21 September 2014

Masalah-masalah UKM, Real Business Case

Sesampainya di Pendopo Garut, kami duduk menunggu pejabat datang. Menunggu dalam waktu yang lama sampai-sampai aku bisa tidur nyenyak di kursi di dalam aula. Usai penyambutan dan foto bersama, kami dilepas. Kelompok aku (Bandrek) menumpang tinggal di rumah Pak Haji, pemilik UKM Dodol Buah NNN. Jadi aku, Hanna, Vozu, Rendy menumpang tinggal bersama Ira, Tika, Odie, dan Dani (tim Dodol Buah NNN). Kami menyewa angkot menuju lokasi.

Tinggal di Ruko Oleh-oleh
Sebenernya itu bukan rumah Pak Haji sih. Jadi Pak Haji punya toko oleh-oleh, nah lantai duanya digunakan untuk tempat tinggal dua karyawan penjaga toko tersebut, semacam apartemen gitu ada kamar tidur, kamar mandi, televisi, dapur, dll. Pada akhirnya, yang tinggal disitu adalah para perempuan. Sementara Vozu, Rendy, Odie, dan Dani tinggal di lantai 3 pabrik dodol yang jaraknya nggak jauh dari toko. Sayangnya kami samasekali nggak memotret tempat tinggal kami tersebut.

Hari pertama sampai di Garut, kami langsung bersilaturahmi ke pabrik dodol dan mengantar oleh-oleh untuk Pak Haji. Lihat-lihat pabrik dodol seru juga. Kemudian aku, Hanna, Vozu, dan Rendy pamit duluan karena mau silaturahmi ke pabrik bandrek dan bajigur. Kami naik delman hahahaha! Asik!

Real Business Case
Setelah mengobrol panjang lebar bersama Pak Taofik, pemilik PD. Subur Jaya Lestari alias UKM Bandrek dan Bajigur merk Legiit dan merk DS, aku, Hanna, Vozu, dan Rendy cuma bisa bengong. Nggak tau harus berbuat apa karena Pak Taofik bisa dibilang udah pinter. Mesin beliau rakit sendiri, website beliau susun sendiri dari hasil belajar html tanpa menggunakan template gratisan, logo poster dll beliau desain sendiri, bahkan beliau sudah approach Carrefour dan Alfamart untuk memperluas pasar. Ketika ada sebuah masalah pun, kami nggak tahu solusinya apa. Kami mah apa atuh.

Pak Taofik, mantan band rock player yang kini menjadi bandreck owner hehehe

Kami pulang ke toko oleh-oleh dan langsung menuju lantai dua. Ngantuk... maklum lagi puasa capek gitu. Kami berempat tidur siang dan bangun ketika sore hari. Kelompok Dodol Buah baru datang, rupanya hari pertama mereka di UKM bener-bener beda sama kami. Tika udah diminta menghitung harga pokok produksi (HPP), Ira diminta mencari cara pengaplikasian teknologi pangan CMC untuk dodol, Odie diminta membuat logo baru. Lah... beda banget dengan UKM kami yang HPP-nya udah jelas, mesinnya udah canggih, logo-pun udah ada.

Hari-hari berikutnya kami mulai ada kerjaan dan semakin pusing, diantaranya bikin business model canvas, strategi pemasaran, sayembara tagline, dan proposal peminjaman dana ke Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIMPI) Garut, dan Bank Rakyat Indonesia (BRI). Pernah begadang, cuma tidur bentar, kemudian bangun lagi untuk sahur, ngantuk euy. Karena Pak Taofik sering ke Bandung untuk cari bahan baku dan meeting, kami jadi suka ke pabrik dodol, sempet bantu membungkus dodol dan lihat proses pembuatannya.
kemasan produk, mesin penggiling bahan baku, bahan baku (rempah-rempah)

Kasus bisnis di UKM dodol buah juga cukup rumit. Mulai dari pengemasan yang tertinggal dari pesaing, merk yang kurang komersil, pemisahan toko oleh-oleh karena terkait masalah warisan, dll yang nggak bisa disebutkan disini.

Ini bener-bener lebih susah daripada memecahkan studi kasus Perencanaan dan Evaluasi Usaha yang diberi Pak Eko dari Universitas Hannover, Jerman. Waktu supervisi (kunjungan dosen) toh dosen hanya berkata blablabla... tapi pada kenyataannya nggak semudah itu menyelesaikan masalah yang ada di UKM tersebut.

Pada akhirnya, kami justru belajar banyak dari Pak Taofik dan Pak Haji.

Nggak terasa tiba-tiba udah hari terakhir KKP. Kami mengadakan pameran di Pendopo Garut bareng departemen Agribisnis dan Ekonomi Sumberdaya Lingkungan. Selain pameran, departemen Manajemen juga diharuskan presentasi di depan pejabat dinas UKM Garut. Hanna dan Rendy jaga pameran, sementara aku dan Vozu presentasi.

pengunjung pameran
 
Diskusi

tim kami dan Pak Taofik beserta produk

Oke, bersambung...

Tidak ada komentar: