26 Desember 2013

2013; Fears, Tears, and Cheers

When I was ten, I asked myself, "How does it feel when I am twenty years old?". Then here I am, 2013. So how does it feel? It is hard to explain. Because no matter how detail I tell you the story, you will never know what I've been through.

This is the year I explored myself. The year I challenged myself. The year I ran a social project with no budget. The year I did something new. The year I traveled new places. The year I met so many new people. The year I learned a lot from them. The year I changed the way I think.

This is the year I bought lipstick, lipbalm, and compact powder for the first time LOL! The year I learned the meaning of friendship. The year I kept my self-promises. The year I got what I want. The year I failed. The year I felt excited, happy, sad, and dissapointed at the same time.

This is the year I got a serious disease. The year I could not sleep tight at night. The year I ate medicine everyday. The year I saw the doctor every weekend. The year I thought I will lose my future. The year I cried alone... a lot.

This is the year I unpublished my high school blog posts. The year I've been blogging  for five years woaaa. The year I realized that there were fears and tears, but thanks God, I had soooo many reasons for cheers!

Goodbye 2013. Welcome 2014 :)

25 Desember 2013

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

Waktu aku masih SD, Ayah menyodorkan sebuah buku tua berwarna biru.

"Teh, ini loh. Mbah nangis melulu kalo baca buku ini," kata Ayah.
"Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck? Buya Hamka itu siapa? Terkenal?"
"Terkenal banget!"

Di rak buku rumah, aku pernah lihat beberapa buku karangan Buya Hamka. Aku coba baca, tapi bahasanya bener-bener susah dipahami, macam melayu kuno. Beberapa tahun kemudian aku baru tahu kalau tipe-tipe karangan Buya Hamka itu disebut hikayat. Aku ketik 'Buya Hamka' di google dan rupanya Beliau benar-benar terkenal.

Aku nggak nyangka, waktu aku lagi naik commuter line, ada sebuah poster film di gerbong; Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck! Wah buku tua itu dijadiin film tahun ini. Karena dulu aku bacanya cuma sampai sepertiga dari total halaman, aku nggak tau alurnya seperti apa, bagaimana endingnya.

Beberapa hari sebelum aku berencana nonton, Ayah sms:
"Teh, Ayah sama Ibu mau nonton Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Kita nungguin Teteh pulang dulu apa gimana?"
"Duluan aja. Aku juga mau nonton minggu ini. Mbah suruh nonton, Yah,"

Ah, andai di Pandeglang ada bioskop biar Mbah bisa nonton :)



Akhirnya semalam aku nonton Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Sinopsisnya silakan baca sendiri di sini. Kisah yang diangkat dalam buku/ film ini adalah bentuk kritik dari Buya Hamka terhadap tradisi atau adat Minang yang berlaku pada jaman tersebut.

Diskriminasi Suku

"Di Makassar, aku dianggap orang Minang. Di Minang, aku dianggap orang Makassar,"

Sepenggal kalimat dalam surat Zainuddin kepada Hayati mengenai keluhannya terhadap pandangan masyarakat setempat mengenai dirinya. Bapak Zainuddin keturunan Minangkabau, sementara Ibu Zainuddin keturunan Makassar. Secara adat Minangkabau, Zainuddin tidak diakui sebagai orang Minang karena darah Minang itu ditentukan oleh garis keturunan Ibu.

Zainuddin tidak diajak bergaul dan dilarang mengikuti pembicaraan di Batipuh karena dianggap bukan orang Minang. Zainuddin dilarang menikah dengan Hayati karena asal-usulnya dianggap tidak jelas.

Agama Hanya 'Pembungkus'

Paman Hayati, sebagai ketua adat, dan masyarakat Batipuh mengatakan bahwa mereka menjunjung tinggi nilai agama. Sayangnya tidak tercermin dalam sikap dan perilaku keseharian. Diskriminasi terhadap Zainuddin, intimidasi dan pemaksaan terhadap Hayati menunjukkan bahwa agama yang mereka banggakan hanyalah sebagai pembungkus diri, ajaran agama yang sesungguhnya tidak masuk ke dalam jiwa mereka.

Mereka memutuskan untuk menerima lamaran Aziz dan menolak lamaran Zainuddin kepada Hayati atas dasar 'keturunan Minang terhormat' dan 'kekayaan'. Padahal pada kenyataannya Zainuddin adalah pemuda yang taat beragama, sementara Aziz senang berfoya-foya, berjudi, dan bermain perempuan.

Peran Perempuan

Pada proses musyawarah keluarga besar Hayati untuk memilih akan menerima lamaran Aziz atau Zainuddin, perempuan seperti Ibu, Bibi, dan lainnya tidak mendapat kesempatan untuk bersuara lebih. Laki-laki mendominasi dan cenderung memaksakan kehendak. Perempuan tak diijinkan untuk memperjuangkan pendapat.

Akting Reza Rahardian sebagai Aziz dalam film bener-bener bikin merinding pada waktu adegan membentak dan memarahi Hayati sebagai istrinya. Di dunia nyata, aku belum pernah melihat laki-laki sekasar itu. Hayati digambarkan sebagai istri yang harus menuruti seluruh keinginan suaminya walaupun hal tersebut tidak baik untuk dilakukan. Tugas Hayati hanya berdiam diri di rumah untuk menunggu dan melayani kepulangan Aziz setiap Sabtu dari Padang Panjang.

Secara umum, filmnya bagus. Siapa pula yang terpikir untuk menjadikan buku terbitan tahun 1939 diterbitkan tahun ini. Meskipun dalam film proses jatuh cinta dan kedekatan Zainuddin - Hayati terkesan singkat, padahal aslinya lebih penuh lika-liku berbulan-bulan. Selain itu endingnya juga berbeda, dalam buku dituliskan bahwa tak lama setelah Hayati meninggal, Zainuddin ikut meninggal dan dimakamkan berdampingan dengan makam Hayati. Sementara ending dalam film, Zainuddin tidak meninggal. Ia menjadikan rumahnya sebagai panti asuhan yang diberi nama Panti Asuhan Hayati.

Sudah, nonton dulu sanah~

23 Desember 2013

Survey dan Penolakan

Penelitian. Ini masuk ke daftar hal yang paling pengen aku pelajarin semester ini. Kebetulan pula, semester ini aku dapat matakuliah Riset Pemasaran yang membahas mengenai cara-cara melakukan penelitian di bidang pemasaran. Pada awal pertemuan, aku kira dosen bakal memberikan kami tugas penelitian kecil-kecilan, tapi nyatanya cuma tugas membuat proposal penelitian dan menganalisis beberapa laporan penelitian. Ah, sedih. Nggak menantang (?)

Aku punya target buat 2014 untuk menjalankan suatu penelitian dengan serius yang ada manfaatnya buat masyarakat luas. Sayangnya aku belum pernah melakukan penelitian. Pucuk dicinta ulampun tiba. Bu Linda, dosen mayor aku yang fokus di bidang Manajemen Sumber Daya Manusia, membuka lowongan untuk ikut penelitian bareng Beliau. Aku apply dan diterima bersama sebelas orang teman lainnya.

Kompensasi Karyawan UKM
Penelitian pertama kami mengenai kompensasi karyawan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Kabupaten dan Kota Bogor. Berangkat dari demonstrasi buruh yang meminta kenaikan Upah Minimum Regional (UMR) yang membuat beberapa perusahaan besar pindah pabrik ke negara lain.

Jumlah UMR yang diminta para buruh tersebut memang kontroversial. Selain jumlahnya yang setara dengan pangkat tertentu dalam kompensasi Pegawai Negeri Sipil (PNS), para buruh juga memasukkan barang-barang yang dinilai kurang penting seperti jaket kulit ke dalam rincian rencana penggunaan UMR yang mereka terima. Kalau upah minimum naik, bagaimana nasib UKM-UKM? Apakah mereka masih sanggup mengakomodir kompensasi karyawan?

Survey 
Aku dapat jatah survey ke UKM bagian makanan dan minuman. Kelihatannya gampang, mudah, kan banyak tuh penjual makanan dan minuman, responden berlimpah. Tapi nyatanya, astaga, susah! Emang sih ada data daftar UKM beserta alamatnya dari Dinas Kabupaten dan Kota Bogor, tapi banyak yang nggak ada nomor teleponnya. Cari di internet? Nggak semuanya ada. Mana banyak yang lokasinya antah berantah entah dimana.

Beberapa kali aku dan temen-temen nyamperin banyak UKM, tapi tersendat banyak hal. Mulai dari kenyataan bahwa ternyata yang kami datangi bukan UKM (ada syarat jumlah pegawai dan omset minimun tertentu) dan berbagai penolakan.

Sebut saja sebuah toko roti di Bangbarung...

"Selamat pagi, Teteh!"
"Pagi,"
"Salam kenal, Teh. Saya Nadia dari IPB. Saya, teman-teman, dan dosen saya sedang melakukan penelitian bla bla bla. Kalau boleh, bisa saya bertemu dengan manajer toko ini?"
"Orangnya jarang kesini. Biasanya sebulan sekali,"
"Kalau begitu, boleh saya minta kartu nama atau nomor telepon manajernya?"
"Wah saya nggak punya," #denganmukajutek

Hah mustahil amat nggak punya nomor telepon atasan langsungnya. Kalau udah ngasih bukti resmi bahwa ini penelitian dari IPB, udah jelisain latar belakang penelitian dan janji bahwa nama UKMnya nggak akan dipublikasikan, namun pihak UKMnya nggak welcome, mendingan tinggalin aja daripada buang waktu.

Ada pula, pemilik UKM yang entah kenapa takut kalau jadi responden penelitian ini. Sebut saja Kafe X di dekat Rumah Sakit Karya Bhakti (lupa nama daerahnya ahaha).

"Selamat sore,"
"Sore, mbak,"
"Salam kenal, Mas. "Saya Nadia dari IPB. Saya, teman-teman, dan dosen saya sedang melakukan penelitian bla bla bla. Kalau boleh, bisa saya bertemu dengan pemilik kafe ini?"
"Ya. Saya sendiri, mbak,"
"Ya, Mas. Jadi begini, Mas nggak usah khawatir karena nama UKMnya tidak akan dipublikasikan bla bla bla,"
"Mbak, gimana kalau jangan saya respondennya. Disana ada kafe juga kok," #denganmukaketakutan

Emang aku menyeramkan apa yah? -____-

Selain itu ada juga yang begini.

"Malam Pak X. Saya Nadia dari IPB. Saya, teman-teman, dan dosen saya sedang melakukan penelitian bla bla bla. Kalau boleh, bersediakah Bapak jadi responden untuk UKM ini?"
"Bersedia. Mengenai apa ya?"
"Kompensasi atau penggajian, Pak,"
"Oh kalau mengenai itu, saya tidak bisa,"

Masih mending yang kelompok aku alami saat survey, daripada kelompok lain yang kebagian survey UKM di bidang herbal dan obat-obatan. 

"Malam Pak X. Saya dari IPB. Saya, teman-teman, dan dosen saya sedang melakukan penelitian tentang kompensasi bla bla bla. Kalau boleh, bersediakah Bapak jadi responden untuk UKM ini?"
"Tidak! Kamu mau jadi mata-mata dari pesaing saya ya?! Sudah banyak mata-mata yang berkedok mahasiswa penelitian!"

-____- 

Kesimpulan dari survey selama ini adalah orang berpendidikan pasti akan bersedia menjadi responden penelitian ini. Pemilik-pemilik UKM yang bersedia jadi responden emang cerdas, mereka memang aktif ikut pelatihan dari Dinas dan berjejaring dengan UKM lainnya.

Jelas-jelas pada waktu survey kami membawa surat resmi yang menunjukkan bahwa kami dari IPB, menjelaskan latar belakang penelitian dan manfaatnya, menjelaskan bahwa responden akan dirahasiakan. Pemilik UKM yang menolak sepertinya takut bahwa kami adalah mata-mata pesaing (LOL) atau agen rahasia dari pemerintah yang mengecek apakah UKM tersebut sudah memberi upah yang layak kepada karyawannya. Padahal kan, untuk apa takut kalau kita merasa benar?

15 Desember 2013

Sanggar Juara Festival 2013


Februari 2011, aku ikut jadi pengurus dan kakak asuh/ pengajar di Sanggar Juara. Sanggar Juara adalah komunitas independen, tidak dibawahi siapapun dan apapun. Pada awalnya, Sanggar Juara memang merupakan program kreativitas mahasiswa yang didanai oleh Direktorat Jendral Perguruan Tinggi/ Dikti. Namun setelah itu, Sanggar Juara benar-benar independen.

Sanggar Juara fokus ke pendidikan anak usia 7-12 tahun dengan metode pendidikan karakter berbasis holistik. Target Sanggar Juara adalah anak-anak di Kabupaten Bogor. Mereka begitu dekat secara lokasi dengan IPB sebagai salah satu perguruan tinggi terbesar di Indonesia, tapi akses mereka terhadap pendidikan yang berkualitas masih sangat jauh dari mudah. Hingga saat ini Sanggar Juara mengajar di dua titik, yaitu Situleutik dan Pabuaran. 

Sanggar Juara Festival merupakan kegiatan tahunan yang diadakan Sanggar Juara sejak tahun 2010. Tema tahun ini adalah Petualangan Sang Juara. Kami mengadakan pra-acara pada 8 Desember 2013 dan mengundang komunitas pendidikan anak se-Bogor untuk berkolaborasi, bermain bersama mencari harta karun.

Sementara puncak acara diadakan 15 Desember 2013. Konsepnya adalah talkshow dan penampilan dari adik-adik asuh Sanggar Juara berupa tari tradisional, tari modern, drama musikal, paduan suara, dan fashion show. Tahun ini tiket masuknya gratis! Terimakasih kepada Telkom yang menjadi sponsor utama acara ini :)

Kak Trian (pemenang Advan Young Movement), Bu Tati (pendiri Forum Indonesia Muda), Kak Yosea (pendiri Youth ESN), dan Kak Sisi (Runner-up World Muslimah) sebagai moderator

ramainya pengunjung
drama musikal; harta karun anak pesisir

Selain itu ada pembicara dari Pengajar Muda Indonesia Mengajar. Penampilan dari band Dennis and Non-Essential. Aku bertugas sebagai resepsionis bareng Nevvi. Ternyata capek juga ya tapi senang karena banyak pengunjung yang hadir waaaa terimakasih pengunjung!

meja registrasi

Terimakasih yang spesial untuk Pak Endriatmo, guru besar dari Fakultas Ekologi Manusia, yang menjadi keynote speaker di pembukaan acara. Aku nggak nyangka bahwa Beliau akan menghadiri Sanggar Juara Festival hingga selesai. Bahkan sampai mengajak kami makan di Galuga usai acara untuk evaluasi dan pembubaran panitia.

makan-makan di Galuga, rumah makan sunda, ditraktir Pak Endriatmo

Terimakasih kepada seluruh adik-adik Sanggar Juara, panitia, pengurus, steering committee, sponsor, media partner, pengunjung, pembicara, moderator, MC, pengisi acara, dan para donatur.

14 Desember 2013

What a Weekend

Hari ini tuh bisa disebut apa ya? Padat, penuh perjuangan, tapi senang to the moon and back (kalo kata anak jaman sekarang)! Aku nginep di kontrakan Galih, Lina, Rika, Dewi, dan Anggi sejak 2 hari sebelumnya karena laptop aku rusak secara mendadak sementara aku butuh pinjaman laptop untuk mengerjakan tugas yang menumpuk gila.

Kuliah Pengganti, Pelatihan, dan Monthly Meeting
Sabtu ini aku harus ke kampus karena ada kuliah pengganti matakuliah Teknik Pengambilan Keputusan (TPK) jam delapan pagi. Sabtu ini juga Bu Linda juga meminta aku dan sebelas orang lainnya ikut pelatihan adobe photoshop di kampus IPB Baranangsiang untuk keperluan proyek. Sabtu ini juga ada Young On Top Monthly Meeting jam satu siang dan acara bareng anak-anak Panti Asuhan Agape sore harinya.

Setelah berdiskusi dengan Pak Deddy, dosen TPK, akhirnya aku dan sebelas teman lainnya diijinkan untuk tanda tangan tanda kehadiran dan mengikuti kuliah selama satu jam aja. Alhamdulillah, Pak Deddy baik banget.

Kami langsung menuju kampus Baranangsiang dan ikut pelatihan di ruang rapat ekstensi manajemen. Macet sih panas sih di jalan tapi nggak nyesel karena dapet ilmu baru. Aku buta adobe photoshop. Cuma pernah belajar waktu SMA, tapi lupa lagi. Sebelum zuhur, aku langsung menuju stasiun dan naik commuter line. Eh ketemu Karin, Siti, Tiwi, dan Egi di gerbong delapan. Alhamdulillah dapet duduk ahaha jadi bisa tidur.

Young On Top December Monthly Meeting
Ini pertama kalinya aku naik kereta menuju monthly meeting di Kuningan. Aku bingung turun dimana yang paling dekat dengan Kuningan.

"Anty, Adit, kalo naik kereta dari Bogor mau ke Cyber 2 enaknya turun di stasiun apa dan lanjut naik apa?"
"Turun di stasiun Tebet, terus naik P44" *mereka berdua memberikan jawaban yang sama

Tapi aku mikir... naik P44 kan macet!!! Aku memutuskan untuk turun di Stasiun Sudirman, terus naik busway dari Dukuh Atas. Tapi ternyata malah hujan deras. Aku turun di halte Depkes dan harus jalan kaki menuju Cyber 2. Basah kuyup. Payung rusak. Dan aku terlambat 20 menit... Okay.

Setiap monthly meeting, akan ditunjuk dua orang untuk presentasi mengenai tema bulan itu. Bulan ini temanya Mind Mapping. Dag dig dug. Presentasi yang aku persiapkan semalam nggak bagus-bagus amat. Moodku sedang tidak bagus karena kehujanan. Tiba-tiba... Mas Billy menunjuk Bryant dan aku untuk presentasi. Aku cuma bisa bilang "Oke!" dengan senyum lebar dan muka (sok) ceria seolah nggak terjadi apa-apa.

Bryant maju duluan. Asik gitu pas di awal. Aku jadi takut nanti kalo pas aku presentasi malah garing gimana dong. Glek. Mana flashdisk aku nggak terdeteksi di laptop Ima dan Rafel (operator) pula. Untung akhirnya terdeteksi di laptop Bryant.

Aku (sok) pede berdiri di depan tengah, menyapa selamat siang para mentor yang ganteng dan cantik dan sobat-sobat yang selalu tampil oke (entah mengapa aku bilang begini tapi ini sukses jadi ice breaking). Perkenalan diri dengan muka seceria mungkin. Aku samperin si Anisa, "Ini kan udah bulan Desember. Tahun 2014 sebentar lagi. Kalian pasti punya resolusi kan? Mau tanya Anisahe ah sesuai namanya twitternya,".

"Anisaheee 2014 mau mencapai apa?"
"Nikah! Nikah!"

Nggak deng. Itumah jawaban Dita.

"IPK naik!"

Presentasi berjalan dengan lancar. Interaksi, body languange, joke, ice breaking, kontak mata, pede yang aku latih waktu ikut acara Danamon sebelumnya bener-bener berguna. Mas Billy bilang, "Itu salah satu presentasi yang saya suka! I'm so glad that I chose you! Tepuk tangan buat Azka!". Thanks Mas :D

Bulan ini masing-masing kelompok mentoring bakal presentasi mengenai buku bacaan yang diwajibkan baca oleh mentor masing-masing. Kelompokku presentasi buku Life Coaching-nya Andrea Molloy. Walaupun Adit dan Rafel enggak ikut, alhamdulillah presentasinya lancar dan nggak memakan banyak waktu.
presentasi buku; anty, aku, arista, dea. adit nggak hadir. rafel lagi ganti baju.

Anak-anak Panti Asuhan Agape
Sore ini Young On Top mengundang anak-anak dari Panti Asuhan Agape (dari Kelapa Gading) untuk berbagi bersama dalam rangka menjelang natal. Terimakasih dan selamat buat Yohanes dan Fioni selaku project officer karena acaranya berjalan lancar dan asik. Rentang usia anak-anak ini dari TK hingga SMA.

Ada Rafel yang menyamar sebagai Santa Klaus dan Anisahe sebagai malaikat hahaha. Ada juga penampilan dari Adri (gitar) dan Tomo (vokal) nyanyi Eenie Meenie-nya Justin Bieber woohoo. Selain itu ada paduan suara dari UI dan break-dance dari adik-adik Panti Asuhan Agape yeay!

bagi-bagi coklat


paduan suara dari UI

Happy holiday! (padahal ujian masih januari)

Aku pulang menuju stasiun Tebet bareng Divika (kita nebeng taksinya Arista. Thanks Arista!). Ternyata stasiun Tebet deket banget men ke Cyber 2 Tower! Baru tau aku kalo naik P44 bisa turun di samping tower. Malam itu aku pulangnya ke Bogor karena besok Minggu ada kegiatan. Kereta sepi jadi bisa tiduuur...

08 Desember 2013

Danamon Young Leaders Award 2013 (2)

Lanjutan...

Hari 4
Pagi ini kami menanam pohon dan aku baru merasakan bahwa mencangkul sangat susah. Setelah sarapan, kami berdiskusi kelompok lagi untuk menentukan ide dan inovasi yang dapat dilakukan untuk menjawab pertanyaan yang diberikan Bank Danamon. Kami ngobrol dan menyusun begini begini begitu begitu. Setelah rapi, kami berdiskusi dengan mentor, Kak Eci. Kami diberi beberapa saran dan berkesempatan kepo-kepo mengenai apa aja yang perlu diperbaiki Danamon di topik yang kami bahas. Mentor setuju dengan ide kami.

Siangnya, kami outbound! Ada permainan lucu dari Om Bob.

"Yang mau ikut outbound harus menyebutkan nama dan barang apa yang mau dibawa," kata Om Bob.
"Azka. Indomie,"
"Nggak boleh,"
"Tiwi. Magicom,"
"Nggak boleh,"
"Janet. Jeruk,"
"Boleh,"

Ini apa maksudnya???? Satu per satu orang yang tadinya nggak boleh ikut, jadi ikut karena mengganti barang yang mau dibawa. Akhirnya...

"Azka. Api,"
"Boleh,"

Ahahah! Tersisa 6 orang yang belum boleh ikut wkwkwk mereka bingung bukan kepalang harus bawa apa hahaha. Terakhir si Devira yang nggak paham-paham tapi akhinya paham juga yeay! Kami dibagi ke dalam tiga tim. Aku di tim 2. Walaupun gerimis dan akhirnya hujan deras, kami tetep main. Seruuu hehehe.

Malamnya, abis mandi dan makan, kami kumpul bareng kelompok masing-masing. Bikin presentasi, menentukan bagaimana cara presentasi, dll. Internet lelet. Tapi akhirnya presentasi jadi juga jam 11 malam. Kami lumayan tenang sampai Kak Bany dan Kak Natalie (mentor-mentor) datang dan mengomentari ide kami.

Rasanya kayak udah bangun gedung tinggi, terus gedungnya diruntuhin.

Kelompokku diskusi ulang dan merombak seluruh ide dan presentasi kami. Sampai jam satu pagi, slide selesai. Kami pindah ke lobi asrama. Bagi-bagi tugas. Nyawa udah tinggal berapa persen, mulut menguap berkali-kali, jam dua pagi kami memutuskan untuk ke kamar masing-masing dan tidur. Kelompok lain masih ada yang berkumpul, bahkan temen sekamarku nggak balik ke kamar.

Hari 5Kami ada meditasi dengan yoga. Yoga asik! Di akhir meditasi, kami diminta terlentang, dan mayoritas orang tertidur... sampe ngorok pula. Aku nggak bisa tidur gara-gara denger suara orang ngorok huh. Si Vivi dibangunin nggak bangun-bangun hahaha. Aku jadi pengen yoga lagi, asik!

Pagi ini adalah pagi ter deg-degan. Kelompokku dapat urutan keempat. Dag dig dug. Mana pas awal-awal mau menyambungkan laptop dengan LCD malah error. Aku dapat jatah banyak omong di presentasi, harus memulai pembukaan, ya akhirnya berhasil juga hahah.

"Pagi semuanya!!! Kalau saya bilang Aloha, jawab Ao! yaaa! ALOHA!"
"AOOOO!!!"
"Kanan, ALOHA!"
"AOOO!!!"
"Kiri, ALOHA!"
"AOOO!!!"
"Kita nggak berpelukan nih?" tanya salah satu dewan juri.
*seisi ruangan ketawa*

Fyuh. Setidaknya ice-breaking dadakan ini berhasil. Deg-degan? Pasti. Tanpa latihan? Yep. Tapi Alhamdulillah, entah kenapa hari ini aku jadi bisa banyak omong dan presentasi dengan baik, interaksi dengan peserta, interaksi dengan juri, melawak, menjawab pertanyaan, dll. Senang! Dan sangat senang melihat presentasi tim lain yang WAOW BANGET. KOK BISA SIH MEREKA NGASIH IDE DAN PRESENTASI SEMENARIK ITU.
Usai makan siang, kami lanjut presentasi perorangan dengan elevator pitch. Presentasi singkat gitu. Lagi-lagi WAOW BANGET. KOK BISA SIH MEREKA NGASIH IDE DAN PRESENTASI SEMENARIK ITU.

bersama para juri

Malamnya kami perpisahan kecil-kecilan, kelompokku maju pertama kali hahaha. Lagi-lagi aku yang banyak omong dan narik-narikin peserta korban game wkwkw nggak bisa untuk nggak ketawa denger mereka ngomong. Ah pokoknya hari ini hari terseru!

Hari 6

Kami menuju Comma (co-working space) di Jakarta. Daridulu aku penasaran Comma ini kayak apa dan ternyata WAOW BANGET. Kecil tapi nyaman dan kreatif banget! Bagi yang belum tahu, Comma ini tempat buat meeting dan kerja. Komunitas, freelancer, atau siapapun bisa ke Comma. Tapi bayar hehe.

photo booth

kelompok 4; dicky, aku, lukas, linda, gero
 Ada alumni DYLA 2011 dan 2012. Ada Kak William yang nulis buku bareng Mas Taufan. Pemenang diumumkan! Selamat buat kelompok 6 dan kelompok 5! Kami foto-foto dan makan-makan. Photo booth dan asesorinya keren banget. Makanannya super beragam dan enak banget. Walaupun nggak menang, tapi tetep senaaaang :D

terlalu cute untuk dimakan. tapi enakkkk!
nemu kartu nama mba mega di dinding comma

Aku pulang ke Bogor dianterin Om Amir bareng Stefi dan Vivi. Terimakasih Danamon. One of my life changing experience :)

*foto-foto lain menyusul

Danamon Young Leaders Award 2013 (1)


1-7 Desember 2013, aku bolos kuliah satu minggu untuk ikut pelatihan dan lomba Danamon Young Leaders Award 2013. Nggak nyesel! Seru banget!

Hari 0

"Nanti berangkatnya dari Kantor Danamon di Kuningan ya mbak,"
"Oh yang di Kuningan ya. Oke oke,"

Demikian isi percapakapan via telepon dari aku dan Om Bob, pihak dari Danamon, mengenai lokasi keberangkatan dari Jakarta menuju Danamon Corporate University (DCU) di Ciawi. Kantor utama Danamon yang di Mega Kuningan mah aku sering lewat. Jadi Minggu pagi itu aku langsung menuju Kuningan.

Singkat kata, ternyata aku salah! Lokasi keberangkatan adalah dari kantor Danamon yang di Plaza Kuningan. Bukan di Menara Bank Danamon di Mega Kuningan. Hiks aku nggak baca e-mail dengan teliti ih.

putri, ayu, janet, dicky, adrian, anggi, aku, exa

Aku berangkat bareng Janet (Binus), Dicky (President University), Putri (UI), Ayu (Universitas Bakrie), Exa (UI), Adrian (UI), dan Anggi (Paramadina).

Sesampainya di DCU, aku ditempatkan satu kamar dengan Riris (Universitas Airlangga). Beberapa hari lalu kami udah ngobrol via BBM hehe. Kami makan siang, lalu sesi perkenalan. Aku ditempatkan satu tim dengan Dicky, Lukas (Universitas Sumatera Utara), Linda (Institut Teknologi Surabaya), dan Gero (Universitas Andalas).

Sebelum makan malam, kami menimbang badan hahaha. Dan benar aja, malam itu kami makan enak dan banyak. Nyam! Kami juga mainan game aneh dan bodoh yang bikin penasaran -___- kapan-kapan aku tulis~

Hari 1

Kami bangun pagi dan menuju Menara Bank Danamon. Kami dipersilakan masuk ke ruang direksi dan bertemu petinggi-petinggi Bank Danamon. Mereka menjelaskan mengenai sejarah Bank Danamon, kegiatan di dunia perbankan, dll.

di ruang direksi
Kemudian kami makan siang di kantor Danamon yang di Ciputra World (tower perkantoran di Lotte Shopping Avenue, sebelah Menara Bank Danamon). Kami dijelaskan mengenai berbagai produk seperti Micro Banking/ Danamon Simpan Pinjam, Danamon Small Medium Business, Credit Card, Danamon Online, dll.

kuis berhadiah di ciputra world

bareng direksi

Makan malam masih tetap di Ciputra World, tapi nggak di kantor, melainkan di dalam mall, di Seribu Rasa. Tidak perlu diragukan lagi, makanannya enak-enak, ala-ala Cina gitu. Ada insiden pada sebuah jenis makanan.

Janet: Lo tadi makan ini nggak?
Devira: Makan. Rasanya kayak ...
Janet: Babi.
Bony: Serius? Mana coba? *nyoba* iya kayak babi!

Mereka boleh makan babi sih, nggak masalah.

Putri: Mbak *panggil waitress* , ini daging apa? Babi?
Waitress: Oh itu ayam. Semua disini halal.
Aku: *makan* enak!
Janet: Begitulah rasanya babi! Enak!
Putri: Mungkin nama restoran ini Seribu Rasa karena bisa menyediakan aneka rasa makanan termasuk daging babi.
Devira: Bisa bisa!

Hari 2

Olahraga pagi ini keliling kampus. Aku pengen bubur ayam, ternyata ada pas sarapan yeay! Sarapannya ada tiga pilihan; bubur, roti, nasi. Surga makanan pokoknya.

Hari ini kami diajak untuk self discovery bareng Mbak Adella, konselor psikologi. Kami juga menjalani psikotest dan berkonsultasi secara perorangan mengenai rencana hidup ke depan. Ternyata asik juga ya konsultasi.

Bu Elsa selaku ketua acara juga memberikan informasi dan tips mengenai dunia kerja. Bagaimana menghadapi wawancara kerja, pengembangan karir, dll. Kami juga berkesempatan diberitahui mengenai manajemen SDM oleh manajer SDM Bank Danamon secara langsung. Beliau ramah, kami makan malam satu meja, dan ternyata beliau enggak makan nasi kalau malam sudah sepuluh tahun demi hidup sehat. Waaa.

Hari 3

Setelah olahraga pagi keliling desa setempat, kami menuju executive room dan kedatangan Rene Suhardono dan Didi Mudita! Rene dan Mas Didi asik banget!!! Kita menggambar sambil mendengarkan lagu kesukaan dan latihan elevator pitch hehe.

dengerin lagu Happy-nya Mocca, gambar makanan

Adrian sama Ari gambar benang ruwet (?) yang punya makna tersendiri

Siang ini kami diberikan pertanyaan untuk dijawab dan dipresentasikan secara kreatif. Kami diskusi 15 menit dan langsung presentasi astaga sebenernya kaget. Kelompokku pakai simulasi mini drama.