22 September 2014

Naik Gunung Papandayan

"Naik gunung papandayan yuk,"
"Ayuk ayuk,"
"Ayuk, kapan?"
"Malem ini yok?"
"Oke!"

Sesimpel itu. Vozu langsung mendata apa aja yang harus dibawa untuk nantinya kami beli malam ini sebelum naik. Rencananya yang mau ikut naik itu Vozu, Hanna, aku, Ira, Rendy, Odie, Pandu, Dadan, dan Salman. Udah excited banget beli minum, roti, masak bekal, sampe beli 10 senter kecil di toko mainan anak-anak yang hampir tutup(terpaksa karena toko-toko di Garut jam 8 udah pada tutup). Tiba-tiba Vozu bilang naik gunungnya jadinya besok subuh aja karena kalau malam riskan.

Ujung-ujungnya, subuh-subuh yang berangkat cuma aku, Hanna, dan Vozu. Bertiga doang. Mendadak. Nekat emang. Vozu udah pernah naik gunung dua kali. Hanna udah pernah satu kali. Aku nol. Yaudahlah ya nekat aja hahaha.

Awalnya udah mau nyerah gitu pas baru awal mendaki menuju pos pertama kareba nggak nemu mobil pick-up. Niatnya kalo udah nyampe pos pertama, aku mau pulang aja. Biar aja Hanna sama Vozu aja yang naik gunung. Aku nggak sanggup. Akhirnya kita nemu mobil pick-up lewat dan kita naik sampe pos pertama. 

papandayan dari jauh

Jangan ambil sesuatu, kecuali gambar. Jangan bunuh sesuatu, kecuali waktu, Jangan tinggalkan sesuatu, kecuali jejak.

"Aku pulang aja kali ya kalian naik aja,"
"Trus pulangnya gimana?"
"Ya itu aku naik ojek sampe bawah, ntar naik angkot ke Suci (daerah tempat kami tinggal di Garut)"
"Sama siapa?"
"Sendirian,"
"Ntar kalo ada apa-apa gimana?"
"Nggak akan ada apa-apa lah,"
"Siapa tahu,"

Astaga ya sesungguhnya nih aku naik gunung karena kasihan sama Vozu dan Hanna. Nampaknya kalo aku pulang, mereka bakal ikut pulang juga padahal mereka niat banget naik gunung. Yaudah aku naik deh toh cuma sekitar 4 jam mendaki. Kirain gampang eh ternyata ya jalan kaki 4 jam itu beda jauh sama mendaki 4 jam. Maafkan aku, ya Hanna dan Vozu, aku lelet gampang pegel kakinya, mana tas bawaanku diringanin pula kasihan mereka...

Tapi aku bersyukur banget jadi naik karena pemandangannya itu loh... cantik banget.

1) Lagi capek (nungguin aku istirahat) 2) Di Pondok Seladah, titik camp terakhir
di tebing

Kami bertiga sempet nyasar. Nggak nyasar sih, cuma salah pilih jalur. Kami rupanya berada di jalur yang terlampau ekstrim untuk pendaki pemula. Untung ketemu mas-mas dari Bandung di atas gunung lagi sendirian. Namanya Aa' Joyo, kami dianterin deh. Dia udah expert gitu. Kami manjat-manjat tebing curam dan hutan astaga. Aku nggak nyangka aku bisa melewati itu semua ckck.

Padang Edelweis

turun gunung lewat jalur yang nggak ekstrim
Kami nggak nginep. Mulai naik pukul 08.15, sampai padang Edelweis pukul 12.30. Harusnya bisa lebih cepat, tapi karena ada aku si lelet jadi lama hehe. Kami nggak jadi mendaki lagi ke puncak karena udah mulai gerimis dan berkabut super tebal sementara kami nggak punya jas hujan. Jadi buru-buru turun. Kami turun lewat jalan yang berbeda, jadi menemukan pemandangan baru yang cantik-cantik lagi, contohnya hutan mati hehe.

hutan mati

Berikut video yang direkan oleh Hanna sewaktu kami turun gunung:


video turun gunung (direkam oleh Hanna, untuk Tika karena dia lagi sakit, kameranya kami pinjam)


hutan mati gunung papandayan


minum bandrek dan bajigur DS

Oke, bersambung...

8 komentar:

Galih Putri W. mengatakan...

Kak kayak gini minta izin ke ortu nggak?

Nadia Azka mengatakan...

Ijin, pas udah diatas gunung hehe.

Ardianto tandibaro mengatakan...

wooooww

Joyohadikusumo Shafarly Harvena mengatakan...

hay ^_^

Anonim mengatakan...

Joyo expert sekarang ya?

Anonim mengatakan...

Joyo expert sekarang ya?

Joyohadikusumo Shafarly Harvena mengatakan...

Expert dari mana, orang awam kayak begini..

Joyohadikusumo Shafarly Harvena mengatakan...

Expert dari mana, orang awam kayak begini..