18 Agustus 2019

Silver Lining

Beberapa hari lalu, saya meminta seorang teman untuk menemui saya karena saya pusing sekali pada saat itu. Saya banyak berkeluh kesah, lalu ia bilang, "Mungkin aja suatu hari kamu nemu silver lining dari semua ini,". Oh betul juga, setelah diingat-ingat, ada beberapa kejadian dalam hidup yang silver lining-nya baru saya temukan beberapa bulan atau tahun kemudian. Salah satunya yang bisa dibagikan, yaitu cerita ini.

Silver lining is a metaphor for optimism which means a negative occurrence may have a positive aspect to it.

Dulu waktu kelas 1 SMA, sebenernya saya udah tahu bahwa nanti kalau kuliah, kemungkinan besar saya akan mengambil jurusan sosial, meskipun belum tahu apa. Tapi pada saat itu saya tetap memilih IPA karena alasan yang menurut saya agak aneh, bisa jadi nanti waktu kelas tiga saya berubah pikiran dan menginginkan untuk masuk di jurusan ilmu eksak.

Akhirnya sampai pada kelas tiga SMA, saya udah yakin banget mau masuk jurusan sosial. Tapi disaat yang bersamaan, saya baru tahu bahwa saya harus mengambil ujian SNMPTN IPS jika ingin masuk ke jurusan sosial di universitas. Terus terang, kaget banget waktu itu (hello, kemana aja saya ini) dan langsung ngomel ke diri sendiri 'Tuh kan, sok ide sih pakai masuk jurusan IPA segala. Udah tau nggak suka pelajarannya. Sekarang baru tau rasa susah belajar soal-soal IPS untuk ujian SNMPTN,'. Hahaha.

Pada saat itu saya belum tahu bahwa ada yang namanya SNMPTN undangan. Dulu cuma tahu ada PMDK, jalur masuk universitas via nilai rapor, biasanya hanya diperuntukkan kepada siswa yang rankingnya bagus. Nggak ada kepikiran samasekali bahwa saya akan mendaftar ke universitas melalui jalur tersebut. Mata pelajaran Kimia dan Fisika aja remedial melulu, gimana mau ranking.

Suatu hari guru bimbingan konseling (BK) menginformasikan bahwa jalur PMDK ditiadakan dan diganti dengan jalur SNMPTN Undangan, dimana 80% siswa sekolah bertaraf internasional bisa mengikuti pendaftarannya. Kebetulan saya nggak the lowest 20%, jadi bisa ikutan mendaftar.

Proses pemilihan universitas bagi saya betul-betul singkat. Saya cuma tanya Ayah saya saja.

"Aku daftar kemana nih?"
"Jangan di Semarang."
"Trus dimana?"
"UI."
"Enggak ah. Kayaknya nggak bakal diterima." #SelfRejectLOL
"IPB aja. Kampusnya bagus kemaren Ayah lewat."
"Oke."

Saya langsung cari jurusan yang saya mau, eh ternyata ada. Yang mengherankan, jurusan yang saya daftar ini merupakan jurusan sosial, tapi di situs kampus tertera bahwa hanya anak IPA yang bisa mendaftar ke seluruh jurusan di IPB. Saat itu saya nggak terlalu mikirin, yang penting sudah daftar iseng-iseng berhadiah, karena dari awal memang tidak terpikir samasekali masuk universitas tanpa  tes.

Begitu pengumuman keluar, eh ternyata saya diterima. Walaupun lega dan senang, sejujurnya saya bingung 'Ih bisa-bisanya saya lolos,". Little did I know, setelah itu saya baru tahu bahwa:
  • SNMPTN Undangan mengutamakan siswa yang mendaftar sesuai jurusannya (jurusan IPA ya daftar ilmu eksak, jurusan IPS ya daftar ilmu sosial). Kesempatan saya besar karena, saya jurusan IPA di SMA, dan mendaftar ke jurusan yang dikategorikan sebagai ilmu eksak juga oleh IPB (padahal jurusan sosial).
  • Sejak jaman dahulu, IPB menerima 80% mahasiswa melalui jalur PMDK, yang saat itu berubah menjadi SNMPTN Undangan. Berbeda dengan mayoritas universitas lainnya, yang hanya menerima 20% mahasiswa baru melalui jalur tersebut. Itulah kenapa kesempatan saya masuk lebih besar.
  • Jika ada beberapa siswa dari sekolah yang sama lalu mendaftar ke jurusan yang sama di universitas yang sama, maka akan diutamakan siswa yang nilainya lebih bagus. Ini juga alasan mengapa kesempatan saya masuk lebih besar, karena IPB nggak populer di mata teman-teman SMA saya. Hanya lima orang dari angkatan saya yang kuliah di IPB.

Coba kalau pada saat itu saya dengan yakinnya memilih jurusan IPS di SMA, saya nggak akan kuliah di IPB. Coba kalau pada saat itu saya nggak punya pilihan sendiri soal universitas dan tidak bertanya kepada Ayah saya, mungkin saya nggak akan lolos SNMPTN Undangan dan harus ikut ujian tertulis (yang mana saya pasti akan sangat kesulitan).

All thanks to 'ketidakyakinan' and 'ketiadaan pilihan', it brings me surprise.

Pada saat pengumuman lolos SNMPTN Undangan tersebut, saya langsung mikir, Tuhan tau bahwa saya ini lemah - karena saya sulit tidur kalau malam mikirin universitas mana nih yang mau terima saya, tiap hari di depan laptop sibuk cari informasi beasiswa universitas-universitas swasta karena saya seyakin itu nggak bakal lolos kalau harus ambil ujian tertulis. Saya bahkan nggak hadir ke pengumuman kelulusan ujian nasional di sekolah, karena saya lagi anxiety banget takut nggak dapet kuliah. Nggak peduli banget dengan kebahagiaan kelulusan ujian nasional. Beda sama teman-teman yang lain yang mentalnya mungkin lebih kuat. In the end, I'm just lucky..

Oke kalau kata quotes bijak sih, just be patient cause you'll find the silver lining sooner or later. 

13 Agustus 2019

Asuransi Jiwa Bukan Buat Kamu, Tapi ...


Waktu kita kecil, rasanya dunia sederhana banget. Kita nggak perlu mikirin kapan gajian, kapan harus bayar listrik, gimana caranya nabung buat beli rumah, dan lain sebagainya. Banyak hal dalam hidup kita pada saat itu yang sangat bergantung pada orangtua, misal: makan ya tinggal makan apa yang dikasih atau dibelikan orangtua, sekolah ya tinggal belajar aja tanpa perlu mikirin uang pangkal dan  SPP bulanan, kalau sakit ya tinggal ke dokter sama orangtua nanti biayanya mereka tanggung.
Tapi sekarang ketika kita sudah dewasa, rasanya dunia jauh lebih rumit daripada yang kita duga. Berbagai hal yang harus kita pikirkan, banyak hal yang menjadi tanggung jawab kita, entah itu dalam pekerjaan maupun dalam kehidupan pribadi atau berkeluarga. Jadi orang dewasa itu sulit karena kita nggak bisa lagi cuma mikirin diri sendiri. Banyak yang perlu kita pertimbangkan sebelum kita memutuskan sesuatu. Misalnya, 'Saya mau kerja di luar kota, tapi nanti orangtua gimana ya nggak ada yang ngurus' atau 'Mau mengundurkan diri dari kantor yang toxic, tapi belum dapet kerjaan baru, nanti anak istri makan apa'.

Jadi dewasa = punya tanggung jawab
Yap, jadi dewasa itu berarti kamu harus mengurangi kadar ego kamu, karena kamu punya tanggung jawab atas orang lain. Kalau dulu waktu kecil, kamu adalah tanggung jawab orangtuamu, bisa jadi sekarang kamulah yang bertanggung jawab atas orangtuamu, atau pasangan maupun anak-anak kamu.

Tanggung jawab. Waow. Terdengar seram-seram menakutkan mendebarkan gimana gitu.
Sekarang mungkin kondisi kamu dan keluarga baik-baik aja, tapi bukan berarti kamu bisa lengah dan tutup mata atas segala kemungkinan yang terjadi di masa depan. Makanya, kamu udah harus berpikir 'nanti gimana?' bukan 'gimana nanti'.
Kamu mungkin punya saudara dan teman yang benar-benar kamu percaya, tapi tidak ada yang menjamin bahwa tanggung jawab kamu (pasangan, anak, orangtua) akan ditanggung oleh mereka dengan senang hati jika suatu saat kamu nggak ada lagi. Dan percaya deh, akan lebih baik apabila kamu nggak menggantungkan harapan belas kasih dari orang lain. Jadikan diri kamu orang yang tidak merepotkan orang lain, karena siapa juga sih yang mau direpotin?

Kalau kamu kelas menengah, iya maksudnya kalau kamu bukan kaum konglomerat, kamu perlu mempertimbangkan untuk membeli asuransi. Asuransi jiwa adalah jawaban untuk kamu yang peduli atas kelangsungan hidup orang-orang yang kamu sayang di masa depan.



Kalau kamu masih ragu, apa sih yang membuat kamu ragu? Coba simak lima (5) anggapan yang salah mengenai asuransi jiwa di bawah ini.  
  1. 'Ah saya belum punya tanggungan pasangan atau anak tuh!'. Kamu perlu kaji ulang soal definisi tanggungan, karena tanggungan tidak hanya dimiliki oleh mereka yang sudah menikah dan memiliki anak. Kalau kamu masih lajang dan punya orangtua yang perlu didukung secara finansial karena nggak punya dana pensiun atau perlu biaya lebih untuk berobat, maka artinya mereka adalah tanggungan kamu. Atau, kalau kamu punya usaha dan memiliki karyawan, maka karyawan-karyawan itu juga merupakan tanggungan kamu. 
  2. 'Belum tentu saya butuh asuransi jiwa'. Lho memang bukan kamu yang membutuhkan, tapi orang-orang yang menjadi tanggung jawab kamu yang membutuhkan manfaat asuransi jiwa. Apalagi kalau kamu adalah satu-satunya tulang punggung keluarga, kemana keluargamu akan bergantung nantinya? Nggak akan ada lagi kamu yang menyokong keuangan mereka, padahal pengeluaran mereka tentunya akan bertambah seiring berjalannya waktu.
  3. 'Asuransi jiwa kan mahal'. Nggak semahal yang dibayangin kok! Kurangi alokasi dana lain dalam pengeluaran rutin kamu, misalnya biaya hura-hura untuk makan di luar tiap akhir pekan bersama keluarga. Rekreasi bersama keluarga nggak harus keluar rumah setiap minggu, frekuensinya bisa kamu turunkan jadi dua kali sebulan. Toh, ini demi masa depan mereka loh.
  4. 'Bingung sebaiknya berapa uang pertanggungannya'. Asuransi jiwa bukan perkara seberapa besar uang pertanggungannya, tapi berapa dana yang kira-kira dibutuhkan oleh keluarga kamu ketika kamu nggak ada di sisi mereka nanti. Tentukan uang pertanggungan berdasarkan kebutuhan orang-orang tersayangmu yah.
  5. 'Masa depan kan di tangan Tuhan'. Masa depan memang sulit diprediksi, tapi kita sebagai manusia diberi kesempatan untuk mempersiapkan diri. Membeli asuransi jiwa merupakan salah satu bentuk kasih sayang terbaik yang bisa kamu berikan untuk keluarga kamu di masa depan.
Semoga poin-poin diatas bisa menghapuskan keraguan kamu yang belum membeli asuransi jiwa.
Intinya, memiliki asuransi jiwa bukan karena kamu akan meninggal dunia yah, tapi karena orang-orang yang kamu sayang akan tetap hidup dan mereka perlu survive tanpa kamu di sisi mereka nantinya. Itulah mengapa, asuransi jiwa itu bukan buat kamu loh, tapi buat mereka yang kamu sayangi!

22 Juli 2019

Jambore Sahabat Anak 2019


Sejak lulus kuliah, rasanya saya nggak pernah ikut kegiatan sosial di luar acara kantor. Jadi awal tahun ini saya udah niat untuk menyumbangkan sebagian tenaga dan waktu di komunitas sosial. Berhubung saya nggak bisa berkomitmen untuk jadi relawan rutin, maka saya pikir oh mungkin saya bisa daftar jadi relawan Jambore Sahabat Anak 2019. Langsung deh follow instagram Sahabat Anak biar nggak ketinggalan info. Omg time flies, tahun 2013 saya juga niat daftar jadi relawan Jambore Sahabat Anak dan follow Twitternya biar nggak ketinggalan informasi. Lol bahkan media sosial yang populer aja udah beda platform.

Apa itu Jambore Sahabat Anak?
Ini merupakan acara tahunan, yaitu berkemah bersama anak-anak marjinal yang mayoritas berasal dari Jabodetabek. Namun demikian, ada juga anak-anak dari Sumatera yang hadir. Peserta anak tahun ini sekitar 800 orang. Biasanya Sahabat Anak membuka kesempatan bagi orang-orang yang bersedia jadi volunteer sebagai kakak pendamping khusus untuk acara ini. Tugas kakak pendamping ini adalah mendampingi satu atau dua adik selama acara berlangsung, mulai dari memastikan bahwa adik cukup minum, makan tepat waktu, mandi, mengikuti acara dengan baik, dll.

Tahun 2019, Jambore Sahabat Anak membawa tema 'Kita Sama Kita Indonesia' untuk menyampaikan indahnya keberagaman dan menciptakan persabahatan kepada anak-anak. Tema ini juga sebagai kampanye untuk melakukan praktik non-diskriminasi di dalam segala aspek kehidupan, baik formal maupun non-formal, khususnya dalam memberikan perlindungan dan pemenuhan hak anak. Sebelum acara Jambore, anak-anak juga mengikuti kegiatan Walking Tour Rumah Ibadah yang ada di Jakarta.

Pelatihan untuk volunteer
Tahun ini pelatihan untuk volunteer diadakan di PPM Manajemen, pas bulan puasa, bener-bener seharian. Materinya pun lebih banyak dan interaktif, bikin kita berinteraksi dengan volunteer lainnya. Seru banget sih banyak dapat cerita hal-hal nggak terduga.

Usai pelatihan, diumumkan pembagian tenda. Saya ditempatkan untuk jadi relawan untuk adik-adik dari area Panglima Polim, Jakarta Selatan. Nah area Panglima Polim ini dimasukkan ke dalam Tenda Bugis - bersama dengan adik-adik dari Sanggar Belajar Orang Pinggiran (SBOP) di area Cilincing, Jakarta Utara.

Setiap relawan wajib melakukan kunjungan ke area penempatan masing-masing sebelum Jambore dilaksanakan. Untung kali ini dekat rumah fyuh... tahun 2013 saya ditempatkan di area Buaran, Jakarta Timur astaga.

Adik-adik di area Panglima Polim melakukan kegiatan belajar mengajar di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Kebayoran Baru setiap hari Sabtu pukul 14.00-16.00. Tapi jangan salah sangka, ini tidak membawa misi keagamaan tertentu kok. Banyak kakak relawan maupun adik binaan yang muslim, bahkan mengenakan jilbab.

Jambore Sahabat Anak
Seperti tahun-tahun sebelumnya, acara kali ini juga diadakan di Bumi Perkemahan Ragunan (Buperta Ragunan). Para adik-adik dan kakak relawan berangkat pukul 07.00 dari GKI Kebayoran Baru dengan 2 angkot. Karena jalanan lancar, untunglah cepat sampai karena di angkot kami berdesakan. Sesampainya di Buperta Ragunan, kami bergabung dengan kakak-kakak dan adik-adik dari SBOP yang sudah sampai duluan.


Usai pembukaan acara di panggung, tiap tenda berjalan mengunjungi pos games masing-masing. Favorit saya yaitu ketika ada sharing session dari salah satu kakak disabilitas (tanpa kaki) yang pakai adegan naik motor! Walau memiliki keterbatasan, beliau tetap bisa berkendara untuk kerja dan kuliah! Pos seru lainnya yaitu pos belajar bahasa isyarat. Kami belajar bahasa isyarat untuk alfabet A-Z serta beberapa sapaan sehari-hari.

Asli panas banget sih sing-siang, apalagi banyak debu tanah kering, namanya juga berkemah di tengah kota Jakarta sih ya. Untungnya banyak sponsor yang mendukung, salah satunya dari sisi konsumsi. Di tengah hari, adik-adik bisa makan pizza marzano. Kakak-kakak relawan juga kebagian onigiri dan jus dingin dari Samba Juice.

Siang harinya, kegiatan di tenda adalah berdiskusi dengan adik masing-masing mengenai #kitasamakitaindonesia melalui komik Sahabat Anak. Senang karena adik-adik ini berani untuk bercerita mengenai hasil diskusi dengan teman-teman satu tenda. Acara dilanjutkan dengan menghias tenda. Semua senang menggunting, menggambar, dan mewarnai sampai sore tiba.

Add caption

Sore harinya, setiap kakak harus memastikan adik asuhnya mandi dan selesai tepat waktu. Karena adik asuh saya masih kelas 4 SD, mau tidak mau saya ikut mencarikan kamar mandi yang tersedia (karena air sempat mati di bilik mandi). Tapi adik saya sih mandi sendiri lah!



Pada malam hari, ada acara panggung hiburan. Adik saya amat sangat aktif kesana kemari, saya lelah menjaga hahaha. Usai panggung selesai dan adik-adik kembali ke tenda, barulah saya mandi dan shalat isya, kemudian tidur pukul 23.00. Seluruh kakak relawan tidur diluar tenda karena tendanya sudah penuh dengan para adik. Hahaha digigitin nyamuk dan agak dingin sih tapi nggak papa.

Hari kedua, ada banyak pos games permainan tradisional dan pos sharing session dari berbagai macam profesi! Seru banget namun kaki sudah mulai pegal-pegal.


Siang hari penutupan acara dan Tenda Bugis mendapatkan dua penghargaan (tenda paling berkesan dan tenda apa lagi lup hahaha). Senang karena adik-adik juga senang, Banyak pertunjukkan panggung hiburan juga sebelum acara ditutup. Kami pulang sekitar pukul 16.00. What a weekend well spent. FYI, di rumah saya langsung tidur sejak pukul 19.00 sampai pukul 05.00 pagi hahaha.

18 Juli 2019

Sering Sakit Kepala? Waspada Pengentalan Darah dan Kolestrol

Sekitar awal bulan Februari, saya mulai ngerasa sering sakit kepala kalau malam hari. Sebenernya bukan sakit yang gimana-gimana banget sih. Lebih ke sulit konsentrasi lah pokoknya. Tadinya saya pikir, oh mungkin karena capek kerja dan lagi ada beberapa event kantor yang memang cukup bikin stres waktu itu. Tapi lama kelamaan, setelah event selesai, bahkan kalau akhir pekan dan lagi santai aja, kok kepala saya tetep sakit yah. Karena mulai terganggu sama sakitnya, baru deh saya berhenti denial dan menyadari bahwa ada sesuatu yang salah.

Saya sempet bingung mau ke dokter umum, psikolog atau psikiater karena ragu apakah sakit kepala ini disebabkan oleh sakit fisik atau kejiwaan. Tapi berhubung saat itu saya percaya diri dan merasa content karena sedang belajar hidup minimalis, merapikan kondisi keuangan dan berusaha lebih dekat dengan Tuhan (lol), maka saya coba ke dokter umum dulu. Nanti kalau memang nggak sembuh, baru ke psikolog atau psikiater.

Berobat ke dokter umum
Saya berobat ke dokter umum di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) dan menginformasikan segala keluhan kepada dokter.

Dokter bilang, "Kamu tes darah aja ya. Soalnya saya kesulitan menyusun diagnosa atas informasi yang kamu berikan. Tapi dugaan saya, kemungkinan ada pengentalan darah dan kolestrol. Soalnya banyak kasus seperti ini yang pasiennya masih muda-muda juga,"

Saya nggak kaget sih dengan dugaan dokter, karena terakhir medical check up, saya memang ada indikasi Displidemia, yaitu kondisi dimana ada kolestrol atau lemak (lipid) yang tidak normal di dalam darah. Saya disarankan diet rendah lemak dan kolestrol. Tapi waktu itu saya cuek aja, karena hasil tes darah teman-teman lainnya juga sama buruknya dengan saya hahaha.

Kembali ke tes darah yang sekarang, setelah berpuasa dari pukul 10 malam, akhirnya saya ke rumah sakit pagi-pagi untuk diambil darahnya. Berhubung banyak komponen yang perlu dicek, darah saya diambil lumayan banyak hahaha. Buru-buru deh langsung sarapan karena takut pingsan (dan emang laper juga sih).

Terus terang saya kaget ketika membayar biaya tes darah tersebut. Sekitar 700rb astaga! Mungkin karena banyak komponen yang perlu dicek untuk keperluan diagnosa awal. Huhu saat-saat begini selalu bikin saya lebih bersyukur karena tidak perlu pusing mikirin biaya selama masih dalam limit yang ditanggung kantor.

Setelah hasil tes darah keluar, saya memang nggak langsung ketemu dokter. Nah giliran mau ketemu dokter, hasil tes darahnya hilang! Saya memang sempet foto hasil tesnya dulu, tapi toh harusnya dokter bisa akses data medis saya lewat komputernya. Tapi ternyata ketika mau dicek, sistemnya malah error. Aduh, untung ada hasil foto di ponsel!

"Kamu ada pengentalan darah dan tinggi kolestrol."

Dibandingkan meratapi nasib dan bertanya-tanya pada diri sendiri apa kesalahan gaya hidup yang selama ini saya jalani (banyak tentunya lol), saya lebih memilih fokus tanya gimana biar cepet sembuh. 
  • Saya harus minum Thrombo Aspilet (obat pengencer darah) dan Atorvastatin (obat untuk menurunkan kolestrol jahat dan meningkatkan kolestrol baik) setiap hari selama satu bulan. 
  • Harus mengurangi konsumsi daging merah, kulit ayam, udang, cumi dan seafood selain ikan.
Disaat-saat rutin mengonsumsi obat-obatan ini, tentunya ada aja orang-orang yang berkomentar kurang menyenangkan seperti "Ih padahal gue makannya lebih ngaco dari lo, tapi untung gue baik-baik aja ya" atau "Ngapain minum obat, cukup jaga makan aja kali" bla bla bla. Hello... my body, my health, my decision.

Jaga makan?
Selama sebulan itu, saya nggak strict banget sih. Lagi trip sama teman-teman dan pada makan Mc Donalds, saya tetep makan double cheese burger karena ini kan special occasion (alasan!). Lagi nggak enak badan, pengen makan yang berkuah, saya beli bakso. Lagi kondangan, tetep makan kebab hahaha.

Tapi selain itu saya juga coba menu makanan vegan. Saya pesan beberapa vegan frozen food (daging analog, dendeng palsu, bebek peking palsu, dll) di Shopee, tapi astaga bau dan rasanya bener-bener not my cup of tea. Dari 5 macam yang saya pesan, yang enak hanya satu. Yang lainnya bener-bener saya nggak sanggup makan. Lebih baik makan tahu tempe seminggu penuh. Kapok dengan frozen food vegan, saya mulai coba restoran-restoran yang menyajikan menu vegan. Nah kalo ini sih enak-enak semua.

Saya cukup senang karena saya bisa menahan diri untuk nggak makan sate kambing. Padahal saya suka banget! 

Kalau biasanya saya suka bikin kopi di tengah-tengah jam kerja, sekarang saya rajin bikin ocha karena katanya teh hijau bisa menurunkan kolestrol.

Setelah mengonsumsi obat
Setelah sebulan, saya tes darah lagi dan akhirnya... hore hasilnya bagus! Lega rasanya karena setelah sembuh, kepala sudah nggak sakit lagi dan tidur pun jadi lebih nyenyak.

Sekarang meskipun kondisi darah sudah bagus, saya tetep berusaha hati-hati dan seminimal mungkin mengonsumsi daging merah dan seafood selain ikan. Saya masih minum ocha tiap hari kalau di kantor. Tapi bener-bener nih yang susah banget adalah rajin olahraga!

Yang jelas, setelah mengalami semua ini saya bener-bener bersyukur diberi kesempatan untuk berobat sebelum terlambat. :)

31 Maret 2019

My 3 Months Shopping Ban

Hore akhirnya tiba di akhir bulan Maret! Selama tiga bulan terakhir, saya sudah meniatkan diri untuk menjalankan shopping ban. Ceritanya terinspirasi mbak Cait Flanders, tapi kalau beliau berani berkomitmen untuk melaksanakannya selama satu tahun dan punya written shopping approved list, saya cuma berani berkomitmen selama tiga bulan dan tanpa daftar belanja tertulis.

Saya meniatkan untuk nggak beli pakaian atau buku baru, serta mengurangi intensitas sarapan dan makan siang di luar. Shopping ban bukan berarti nggak boleh belanja loh ya, saya tetep kok belanja kebutuhan makanan, toiletries, beli kado, dll yang memang dibutuhkan. 

Ini hal-hal yang berhasil tidak saya beli selama tiga bulan terakhir:

Pakaian/ sepatu/ tas/ aksesori baru
Dulu sering banget kelepasan akibat sering browsing online marketplace, lihat fashion posts di instagram, ke mall, dll. Sekarang udah enggak. Ternyata saya bisa hidup baik-baik saja tuh. 
Tips: Nggak browsing di Tokopedia/ Shopee, unfollow online shop di Instagram, minimalisir kunjungan ke mall. Tiap malam Senin, saya siapin baju kerja untuk seminggu. Atur mix and match pakaian yang jarang digunakan berdampingan.
Tapi tentunya saya juga punya pakaian dan aksesori yang masuk ke wishlist. Entah kapan dibeli, sampai sekarang sih masih sanggup menahan diri.

Buku baru
Dulu saya suka ke toko buku dan kadang impulsif beli buku dan berujung nggak dibaca karena nggak suka.
Tips: Rajin baca ulasan mengenai buku yang ingin dibeli. Kalau udah bener-bener yakin, baru deh beli, jadi meminimalisir buku yang dianggurin karena ternyata nggak suka.
Nah kalo soal ini, saya punya daftar buku yang mau dibaca di tahun 2019. Nantinya akan dibeli secara berkala (kalau satu buku sudah tamat, baru beli yang baru). Oh atau teman-teman yang mau beliin saya kado, tolong beliin ini, ini dan ini lol.

Ini hal yang berhasil saya hemat meskipun tidak strict di banned:

Sarapan atau makan siang di luar
Dulu saya sering banget beli sarapan dan makan siang di luar. Padahal dulu selalu berangkat lebih siang karena naik ojek ke kantor.
Tips: Sekarang saya bangun lebih pagi, jadi bisa bikin jus, sarapan dan masak bekal makan siang sebelum kemudian berangkat naik transjakarta. Saya juga mengurangi intensitas belanja di supermarket, beralih ke tukang sayur dan minimarket deket rumah.
Thanks God, intensitas sarapan atau makan siang di luar lebih jarang. Sesekali tentu pernah beli ketika lagi capek dan nggak sempat masak, tapi bisa dihitung pakai jari deh selama tiga bulan ini.

Ini hal-hal nggak berfaedah yang saya beli:

Jajan. Biasanya kegiatan ini dilaksanakan usai jam kantor atau dikala akhir pekan. Secara budget, memang masih under control tapi ya tetep deh nggak berfaedah kan. Setelah melihat catatan keuangan, saya sering banget jajan es krim dan makanan manis (biasanya coklat, saya sering bikin brownies karena hampir selalu craving makanan manis). Tips: Nggak tau hiks.

Koin webtoon. Iya ini gila emang, saya menghabiskan Rp 30.000,- cuma demi baca unpublished episode dari komik The Secret of Angel dan Young Mom. Nominalnya emang kecil ya segitu doang, tapi itu merupakan bentuk dari sebuah aksi mindless purchase hiks. Tips: Saya merasa guilty banget sampai akhirnya uninstall aplikasi webtoon biar nggak bisa beli-beli koin lagi. Plus, clear cookies and cache Google Playstore sehingga password untuk akses ke kartu debit terhapus dan harus diketik ulang (jadi bikin malas dan mengurungkan niat beli koin gitu).

Setelah tiga bulan, saya nggak akan melanjutkan shopping ban. Tapi lebih ke berusaha untuk menjadi konsumen yang lebih mindful dan sadar sebelum membeli apapun. Sesederhana mau beli sarapan misalnya, ya beli bubur ayam karena memang diniatkan, jadi bisa siapin tempat makan dulu biar nggak pakai sterofoam. Bukan karena lihat tukang bubur, lalu terlintas di pikiran tiba-tiba 'Beli ah!'. Ya gitu deh ngerti kan hahaha.

Yang belum pernah coba shopping ban, silakan dicoba dan tentukan hal-hal yang boleh kamu beli dan hal-hal yang nggak boleh dibeli. Sumber keborosan tiap orang beda-beda. Saya bisa jadi boros di belanja dan beli makan siang di luar, tapi kamu boros di jajan kopi misalnya. Nah disitulah pengeluaran yang harus ditekan. Nggak tau boros dimana? Coba catat dulu pengeluaran bulanan untuk apa aja yah biar tahu bagian mana yang bikin boros.

Semua kuncinya ada di niat. Saya pun naik turun konsistensinya. Banyak baca-baca aja tulisan orang yang sharing tentang mindful living, conscious living, frugal living, minimalist lifestyle, dll sebagai pengingat diri :)

03 Maret 2019

Gratitude Journal

Isu kesehatan mental mungkin masih asing di telinga masyarakat Indonesia. Tapi saya tahu bahwa stress itu ada di sekitar kita. Meskipun pikiran-pikiran negatif yang ada dalam tiap orang tentu berbeda dan tentunya nggak semua orang nyaman mengutarakan ke orang lain - termasuk kepada ahli kejiwaan.

Konsultasi dengan psikolog maupun psikiater masih dianggap tabu oleh mayoritas masyarakat. Pasti harus siap-siap dinasehatin oleh banyak orang semacam "Makanya banyak ibadah dan sedekah" atau "Nggak usah lebay lah jalanin aja kamu kan nggak gila" dan lain-lain. Apalagi konsultasi ke ahlinya itu mahal, dan nggak banyak kantor atau asuransi yang menjamin biaya konsultasi kejiwaan.

Ketika sedang berada dalam fase stres, kita cenderung mengeluhkan masalah-masalah yang ada dan meratapi hal-hal apa yang nggak berjalan sesuai rencana. Hal ini menyebabkan kita lebih fokus pada hal negatif, dibandingkan hal positif yang sebenernya banyak terjadi dalam keseharian. Nah salah satu cara untuk tetap waras disaat seperti ini adalah dengan menulis gratitude journal atau catatan bersyukur.
“Give thanks for a little and you will find a lot” ~Hausa Proverb
Banyak riset yang menyatakan bahwa bersyukur secara rutin membawa banyak manfaat seperti tidur lebih nyenyak, lebih jarang sakit dan bikin orang lebih bahagia. Saking populernya gratitude journal ini, bahkan banyak mobile app untuk nulis catatan bersyukur secara digital loh. Tapi ini pilihan sih, aku sendiri baru mulai gratitude journal di tahun 2019 menggunakan buku catatan biasa.

Gimana cara nulisnya? Kamu bisa sekedar listing dalam poin-poin atau bahkan menulis dalam paragraf. Kalau aku biasanya listing poin aja karena tulisan panjang aku ketik di blog (tapi tidak dipublikasikan) untuk memudahkan kalau mau tracking hal-hal apa yang sudah dilalui.

Apa aja yang bisa ditulis? Banyak banget, misalnya:
  • Kopi hangat yang kamu minum di pagi hari
  • Ketika bertemu dengan orang baik di kendaraan umum
  • Ketika rekan kerja bantuin pekerjaan kamu yang sedang overload
  • Cemilan yang kamu makan hari itu
  • Toko roti favorit yang selalu menyediakan menu yang kamu suka
  • Acara keluarga yang menyenangkan
  • Ilmu baru yang kamu pelajari
  • Keberhasilan pribadi untuk menabung dan beli barang yang udah lama masuk wishlist
  • dan lain-lain
Meskipun kedengarannya receh atau ah biasa banget, tapi gratitude journal is totally works on me karena dilakukan secara rutin (biasanya saya nulis tiap akhir pekan).  
  • Jadi selalu sadar bahwa sekacau apapun hidup, selalu ada berkah yang bisa disyukuri.
  • Jadi tahu hal-hal apa yang bikin senang.
  • Rasanya lebih bisa berdamai dengan diri sendiri dan keadaan.
  • Kalau mood lagi nggak baik, bisa buka-buka jurnal dan kembali teringat bahwa banyak hal yang menyenangkan.
Catatan: Kalau kamu memang butuh konsultasi kepada ahli dan terkendala biaya yang mahal, ada poli kejiwaan di Puskesmas Mampang dan biayanya gratis bagi peserta BPJS!

Belajar Digital Marketing di Mana Class

Tahun 2019 saya bikin resolusi untuk memanfaatkan akhir pekan dengan baik. Udah sejak lama pengen ikut weekend workshop, tapi maju mundur karena malas bersosialisasi ketemu orang baru dan biayanya mahal-mahal banget. Berhubung sudah niat dan sekarang saya lebih disiplin soal pengelolaan keuangan, saya jadi tahu bahwa di bulan Februari ini saya cukup hemat sehingga bisa ada dana sisaan untuk ikut workshop. Ya nggak papa bangetlah jajan ilmu.

Topik yang mau saya pelajari yaitu digital marketing. Banyak iklan workshop bertema digital marketing yang bertebaran di Instagram. Tapi setelah menimbang-nimbang (biaya terjangkau serta gaya desain grafis poster promosinya dan copywriting yang tidak alay), akhirnya pilihan jatuh ke Mana Class. Lokasi workshop-nya juga nyaman dan strategis karena mereka partnership sama Go-Work, coworking space yang sedang ngehits dan menjamur dimana-mana.




Saya ambil kelas Learn Instagram Analytics to Optimize Your Content. Selain karena emang tertarik sama topiknya, ini juga bermanfaat untuk kerjaan di kantor dan untuk bisnis pribadi yang baru mau dimulai.

Jumlah pesertanya hanya 18 orang, dan cukup variatif latar belakangnya mulai dari mahasiswa yang iseng ikut, mahasiswa yang memang ada tugas kuliah, karyawan yang memang kerjaannya relate dengan digital marketing, sampai yang kerjaannya nggak ada hubungannya samasekali. Seru karena ketemu dan banyak ngobrol sama orang baru, jadi dapet lebih banyak informasi yang selama ini nggak pernah terpikirkan.

Dari kelas ini saya jadi tahu analytic tools apa aja yang disediakan instagram dan gimana cara kita ambil insight dari data yang ada untuk menyusun konten. Tapi untuk menghormati penyelenggara, detilnya ilmu dan informasi yang diberikan tentu nggak bisa saya share seluruhnya dengan susunan yang sama persis, mungkin kapan-kapan aku share summary-nya.

I would recommend anyone to join this workshop because it's totally worth your time and money! 

02 Maret 2019

Persiapan Dana Pensiun

Siapa yang takut sama masa pensiun? Saya udah takut sama masa pensiun sejak kuliah. Takut doang, tanpa ada tindakan nyata hahaha. Baru deh ada niatan untuk bikin tabungan pensiun setelah terpaksa ikut kelas manajemen keuangan konsumen di tahun terakhir kuliah.

Setelah lulus dan bekerja full time, ternyata kantor saya mendaftarkan karyawannya untuk ikut Tabungan Dana Pensiun BNI Simponi. Iuran bulanan dibayarkan oleh kantor walaupun jumlahnya nggak banyak (tidak dipotong dari gaji). Waktu pertama kali didaftarin, saya juga diminta pilih profil risiko yang seperti apa untuk alokasi dananya.

Selain itu, saya juga baru tahu kalau ada yang namanya Jaminan Pensiun dan Jaminan Hari Tua dari BPJS Ketenagakerjaan. Setahu saya semua orang sekarang wajib punya ini, tiap bulan kita maupun kantor wajib bayar iuran sejumlah tertentu. Jadi coba cek ya di apakah kamu udah jadi peserta BPJS Ketenagakerjaan atau belum. Bagi yang udah jadi peserta, bisa download mobile app BPJS Ketenagakerjaan untuk cek saldonya.

Nah gara-gara hal diatas, saya jadi kayak males bikin tabungan pensiun sendiri, toh udah dibikinin sama kantor ini.

Baru deh akhir tahun 2018, setelah memulai program #tobatkeuangan saya mulai tergerak untuk mempersiapkan tabungan dana pensiun pribadi salah satunya gara-gara saya baru tau ada istilah sandwich generation dari ZAP Finance. Sandwich Generation mengacu pada orang-orang yang harus menanggung beban finansial keluarganya (pasangan dan anak) dan orangtua (yang tidak memiliki dana maupun proteksi di masa pensiun). jadi keadaannya terhimpit bagaikan sandwich. Nah, supaya anak saya di masa depan (lol) tidak menjadi sandwich generation, tentunya saya harus melek keuangan sejak sekarang dong. Salah satu caranya ya dengan buat tabungan dana pensiun.

Tadinya saya berencana minta pihak HRD untuk potong sekian persen gaji supaya langsung dialokasikan ke rekening BNI Simponi yang dikelola kantor, tapi ternyata nggak disarankan. Katanya nanti perhitungannya jadi rumit entah bagaimana. Setelah tanya teman, di kantor dia juga nggak diperkenankan untuk setor dana pribadi ke tabungan dana pensiun yang dikelola kantornya dengan alasan yang sama (perhitungan jadi rumit). Yaudah deh saya mulai riset cari-cari informasi mengenai tabungan dana pensiun.

Biasanya tabungan dana pensiun dikelola oleh bank atau asuransi. Sistemnya kurang lebih sama, yaitu:
  • Kita sebagai nasabah harus bayar iuran tiap bulan sejumlah dana yang disepakati bersama. Biasanya sih bank dan asuransi menentukan minimum setoran bulanan, tapi nggak tinggi. Cuma kata beberapa penasehat keuangan, idealnya 5-10% dari penghasilan bulanan kita.
  • Dana tersebut nggak akan bisa diambil hingga kita mencapai usia tertentu. Umumnya minimal usia 45 tahun, baru dana tersebut bisa diambil. Tujuannya ya karena ini kan tabungan untuk masa pensiun, ya masa bisa diambil seenak jidat kapanpun.
  • Nah setelah kita pensiun, dana itulah yang akan menghidupi kita. Menurut Peraturan Menteri Keuangan, kalau saldo dana pensiun kita kurang dari Rp 625jt, maka dananya bisa ditarik semua. Tapi kalau dana pensiun kita lebih dari itu, yang bisa ditarik hanya 20% aja. Sisanya wajib dibelikan produk anuitas, dimana kita akan menerima dananya secara berkala setia bulan sampai meninggal dunia.
Saya sempet kontak beberapa bank untuk caritau soal produk tabungan dana pensiun mereka, khususnya BTPN dan BCA karena saya punyanya rekening bank itu, dengan harapan meminimalisir kewajiban bikin rekening bank baru dan bayar biaya administrasi bulanan tambahan.
  • Tabungan Dana Pensiun BTPN: Ada produk Tabungan Citra Pensiun, tapi produk tersebut hanya diperuntukkan oleh calon pensiunan (ada usia minimal gitu, kalo nggak salah 45 tahun). Lah kalau masih usia 20an kayak saya nggak bisa daftar.
  • Tabungan Dana Pensiun BCA: Saya nemu situs Dana Pensiun BCA, tapi ketika petugas layanan pelanggannya ditanya, mereka menyatakan tidak tahu menahu mengenai produk tersebut. Emang sih itu situsnya bukan bca.co.id tapi kok bisa yah ada situs itu. Di BCA adanya produk Maxi Retirement, sejenis unit link gitu dengan premi wajib tahunan. Bye banget ini mah bukan yang saya butuhkan.
  • Tabungan Dana Pensiun Bank Mandiri: Nah disini baru ada produk yang sesuai, Mandiri Dana Pensiun tanpa embel-embel proteksi alias unitlink dan bisa dimiliki oleh siapapun tanpa minimal usia. Syarat dan ketentuannya kurang lebih sama dengan produk tabungan dana pensiun bank lain yaitu dana hanya bisa ditarik saat nasabah mencapai usia sekian. Tapi sayangnya harus bikin rekening Bank Mandiri yang biaya administrasi bulanannya agak bikin males. 
  • Tabungan Pensiun Bumiputera: Tadinya sempat mau daftar program dana pensiun di DPLK Bumiputera, namun repot daftarnya harus ke kantornya (yaiyalah) dan situs perusahaannya yang super jadul membuat saya tidak yakin.
Setelah dipikir-pikir atau lebih tepatnya hopeless nggak nemu produk yang cocok, yaudahlah saya bikin akun sekuritas aja khusus untuk dana pensiun. Toh jatuhnya sama aja kayak tabungan pensiun di bank, bedanya cuma nggak ada peraturan bahwa ini hanya bisa ditarik ketika usia saya minimal 45 tahun, tapi itu mah balik lagi ke konsistensi yah. Nanti kalau saya udah pensiun, dana yang terkumpul bisa dibelikan produk anuitas di perusahaan asuransi maupun dialokasikan ke instrumen investasi yang minim risiko, misalnya obligasi negara.

Karena malas ijin atau ambil cuti, saya memutuskan untuk bikin akun di IndoPremier Sekuritas. Walaupun saya udah punya akun di Mandiri Sekuritas untuk investasi, saya mau tabungan untuk pensiun ini menggunakan akun sekuritas yang berbeda karena ya biar fokus aja gitu dana pensiun ya bukan untuk diganggu gugat.  

Daftar jadi nasabah IndoPremier ini gampang banget, bisa melalui website dan dokumen-dokumennya bakal dijemput oleh pegawai mereka ke alamat yang kita mau. Saya minta dokumen saya dijemput di kantor hahaha enak banget gak perlu repot-repot dateng ke kantornya. Nggak ada biaya administrasi bulanan juga dan nggak kena biaya tiap beli reksadana! Selang beberapa hari, saya udah diaktifkan dan bisa langsung atur pembelian produk yang saya mau secara otomatis tiap bulan. Thanks to fitur auto debet BTPN Jenius, gampang banget atur auto debet tiap bulannya untuk dialokasikan ke dana pensiun. Saat ini saya taruh dananya di reksadana saham yang isinya saham-saham bluechip aja.

Sejak rutin menyisihkan sebagian penghasilan bulanan untuk dana pensiun, hidup rasanya lebih tenang hahaha beneran, karena at least saya tahu bahwa saya sudah berusaha melakukan hal yang terbaik yang saya bisa untuk saat ini. Soal persiapan penghasilan tambahan atau pekerjaan sampingan untuk menopang masa pensiun nanti, ya we'll get there someday! Long way to go lol!

26 Januari 2019

Tabungan Emas Pegadaian: Solusi Beli Emas Tanpa Ribet dan Terjangkau

Pastinya banyak yang pernah dengar bahwa kata orang jaman dulu (ibu atau nenek kita), emas adalah investasi yang baik dan aman. Tapi aku nggak pernah tertarik karena takut kehilangan barangnya dan untuk return yang nggak seberapa, biayanya tergolong mahal kalau dibandingkan dengan saham (biasanya emas batangan belinya harus minimum satu gram).

Beberapa rekan di kantor bercerita bahwa mereka mau membeli emas batangan sebagai tabungan.

"Nanti emasnya disimpan dimana?" tanya aku.
"Ya di rumah aja,"

Wow berani banget! Kalau aku mungkin tidak akan setenang itu meninggalkan barang mahal di rumah. Langsung muncul banyak skenario buruk di kepalaku seperti... Gimana kalau ada maling? Gimana kalau ada gempa atau tsunami dan aku harus mengungsi? Kalau terjadi bencana, uang di bank atau sekuritas akan tetap aman, tapi kalau barang yang disimpan di rumah ya mungkin harus 'diikhlaskan'.

Beberapa bank syariah punya produk tabungan emas. Jadi nasabah bisa membeli emas tanpa ada wujud batangan yang harus disimpan di rumah. Tapi karena aku bukan nasabah bank syariah dan nggak merasa perlu buka rekening bank baru, jadi aku nggak pernah cari info lebih lanjut soal ini.

Tokopedia juga punya produk tabungan emas virtual sejak tahun 2018. Aku sempet tertarik, tapi kalau dipikir-pikir, masa beli emas online di platform e-commerce sih? Kayak janggal aja gitu. (Padahal ya kenapa juga. Nggak masalah toh.)

Sampai akhirnya rekan kerja kasih tahu bahwa ada yang namanya Tabungan Emas Pegadaian dan ada aplikasinya di Playstore. Jadi bisa beli emas virtual lewat ponsel melalui PT Pegadaian (Persero). Kalau beli disini, aku lebih sreg dan merasa lebih aman lol. Untuk aktivasi pertama kali harus tetap datang ke Pegadaian ya.

 

Aku baru daftar akhir pekan kemarin (iya Sabtu buka loh pukul 09.00-12.00) dan prosesnya cukup cepat. 
  • Download aplikasi Pegadaian di Playstore
  • Registrasi dan upload data diri yang diperlukan (butuh foto KTP dan NPWP)
  • Datang ke Pegadaian terdekat untuk jadi nasabah supaya aplikasinya bisa diaktifkan
  • Bayar biaya pendaftaran Rp 10.000, biaya administrasi satu tahun Rp 30.000 dan biaya pembelian emas minimum untuk pembukaan akun sebanyak 0,01 gram (sekitar Rp 6.000)
Yap, melalui Pegadaian kita bisa beli emas mulai 0,01 gram. Misal harga saat ini Rp 600.000/ gram, berarti kamu bisa beli minimal Rp 6.000. Tapi kalau melalui aplikasi, minimum pembelian adalah Rp 50.000 dan kena charge Rp 2.500 pada tiap pembeliannya.

Contoh proses pembelian emas melalui aplikasi Pegadaian:

  

Nggak ribet dan nggak mahal, aplikasi ini bisa jadi alternatif buat orang-orang yang mau beli emas tanpa perlu merasa khawatir akan segala risiko kehilangan dan say no more emas mahal karena nggak perlu lagi beli minimum satu gram lalu keluar biaya banyak dalam satu waktu, bisa disesuaikan dengan kondisi kantong.

20 Januari 2019

Gaya Hidup Minimalis, Tren Less Waste dan Bijak Kelola Uang

Akhir-akhir ini aku merasa banyak pengaruh positif dari internet, yang kemudian berusaha untuk aku terapkan di keseharian walaupun baru berjalan beberapa bulan. All thanks to Google Books & Instagram!

Gaya Hidup Minimalis
Semua berawal dari ngehitsnya buku The Life-Changing Magic of Tidying Up: The Japanese Art of Decluttering and Organizing (Marie Kondo) yang membuka pikiran banyak orang bahwa beres-beres barang itu bisa membantu kita untuk beres-beres hidup dan pikiran juga. Kalau kata Marie Kondo, sebaiknya kita hanya menyimpan barang-barang yang spark joy. Setelah baca buku ini aku nggak langsung mempraktekkan metode KonMari. Tapi aku jadi mulai sadar betapa banyaknya barang nggak penting yang aku punya.

Kemudian aku baca beberapa buku karena judulnya kocak, plesetannya buku Marie Kondo. Bedanya, kalau Marie Kondo nulis tentang beres-beres barang, buku-buku ini ngasih tau caranya beres-beres pikiran yaitu  The Life-Changing Magic of Not Giving a F*ck (Sarah Knight) dan The Subtle Art of Not Giving a F*ck (Mark Manson).

Pertengahan 2018, aku menemukan akun instagram The Minimalists dan suka baca caption dalam foto-fotonya karena bener-bener relatable. Lalu aku beli buku Minimalism; Live a Meaningful Life (Joshua Millburn, Ryan Nicodemus) di Google Books, langsung baca tiap hari sampe tamat dan ini jadi salah satu life changing book buat aku. Aku mulai googling tentang gaya hidup minimalis dan baca banyak referensi, favoritku yaitu tulisan di blognya Cait Flanders soal Shopping Ban, tulisan ini juga diterbitkan dalam buku berjudul The Year of Less.

Berikut hal-hal yang aku lakukan menuju hidup minimalis:
  • Berusaha nggak beli baju. Kalaupun harus beli baju, aku berusaha untuk beli yang se-basic mungkin dan beli the best thing i could afford supaya bisa dipakai dalam jangka panjang. 
  • Membiarkan barang-barang yang punya nilai emosional untuk pergi. Sebelumnya aku merasa bersalah kalau harus merelakan barang pemberian orang lain, khususnya yang handmade. Tapi akhirnya bisa! Mengutip kalimat Marie Kondo, bahwa kado sudah cukup menjalankan fungsinya untuk menunjukkan rasa perhatian atau kasih sayang ketika barang tersebut kita terima.
  • Donasikan barang-barang yang sudah nggak aku pakai dan nggak pernah aku pakai. Beberapa barang aku jual melalui Carousell.
  • Buang barang nggak penting. Ternyata aku punya banyak sampah di dalam lemari.
  • Menata ulang kumpulan dokumen penting. Akta kelahiran, ijazah, buku tabungan, polis asuransi, paspor dan segala bentuk kartu... semua aku rapikan dan aku scan untuk disimpan di One Drive.
Selain kebiasaan menumpuk barang nggak penting, syukurlah masih ada hal baik yang ternyata aku lakukan selama ini, yaitu memiliki alas kaki, make up dan skincare secukupnya. Iya bahkan aku hanya punya satu lipstik dan aku merasa cukup hahaha karena memang nggak hobi.

Tren Less Waste/ Ramah Lingkungan
Meskipun aku sudah cukup lama bawa tas sendiri kalau mau berbelanja, tapi aku belum kepikiran hal-hal apa lagi yang bisa aku lakukan untuk mengurangi sampah. Thanks to Instagram, aku mulai melakukan hal-hal di bawah ini untuk hidup lebih ramah lingkungan.
  • Beli sedotan stainless dan taruh di tas bersama sendok dan garpu untuk mengurangi sampah ketika makan diluar.
  • Sebagai perempuan, tentunya aku juga beli pembalut kain, menstrual cup dan reusable cotton pad.
  • Simpan tempat bekal khusus di kantor. Jadi kalau mau beli bubur pagi-pagi atau beli makan siang diluar, aku bisa kurangin sampah sterofoam.
  • Beralih dari penggunaan sabun cair (dikemas plastik) ke sabun batangan (dikemas kotak kertas).
Selain hal diatas, banyak yang bisa dilakukan (tapi belum aku lakukan) seperti ganti sikat gigi plastik dengan sikat gigi bambu, mengolah kompos sendiri, dll. 

Produk kecantikan seperti pelembab wajah, toner dan lainnya juga nggak lepas dari tren ramah lingkungan, jadi produk natural makin ngehits. Tapi aku belum berani beralih coba produk baru karena trauma drama jerawat berkepanjangan akibat coba-coba skincare.

Bijak Kelola Uang
Pengelolaan keuangan aku dua tahun terakhir sangat buruk. Untungnya akhir tahun 2018 menemukan kembali ZAP Finance di Instagram. Waktu kuliah aku baca bukunya Prita Ghozie, founder ZAP Finance. Jadi waktu awal kerja, aku langsung bikin akun sekuritas dan beli reksadana rutin selama beberapa bulan. Tapi aku nggak disiplin jadi kemudian aku anggurin dan justru aku jadi konsumtif astaga.

Selain ZAP Finance, ada akun Instagram jasa financial planner yang ngehits di kalangan anak muda, yaitu Jouska. Akun ini sering share dan bahas masalah-masalah keuangan yang cukup ngeri dan membuat aku berdoa semoga aku tidak berada dalam kondisi seperti itu dikemudian hari.

Sebelum terlambat, maka aku memutuskan berubah dengan melakukan hal-hal berikut:
  • Unfollow akun toko online (yang jualan pakaian) serta fashion influencer di Instagram.
  • Unsubscribe akun Spotify premium. Dengerin musik aja jarang astaga ngapain aku langganan, aku juga bingung.
  • Atur autodebet rutin tiap bulannya untuk investasi jangka panjang. Sekarang aku nggak pakai reksadana saham, aku beli saham saja melalui Mandiri Sekuritas.
  • Bikin tabungan pensiun sendiri, bukan yang dari kantor. Aku memutuskan untuk rutin beli reksadana saham tiap bulan melalui Sekuritas IndoPremier. Kapan-kapan aku cerita kenapa aku nggak pakai tabungan dana pensiun yang dari bank atau asuransi jiwa.
  • Download aplikasi untuk catat pengeluaran. Aku pakai Monefy di Google Playstore dan masih konsisten untuk saat ini. Tiap catat pengeluaran nggak penting, aku akan merasa bersalah, jadi lumayan bisa ngerem hawa nafsu konsumtif.
  • Menggunakan Transjakarta lebih sering. Biasanya aku sangat malas dan lebih memilih pakai Gojek/ Grab. Memang enak pakai ojek online karena nggak perlu ngantre, transit, nunggu lama dan berdesakan di rush hour. Tapi ojek online membuat aku bangun lebih siang, jarang jalan kaki atau naik tangga, dan boros banget. Ini sih yang masih sulit tapi aku senang karena aku berprogress! 
  • Masak makan siang sendiri daripada beli diluar. Lebih sehat dan bersih juga.
  • Bawa botol minum besar kalau mau pergi. Aku gampang haus, kalau beli air mineral botol ukuran sedang, setengah botol bisa habis dalam satu kali teguk. Boros beli air mineral banyak-banyak.
  • Memanfaatkan anak kartu BTPN Jenius. Aku pribadi pakai untuk tiga pos; jalan-jalan (dimasukkan ke akun Traveloka), belanja dan jajan (dimasukkan ke akun Tokopedia dan Shopee), dana darurat. Jadi kalau belanja dan makan di luar aku gesek kartu yang khusus untuk itu supaya nggak over budget.
  • Beli asuransi! Kalau ini sih aku memang selalu beli asuransi demam berdarah dan asuransi kecelakaan diri tiap tahun di Asuransi Adira (belinya online nggak pakai ribet). Aku nggak beli asuransi kesehatan karena biaya kesehatan (sakit, vaksin, check up rutin) ditanggung kantor dalam limit yang cukup bagiku. Pokoknya diusahakan jangan sampai biaya kesehatan menggerus tabungan. Jadi silakan beli asuransi yang sesuai dengan kebutuhan.
Wow setelah dipikir-pikir betapa acak adutnya hidupku selama ini. Meskipun terdenger klise, aku merasakan perubahan yang cukup besar walaupun baru 'berubah' beberapa bulan terakhir. Rasanya aku bisa berdamai dengan diri sendiri dibanding sebelumnya dan merasa lebih content. Tuh kan, internet dan media sosial nggak selamanya toxic. Tergantung diri kita memilih apa yang mau kita baca dan lihat! Cheers for a better 2019!