pokoknya buka pikiran aja deh, nggak dipungkiri bahwa kita perlu belajar dari banyak orang agar bisa menentukan cara kita menghadapi hidup kita sendiri. Yea~